Archive for the ‘Analis’ Category

PostHeaderIcon Analisis Toksikologi Preparasi Sampel Darah Dan Urine

Analisis Toksikologi

Preparasi Sampel Darah Dan Urine

I.  Preparasi Sampel

Preparasi sampel adalah proses penyiapan sampel sebelum dilakukan analisis yang bertujuan untuk memisahkan atau menyingkirkan pengotor atau zat-zat yang tidak diinginkan (selain analit) sehingga didapat hasil yang valid (Flanagan, et al., 2007).

 

1.1 Sampel Darah

Istilah darah diawali dari kata hemo atau hemato, yang berasal dari bahasa Yunani haima yang berarti darah. Darah adalah cairan jaringan tubuh yang beredar melalui arteri, kapiler, dan vena, terdiri atas dua bagian yaitu 55% cairan interseluler (plasma) dan 45% unsur-unsur padat (sel darah). Volume darah secara keseluruhan kira-kira merupakan satu per dua belas berat badan atau kira-kira 5 liter (Pearce, 2002).

Darah manusia berwarna merah, antara merah terang apabila kaya oksigen sampai merah tua apabila kekurangan oksigen. Warna merah pada darah disebabkan oleh hemoglobin yang mengandung besi dalam bentuk heme, yang merupakan tempat terikatnya molekul-molekul oksigen (Anonim a, 2009).

Fungsi utama darah adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, hormon-hormon dari sistim endokrin, obat-obatan dan bahan kimia asing ke hati untuk diuraikan dan ke ginjal untuk dibuang sebagai air seni (Anonim a, 2009).

 

1.1.2 Komponen-komponen Darah yang dapat Dijadikan Sampel Analisis

a. Sel Darah Merah atau Eritrosit

Eritrosit berupa cakram kecil bikonkaf, cekung pada kedua sisinya, sehingga dilihat dari samping nampak seperti preparasi sampel darah urinedua buah bulan sabit yang saling bertolak belakang. Dalam setiap melimeter kubik darah terdapat 5.000.000 sel darah. Jika dilihat satu persatu warnanya kuning tua pucat, tetapi dalam jumlah besar kelihatan merah dan memberi warna pada darah. Strukturnya terdiri atas pembungkus luar atau stroma, berisi masa hemoglobin (Pearce, 2002). Dalam analisis toksikologi, sel darah merah digunakan sebagai specimen dalam kasus keracunan carbon monoxide, cyanide dan bahan volatin organic, logam berat, beberapa obat seperti chlortalidone, dan acetazolamide, karena zat tersebut banyak berikatan dengan sel darah merah. Di dalam darah, obat mungkin berada baik di dalam plasma atau sel darah merah. Sampel plasma biasanya tidak bermanfaat pada kasus dimana obat yang terlibat diketahui berada dalam ssel darah merah (Karch, 1997).

 

b. Plasma

Plasma darah merupakan bagian cair darah berwarna kekuningan, terdiri dari air, protein, elektrolit, karbohidrat, kolesterol, hormon dan vitamin (Anonim b, 2008). Jumlah plasma darah ± dua per tiga dari berat darah. Plasma ini adalah koloid yang terdiri dari 90 % air dan 7% protein. Sepertiga bagian darah sisanya terutama terdiri hemoglobin. Hemoglobin ini sebetulnya adalah protein yang paling banyak terdapat dalam darah, kira-kira terdapat sebanyak 10% dalam darah, atau kira-kira 50% dari bahan kering darah. Protein plasma ini terdiri dari albumin (4-5%), globulin (2-2,5%) dan fibrinogen (0,3-0,4%). Selain itu plasma mengandung garam anorganik (0,9%) dan senyawa organik terlarut lainnya (2,1%) (Apriyantono, 2007).

Plasma lebih sering digunakan dari pada serum pada analisis obat, karena dapat disentrifugasi dengan segera, sedangkan pembentukan serum membutuhkan lebih banyak waktu (Smyth, 1992).

 

c. Serum

Serum darah adalah cairan bening yang memisah setelah darah beku. Plasma darah berbeda dengan serum darah terutama pada serum tidak terdapat faktor pembentukan fibrinogen. Jika darah tetap dibiarkan selama 15 menit pada suhu kamar dalam suatu tabung tanpa antikoagulan maka serum dan komponen darah lainnya akan memisah (Flanagant, 2007).

 

1.2 Sampel Urin

Spesimen urin untuk kepentingan uji analisis biasanya dikumpulkan pada pagi hari, malam hari ataupun dapat dilakukan kapan saja sepanjang hari. Sangat penting untuk dilakukan pencatatan terhadap waktu pengambilan urine karena dapat digunakan dalam penentuan laju produksi urine. Sampel urine acak biasanya ditambahkan pengawet seperti asam hidroklorik 2 M.

Urine segar berwarna kuning atau kuning-hijau, namun pada penyimpanan sebagai larutan yang bersifat asam warna urin akan berubah menjadi kuning-coklat akibat terjadinya oksidasi dari urobilinogen menjadi urobilin. Sampel urin tahan tahan selama beberapa minggu jika disimpan pada suhu 2-8ºC. namun jika dibekukan (-20ºC), sampel urine yang diasamkan akan tahan sampai jangka waktu yang panjang, tapi sebelumnya dilakukan sentrifugasi terlebih dahulu (Flanagan et al., 2007)

Urin sangat berguna dalam skrining racun karena obat, racun dan metabolit terdapat dengan konsentrasi yang lebih besar pada urin dibandingkan dalam darah.

 

II. Bahan

• Sampel darah

• Urin

• Buffer saline

• EDTA

• Asam Sitrat

• Metanol

III. Alat

• Spuit

• Neraca analitik

• Sendok tanduk

• Kertas perkamen

• pH meter

• Ball filler

• Lemari es / freezer

• Pipet volume

• Pipet tetes

• Eppendorf

• Tabung vial + penutup

• Tabung sentrifugasi + penutup

• Rak tabung reaksi + tabung reaksi

• Sentrifugasi

• Tabung vortex

• Vortex

IV. Cara Kerja

4.1 Perlakuan pada Sampel Darah

1. cara memperoleh plasma dari darah (prosedur ini dilakukan jika matrik yang tersedia berupa darah segar)

  • Darah segar diambil dengan pipet volume sebanyak 3-5 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi.
  • Dilakukan sentrifugasi dengan kecepatan 1500 rpmselama 15 menit hingga terbentuk dua fase yaitu fase cair (bagian atas) dan fase padatan (bagian bawah). Fase cair yang diperoleh dari hasil sentrifugasi ini disebut plasma.
  • Fase cair diambil dengan pipet volume dipindahkan ke dalam eppendorf. Plasma selanjutnya disimpan pada suhu 2-8ºC.

 

2. Cara memperoleh Serum dari Darah

  • Darah sebanyak 3-5 ml diambil menggunakan pipet volume, dimasukkan ke dalam tabung reaksi.
  • Dibiarkan selama 15 menit pada suhu kamar tanpa penambahan antikoagulan.
  • Bagian bening yang memisah dari padatan disebut serum. Bagian ini diambil dengan pipet volume dan dipindahkan ke dalam tabung eppendorf.

3. Cara memperoleh sel darah merah (eritrosit) dari Darah

  • Untuk memperoleh eritrosit, darah sebanyak 3-5 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan antikoagulan sebanyak 2 mg per ml darah.
  • Dilakukan sentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit.
  • Diperoleh tiga lapisan yaitu plasma (bagian atas), lapisan platelet (bagian tengah) dan eritrosit (bagian bawah).
  • Lapisan plasma, platelet dan sekitar 10% dari bagian eritrosit dibuang.
  • Eritrosit yang masih tersisa selanjutnya dicuci hati-hati dengan cairan isotonik (buffer saline), gunanya untuk menghilangkan plasma yang mungkin masih tersisa dan melekat pada eritrosit.
  • Sel darah harus digunakan langsung atau disimpan dalam suhu dingin (2-8ºC) untuk mencegah terjadinya hemolisis.

4. Cara memperoleh Whole Blood

  • Tabung ditambahkan dengan EDTA sebanyak 2 mg per mL darah. Selanjutnya darah segar sebanyak 3-5 ml dimasukkan ke dalam tabung tadi.
  • Tabung ditutup rapat dan disimpan pada suhu -20ºC.

5. Pengendapan protein dari plasma darah

  • Plasma dimasukkan ke dalam tabung.
  • Tabung yang telah terisi plasma ditambahkan dengan metanol sebanyak 2 kali volume plasma yang digunakan.
  • Dilanjutkan dengan sentrifugasi, pada kecepatan 1500 rpm selama 15 menit pada tabung tersebut.
  • Setelah selesai disentrifugasi, maka akan terlihat lapisan protein padatan (bagian bawah) dan lapisan cair (fraksi bebas protein) di bagian atas.
  • Lapisan cair diambil dan ditempatkan ke dalam tabung reaksi yang berlainan dan diberi tanda.

4.2 Hal-hal yang perlu diamati saat menerima sampel urin

Kode Sampel :

Jenis Sampel :

Tanggal dan Waktu Pengambilan :

Tanggal dan Waktu Penerimaan :

Identitas Petugas :

Kondisi sampel saat diterima :

1. Warna :

(dilihat warna urine yang diterima)

2. pH :

(diukur dengan mencelupkan pH-meter strip, bandingkan perubahan warna yang terjadi dengan gambar yang tertera pada box)

3. volume :

(diukur dengan pipet volume)

 

4.3 Penanganan Sampel Urin

  • Urin 5-10ml di masukkan ke dalam tabung ditambahkan asam sitrat sebanyak 2% b/v.
  • Dilakukan sentrifugasi untuk menghilangkan endapan-endapan protein yang mungkin terdapat dalam urin.
  • Bagian cair diambil dan dipindahkan ke tabung lain untuk disimpan pada suhu 2-8ºC (urin dapat bertahan selama bertahun-tahun karena dibekukan).

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net

Tukar Link ?
Copy kode dibawah ini, kemudian paste di blog Anda:


Tampilan akan seperti ini :

Langganan Artikel
Enter your Email


Preview | Powered by FeedBlitz
Menu Anak

Copyright © 2008 - 2017 NursingBegin.com.