Archive for the ‘Askep Anak’ Category

PostHeaderIcon SAP Imunisasi pada Bayi

SATUAN ACARA PENYULUHAN

 

Pokok Bahasan           : Imunisasi pada Bayi

Sub Pokok Bahasan    : Menjelaskan tentang Imunisasi pada Bayi

Sasaran                          : Ibu Bayi

Tempat                          : Pelayanan Kesehatan

I. Tujuan Instruksional Umum

Setelah diberikan penyuluhan tentang imunisasi pada ibu, ibu bayi dapat   memahami pentingnya pelaksanaan imunisasi pada bayi sehingga bayi memperoleh kekebalan secara aktif.

II. Tujuan Instruksional Khusus

Setelah diberikan penyuluhan selama 15 menit, ibu bayi dapat :

  1. Memahami pengertian, tujuan, macam-macam, tempat dan jadwal Imunisasi.
  2. Memahami efek samping dan penanganan terhadap efek samping dari imunisasi.

III. Materi

  1. Pengertian, tujuan, macam-macam, tempat dan jadwal Imunisasi.
  2. Memahami efek samping dan penanganan terhadap efek samping dari Imunisasi

IV. Proses Belajar Mengajar

  1. Metode :
  1. Ceramah
  2. Tanya Jawab

 

MATERI :

IMUNISASI PADA BAYI

A. PENGERTIAN IMUNISASI

          Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin (zat kekebalan) ke dalam tubuh untuk mencegah terhadap penyakit tertentu.

B. TUJUAN IMUNISASI

Diharapkan anak menjadi kebal terhadap penyakit sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

C. MACAM-MACAM IMUNISASI

Di negara kita ini ada beberapa jenis imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah (Imunisasi Dasar) dan ada juga yang hanya dianjurkan. Imunisasi wajib di Indonesia ada 5 macam, yaitu BCG, DPT, polio, campak dan HBV.

  1. Imunisasi BCG

Imunisasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC). Vaksin BCG SAP Imunisasi pada Bayidiberikan 1 kali pada rentang umur 0-2 bulan. Efek samping yang biasa terjadi adalah pembengkakan dan kemerahan di sekitar lokasi suntikan. Sesudah mendapat BCG, seseorang anak masih dapat menderita infeksi tuberculosis primer, namun anak itu tidak akan mendapat komplikasi berat. Hal ini merupakan keuntungan terbesar dari vaksinasi BCG.

  1. Imunisasi DPT

Imunisasi DPT adalah imunisasi  yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit difteri, pertusis dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan. Pertusis (batuk rejan) adalah infeksi bakteri pada saluran pernafasan yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap yang berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan anak sulit bernafas, sulit makan atau minum. Tetanus adalah infeksi bakteri yang sering menyebabkan kaku pada rahang serta kadang menimbulkan kejang. Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat anak berumur 2 bulan (DPT I), 3 bulan (DPT II) dan 4 bulan (DPT III), selang waktu  minimal 4 minggu. Efek samping yang biasanya terjadi berupa demam ringan, kemerahan dan pembengkaan pada lokasi suntikan.

  1. Imunisasi Polio

Imunisasi polio memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomyelitis. Polio bisa menyebabkan nyeri otot dan kelumpuhan serta dapat juga menyebabkan kematian. Imunisasi dasar polio diberikan dengan dosis 2 tetes setiap pemberian yaitu pada anak umur 0 bulan (polio 0),  2 bulan (polio I), 3 bulan (polio II), 4 bulan (polio III) dengan interval tidak kurang dari 4 minggu. Vaksin polio oral ini merupakan vaksin yang paling aman karena tidak ditemukan efek samping dari pemberian vaksin ini.

  1. Imunisasi Campak

Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak. Imunisasi campak diberikan sebanyak 2 kali. Pertama, pada saat anak berumur 9 bulan. Imunisasi Campak ulangan atau booster diberikan pada umur 5-7 tahun. Campak pertama  diperlukan untuk menimbulkan  respon  kekebalan, sedangkan campak kedua diperlukan untuk meningkatkan kekuatan antibodi sampai pada tingkat yang tertinggi. Efek samping vaksinasi campak bisa menimbulkan panas dan ruam setelah masa inkubasi (1 – 2 minggu setelah vaksinasi).

  1. Imunisasi Hepatitis B (HBV)

Hepatitis B adalah suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan kematian. Imunisasi HBV hanya memberikan kekebalan terhadap hepatitis B tidak dengan penyakit hepatitis lain. Imunisasi ini diberikan sebanyak 4 kali. Suntikan HBV0 diberikan pada 0-7 hari setelah anak lahir, HBV1 diberikan pada umur 1 bulan sedangkan HBV2 diberikan pada usia 2 bulan, HBV3 diberikan pada umur 3 bulan dan HBV4 diberikan pada usia 4 bulan. Efek samping adalah rasa sakit, kemerahan dan pembengkaan di sekitar tempat penyuntikan seperti yang terlihat pada vaksin DPT. Reaksi biasanya bersifat ringan dan berkurang dalam beberapa hari setelah vaksinasi.

D. Penanganan Apabila Ada Efek Samping

Secara umum efek samping dari pemberian imunisasi  bisa sembuh dengan sendirinya seperti pemberian vaksin BCG yang mempunyai efek samping berupa luka pada tempat suntikan. Luka itu tidak perlu pengobatan dan akan sembuh secara sendirinya. Selain itu efek samping dari pemberian imunisasi dapat berupa demam, hal ini bisa diatasi dengan memberikan kompres air hangat untuk menurunkan suhu tubuhnya. Apabila sakit berlanjut dan ada gejala-gejala yang memperlihatkan keadaan yang semakin parah maka pasien disarankan untuk memeriksakan diri ketempat  tempat layanan kesehatan.

E. TEMPAT PELAYANAN IMUNISASI

Fasilitas kesehatan yang menyediakan tempat pelayanan imunisasi adalah rumah sakit baik pemerintah  maupun swasta, puskesmas, posyandu, bidan praktek swasta dan dokter praktek swasta.

F. JADWAL IMUNISASI

PostHeaderIcon Laporan Pendahuluan Pada Pasien Dengan Cerebral Palsy

Laporan Pendahuluan Pada Pasien Dengan Cerebral Palsy

1. Definisi Cerebral Palsy

Cerebral palsy merupakan salah satu kelainan motorik yang banyak diketemukan pada anak-anak. Nama lainnya adalah “static encephalopathies of childhood” (Soetjingsih, 1995).

Cerebral palsy adalah suatu gangguan atau kelainan yang terjadi pada suatu kurun waktu dalam perkembangan anak, mengenai sel-sel motorik di dalam susunan saraf pusat, bersifat kronik dan tidak progresif akibat kelainan atau cacat pada jaringan otak yang belum selesai pertumbuhannya. Walaupun lesi serebral bersifat statis dan tidak progresif, tetapi perkem- bangan tanda-tanda neuron perifer akan berubah dengan bertambahnya umur anak. Diketemukan hipotoni, gerakan yang berlebihan atau gangguan control motorik (Stephen BS, dkk, 2002).

 

2. Etiologi Cerebral Palsy

Penyebab dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

a. Pranatal

Infeksi terjadi dalam masa kandungan, menyebabkan kelainan pada janin, misalnya oleh toksoplasmosis, rubela danlaporan-pendahuluan cerebral palsy sitomegalovirus. Kelainan yang menyolok biasanya gangguan pergerakan dan retardasi mental. Anoxia dalam kandungan, terkena radiasi sinar-X dan keracunan kehamilan dapat menimbulkan “cerebral palsy”

b. Perinatal

1) Anoksia / hipoksia

Penyebab yang terbanyak ditemukan dalam masa perinatal ialah brain injury. Kelainan inilah yang menyebabkan anoksia. Hal ini terdapat pada keadaan persentase bayi abnormal, disproporsi sefalo-pelviks, partus lama, plasenta previa, infeksi plasenta, partus menggunakan bantuan instrumen tertentu dan lahir dengan sectio caesar.

2) Perdarahan otak

Perdarahan dan anoksia dapat terjadi bersama-sama, sehingga sukar membedakannya, misalnya perdarahan yang mengelilingi batang otak, mengganggu pusat pernafasan dan peredaran darah, sehingga terjadi anoksia. Perdarahan dapat terjadi di ruang subaraknoid akan menyebabkan penyumbatan CSS, sehingga mengakibatkan hidrocefalus. Perdarahan di subdural dapat menekan korteks serebri, sehingga timbul kelumpuhan spastis.

3) Prematuritas

Bayi kurang bulan mempunyai kemungkinan menderita perdarahan otak lebih banyak dibandingkan bayi cukup bulan, karena pembuluh darah, enzim, faktor pembekuan darah dan lain-lain masih belum sempurna.

4) Ikterus

Ikterus pada masa neonatus dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak yang kekal akibat masuknya bilirubin ke ganglia basal, misalnya pada kelainan inkompatibilitas golongan darah.

5) Meningitis purulenta

Meningitis purulenta pada masa bayi bila terlambat atau tidak tepat pengobatannya akan mengakibatkan gejala sisa berupa “cerebral palsy”

c. Pascanatal

Setiap kerusakan pada jaringan otak yang mengganggu perkembangan dapat menyebabkan „cerebral palsy?. Misalnya pada trauma kapitis, meningitis ensefalitis dan luka parut

 

3. Tanda dan Gejala Cerebral Palsy

Gambaran klinik cerebral palsy tergantung dari bagian dan luasnya jaringan otak yang mengalami kerusakan.

a. Paralisis

Terdapat peninggian tonus otot dan refleks yang disertai dengan klonus dan refleks Babinski yang positif. Tonus otot yang meninggi itu menetap dan tidak hilang meskipun penderita dalam keadaan tidur. Peninggian tonus ini tidak sama derajatnya pada suatu gabungan otot, karena itu tampak sikap yang khas dengan kecendrungan terjadi kontraktur. Golongan spastitis ini meliputi 2/3 – ¾ penderita „cerebral palsy? Bentuk kelumpuhan spastitis tergantung kepada letak dan besarnya kerusakan, yaitu:

1) Monoplegia/monoparesis

Kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi salah satu anggota gerak lebih hebat dari yang lainnya

2) Hemiplegia/diparesis

Kelumpuhan lengan dan tungkai dipihak yang sama

3) Diplegia/diparesis

Kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi tungkai lebih hebat daripada lengan

4) tetraplegia/tetraparesis

Kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi lengan lebih atau sama hebatnya dibandingkan dengan tungkai.

b. Gerakan involunter

Dapat berbentuk atetosis, khoreoatetosis, tremor dengan tonus yang dapat bersifat flaksid, rigiditas, atau campuran.

c. Ataksia

Gangguan koordinasi ini timbul karena kerusakan serebelum. Penderita biasanya memperlihatkan tonus yang menurun (hipotoni), dan menunjukkan perkembangan motorik yang terlambat. Mulai berjalan sangat lambat, dan semua pergerakan serba canggung.

d. Kejang

Dapat bersifat umum atau fokal.

e. Gangguan perkembangan mental

Retardasi mental ditemukan kira-kira pada 1/3 dari anak dengan cerebral palsy terutama pada grup tetraparesis, diparesis spastik dan ataksia. Cerebral palsy yang disertai dengan retardasi mental pada umumnya disebabkan oleh anoksia serebri yang cukup lama, sehingga terjadi atrofi serebri yang menyeluruh. Retardasi mental masih dapat diperbaiki bila korteks serebri tidak mengalami kerusakan menyeluruh dan masih ada anggota gerak yang dapat digerakkan secara volunter. Dengan dikembangkannya gerakan-gerakan tangkas oleh anggota gerak, perkembangan mental akan dapat dipengaruhi secara positif.

f. Mungkin didapat juga gangguan penglihatan (misalnya: hemianopsia, strabismus, atau kelainan refraksi), gangguan bicara, gangguan sensibilitas.

g. Problem emosional terutama pada saat remaja

4. Klasifikasi Cerebral Palsy

Klasifikasi berdasarkan gambaran klinis dan derajat kemampuan fungsionil. Berdasarkan gejala klinis maka pembagian cerebral palsy adalah sebagai berikut:

a. Tipe spastis atau piramidal.

Pada tipe ini gejala yang hampir selalu ada adalah :

– Hipertoni (fenomena pisau lipat).

– Hiperrefleksi yang djsertai klonus.

– Kecenderungan timbul kontraktur.

– Refleks patologis.

Secara topografi distribusi tipe ini adalah sebagai berikut:

1) Hemiplegia apabila mengenai anggota gerak sisi yang sama.

2) Spastik diplegia apabila mengenai keempat anggota gerak, anggota gerak bawah lebih berat.

3) Kuadriplegi, mengenai keempat anggota gerak, anggota gerak atas sedikit lebih berat.

4) Monoplegi, bila hanya satu anggota gerak.

5) Triplegi apabila mengenai satu anggota gerak atas dan dua anggota gerak bawah, biasanya merupakan varian dan kuadriplegi.

b. Tipe ekstrapiramidal

Akan berpengaruh pada bentuk tubuh, gerakan involunter, seperti atetosis, distonia, ataksia. Tipe ini sering disertai gangguan emosional dan retardasi mental. Di samping itu juga dijumpai gejala hipertoni, hiperrefleksi ringan, jarang sampai timbul klonus. Pada tipe ini kontraktur jarang ditemukan, apabila mengenai saraf otak bisa terlihat wajah yang asimetnis.

c. Tipe campuran

Gejala-gejalanya merupakan campuran kedua gejala di atas misalnya hiperrefleksi dan hipertoni disertai gerakan khorea.

Klasifikasi berdasarkan derajat kemampuan fungsional.

a. Ringan:

Penderita masih bisa melakukan pekerjaan dan aktifitas sehari- hari sehingga sama sekali tidak atau hanya sedikit sekali membutuhkan bantuan khusus.

b. Sedang:

Aktifitas sangat terbatas. Penderita membutuhkan bermacam-macam bantuan khusus atau pendidikan khusus agar dapat mengurus dirinya sendiri, dapat bergerak atau berbicara. Dengan pertolongan secara khusus, diharapkan penderita dapat mengurus diri sendiri, berjalan atau berbicara sehingga dapat bergerak, bergaul, hidup di tengah masyarakat dengan baik.

c. Berat:

Penderita sama sekali tidak bisa melakukan aktifitas fisik dan tidak mungkin dapat hidup tanpa pertolongan orang lain. Pertolongan atau pendidikan khusus yang diberikan sangat sedikit hasilnya. Sebaiknya penderita seperti ini ditampung dalam rumah perawatan khusus. Rumah perawatan khusus ini hanya untuk penderita dengan retardasi mental berat, atau yang akan menimbulkan gangguan sosial-emosional baik bagi keluarganya maupun lingkungannya.

6. Komplikasi dan Kelainan Penyerta Cerebral Palsy

a. Retardasi mental,

b. Epilepsy,

c. Kelainan visus,

d. Kelainan pendengaran,

e. Disatria,

f. Kelainan kortikol sensori,

g. Pertumbuhan ektrimitas tidak simetris,

h. Scoliosis,

i. Dismorfogenesis gigi,

j. Kontraktur sendi,

k. Deficit persepsi

7. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan mata dan pendengaran

b. Pemeriksaan cairan serebrospinalis

c. Pemeriksaan serum antibody terhadap rubella, sitomegalo virus, toksoplasmosis dan herpes simpleks

d. Foto kepala

e. CT Scan atau MRI

f. EEG, EMG dan Evoked potensialis

g. Analisa kromosom

h. Penilaian psikologi

 

8. Penatalaksanaan Secara Umum

Tidak ada terapi spesifik terhadap cerebral palsy. Terapi bersifat simtomatik, yang diharapkan akan memperbaiki kondisi pasien. Terapi yang sangat dini akan dapat mencegah atau mengurangi gejala-gejala neurologik. Untuk menentukan jenis terapi atau latihan yang diberikan dan untuk menentukan keberhasilannya maka perlu diperhatikan penggolongan cerebral palsy berdasarkan derajat kemampuan fungsionil yaitu derajat ringan, sedang dan berat. Tujuan terapi pasien cerebral palsy adalah membantu pasien dan keluarganya memperbaiki fungsi motorik dan mencegah deformitas serta penyesuaian emosional dan pendidikan sehingga penderita sedikit mungkin memerlukan pertolongan orang lain, diharapkan penderita bisa mandiri. Gizi yang baik perlu pada penderita ini. Pencatatan rutin perkembangan berat badan anak perlu dilaksanakan. Hal-hal lain yang sewajarnya perlu dilaksanakn seperti imunisasi dan lain-lain.

Obat-obatan yang diberikan tergantung pada gejala-gejala yang muncul. Misalnya untuk kejang bisa diberikan anti kejang. Untuk spastisitas bisa diberikan baclofen dan diazepam. Bila gejala berupa nigiditas bisa diberikan levodopa. Mungkin diperlukan terapi bedah ortopedi maupun bedah saraf untuk merekonstruksi terhadap deformitas yang terjadi. Fisioterapi dini dan intensif untuk mencegah kecacatan, juga penanganan psikolog atau psikiater untuk mengatasi perubahan tingkah laku pada anak yang lebih besar. Yang tidak boleh dilupakan adalah masalah pendidikan yang harus sesuai dengan tingkat kecerdasan penderita.

Occupational therapy ditujukan untuk meningkatkan kemampuan untuk menolong diri sendiri, memperbaiki kemampuan motorik halus, penderita dilatih supaya bisa mengenakan pakaian, makan, minum dan keterampilan lainnya.

Speech therapy diberikan pada anak dengan gangguan wicara bahasa, yang ditangani seorang ahli.

 

9. Diagnosis Cerebral Palsy

Memerlukan beberapa kali pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis cerebral palsy. Anamnesis yang cukup teliti diperlukan untuk menyingkirkan penyakit atau sindrom lain yang mirip dengan cerebral palsy. Pemeriksaaan motorik, sensorik dan mental perlu dilakukan secermat mungkin. Walaupun pada penyakit ini gerakan motorik dan postur badan merupakan ciri utama, tetapi tidak boleh dilupakan bahwa penderita sering juga disertai dengan gangguan bukan motorik seperti retardasi mental, kejang – kejang, gangguan psikologik dan lainnya.

Manifestasi dari gangguan motorik atau postur tubuh dapat berupa spastisitas, rigiditas, ataksia, tremor, atonik/hipotonik, tidak adanya refleks primitive (pada fase awal) atau refleks primitive yang menetap (pada fase lanjut), diskinesia (sulit melakukan gerakan volunteer). Gejala – gejala tersebut dapat timbul sendiri ataupun merupakan kombinasi dari gejala tersebut.

Bank (dikutip dari Thamrinsyam) memberikan criteria diagnostic sebagai berikut :

1. Masa neonatal

a. Depresi/asimetri dari refleks primitive (refleks Moro, rooting, sucking, tonik neck, palmar, stepping)

b. Reaksi berlebihan terhadap stimulus

c. Kejang – kejang

d. Gejala neurologik local

 

2. Masa umur < 2 bulan

a. Keterlambatan perkembangan motorik, seperti duduk atau jalan.

b. Terdapat paralysis spastik

c. Terdapat gerakan involuntary

d. Menetapnya refleks primitive

e. Keterlambtan timbulnya refleks – refleks yang lebuh tinggi, seperti refleks Landau sesudah 10 bulan, refleks parasut setelah umur 8 bulan.

 

3. Anak yang lebih besar

a. Keterlambatan “milestone” perkembangan.

b. Disfungsi dari tangan

c. Gangguan dari cara berjalan.

d. Terdapat spastisitas

e. Terdapat gerakan – gerakan yang involuntary

f. Terdapat retardasi mental

g. Kejang – kejang

h. Gangguan bicara, pendengaran, penglihatan

 

Pada umumnya diagnosis pada anak di bawah umur 6 bulan adalah sulit karena perkembangan melistone tidak banyak. Padahal diagnosis dan intervensi dini akan memberikan prognosis yang lebih baik. Jadi cara Levine lebih memudahkan menegakkan diagnosis. Kelainan motorik pada Cerebral palsi dibagi menjadi 6 kategori yaitu:

a. Pola gerak dan postur

b. Pola gerak oral

c. Strabismus

d. Tonus otot

e. Evolusi postural dan kelainan lainnya yang mudah dikenal

f. Refleks tendon, primitive dan plantar.

Kriteria ini dapat secara nyata membedakan penderita cerebral palsy dengan yang bukan. Diagnosis ditegakkan apabila terdapat 4 kelainan dari 6 kategorik motorik tersebut diatas dan diserati dengan proses penyakit yang tidak progresif.

Sedangkan Illworth membuat diagnosis berdasarkan 5 tipe yaitu:

1) Tipe spastik

a. Umur 3 bulan pertama

1. Pada masa neonatal, perhatikan gerakkan bayi apakah terdapat gerakan yang terbatas pada bayi spastik, spastik kuadriplegia akan kelihatan pada anggota gerak dan pada bayi hemiplegi satu tangannya akan terletak erat dekat badan dan terdapat gerakan asimetris.

2. Amati bentuk kepala, perhatikan ekspresi, perhatian terhadap lingkungan. Ukur lingkar kepala, bila ukurannya kecil hubungkan dengan retardasi mental.

3. Angkatlah anak dalam posisi tengkurap, dengan memegang bagian lengan. Maka tampak adanya ekstensi pada kedua kaki, gerakan yang asimetris dan kedua kaki bersilangan.

4. Angkatlah anak dalam posisi terlentang, maka kepala akan tampak terkulai, tangan dan kaki tergantung bebas tanpa adanya fleksi pada siku atau lutut. Kemudian rubah posisi anak dengan posisi duduk, maka akan tampak leher terkulai. Gerakkan anak ke kanan dan kiri, perhatikan kemampuan control kepala. Dudukkkan anak dalam posisi condong ke depan, maka anak akan segera terjatuh ke belakang oleh karena spasme dari otot erector trunkus, gluteus dan hamstring.

5. Periksa refleks – refleks primitive.

 

b. Usia 4 – 8 bulan

1. Amati kualitas dan simetrisitas gerakan anak

2. Berikan kubus/mainan, perhatikan adanya kekauan ketika anak meraih kubus tersebut.

3. Angkatlah anak dengan memegang pada setinggi dada di bawah lengan, maka kaki akan tampak ekstensi.

4. Letakkan posisi anak terlentang, lakukan tes “knee jerk”, abduksi paha, dorso fleksi sendi kaki, periksa adanya klonus, tes Oppenheim dan Gordon. Pada anak hemiplegi, akan tampak anggota gerak lebih pendekdan lebih dingin pada perabaan.

5. Perhatikan apakah terdapat tanda – tanda retardasi mental.

6. Ukur lingkar kepala

7. Tes pendengarannya

 

c. Umur 9 bulan ke atas

1. Perhatikan gejala – gejala diatas

2. Berikan anak mainan kubus, suruh anak membuat menara dari kubus tersebut, perhatikan adanya tremor atau ataksia.

3. Bila anak sedang main atau berjalan, perhatikan apakah anak berjalan dengan ujung jari, atau adanya kelalainan pada cara berjalan anak.

4. Berdirikan anak pada satu kaki, bila ada hemiplegi akan tampak jelas.

5. Perhatikan adanya retadasi mental

 

2) Tipe athetoid

Tidak mungkin untuk mendiagnosis palsi serebralis tipe athetoid sebelum gerakan athetosis itu timbul. Bentuk khas kelainan ini adalah berupa ektensi pada siku dan pronasi pada pergelangan tangan. Tonus ekstensor yang meningkat, sehingga kepala terkulai kalau anak dari tidur kemudian didudukkan.sering disertai kesulitan mengisap dan menelan. Pada minggu-minggu pertama biasanya terdapat keterlambatan dalam gerakan motorik, kadang-kadang disertai bangkitan opistotonus. Gerakan tipe ini dapat diamati kapan saja setelah anak berumur 6 bulan, tetapi tersering setelah umur 1 tahun. Dicurigai adanya kelainan ini apabila terdapat ataksia dalam meraih benda. Setelah umur satu tahun, terdapat kesulitan dalam pandangan vertical, terdapat hipoplasia enamel gigi susu dan tuli pada nada tinggi. Reaksi plantar dan “knee jerk” adalah normal, karena traktus piramidalis tidak terkena.

 

3) Tipe rigid.

Khas pada tipe ini adalah adanya rigiditas pada semua anggota gerak, tidak ditemukan tanda-tanda kelainan pada traktus piramidalis. Kelainan ini pada umumnya disertai dengan retardasi mental.

 

4) Tipe ataksia

Terdapat tanda-tanda ataksia ketika anak meraih benda, pada waktu duduk atau berjalan.

 

5) Tipe hipotonik

Merupakan bentuk yang jarang terdapat. Sering dikelirukan dengan hipotonia. Hampir semua anak dengan kelainan ini terdapat retardasi mental. Lingkar kepalanya kecil, terdapat gerakan-gerakan yang meningkat, “fit” terdapat pada sepertiga kasus. Reaksi plantar adalah ektensor dan “knee jerk” meningkat sehingga dapat menyingkirkan congenital hipotonia dan sindrom Werdnig-Hoffman.

 

10. Diagnosis Banding

– Mental subnormal

– Retardasi motorik terbatas

– Tahanan volunteer terhadap gerakan pasif

– Kelainan persendian

– Cara berjalan yang belum stabil

– Gerakan normal

– Pemendekan congenital pada gluteus maksimus, gastroknemius atau hamstring

– Kelemahan otot-otot pada miopati, hipotoni atau palsi Erb

– Lain penyebab dari gerakan involunter

– Penyakit-penyakit degeneratif pada susunan saraf

– Kelainan pada medulla spinalis

– Sindrom lain

 

11. Prognosis

Kesembuhan dalam arti regenerasi dari otak yang sesungguhnya, tidak pernah terjadi pada penderita ini. Tetapi akan terjadi perbaikan sesuai dengan tingkat maturitas otak yang sehat sebagai kompensasinya. Prognosis paling baik pada derajat fungsional ringan dan bertambah berat apabila disertai retardasi mental, bangkitan kejang, gangguan penglihatan dan pendengaran. Selain itu, spectrum ketidakmampuan individual dan tipe serta intensitas intervensi rehabilitas juga memainkan peranan yang penting. Angka kematian penyakit ini adalah 53% pada tahun pertama dan 11% meninggal pada umur 7 tahun.

PostHeaderIcon Askep Diare Akut Dehidrasi Sedang

Askep Diare Akut Dehidrasi Sedang

 

 

Definisi Diare

Menurut WHO (1980), diare adalah buang air besar encer lebih dari 3 x sehari.

Menurut Haroen N, S. Suraatmaja dan P.O Asdil (1998), diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah atau lendir dalam tinja.

Menurut C.L Betz & L.A Sowden (1996) diare merupakan suatu keadaan terjadinya inflamasi mukosa lambung atau usus.

Menurut Suradi & Rita (2001), diare diartikan sebagai suatu keadaan dimana terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi buang air besar satu kali atau lebih dengan bentuk encer atau cair.

Etiologi Diare

1.      Faktor infeksi : Bakteri ( Shigella, Shalmonella, Vibrio kholera), Virus (Enterovirus), parasit (cacing), Kandida (Candida Albicans).

2.      Faktor parentral : Infeksi dibagian tubuh lain (OMA sering terjadi pada anak-anak).

3.      Faktor malabsorbsi : Karbohidrat, lemak,  protein.

4.      Faktor makanan : Makanan basi, beracun, terlampau banyak lemak, sayuran dimasak kurang matang.

5.      Faktor Psikologis : Rasa takut, cemas.

Patofisiologi Diare

Pengkajian Keperawatan pada Klien Diare

1.      Identitas

Perlu diperhatikan adalah usia. Episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Insiden paling tinggi adalah golongan umur 6-11 bulan. Kebanyakan kuman usus merangsang kekebalan terhadap infeksi, hal ini membantu menjelaskan penurunan insidence penyakit pada anak yang lebih besar. Pada umur 2 tahun atau lebih imunitas aktif mulai terbentuk. Kebanyakan kasus karena infeksi  usus asimptomatik dan kuman enteric menyebar terutama klien tidak menyadari adanya infeksi. Status ekonomi juga berpengaruh terutama dilihat dari pola makan dan perawatannya .

2.      Keluhan Utama

BAB lebih dari 3 x

3.      Riwayat Penyakit Sekarang

BAB warna kuning kehijauan, bercamour lendir dan darah atau lendir saja. Konsistensi encer, frekuensi lebih dari 3 kali, waktu pengeluaran : 3-5 hari (diare akut), lebih dari 7 hari ( diare berkepanjangan), lebih dari 14 hari (diare kronis).

4.      Riwayat Penyakit Dahulu

Pernah mengalami diare sebelumnya, pemakian antibiotik atau kortikosteroid jangka panjang (perubahan candida albicans dari saprofit menjadi parasit), alergi makanan, ISPA, ISK, OMA campak.

5.      Riwayat Nutrisi

Pada anak usia toddler makanan yang diberikan seperti pada orang dewasa, porsi yang diberikan 3 kali setiap hari dengan tambahan buah dan susu. kekurangan gizi pada anak usia toddler sangat rentan,. Cara pengelolahan makanan yang baik, menjaga kebersihan dan sanitasi makanan, kebiasan mencuci tangan.

6.      Riwayat Kesehatan Keluarga

Ada salah satu keluarga yang mengalami diare.

7.      Riwayat Kesehatan Lingkungan

Penyimpanan  makanan pada suhu kamar, kurang menjaga kebersihan, lingkungan tempat tinggal.

8.      Riwayat Pertumbuhan dan perkembangan

a.       Pertumbuhan

o   Kenaikan BB karena umur 1 –3 tahun berkisar antara 1,5-2,5 kg (rata-rata 2 kg),  PB 6-10 cm (rata-rata 8 cm) pertahun.

o   Kenaikan linkar kepala : 12cm ditahun pertama dan 2 cm ditahun kedua dan seterusnya.

o   Tumbuh gigi 8 buah : tambahan gigi susu; geraham pertama dan gigi taring, seluruhnya berjumlah 14 – 16 buah

o   Erupsi gigi : geraham perama menusul gigi taring.

b.      Perkembangan

o   Tahap perkembangan Psikoseksual menurut Sigmund Freud.

Fase anal :

Pengeluaran tinja menjadi sumber kepuasan libido, meulai menunjukan keakuannya, cinta diri sendiri/ egoistic, mulai kenal dengan tubuhnya, tugas utamanyan adalah latihan kebersihan, perkembangan bicra dan bahasa (meniru dan mengulang kata sederhana, hubungna interpersonal, bermain).

o   Tahap perkembangan psikososial menurut Erik Erikson.

Autonomy vs Shame and doundt

Perkembangn keterampilan motorik dan bahasa dipelajari anak toddler dari lingkungan dan keuntungan yang ia peroleh dari kemampuannya untuk mandiri (tak tergantug). Melalui dorongan orang tua untuk makan, berpakaian, BAB sendiri, jika orang tua terlalu over protektif menuntut harapan yanag terlalu tinggi maka anak akan merasa malu dan ragu-ragu seperti juga halnya perasaan tidak mampu yang dapat berkembang pada diri anak.

o   Gerakan kasar dan halus, bicara, bahasa dan kecerdasan, bergaul dan mandiri : Umur 2-3 tahun :

1.      Berdiri  dengan satu kaki tampa berpegangan sedikitpun  2 hitungan (GK)

2.      Meniru membuat garis lurus (GH)

3.      Menyatakan keinginan   sedikitnya dengan dua kata (BBK)

4.      Melepasa pakaian sendiri (BM)

9.      Pemeriksaan Fisik

a.       pengukuran panjang badan, berat badan menurun, lingkar lengan mengecil, lingkar kepala, lingkar abdomen membesar,

b.      keadaan umum : klien lemah, gelisah, rewel, lesu, kesadaran menurun.

c.       Kepala : ubun-ubun tak teraba cekung karena sudah menutup pada anak umur 1 tahun lebih

d.      Mata : cekung, kering, sangat cekung

e.       Sistem pencernaan : mukosa mulut kering, distensi abdomen, peristaltic meningkat > 35 x/mnt, nafsu makan menurun, mual muntah, minum normal atau tidak haus, minum lahap dan kelihatan haus, minum sedikit atau kelihatan bisa minum

f.       Sistem Pernafasan : dispnea, pernafasan cepat > 40 x/mnt karena asidosis metabolic (kontraksi otot pernafasan)

g.      Sistem kardiovaskuler : nadi cepat > 120 x/mnt dan lemah, tensi menurun pada diare sedang .

h.       Sistem integumen : warna kulit pucat, turgor menurun > 2 dt, suhu meningkat > 375 0 c, akral hangat, akral dingin (waspada syok), capillary refill time memajang > 2 dt, kemerahan pada daerah perianal.

i.        Sistem perkemihan : urin produksi oliguria sampai anuria (200-400 ml/ 24 jam ), frekuensi berkurang dari sebelum sakit.

j.        Dampak hospitalisasi : semua anak sakit yang MRS bisa mengalami stress yang berupa perpisahan, kehilangan waktu bermain, terhadap tindakan invasive respon yang ditunjukan adalah protes, putus asa, dan kemudian menerima.

10.  Pemeriksaan Penunjang

1)         Laboratorium :

  • feses kultur : Bakteri, virus, parasit, candida
  • Serum elektrolit : Hipo natremi, Hipernatremi, hipokalemi
  • AGD : asidosis metabolic ( Ph menurun, pO2 meningkat, pcO2 meningkat, HCO3 menurun )
  • Faal ginjal : UC meningkat (GGA)

2)         Radiologi : mungkin ditemukan bronchopemoni

Penatalaksanaan Diare

Rehidrasi

1.      jenis cairan

1)      Cara rehidrasi oral

o   Formula lengkap (NaCl, NaHCO3, KCl dan Glukosa) seperti orali, pedyalit setiap kali diare.

o   Formula sederhana ( NaCl dan sukrosa)

2)      Cara parenteral

o  Cairan I  : RL dan NS

o  Cairan II : D5 ¼ salin,nabic. KCL

D5 : RL = 4 : 1  + KCL

D5 + 6 cc NaCl 15 % + Nabic (7 mEq/lt) + KCL

o  HSD (half strengh darrow) D ½  2,5 NS cairan khusus pada diare usia > 3 bulan.

2.      Jalan pemberian

1)      Oral  (dehidrasi sedang, anak mau minum, kesadaran baik)

2)      Intra gastric ( bila anak tak mau minum,makan, kesadran menurun)

3.      Jumlah cairan ; tergantung pada :

1)      Defisit ( derajat dehidrasi)

2)      Kehilangan sesaat (concurrent less)

3)      Rumatan (maintenance).

4.      Jadwal / kecepatan cairan

1)      Pada anak usia 1- 5 tahun dengan pemberian 3 gelas bila berat badanya kurang lebih 13 kg : maka pemberianya adalah :

o   BB (kg) x 50 cc

o   BB (kg) x 10 – 20 = 130 – 260 cc setiap diare = 1 gls.

2)      Terapi standar pada anak dengan diare sedang :

+ 50 cc/kg/3 jam  atau 5 tetes/kg/mnt

Terapi

1.      obat anti sekresi : Asetosal, 25 mg/hari dengan dosis minimal 30 mg

klorpromazine 0,5 – 1 mg / kg BB/hari

2.      onat anti spasmotik : Papaverin, opium, loperamide

3.      antibiotik :  bila penyebab jelas, ada penyakit penyerta

Dietetik

a.         Umur > 1 tahun dengan BB>7 kg, makanan  padat / makanan cair atau susu

b.         Dalam keadaan malbasorbsi berat serta alergi protein susu sapi dapat diberi elemen atau semi elemental formula.

Supportif

Vitamin A 200.000. IU/IM, usia 1 – 5 tahun

Diagnosa Keperawatan pada Klien Diare

1.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare atau output berlebihan dan intake yang kurang

2.      Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan skunder terhadap diare.

3.      Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi skunder terhadap diare

4.      Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan frekwensi diare.

5.      Resiko tinggi gangguan tumbuh kembang berhubungan dengan BB menurun terus menerus.

6.      Kecemasan anak berhubungan dengan tindakan invasive

Intervensi Keperawatan pada Klien Diare

Diagnosa 1: Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan skunder terhadap diare

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam keseimbangan dan elektrolit dipertahankan secara maksimal

Kriteria hasil :

o   Tanda vital dalam batas normal (N: 120-60 x/mnt, S; 36-37,50 c, RR : < 40 x/mnt )

o   Turgor elastik , membran mukosa bibir basah, mata tidak cowong, UUB tidak cekung.

o   Konsistensi BAB lembek, frekwensi 1 kali perhari

Intervensi :

1)        Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit

Rasional : Penurunan sisrkulasi volume cairan menyebabkan kekeringan mukosa dan pemekataj urin. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan segera untuk memperbaiki defisit

2)        Pantau intake dan output

Rasional : Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus membuat keluaran tak aadekuat untuk membersihkan sisa metabolisme.

3)        Timbang berat badan setiap hari

Rasional : Mendeteksi kehilangan cairan , penurunan 1 kg BB sama dengan kehilangan cairan 1 lt

4)        Anjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada kien, 2-3 lt/hr

Rasional : Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang secara oral

5)        Kolaborasi :

–          Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit (Na, K,Ca, BUN)

Rasional : koreksi keseimbang cairan dan elektrolit, BUN untuk mengetahui faal ginjal (kompensasi).

–          Cairan parenteral ( IV line ) sesuai dengan umur

Rasional : Mengganti cairan dan elektrolit secara adekuat dan cepat.

–          Obat-obatan : (antisekresin, antispasmolitik, antibiotik)

Rasional : anti sekresi untuk menurunkan sekresi cairan dan elektrolit agar simbang, antispasmolitik untuk proses absorbsi normal, antibiotik sebagai anti bakteri berspektrum luas untuk menghambat endotoksin.

Diagnosa 2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya intake dan out put

Tujuan        : setelah dilakukan  tindakan perawatan selama dirumah di RS kebutuhan nutrisi terpenuhi

Kriteria        : – Nafsu makan meningkat

–          BB meningkat atau normal sesuai umur

Intervensi :

1)        Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan berserat tinggi, berlemak dan air terlalu panas atau dingin)

Rasional : Serat tinggi, lemak,air terlalu panas / dingin dapat merangsang mengiritasi lambung dan sluran usus.

2)        Ciptakan lingkungan yang bersih, jauh dari bau  yang tak sedap atau sampah, sajikan makanan dalam keadaan hangat

Rasional : situasi yang nyaman, rileks akan merangsang nafsu makan.

3)        Berikan jam istirahat (tidur) serta kurangi kegiatan yang berlebihan

Rasional : Mengurangi pemakaian energi yang berlebihan

4)        Monitor  intake dan out put dalam 24 jam

Rasional : Mengetahui jumlah output dapat merencenakan jumlah makanan.

5)        Kolaborasi dengan tim kesehtaan lain :

a.       terapi gizi : Diet TKTP rendah serat, susu

b.      obat-obatan atau vitamin ( A)

Rasional : Mengandung zat yang diperlukan , untuk proses pertumbuhan

Diagnosa 3 : Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi dampak sekunder dari diare

Tujuan        :  Stelah dilakukan tindakan perawatan selama 3x 24 jam tidak terjadi peningkatan suhu tubuh

Kriteria hasil : suhu tubuh dalam batas normal ( 36-37,5 C)

Tidak terdapat tanda infeksi (rubur, dolor, kalor, tumor, fungtio leasa)

Intervensi :

1)        Monitor suhu tubuh setiap 2 jam

Rasional : Deteksi dini terjadinya perubahan abnormal fungsi tubuh ( adanya infeksi)

2)        Berikan kompres hangat

Rasional : merangsang pusat pengatur panas untuk menurunkan produksi panas tubuh

3)        Kolaborasi pemberian antipirektik

Rasional : Merangsang pusat pengatur panas di otak

Diagnosa 4 :Resiko gangguan integritas kulit perianal berhubungan dengan   peningkatan frekwensi BAB (diare)

Tujuan      : setelah dilakukan tindaka keperawtan selama di rumah sakit integritas kulit tidak terganggu

Kriteria hasil : – Tidak terjadi iritasi : kemerahan, lecet, kebersihan terjaga

–             Keluarga mampu mendemontrasikan perawatan perianal dengan baik dan benar

Intervensi :

1)        Diskusikan dan jelaskan pentingnya menjaga tempat tidur

Rasional : Kebersihan mencegah perkembang biakan kuman

2)        Demontrasikan serta libatkan keluarga dalam merawat perianal (bila basah dan mengganti pakaian bawah serta alasnya)

Rasional : Mencegah terjadinya iritassi kulit yang tak diharapkan oleh karena kelebaban dan keasaman feces

3)        Atur posisi tidur atau duduk dengan selang waktu 2-3 jam

Rasional : Melancarkan vaskulerisasi, mengurangi penekanan yang lama sehingga tak terjadi iskemi dan irirtasi .

Diagnosa 5 : Kecemasan anak berhubungan dengan tindakan invasive

Tujuan      : setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3 x 24 jam, klien mampu beradaptasi

Kriteria hasil :  Mau menerima  tindakan perawatan, klien tampak tenang dan tidak rewel

Intervensi :

1)      Libatkan keluarga dalam melakukan  tindakan perawatan

Rasional : Pendekatan awal pada anak melalui ibu atau keluarga

2)      Hindari persepsi yang salah pada perawat dan RS

Rasional : mengurangi rasa takut anak terhadap perawat dan lingkungan RS

3)      Berikan pujian jika klien mau diberikan tindakan perawatan dan pengobatan

Rasional : menambah rasa percaya diri anak akan keberanian dan kemampuannya

4)      Lakukan kontak sesering mungkin dan lakukan komunikasi baik verbal maupun non verbal (sentuhan, belaian dll)

Rasional : Kasih saying serta pengenalan diri perawat akan menunbuhkan rasa aman pada klien.

5)      Berikan mainan sebagai rangsang sensori anak

Daftar Pustaka

Bates. B, 1995. Pemeriksaan Fisik & Riwayat Kesehatan. Ed 2. EGC. Jakarta

Carpenitto.LJ. 2000. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis. Ed 6. EGC. Jakarta.

Lab/ UPF IKA, 1994. Pedoman Diagnosa dan Terapi . RSUD Dr. Soetomo. Surabaya.

Markum.AH. 1999. Ilmu Kesehatan Anak. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak sakit. EGC. Jakarta

Soetjiningsih, 1995. Tumbuh Kembang Anak. EGC. Jakarta

Suryanah,2000. Keperawatan Anak. EGC. Jakarta

Doengoes,2000. Asuhan Keperawatan Maternal/ Bayi. EGC. Jakarta

askep diare akut dehidrasi sedang

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net

Tukar Link ?
Copy kode dibawah ini, kemudian paste di blog Anda:


Tampilan akan seperti ini :

Langganan Artikel
Enter your Email


Preview | Powered by FeedBlitz
Menu Anak

Copyright © 2008 - 2017 NursingBegin.com.