Analisis Toksikologi Preparasi Sampel Darah Dan Urine
Analisis Toksikologi
Preparasi Sampel Darah Dan Urine
I. Preparasi Sampel
Preparasi sampel adalah proses penyiapan sampel sebelum dilakukan analisis yang bertujuan untuk memisahkan atau menyingkirkan pengotor atau zat-zat yang tidak diinginkan (selain analit) sehingga didapat hasil yang valid (Flanagan, et al., 2007).
1.1 Sampel Darah
Istilah darah diawali dari kata hemo atau hemato, yang berasal dari bahasa Yunani haima yang berarti darah. Darah adalah cairan jaringan tubuh yang beredar melalui arteri, kapiler, dan vena, terdiri atas dua bagian yaitu 55% cairan interseluler (plasma) dan 45% unsur-unsur padat (sel darah). Volume darah secara keseluruhan kira-kira merupakan satu per dua belas berat badan atau kira-kira 5 liter (Pearce, 2002).
Darah manusia berwarna merah, antara merah terang apabila kaya oksigen sampai merah tua apabila kekurangan oksigen. Warna merah pada darah disebabkan oleh hemoglobin yang mengandung besi dalam bentuk heme, yang merupakan tempat terikatnya molekul-molekul oksigen (Anonim a, 2009).
Fungsi utama darah adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, hormon-hormon dari sistim endokrin, obat-obatan dan bahan kimia asing ke hati untuk diuraikan dan ke ginjal untuk dibuang sebagai air seni (Anonim a, 2009).
1.1.2 Komponen-komponen Darah yang dapat Dijadikan Sampel Analisis
a. Sel Darah Merah atau Eritrosit
Eritrosit berupa cakram kecil bikonkaf, cekung pada kedua sisinya, sehingga dilihat dari samping nampak seperti dua buah bulan sabit yang saling bertolak belakang. Dalam setiap melimeter kubik darah terdapat 5.000.000 sel darah. Jika dilihat satu persatu warnanya kuning tua pucat, tetapi dalam jumlah besar kelihatan merah dan memberi warna pada darah. Strukturnya terdiri atas pembungkus luar atau stroma, berisi masa hemoglobin (Pearce, 2002). Dalam analisis toksikologi, sel darah merah digunakan sebagai specimen dalam kasus keracunan carbon monoxide, cyanide dan bahan volatin organic, logam berat, beberapa obat seperti chlortalidone, dan acetazolamide, karena zat tersebut banyak berikatan dengan sel darah merah. Di dalam darah, obat mungkin berada baik di dalam plasma atau sel darah merah. Sampel plasma biasanya tidak bermanfaat pada kasus dimana obat yang terlibat diketahui berada dalam ssel darah merah (Karch, 1997).
b. Plasma
Plasma darah merupakan bagian cair darah berwarna kekuningan, terdiri dari air, protein, elektrolit, karbohidrat, kolesterol, hormon dan vitamin (Anonim b, 2008). Jumlah plasma darah ± dua per tiga dari berat darah. Plasma ini adalah koloid yang terdiri dari 90 % air dan 7% protein. Sepertiga bagian darah sisanya terutama terdiri hemoglobin. Hemoglobin ini sebetulnya adalah protein yang paling banyak terdapat dalam darah, kira-kira terdapat sebanyak 10% dalam darah, atau kira-kira 50% dari bahan kering darah. Protein plasma ini terdiri dari albumin (4-5%), globulin (2-2,5%) dan fibrinogen (0,3-0,4%). Selain itu plasma mengandung garam anorganik (0,9%) dan senyawa organik terlarut lainnya (2,1%) (Apriyantono, 2007).
Plasma lebih sering digunakan dari pada serum pada analisis obat, karena dapat disentrifugasi dengan segera, sedangkan pembentukan serum membutuhkan lebih banyak waktu (Smyth, 1992).
c. Serum
Serum darah adalah cairan bening yang memisah setelah darah beku. Plasma darah berbeda dengan serum darah terutama pada serum tidak terdapat faktor pembentukan fibrinogen. Jika darah tetap dibiarkan selama 15 menit pada suhu kamar dalam suatu tabung tanpa antikoagulan maka serum dan komponen darah lainnya akan memisah (Flanagant, 2007).
1.2 Sampel Urin
Spesimen urin untuk kepentingan uji analisis biasanya dikumpulkan pada pagi hari, malam hari ataupun dapat dilakukan kapan saja sepanjang hari. Sangat penting untuk dilakukan pencatatan terhadap waktu pengambilan urine karena dapat digunakan dalam penentuan laju produksi urine. Sampel urine acak biasanya ditambahkan pengawet seperti asam hidroklorik 2 M.
Urine segar berwarna kuning atau kuning-hijau, namun pada penyimpanan sebagai larutan yang bersifat asam warna urin akan berubah menjadi kuning-coklat akibat terjadinya oksidasi dari urobilinogen menjadi urobilin. Sampel urin tahan tahan selama beberapa minggu jika disimpan pada suhu 2-8ºC. namun jika dibekukan (-20ºC), sampel urine yang diasamkan akan tahan sampai jangka waktu yang panjang, tapi sebelumnya dilakukan sentrifugasi terlebih dahulu (Flanagan et al., 2007)
Urin sangat berguna dalam skrining racun karena obat, racun dan metabolit terdapat dengan konsentrasi yang lebih besar pada urin dibandingkan dalam darah.
II. Bahan
• Sampel darah
• Urin
• Buffer saline
• EDTA
• Asam Sitrat
• Metanol
III. Alat
• Spuit
• Neraca analitik
• Sendok tanduk
• Kertas perkamen
• pH meter
• Ball filler
• Lemari es / freezer
• Pipet volume
• Pipet tetes
• Eppendorf
• Tabung vial + penutup
• Tabung sentrifugasi + penutup
• Rak tabung reaksi + tabung reaksi
• Sentrifugasi
• Tabung vortex
• Vortex
IV. Cara Kerja
4.1 Perlakuan pada Sampel Darah
1. cara memperoleh plasma dari darah (prosedur ini dilakukan jika matrik yang tersedia berupa darah segar)
- Darah segar diambil dengan pipet volume sebanyak 3-5 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi.
- Dilakukan sentrifugasi dengan kecepatan 1500 rpmselama 15 menit hingga terbentuk dua fase yaitu fase cair (bagian atas) dan fase padatan (bagian bawah). Fase cair yang diperoleh dari hasil sentrifugasi ini disebut plasma.
- Fase cair diambil dengan pipet volume dipindahkan ke dalam eppendorf. Plasma selanjutnya disimpan pada suhu 2-8ºC.
2. Cara memperoleh Serum dari Darah
- Darah sebanyak 3-5 ml diambil menggunakan pipet volume, dimasukkan ke dalam tabung reaksi.
- Dibiarkan selama 15 menit pada suhu kamar tanpa penambahan antikoagulan.
- Bagian bening yang memisah dari padatan disebut serum. Bagian ini diambil dengan pipet volume dan dipindahkan ke dalam tabung eppendorf.
3. Cara memperoleh sel darah merah (eritrosit) dari Darah
- Untuk memperoleh eritrosit, darah sebanyak 3-5 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan antikoagulan sebanyak 2 mg per ml darah.
- Dilakukan sentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit.
- Diperoleh tiga lapisan yaitu plasma (bagian atas), lapisan platelet (bagian tengah) dan eritrosit (bagian bawah).
- Lapisan plasma, platelet dan sekitar 10% dari bagian eritrosit dibuang.
- Eritrosit yang masih tersisa selanjutnya dicuci hati-hati dengan cairan isotonik (buffer saline), gunanya untuk menghilangkan plasma yang mungkin masih tersisa dan melekat pada eritrosit.
- Sel darah harus digunakan langsung atau disimpan dalam suhu dingin (2-8ºC) untuk mencegah terjadinya hemolisis.
4. Cara memperoleh Whole Blood
- Tabung ditambahkan dengan EDTA sebanyak 2 mg per mL darah. Selanjutnya darah segar sebanyak 3-5 ml dimasukkan ke dalam tabung tadi.
- Tabung ditutup rapat dan disimpan pada suhu -20ºC.
5. Pengendapan protein dari plasma darah
- Plasma dimasukkan ke dalam tabung.
- Tabung yang telah terisi plasma ditambahkan dengan metanol sebanyak 2 kali volume plasma yang digunakan.
- Dilanjutkan dengan sentrifugasi, pada kecepatan 1500 rpm selama 15 menit pada tabung tersebut.
- Setelah selesai disentrifugasi, maka akan terlihat lapisan protein padatan (bagian bawah) dan lapisan cair (fraksi bebas protein) di bagian atas.
- Lapisan cair diambil dan ditempatkan ke dalam tabung reaksi yang berlainan dan diberi tanda.
4.2 Hal-hal yang perlu diamati saat menerima sampel urin
Kode Sampel :
Jenis Sampel :
Tanggal dan Waktu Pengambilan :
Tanggal dan Waktu Penerimaan :
Identitas Petugas :
Kondisi sampel saat diterima :
1. Warna :
(dilihat warna urine yang diterima)
2. pH :
(diukur dengan mencelupkan pH-meter strip, bandingkan perubahan warna yang terjadi dengan gambar yang tertera pada box)
3. volume :
(diukur dengan pipet volume)
4.3 Penanganan Sampel Urin
- Urin 5-10ml di masukkan ke dalam tabung ditambahkan asam sitrat sebanyak 2% b/v.
- Dilakukan sentrifugasi untuk menghilangkan endapan-endapan protein yang mungkin terdapat dalam urin.
- Bagian cair diambil dan dipindahkan ke tabung lain untuk disimpan pada suhu 2-8ºC (urin dapat bertahan selama bertahun-tahun karena dibekukan).
Prosedur Pemberian Makanan Melalui NGT
Pengertian :
Memasukkan makanan cair / minuman / obat ke dalam lambung melalui NGT.
Tujuan:
Memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan yang tidak mungkin melalui oral, atau jika asupan tidak mencukupi, dengan memasukkan nutrisi melalui NGT langsung ke lambung.
Prosedur Pemberian Makanan Melalui NGT :
1. Lakukan verifikasi program terapi.
2. Persiapan Alat :
- Makanan cair sesuai kebutuhan, suhu makanan harus hangat.
- Obat sesuai kebutuhan.
- Mortir
- Air matang.
- Irigator atau botol infus kosong dengan tube
- Spuit 20 cc
- Stetoskop
- Bengkok
- Gaas atau tissue
- Pengalas/perlak
- Sarung tangan
3. Berikan salam, jelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada pasien / keluarga
4. Pasang pengalas dibawah dagu pasien.
5. Tempatkan alat di dekat pasien.
6. Cuci tangan & pakai sarung tangan.
7. Atur posisi pasien dalam posisi semi fowler (jika tidak ada kontraindikasi).
8. Lakukan tes apakah NGT telah terpasang dengan baik / tidak.
- Aspirasi isi lambung (gunakan spuit) melalui ujung NGT.
- Masukkan udara 10-20 cc ke dalam NGT sementara itu dengarkan dengan menggunakan stetoskop pada daerah lambung.
9. Masukkan air matang sekurang-kurangnya 15 cc dengan spuit, setelah itu masukkan makanan cair ke dalam botol.
Untuk mencegah penyumbatan di dalam botol dan NGT, aduk makanan cair sebelum dituangkan ke botol
10. Hubungkan IV tube dengan NGT
11. Alirkan makanan cair dengan membuka kran aliran infuse perlahan-lahan. Jika pasien batuk-batuk atau gelisah maka pemberian cairan dihentikan dulu, jika pasien sianosis, NGT harus dicabut.
12. Setelah makanan habis, NGT dibilas dengan air hangat.
13. Jika pasien minum obat, masukkan obat melalui blass spuit sesuai kebutuhan pasien.
14. Bilas NGT dengan air hangat 10-20 cc dan NGT di tutup.
15. Jelaskan bahwa prosedur telah selesai. Pertahankan posisi semi fowler selama 30 menit untuk mencegah refluks.
16. Rapikan pasien dan bereskan alat-alat.
17. Lepas sarung tangan.
18. Cuci tangan.
19. Catat jenis & jumlah makanan/cairan/obat yang masuk, jumlah residu dan reaksi pasien dalam catatan perkembangan dan balance cairan.
Perhatian :
1. Pada waktu memasukkan makanan, perhatikan keadaan umum pasien (sianotis, batuk-batuk & gelisah).
2. Cegah masuknya udara ke dalam lambung dengan cara botol tidak boleh dibiarkan sampai kosong bila akan memasukkan cairan berikutnya.
3. Makanan diberikan dalam porsi kecil tapi sering (tiap pemberian tidak boleh lebih dari 600 cc ), dan usahakan makanan dalam keadaan segar & hangat.
Laporan Pendahuluan Pada Pasien Dengan Cerebral Palsy
1. Definisi Cerebral Palsy
Cerebral palsy merupakan salah satu kelainan motorik yang banyak diketemukan pada anak-anak. Nama lainnya adalah “static encephalopathies of childhood” (Soetjingsih, 1995).
Cerebral palsy adalah suatu gangguan atau kelainan yang terjadi pada suatu kurun waktu dalam perkembangan anak, mengenai sel-sel motorik di dalam susunan saraf pusat, bersifat kronik dan tidak progresif akibat kelainan atau cacat pada jaringan otak yang belum selesai pertumbuhannya. Walaupun lesi serebral bersifat statis dan tidak progresif, tetapi perkem- bangan tanda-tanda neuron perifer akan berubah dengan bertambahnya umur anak. Diketemukan hipotoni, gerakan yang berlebihan atau gangguan control motorik (Stephen BS, dkk, 2002).
2. Etiologi Cerebral Palsy
Penyebab dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
a. Pranatal
Infeksi terjadi dalam masa kandungan, menyebabkan kelainan pada janin, misalnya oleh toksoplasmosis, rubela dan sitomegalovirus. Kelainan yang menyolok biasanya gangguan pergerakan dan retardasi mental. Anoxia dalam kandungan, terkena radiasi sinar-X dan keracunan kehamilan dapat menimbulkan “cerebral palsy”
b. Perinatal
1) Anoksia / hipoksia
Penyebab yang terbanyak ditemukan dalam masa perinatal ialah brain injury. Kelainan inilah yang menyebabkan anoksia. Hal ini terdapat pada keadaan persentase bayi abnormal, disproporsi sefalo-pelviks, partus lama, plasenta previa, infeksi plasenta, partus menggunakan bantuan instrumen tertentu dan lahir dengan sectio caesar.
2) Perdarahan otak
Perdarahan dan anoksia dapat terjadi bersama-sama, sehingga sukar membedakannya, misalnya perdarahan yang mengelilingi batang otak, mengganggu pusat pernafasan dan peredaran darah, sehingga terjadi anoksia. Perdarahan dapat terjadi di ruang subaraknoid akan menyebabkan penyumbatan CSS, sehingga mengakibatkan hidrocefalus. Perdarahan di subdural dapat menekan korteks serebri, sehingga timbul kelumpuhan spastis.
3) Prematuritas
Bayi kurang bulan mempunyai kemungkinan menderita perdarahan otak lebih banyak dibandingkan bayi cukup bulan, karena pembuluh darah, enzim, faktor pembekuan darah dan lain-lain masih belum sempurna.
4) Ikterus
Ikterus pada masa neonatus dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak yang kekal akibat masuknya bilirubin ke ganglia basal, misalnya pada kelainan inkompatibilitas golongan darah.
5) Meningitis purulenta
Meningitis purulenta pada masa bayi bila terlambat atau tidak tepat pengobatannya akan mengakibatkan gejala sisa berupa “cerebral palsy”
c. Pascanatal
Setiap kerusakan pada jaringan otak yang mengganggu perkembangan dapat menyebabkan „cerebral palsy?. Misalnya pada trauma kapitis, meningitis ensefalitis dan luka parut
3. Tanda dan Gejala Cerebral Palsy
Gambaran klinik cerebral palsy tergantung dari bagian dan luasnya jaringan otak yang mengalami kerusakan.
a. Paralisis
Terdapat peninggian tonus otot dan refleks yang disertai dengan klonus dan refleks Babinski yang positif. Tonus otot yang meninggi itu menetap dan tidak hilang meskipun penderita dalam keadaan tidur. Peninggian tonus ini tidak sama derajatnya pada suatu gabungan otot, karena itu tampak sikap yang khas dengan kecendrungan terjadi kontraktur. Golongan spastitis ini meliputi 2/3 – ¾ penderita „cerebral palsy? Bentuk kelumpuhan spastitis tergantung kepada letak dan besarnya kerusakan, yaitu:
1) Monoplegia/monoparesis
Kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi salah satu anggota gerak lebih hebat dari yang lainnya
2) Hemiplegia/diparesis
Kelumpuhan lengan dan tungkai dipihak yang sama
3) Diplegia/diparesis
Kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi tungkai lebih hebat daripada lengan
4) tetraplegia/tetraparesis
Kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi lengan lebih atau sama hebatnya dibandingkan dengan tungkai.
b. Gerakan involunter
Dapat berbentuk atetosis, khoreoatetosis, tremor dengan tonus yang dapat bersifat flaksid, rigiditas, atau campuran.
c. Ataksia
Gangguan koordinasi ini timbul karena kerusakan serebelum. Penderita biasanya memperlihatkan tonus yang menurun (hipotoni), dan menunjukkan perkembangan motorik yang terlambat. Mulai berjalan sangat lambat, dan semua pergerakan serba canggung.
d. Kejang
Dapat bersifat umum atau fokal.
e. Gangguan perkembangan mental
Retardasi mental ditemukan kira-kira pada 1/3 dari anak dengan cerebral palsy terutama pada grup tetraparesis, diparesis spastik dan ataksia. Cerebral palsy yang disertai dengan retardasi mental pada umumnya disebabkan oleh anoksia serebri yang cukup lama, sehingga terjadi atrofi serebri yang menyeluruh. Retardasi mental masih dapat diperbaiki bila korteks serebri tidak mengalami kerusakan menyeluruh dan masih ada anggota gerak yang dapat digerakkan secara volunter. Dengan dikembangkannya gerakan-gerakan tangkas oleh anggota gerak, perkembangan mental akan dapat dipengaruhi secara positif.
f. Mungkin didapat juga gangguan penglihatan (misalnya: hemianopsia, strabismus, atau kelainan refraksi), gangguan bicara, gangguan sensibilitas.
g. Problem emosional terutama pada saat remaja
4. Klasifikasi Cerebral Palsy
Klasifikasi berdasarkan gambaran klinis dan derajat kemampuan fungsionil. Berdasarkan gejala klinis maka pembagian cerebral palsy adalah sebagai berikut:
a. Tipe spastis atau piramidal.
Pada tipe ini gejala yang hampir selalu ada adalah :
- Hipertoni (fenomena pisau lipat).
- Hiperrefleksi yang djsertai klonus.
- Kecenderungan timbul kontraktur.
- Refleks patologis.
Secara topografi distribusi tipe ini adalah sebagai berikut:
1) Hemiplegia apabila mengenai anggota gerak sisi yang sama.
2) Spastik diplegia apabila mengenai keempat anggota gerak, anggota gerak bawah lebih berat.
3) Kuadriplegi, mengenai keempat anggota gerak, anggota gerak atas sedikit lebih berat.
4) Monoplegi, bila hanya satu anggota gerak.
5) Triplegi apabila mengenai satu anggota gerak atas dan dua anggota gerak bawah, biasanya merupakan varian dan kuadriplegi.
b. Tipe ekstrapiramidal
Akan berpengaruh pada bentuk tubuh, gerakan involunter, seperti atetosis, distonia, ataksia. Tipe ini sering disertai gangguan emosional dan retardasi mental. Di samping itu juga dijumpai gejala hipertoni, hiperrefleksi ringan, jarang sampai timbul klonus. Pada tipe ini kontraktur jarang ditemukan, apabila mengenai saraf otak bisa terlihat wajah yang asimetnis.
c. Tipe campuran
Gejala-gejalanya merupakan campuran kedua gejala di atas misalnya hiperrefleksi dan hipertoni disertai gerakan khorea.
Klasifikasi berdasarkan derajat kemampuan fungsional.
a. Ringan:
Penderita masih bisa melakukan pekerjaan dan aktifitas sehari- hari sehingga sama sekali tidak atau hanya sedikit sekali membutuhkan bantuan khusus.
b. Sedang:
Aktifitas sangat terbatas. Penderita membutuhkan bermacam-macam bantuan khusus atau pendidikan khusus agar dapat mengurus dirinya sendiri, dapat bergerak atau berbicara. Dengan pertolongan secara khusus, diharapkan penderita dapat mengurus diri sendiri, berjalan atau berbicara sehingga dapat bergerak, bergaul, hidup di tengah masyarakat dengan baik.
c. Berat:
Penderita sama sekali tidak bisa melakukan aktifitas fisik dan tidak mungkin dapat hidup tanpa pertolongan orang lain. Pertolongan atau pendidikan khusus yang diberikan sangat sedikit hasilnya. Sebaiknya penderita seperti ini ditampung dalam rumah perawatan khusus. Rumah perawatan khusus ini hanya untuk penderita dengan retardasi mental berat, atau yang akan menimbulkan gangguan sosial-emosional baik bagi keluarganya maupun lingkungannya.
6. Komplikasi dan Kelainan Penyerta Cerebral Palsy
a. Retardasi mental,
b. Epilepsy,
c. Kelainan visus,
d. Kelainan pendengaran,
e. Disatria,
f. Kelainan kortikol sensori,
g. Pertumbuhan ektrimitas tidak simetris,
h. Scoliosis,
i. Dismorfogenesis gigi,
j. Kontraktur sendi,
k. Deficit persepsi
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan mata dan pendengaran
b. Pemeriksaan cairan serebrospinalis
c. Pemeriksaan serum antibody terhadap rubella, sitomegalo virus, toksoplasmosis dan herpes simpleks
d. Foto kepala
e. CT Scan atau MRI
f. EEG, EMG dan Evoked potensialis
g. Analisa kromosom
h. Penilaian psikologi
8. Penatalaksanaan Secara Umum
Tidak ada terapi spesifik terhadap cerebral palsy. Terapi bersifat simtomatik, yang diharapkan akan memperbaiki kondisi pasien. Terapi yang sangat dini akan dapat mencegah atau mengurangi gejala-gejala neurologik. Untuk menentukan jenis terapi atau latihan yang diberikan dan untuk menentukan keberhasilannya maka perlu diperhatikan penggolongan cerebral palsy berdasarkan derajat kemampuan fungsionil yaitu derajat ringan, sedang dan berat. Tujuan terapi pasien cerebral palsy adalah membantu pasien dan keluarganya memperbaiki fungsi motorik dan mencegah deformitas serta penyesuaian emosional dan pendidikan sehingga penderita sedikit mungkin memerlukan pertolongan orang lain, diharapkan penderita bisa mandiri. Gizi yang baik perlu pada penderita ini. Pencatatan rutin perkembangan berat badan anak perlu dilaksanakan. Hal-hal lain yang sewajarnya perlu dilaksanakn seperti imunisasi dan lain-lain.
Obat-obatan yang diberikan tergantung pada gejala-gejala yang muncul. Misalnya untuk kejang bisa diberikan anti kejang. Untuk spastisitas bisa diberikan baclofen dan diazepam. Bila gejala berupa nigiditas bisa diberikan levodopa. Mungkin diperlukan terapi bedah ortopedi maupun bedah saraf untuk merekonstruksi terhadap deformitas yang terjadi. Fisioterapi dini dan intensif untuk mencegah kecacatan, juga penanganan psikolog atau psikiater untuk mengatasi perubahan tingkah laku pada anak yang lebih besar. Yang tidak boleh dilupakan adalah masalah pendidikan yang harus sesuai dengan tingkat kecerdasan penderita.
Occupational therapy ditujukan untuk meningkatkan kemampuan untuk menolong diri sendiri, memperbaiki kemampuan motorik halus, penderita dilatih supaya bisa mengenakan pakaian, makan, minum dan keterampilan lainnya.
Speech therapy diberikan pada anak dengan gangguan wicara bahasa, yang ditangani seorang ahli.
9. Diagnosis Cerebral Palsy
Memerlukan beberapa kali pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis cerebral palsy. Anamnesis yang cukup teliti diperlukan untuk menyingkirkan penyakit atau sindrom lain yang mirip dengan cerebral palsy. Pemeriksaaan motorik, sensorik dan mental perlu dilakukan secermat mungkin. Walaupun pada penyakit ini gerakan motorik dan postur badan merupakan ciri utama, tetapi tidak boleh dilupakan bahwa penderita sering juga disertai dengan gangguan bukan motorik seperti retardasi mental, kejang – kejang, gangguan psikologik dan lainnya.
Manifestasi dari gangguan motorik atau postur tubuh dapat berupa spastisitas, rigiditas, ataksia, tremor, atonik/hipotonik, tidak adanya refleks primitive (pada fase awal) atau refleks primitive yang menetap (pada fase lanjut), diskinesia (sulit melakukan gerakan volunteer). Gejala – gejala tersebut dapat timbul sendiri ataupun merupakan kombinasi dari gejala tersebut.
Bank (dikutip dari Thamrinsyam) memberikan criteria diagnostic sebagai berikut :
1. Masa neonatal
a. Depresi/asimetri dari refleks primitive (refleks Moro, rooting, sucking, tonik neck, palmar, stepping)
b. Reaksi berlebihan terhadap stimulus
c. Kejang – kejang
d. Gejala neurologik local
2. Masa umur < 2 bulan
a. Keterlambatan perkembangan motorik, seperti duduk atau jalan.
b. Terdapat paralysis spastik
c. Terdapat gerakan involuntary
d. Menetapnya refleks primitive
e. Keterlambtan timbulnya refleks – refleks yang lebuh tinggi, seperti refleks Landau sesudah 10 bulan, refleks parasut setelah umur 8 bulan.
3. Anak yang lebih besar
a. Keterlambatan “milestone” perkembangan.
b. Disfungsi dari tangan
c. Gangguan dari cara berjalan.
d. Terdapat spastisitas
e. Terdapat gerakan – gerakan yang involuntary
f. Terdapat retardasi mental
g. Kejang – kejang
h. Gangguan bicara, pendengaran, penglihatan
Pada umumnya diagnosis pada anak di bawah umur 6 bulan adalah sulit karena perkembangan melistone tidak banyak. Padahal diagnosis dan intervensi dini akan memberikan prognosis yang lebih baik. Jadi cara Levine lebih memudahkan menegakkan diagnosis. Kelainan motorik pada Cerebral palsi dibagi menjadi 6 kategori yaitu:
a. Pola gerak dan postur
b. Pola gerak oral
c. Strabismus
d. Tonus otot
e. Evolusi postural dan kelainan lainnya yang mudah dikenal
f. Refleks tendon, primitive dan plantar.
Kriteria ini dapat secara nyata membedakan penderita cerebral palsy dengan yang bukan. Diagnosis ditegakkan apabila terdapat 4 kelainan dari 6 kategorik motorik tersebut diatas dan diserati dengan proses penyakit yang tidak progresif.
Sedangkan Illworth membuat diagnosis berdasarkan 5 tipe yaitu:
1) Tipe spastik
a. Umur 3 bulan pertama
1. Pada masa neonatal, perhatikan gerakkan bayi apakah terdapat gerakan yang terbatas pada bayi spastik, spastik kuadriplegia akan kelihatan pada anggota gerak dan pada bayi hemiplegi satu tangannya akan terletak erat dekat badan dan terdapat gerakan asimetris.
2. Amati bentuk kepala, perhatikan ekspresi, perhatian terhadap lingkungan. Ukur lingkar kepala, bila ukurannya kecil hubungkan dengan retardasi mental.
3. Angkatlah anak dalam posisi tengkurap, dengan memegang bagian lengan. Maka tampak adanya ekstensi pada kedua kaki, gerakan yang asimetris dan kedua kaki bersilangan.
4. Angkatlah anak dalam posisi terlentang, maka kepala akan tampak terkulai, tangan dan kaki tergantung bebas tanpa adanya fleksi pada siku atau lutut. Kemudian rubah posisi anak dengan posisi duduk, maka akan tampak leher terkulai. Gerakkan anak ke kanan dan kiri, perhatikan kemampuan control kepala. Dudukkkan anak dalam posisi condong ke depan, maka anak akan segera terjatuh ke belakang oleh karena spasme dari otot erector trunkus, gluteus dan hamstring.
5. Periksa refleks – refleks primitive.
b. Usia 4 – 8 bulan
1. Amati kualitas dan simetrisitas gerakan anak
2. Berikan kubus/mainan, perhatikan adanya kekauan ketika anak meraih kubus tersebut.
3. Angkatlah anak dengan memegang pada setinggi dada di bawah lengan, maka kaki akan tampak ekstensi.
4. Letakkan posisi anak terlentang, lakukan tes “knee jerk”, abduksi paha, dorso fleksi sendi kaki, periksa adanya klonus, tes Oppenheim dan Gordon. Pada anak hemiplegi, akan tampak anggota gerak lebih pendekdan lebih dingin pada perabaan.
5. Perhatikan apakah terdapat tanda – tanda retardasi mental.
6. Ukur lingkar kepala
7. Tes pendengarannya
c. Umur 9 bulan ke atas
1. Perhatikan gejala – gejala diatas
2. Berikan anak mainan kubus, suruh anak membuat menara dari kubus tersebut, perhatikan adanya tremor atau ataksia.
3. Bila anak sedang main atau berjalan, perhatikan apakah anak berjalan dengan ujung jari, atau adanya kelalainan pada cara berjalan anak.
4. Berdirikan anak pada satu kaki, bila ada hemiplegi akan tampak jelas.
5. Perhatikan adanya retadasi mental
2) Tipe athetoid
Tidak mungkin untuk mendiagnosis palsi serebralis tipe athetoid sebelum gerakan athetosis itu timbul. Bentuk khas kelainan ini adalah berupa ektensi pada siku dan pronasi pada pergelangan tangan. Tonus ekstensor yang meningkat, sehingga kepala terkulai kalau anak dari tidur kemudian didudukkan.sering disertai kesulitan mengisap dan menelan. Pada minggu-minggu pertama biasanya terdapat keterlambatan dalam gerakan motorik, kadang-kadang disertai bangkitan opistotonus. Gerakan tipe ini dapat diamati kapan saja setelah anak berumur 6 bulan, tetapi tersering setelah umur 1 tahun. Dicurigai adanya kelainan ini apabila terdapat ataksia dalam meraih benda. Setelah umur satu tahun, terdapat kesulitan dalam pandangan vertical, terdapat hipoplasia enamel gigi susu dan tuli pada nada tinggi. Reaksi plantar dan “knee jerk” adalah normal, karena traktus piramidalis tidak terkena.
3) Tipe rigid.
Khas pada tipe ini adalah adanya rigiditas pada semua anggota gerak, tidak ditemukan tanda-tanda kelainan pada traktus piramidalis. Kelainan ini pada umumnya disertai dengan retardasi mental.
4) Tipe ataksia
Terdapat tanda-tanda ataksia ketika anak meraih benda, pada waktu duduk atau berjalan.
5) Tipe hipotonik
Merupakan bentuk yang jarang terdapat. Sering dikelirukan dengan hipotonia. Hampir semua anak dengan kelainan ini terdapat retardasi mental. Lingkar kepalanya kecil, terdapat gerakan-gerakan yang meningkat, “fit” terdapat pada sepertiga kasus. Reaksi plantar adalah ektensor dan “knee jerk” meningkat sehingga dapat menyingkirkan congenital hipotonia dan sindrom Werdnig-Hoffman.
10. Diagnosis Banding
- Mental subnormal
- Retardasi motorik terbatas
- Tahanan volunteer terhadap gerakan pasif
- Kelainan persendian
- Cara berjalan yang belum stabil
- Gerakan normal
- Pemendekan congenital pada gluteus maksimus, gastroknemius atau hamstring
- Kelemahan otot-otot pada miopati, hipotoni atau palsi Erb
- Lain penyebab dari gerakan involunter
- Penyakit-penyakit degeneratif pada susunan saraf
- Kelainan pada medulla spinalis
- Sindrom lain
11. Prognosis
Kesembuhan dalam arti regenerasi dari otak yang sesungguhnya, tidak pernah terjadi pada penderita ini. Tetapi akan terjadi perbaikan sesuai dengan tingkat maturitas otak yang sehat sebagai kompensasinya. Prognosis paling baik pada derajat fungsional ringan dan bertambah berat apabila disertai retardasi mental, bangkitan kejang, gangguan penglihatan dan pendengaran. Selain itu, spectrum ketidakmampuan individual dan tipe serta intensitas intervensi rehabilitas juga memainkan peranan yang penting. Angka kematian penyakit ini adalah 53% pada tahun pertama dan 11% meninggal pada umur 7 tahun.





