PostHeaderIcon Askep Pada Klien Dengan Gangguan Isi Pikir Halusinasi


Askep Pada Klien Dengan Gangguan Isi Pikir : Halusinasi

 

Kajian Teori

Pengertian Halusinasi

Halusinasi adalah pengalaman tanpa rangsang external (Cook dan Fontaine, 1987). Halusinasi merupakan salah satu gejala yang sering ditemukan pada klien dengan gangguan jiwa dari seluruh pasien diantaranya mengalami halusinasi. Gangguan jiwa lain yang sering juga disertai dengan gejala halusinasi adalah gangguan maniak degresif dan aterium.

 

Jenis – Jenis Halusinasi

Ada beberapa jenis halusinasi, Stuart dan Larara 1908 membagi halusinasi menjadi 7 jenis yaitu :

 

Halusinasi Pendengaran

Karakteristinya meliputi mendengar suara-suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien bahkan sampai ke percakapan  lengkap antara 2 orang atau lebih tentang orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa klien disuruh melakukan sesuatu yang kadang-kadang dapat membahayakan.

 

Halusinasi Penglihatan

Karakteristiknya meliputi stimulus visual dalam bentuk cahaya, gambar geometrik, gambar kartoon, bayangan yang rumit atau kompleks, bayangan bisa menyenangkan atau menakutkan seperti melihat monster.

 

Halusinasi Penghidu

Karakteristiknya meliputi membaui bau tertentu seperti bau darah, kemenyan atau faeces yang umumnya tidak menyenangkan.

 

Halusinasi Pengecapan

Merasa mengecap, seperti rasa darah, urine, dan faeces.

 

Halusinasi Perabaan

Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan berupa stimulus yang jelas, rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang.

 

Halusinasi Cenesthehe

Dimana klien merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah vena atau arteri, pencernaan makanan atau pembentukan urine.

 

Halusinasi Kinestetic

Merasakan pergerakan sementara, berdiri tanpa bergerak

 

 

Proses Terjadinya Halusinasi

Halusinasi berkembang menjadi 4 fase (Habes, dkk, 1902):

 

Fase pertama (conforting)

Pada fase ini klien mengalami kecemasan, stres, perasaan yang terpisah, kesepian klien mungkin melamun atau memfokuskan pikiran pada hal yang menyenangkan untuk menglilangkan kecemasan dan stres. Cara ini menolong untuk sementara.

 

Fase kedua (condeming)

Pencemasan meningkat dan berhubungan dengan pengalaman internal dan eksternal. Klien berada pada tingkat “ Listening” pada halusinasi. Pemikian internal menjadi menonjol. Gambaran suara dan sensasi halusinasi dapat berupa bisikan yang tidak jelas. Klien takut apabila orang lain mendengar dan klien tidak mampu mengontrolnya. Klien membuat jarak antara dirinya dan halusinasi dengan memproyeksikan seolah-olah halusinasi datang dari orang lain atau tempat lain.

 

Fase Ketiga

Halusinasi menonjol, menguasai dan mengontrol klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya pada halusinasinya. Halusinasi memberi kesenangan dan rasa aman yang sementara.

 

Fase Keempat (conquerting)

Klien merasa terpaku dan tidak berdaya melepaskan diri dari kontrol halusinasinya. Halusinasi yang sebelumnya menyenangkan berubah menjadi mengancam, memerintah dan memarahi klien tidak dapat berhubungan dengan orang lain karena terlalu sibuk dengan halusinasinya. Klien mungkin berada dalam dunia yang menakutkan dalam waktu yang singkat, beberapa jam atau selamanya. Proses ini menjadi kronik jika tidak dilakukan intervensi.

Masalah Keperawatan dan Data Yang Perlu Dikaji

 

Faktor Predisposisi

Kaji faktor predisposisi yang pada munculnya biologi seperti pada halusinasi antara lain :

Faktor genetis

Faktor neurobiologi

Faktor neurotransiniter

Teori virus

Psikologi

Faktor Presipitasi

 

Kaji gejala-gejala pencetus neurobiologis meliputi :

Kesehatan       : nutrisi kurang, kurang tidur, kelelahan, infeksi, obat ssp, hambatan untuk menjangkau pelayanan kesehatan.

Lingkungan : masalah di rumah tangga, sosial, tekanan kerja, kurangnya dukungan sosial, kehilangan kebebasan hidup.

Sikap / prilaku merasa tidak mampu (harga diri rendah), putus asa merasa gagal, kehilangan rendah diri, merasa malang, perilaku agresif, perilaku kekerasan, ketidakadekuatan pengobatan.

Mekanisme Koping

Kaji mekanisme koping yang sering digunakan klien, meliputi :

Regresi            :  menjadi malas beraktifitas sehari-hari

Proyeksi          : mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain atau sesuatu benda.

Menarik diri : sulit mempercayai orang lain dan dengan stimulus internal

Keluarga mengingkari masalah yang dialami oleh klien.

Ketahui tentang halusinasi klien meliputi :

Isi halusinasi yang dialami klien

Waktu dan frekuensi halusinasi

Situasi pencetus halusinasi

Respon klien tentang halusinasinya

 

Diagnosa Keperawatan pada Klien dengan Halusinasi

Diagnosa yang mungkin muncul pada klien halusinasi :

1. Resiko mencederai diri sendiri orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi

2. Perubahan sesnsori persepsi halusinasi  berhubungan menarik diri

isolasi sosial menarik diri berhubungan diri rendah.

 

 

Rencana Tindakan Keperawatan pada Klien Halusinasi

 

1. Tujuan TUM  : klien  tidak mencederai orang lain dan lingkungan.

TUK1 : klien dapat membina hubungan saling percaya

Kriteria Evaluasi:

Ekspresi wajah bersahabat ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebut nama.

Intervensi

  • Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi
  • Sapa klien dengan ramah
  • Perkenalkan diri dengan sopan
  • Jelaskan tujuan pertemuan
  • Jujur dan menepati janji

2. TUK 2 : Klien mengenal halusinasinya

Kriteria Evaluasi

Klien dapat menyebutkan waktu, isi, frekuensi, timbulnya halusinasi

Intervensi

  • Adakah kontak yang sering dan singkat secara bertahap
  • Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya

3. TUK 3 : Klien dapat mengontrol halusinasinya

Kriteria Evaluasi

Klien dapat menyebutkan tindakan yang biasanya dilakukan untuk mengendalikan halusinasinya

Intervensi

  • Identifikasi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi
  • Diskusikan dengan klien tentang manfaat cara yang digunakan klien, jika bermanfaat berikan pujian

4. TUK 4 : Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik

Kriteria Evaluasi

Klien dapat menyebutkan manfaat, dosis dan efek samping obat

Klien dapat mendemonstrasikan cara penggunaan obat yang benar

Intervensi

  • Diskusikan dengan klien tentang dosis frekuensi dan manfaat obat
  • Anjurkan klien minta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. (2008). Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta :EGC.

Directorat Kesehatan Jiwa, Dit. Jen Yan. Kes. Dep. Kes R.I. Keperawatan Jiwa. Teori dan Tindakan Keperawatan Jiwa, , 2000

Doenges, Mrylin E, dkk. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC.

Rasmun, Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi dengan Keluarga, CV.
Sagung Seto, , 2001.

 

Artikel Lainnya:

  1. Protap Pemeriksaan Tanda Vital Untuk Perawat
  2. Asuhan Keperawatan TB
  3. Askep Gastritis
  4. Askep Scabies
  5. Download Kumpulan Askep

 

 


Leave a Reply

*

Download ASKEP

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net

Tukar Link ?
Copy kode dibawah ini, kemudian paste di blog Anda:


Tampilan akan seperti ini :

Langganan Artikel
Enter your Email


Preview | Powered by FeedBlitz
Menu Anak


Copyright © 2008 - 2017 NursingBegin.com.