Archive for the ‘Askep Anak’ Category

PostHeaderIcon Askep Ispa Anak

Asuhan Keperawatan Pada Neonatus

Dengan Infeksi Saluran Pernafasan

Pengertian

Infeksi saluran pernafasan adalah suatu keadaan dimana saluran pernafasan (hidung, pharing dan laring) mengalami inflamasi yang menyebabkan terjadinya obstruksi jalan nafas dan akan menyebabkan retraksi dinding dada pada saat melakukan pernafasan (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 450).

ispaInfeksi saluran nafas adalah penurunan kemampuan pertahanan alami jalan nafas dalam menghadapi organisme asing (Whaley and Wong; 1991; 1418).

Angka kejadian dan diagnosis Infeksi Saluran Pernafasan

Pada rumah sakit umum yang telah menjadi rumah sakit rujukan terdapat 8,76 %-30,29% bayi dan neonatal yang masih mengalami infeksi dengan angka kematian mencapai 11,56%-49,9%. Pengembangan perawatan yang canggih mengundang masalah baru yakni meningkatnya infeksi nosokomial yang biasanya diakhiri dengan keadaan septisemia yang berakhir dengan kematian (Victor dan Hans; 1997; 220).

Diagnosis dari penyakit ini adalah melakukan kultur (biakan kuman) dengan swab sebagai mediator untuk menunjukkan adanya kuman di dalam saluran pernafasan. Pada hitung jenis (leukosit) kurang membantu sebab pada hitung jenis ini tidak dapat membedakan penyebab dari infeksi yakni yang berasal dari virus atau streptokokus karena keduanya dapat menyebabkan terjadinya leukositosis polimorfonuklear (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 453).

Etiologi Dan Karakteristik Infeksi Saluran Pernafasan

Infeksi saluran pernafasan adalah suatu penyakit yang mempunyai angka kejadian yang cukup tinggi. Penyebab dari penyakit ini adalah infeksi agent/ kuman. Disamping itu terdapat beberapa faktor yang turut mempengaruhi yaitu; usia dari bayi/ neonatus, ukuran dari saluran pernafasan, daya tahan tubuh anak tersebut terhadap penyakit serta keadaan cuaca (Whaley and Wong; 1991; 1419).

Agen infeksi adalah virus atau kuman yang merupakan penyebab dari terjadinya infeksi saluran pernafasan. Ada beberapa jenis kuman yang merupakan penyebab utama yakni golongan A b-hemolityc streptococus, staphylococus, haemophylus influenzae, clamydia trachomatis, mycoplasma dan pneumokokus.

Usia bayi atau neonatus, pada anak yang mendapatkan air susu ibu angka kejadian pada usia dibawah 3 bulan rendah karena mendapatkan imunitas dari air susu ibu.

Ukuran dari lebar penampang dari saluran pernafasan turut berpengaruh di dalam derajat keparahan penyakit. Karena dengan lobang yang semakin sempit maka dengan adanya edematosa maka akan tertutup secara keseluruhan dari jalan nafas.

Kondisi klinis secara umum turut berpengaruh dalam proses terjadinya infeksi antara lain malnutrisi, anemia, kelelahan. Keadaan yang terjadi secara langsung mempengaruhi saluran pernafasan yaitu alergi, asthma serta  kongesti paru.

Infeksi saluran pernafasan biasanya terjadi pada saat terjadi perubahan musim, tetapi juga biasa terjadi pada musim dingin (Whaley and Wong; 1991; 1420).

Manifestasi klinis ISPA

Penyakit ini biasanya dimanifestasikan dalam bentuk adanya demam, adanya obstruksi hidung dengan sekret yang encer sampai dengan membuntu saluran pernafasan, bayi menjadi gelisah dan susah atau bahkan sama sekali tidak mau minum (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 451).

Terapi dan Penatalaksanaan ISPA

Tujuan utama dilakukan terapi adalah menghilangkan adanya obstruksi dan adanya kongesti hidung pergunakanlah selang dalam melakukan penghisaapan lendir baik melalui hidung maupun melalui mulut. Terapi pilihan adalah dekongestan dengan pseudoefedrin hidroklorida tetes pada lobang hidung, serta obat yang lain seperti analgesik serta antipiretik. Antibiotik tidak dianjurkan kecuali ada komplikasi purulenta pada sekret.

Penatalaksanaan pada bayi dengan pilek sebaiknya dirawat pada posisi telungkup, dengan demikian sekret dapat mengalir dengan lancar sehingga drainase sekret akan lebih mudah keluar (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 452).

Diagnosis banding

Penyakit infeksi saluran pernafasan ini mempunyai beberapa diagnosis banding yaitu difteri, mononukleosis infeksiosa dan agranulositosis yang semua penyakit diatas memiliki manifestasi klinis nyeri tenggorokan dan terbentuknya membrana. Mereka masing-masing dibedakan melalui biakan kultur melalui swab, hitungan darah dan test Paul-bunnell. Pada infeksi yang disebabkan oleh streptokokus manifestasi lain yang muncul adalah nyeri abdomen akuta yang sering disertai dengan muntah (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 454).

Tanda dan gejala yang muncul

1.    Demam, pada neonatus mungkin jarang terjadi tetapi gejala demam muncul jika anak sudah mencaapai usia 6 bulan sampai dengan 3 tahun. Seringkali demam muncul sebagai tanda pertama terjadinya infeksi. Suhu tubuh bisa mencapai 39,5OC-40,5OC.

2.    Meningismus, adalah tanda meningeal tanpa adanya infeksi pada meningens, biasanya terjadi selama periodik bayi mengalami panas, gejalanya adalah nyeri kepala, kaku dan nyeri pada punggung serta kuduk, terdapatnya tanda kernig dan brudzinski.

3.    Anorexia, biasa terjadi pada semua bayi yang mengalami sakit. Bayi akan menjadi susah minum dan bahkan tidak mau minum.

4.    Vomiting, biasanya muncul dalam periode sesaat tetapi juga bisa selama bayi tersebut mengalami sakit.

5.    Diare (mild transient diare), seringkali terjadi mengiringi infeksi saluran pernafasan akibat infeksi virus.

6.    Abdominal pain,  nyeri pada abdomen mungkin disebabkan karena adanya lymphadenitis mesenteric.

7.    Sumbatan pada jalan nafas/ Nasal, pada saluran nafas yang sempit akan lebih mudah tersumbat oleh karena batukbanyaknya sekret.

8.    Batuk, merupakan tanda umum dari tejadinya infeksi saluran pernafasan, mungkin tanda ini merupakan tanda akut dari terjadinya infeksi saluran pernafasan.

9.    Suara nafas, biasa terdapat wheezing, stridor, crackless, dan tidak terdapatnya suara pernafasan (Whaley and Wong; 1991; 1419).

Pengkajian terutama pada jalan nafas

Fokus utama pada pengkajian pernafasan ini adalah pola, kedalaman, usaha serta irama dari pernafasan.

Pola, cepat (tachynea) atau normal.

Kedalaman, nafas normal, dangkal atau terlalu dalam yang biasanya dapat kita amati melalui pergerakan rongga dada dan pergerakan abdomen.

Usaha, kontinyu, terputus-putus, atau tiba-tiba berhenti disertai dengan adanya bersin.

Irama pernafasan, bervariasi tergantung pada pola dan kedalaman pernafasan.

Observasi lainya adalah terjadinya infeksi yang biasanya ditandai dengan peningkatan suhu tubuh, adanya batuk, suara nafas wheezing. Bisa juga didapati adanya cyanosis, nyeri pada rongga dada dan peningkatan produksi dari sputum (Whaley and Wong; 1991; 1420).

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang yang lazim dilakukan adalah pemeriksaan kultur/ biakan kuman (swab); hasil yang didapatkan adalah biakan kuman (+) sesuai dengan jenis kuman, pemeriksaan hitung darah (deferential count); laju endap darah meningkat disertai dengan adanya leukositosis dan bisa juga disertai dengan adanya thrombositopenia dan pemeriksaan foto thoraks jika diperlukan (Victor dan Hans; 1997; 224).

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul, tujuan dan intervensi

1.    Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan proses inflamasi pada saluran pernafasan, nyeri.

Tujuan:

Pola nafas kembali efektif dengan kriteria: usaha nafas kembali normal dan meningkatnya suplai oksigen ke paru-paru.

Intervensi:

a.    Berikan posisi yang nyaman sekaligus dapat mengeluarkan sekret dengan mudah.

b.    Ciptakan dan pertahankan jalan nafas yang bebas.

c.    Anjurkan pada keluarga untuk membawakan baju yang lebih longgar, tipis serta menyerap keringat.

d.   Berikan O2 dan nebulizer sesuai dengan instruksi dokter.

e.    Berikan obat sesuai dengan instruksi dokter (bronchodilator).

f.     Observasi tanda vital, adanya cyanosis, serta pola, kedalaman dalam pernafasan.

2.    Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi mekanik dari jalan nafas oleh sekret, proses inflamasi, peningkatan produksi sekret.

Tujuan:

Bebasnya jalan nafas dari hambatan sekret dengan kriteria: jalan nafas yang bersih dan patent, meningkatnya pengeluaran sekret.

Intervensi:

a.    Lakukan penyedotan sekret jika diperlukan.

b.    Cegah jangan sampai terjadi posisi hiperextensi pada leher.

c.    Berikan posisi yang nyaman dan mencegah terjadinya aspirasi sekret (semiprone dan side lying position).

d.   Berikan nebulizer sesuai instruksi dokter.

e.    Anjurkan untuk tidak memberikan minum agar tidak terjadi aspirasi selama periode tachypnea.

f.     Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan perparenteral yang adekuat.

g.    Berikan kelembaban udara yang cukup.

h.    Observasi pengeluaran sekret dan tanda vital.

3.    Cemas berhubungan dengan penyakit yang dialami oleh anak, hospitalisasi pada anak

Tujuan:

Menurunnya kecemasan yang dialami oleh orang tua dengan kriteria: keluarga sudah tidak sering bertanya kepada petugas dan mau terlibat secara aktif dalam merawat anaknya.

Intervensi:

a.    Berikan informasi secukupnya kepada orang tua (perawatan dan pengobatan yang diberikan).

b.    Berikan dorongan secara moril kepada orang tua.

c.    Jelaskan terapi yang diberikan dan respon anak terhadap terapi yang diberikan.

d.   Anjurkan kepada keluarga agar bertanya jika melihat hal-hal yang kurang dimengerti/ tidak jelas.

e.    Anjurkan kepada keluarga agar terlibat secara langsung dan aktif dalam perawatan anaknya.

f.     Observasi tingkat kecemasan yang dialami oleh keluarga.

DAFTAR PUSTAKA

Catzel, Pincus & Ian robets. (1990). Kapita Seleta Pediatri Edisi II. alih bahasa oleh Dr. yohanes gunawan. Jakarta: EGC.

Whalley & wong. (1991). Nursing Care of Infant and Children Volume II   book 1. USA: CV. Mosby-Year book. Inc

Yu. H.Y. Victor & Hans E. Monintja. (1997). Beberapa Masalah Perawatan Intensif Neonatus. Jakarta: Balai penerbit FKUI.

Suriadi,Yuliani R,2001,Asuhan Keperawatan pada Anak,CV sagung Seto,Jakarta

Gordon,et.al,2001, Nursing Diagnoses : definition & Classification 2001-2002,Philadelpia,USA

Naning R,2002,Infeksi Saluran Pernapasan Akut (Handout kuliah Ilmu Kesehatan Anak) PSIK FK UGM tidak dipublikasikan.

Artikel yang Berhubungan

Pengkajian Keperawatan

Askep Asma

Kumpulan Askep

Terapi Oksigen

PostHeaderIcon Askep Bayi dengan BBLR

.

Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Berat Badan Lahir Rendah

Pengertian BBLR

Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram pada waktu lahir.

BBLR dibedakan menjadi :

1. Prematuritas murni

Yaitu bayi pada kehamilan < 37 minggu dengan berat badan sesuai.

2. Retardasi pertumbuhan janin intra uterin (IUGR)

Yaitu bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan tidak sesuai dengan usia kehamilan.

askep-bblrEtiologi BBLR

Penyebab kelahiran prematur tidak diketahui, tapi ada beberapa faktor yang berhubungan, yaitu :

1.    Faktor ibu

  • Gizi saat hamil yang kurang, umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun
  • Jarak hamil dan persalinan terlalu dekat, pekerjaan yang terlalu berat
  • Penyakit menahun ibu : hipertensi, jantung, gangguan pembuluh darah, perokok

2.    Faktor kehamilan

  • Hamil dengan hidramnion, hamil ganda, perdarahan antepartum
  • Komplikasi kehamilan : preeklamsia/eklamsia, ketuban pecah dini

3.    Faktor janin

  • Cacat bawaan, infeksi dalam rahim

4.     Faktor yang masih belum diketahui

Pengkajian Keperawatan

Prematuritas murni

  • BB < 2500 gram, PB < 45 cm, LK < 33 cm, LD < 30 cm
  • Masa gestasi < 37 minggu
  • Kepala lebih besar dari pada badan, kulit tipis transparan, mengkilap dan licin
  • Lanugo (bulu-bulu halus) banyak terdapat terutama pada daerah dahi, pelipis, telinga dan lengan, lemak subkutan kurang, ubun-ubun dan sutura lebar
  • Genetalia belum sempurna, pada wanita labia minora belum tertutup oleh labia mayora, pada laki-laki testis belum turun.
  • Tulang rawan telinga belum sempurna, rajah tangan belum sempurna
  • Pembuluh darah kulit banyak terlihat, peristaltik usus dapat terlihat
  • Rambut tipis, halus, teranyam, puting susu belum terbentuk dengan baik
  • Bayi kecil, posisi masih posisi fetal, pergerakan kurang dan lemah
  • Banyak tidur, tangis lemah, pernafasan belum teratur dan sering mengalami apnea, otot masih hipotonik
  • Reflek tonus leher lemah, reflek menghisap, menelan dan batuk belum sempurna

Dismaturitas

  • Kulit berselubung verniks kaseosa tipis/tak ada,
  • Kulit pucat bernoda mekonium, kering, keriput, tipis
  • Jaringan lemak di bawah kulit tipis, bayi tampak gesit, aktif dan kuat
  • Tali pusat berwarna kuning kehijauan

Komplikasi BBLR

  • Sindrom aspirasi mekonium, asfiksia neonatorum, sindrom distres respirasi, penyakit membran hialin
  • Dismatur preterm terutama bila masa gestasinya kurang dari 35 minggu
  • Hiperbilirubinemia, patent ductus arteriosus, perdarahan ventrikel otak
  • Hipotermia, Hipoglikemia, Hipokalsemia, Anemi, gangguan pembekuan darah
  • Infeksi, retrolental fibroplasia, necrotizing enterocolitis (NEC)
  • Bronchopulmonary dysplasia, malformasi konginetal

Penatalaksanaan Medis BBLR

  • Resusitasi yang adekuat, pengaturan suhu, terapi oksigen
  • Pengawasan terhadap PDA (Patent Ductus Arteriosus)
  • Keseimbangan cairan dan elektrolit, pemberian nutrisi yang cukup
  • Pengelolaan hiperbilirubinemia, penanganan infeksi dengan antibiotik yang tepat

Asuhan Keperawatan pada Klien dengan BBLR

1. Diagnosa Keperawatan : Pola nafas tidak efektif  b/d tidak adekuatnya ekspansi paru

Tujuan : Pola nafas yang efektif

Kriteria :

  • Kebutuhan oksigen menurun
  • Nafas spontan, adekuat
  • Tidak sesak.
  • Tidak ada retraksi dada

Rencana Tindakan :

  • Berikan posisi kepala sedikit ekstensi
  • Berikan oksigen dengan metode yang sesuai
  • Observasi irama, kedalaman dan frekuensi pernafasan

2. Diagnosa Keperawatan : Gangguan pertukaran gas b/d kurangnya ventilasi alveolar sekunder terhadap defisiensi surfaktan

Tujuan : Pertukaran gas adekuat

Kriteria :

  • Tidak sianosis.
  • Analisa gas darah normal
  • Saturasi oksigen normal.

Rencana Tindakan :

  • Lakukan isap lendir kalau perlu
  • Berikan oksigen dengan metode yang sesuai
  • Observasi warna kulit
  • Ukur saturasi oksigen
  • Observasi tanda-tanda perburukan pernafasan
  • Lapor dokter apabila terdapat  tanda-tanda perburukan pernafasan
  • Kolaborasi dalam pemeriksaan analisa gas darah
  • Kolaborasi dalam pemeriksaan surfaktan

3. Diagnosa Keperawatan : Resiko tinggi gangguan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d ketidakmampuan ginjal mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit

Tujuan : Hidrasi baik

Kriteria:

  • Turgor kulit elastik
  • Tidak ada edema
  • Produksi urin 1-2 cc/kgbb/jam
  • Elektrolit darah dalam batas normal

Rencana Tindakan :

  • Observasi turgor kulit.
  • Catat intake dan output
  • Kolaborasi dalam pemberian cairan intra vena dan elektrolit
  • Kolaborasi dalam pemeriksaan elektrolit darah

4. Diagnosa Keperawatan : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya persediaan zat besi, kalsium, metabolisme yang tinggi dan intake yang kurang adekuat

Tujuan : Nutrisi adekuat

Kriteria :

  • Berat badan naik 10-30 gram / hari
  • Tidak ada edema
  • Protein dan albumin darah dalam batas normal

Rencana Tindakan :

  • Berikan ASI/PASI dengan metode yang tepat
  • Observasi dan catat toleransi minum
  • Timbang berat badan setiap hari
  • Catat intake dan output
  • Kolaborasi dalam pemberian total parenteral nutrition kalau perlu

5. Diagnosa Keperawatan : Resiko tinggi hipotermi atau hipertermi b/d imaturitas fungsi termoregulasi atau perubahan suhu lingkungan

Tujuan : Suhu bayi stabil

Kriteria :

  • Suhu 36,5 0C -37,2 0C
  • Akral hangat

Rencana Tindakan :

  • Rawat bayi dengan suhu lingkungan sesuai
  • Hindarkan bayi kontak langsung dengan benda sebagai sumber dingin/panas
  • Ukur suhu bayi setiap 3 jam atau kalau perlu
  • Ganti popok bila basah

6. Diagnosa Keperawatan : Resiko tinggi terjadi gangguan perfusi jaringan b/d imaturitas fungsi kardiovaskuler

Tujuan : Perfusi jaringan baik

Kriteria :

  • Tekanan darah normal
  • Pengisian kembali kapiler <2 detik
  • Akral hangat dan tidak sianosis
  • Produksi urin 1-2 cc/kgbb/jam
  • Kesadaran composmentis

Rencana Tindakan :

  • Ukur tekanan darah kalau perlu
  • Observasi warna dan suhu kulit
  • Observasi pengisian kembali kapiler
  • Observasi adanya edema perifer
  • Kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium
  • Kolaborasi dalam pemberian obat-obatan

7. Diagnosa Keperawatan : Resiko tinggi injuri susunan saraf pusat b/d hipoksia

Tujuan : Tidak ada injuri

Kriteria :

  • Kesadaran composmentis
  • Gerakan aktif dan terkoordinasi
  • Tidak ada kejang ataupun twitching
  • Tidak ada tangisan melengking
  • Hasil USG kepala dalam batas normal

Rencana Tindakan :

  • Cegah terjadinya hipoksia
  • Ukur saturasi oksigen
  • Observasi kesadaran dan aktifitas bayi
  • Observasi tangisan bayi
  • Observasi adanya kejang
  • Lapor dokter apabila ditemukan kelainan pada saat observasi
  • Ukur lingkar kepala kalau perlu
  • Kolaborasi dalam pemeriksaan USG kepala

8. Diagnosa Keperawatan : Resiko tinggi infeksi b/d imaturitas fungsi imunologik

Tujuan : Bayi tidak terinfeksi

Kriteria :

  • Suhu 36,5 0C -37,2 0C
  • Darah rutin normal

Rencana Tindakan :

  • Hindari bayi dari orang-orang yang terinfeksi kalau perlu rawat dalam inkubator
  • Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi
  • Lakukan tehnik aseptik dan antiseptik bila melakukan prosedur invasif
  • Lakukan perawatan tali pusat
  • Observasi tanda-tanda vital
  • Kolaborasi pemeriksaan darah rutin
  • Kolaborasi pemberian antibiotika

9. Diagnosa Keperawatan : Resiko tinggi gangguan integritas kulit b/d imaturitas struktur kulit

Tujuan : Integritas kulit baik

Kriteria :

  • Tidak ada rash
  • Tidak ada iritasi
  • Tidak plebitis

Rencana Tindakan :

  • Kaji kulit bayi dari tanda-tanda kemerahan, iritasi, rash, lesi dan lecet pada daerah yang tertekan
  • Gunakan plester non alergi dan seminimal mungkin
  • Ubah posisi bayi dan pemasangan elektrode atau sensor

10. Diagnosa Keperawatan : Gangguan persepsi-sensori : penglihatan, pendengaran, penciuman, taktil b/d stimulus yang kurang atau berlebihan dari lingkungan perawatan intensif

Tujuan : Persepsi dan sensori baik

Kriteria :

  • Bayi berespon terhadap stimulus

Rencana Tindakan :

  • Membelai bayi sebelum malakukan tindakan
  • Mengajak bayi berbicara atau merangsang pendengaran bayi dengan memutarkan lagu-lagu yang lembut
  • Memberikan rangsang cahaya pada mata
  • Kurangi suara monitor jika memungkinkan
  • Lakukan stimulas untuk refleks menghisap dan menelan dengan memasang dot

11. Diagnosa Keperawatan : Koping keluarga tidak efektif b/d kondisi kritis pada bayinya, perawatan yang lama dan takut untuk merawat bayinya setelah pulang dari RS

Tujuan : Koping keluarga efektif

Kriteria :

  • Ortu kooperatif dg perawatan bayinya.
  • Pengetahuan ortu bertambah
  • Orang tua dapat merawat bayi di rumah

Rencana Tindakan :

  • Memberikan kesempatan pada ortu berkonsultasi dengan dokter
  • Rujuk ke ahli psikologi jika perlu
  • Berikan pendidikan kesehatan cara perawatan bayi BBLR di rumah termasuk pijat bayi, metode kanguru, cara memandikan
  • Lakukan home visit jika bayi pulang dari RS untuk menilai kemampuan orang tua merawat bayinya

Artikel yang Berhubungan

Askep Bronkiektasis

Download Kumpulan Askep

Askep Hisprung

Askep Diare Anak

PostHeaderIcon Askep Atresia Ani

Askep Anak dengan Atresia Ani


Pengertian Atresia Ani

Atresia Ani / Atresia Rekti adalah ketiadaan atau tertutupnya rectal secara kongenital (Dorland, 1998).

Atresia Ani adalah kelainan kongenital yang dikenal sebagai anus imperforate meliputi anus, rektum atau keduanya (Betz. Ed 3 tahun 2002)

Atresia Ani merupakan kelainan bawaan (kongenital), tidak adanya lubang atau saluran anus (Donna L. Wong, 520 : 2003).

Atresia Ani

Atresia Ani

Atresia berasal dari bahasa Yunani, a artinya tidak ada, trepis artinya nutrisi atau makanan. Dalam istilah kedokteran atresia itu sendiri adalah keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang badan normal atau organ tubular secara kongenital disebut juga clausura. Dengan kata lain tidak adanya lubang di tempat yang seharusnya berlubang atau buntunya saluran atau rongga tubuh, hal ini bisa terjadi karena bawaan sejak lahir atau terjadi kemudian karena proses penyakit yang mengenai saluran itu. Atresia dapat terjadi pada seluruh saluran tubuh, misalnya atresia ani. Atresia ani yaitu tidak berlubangnya dubur. Atresia ani memiliki nama lain yaitu anus imperforata. Jika atresia terjadi maka hampir selalu memerlukan tindakan operasi untuk membuat saluran seperti keadaan normalnya

Suatu perineum tanpa apertura anal diuraikan sebagai inperforata. Ladd dan Gross (1966) membagi anus inperforata dalam 4 golongan, yaitu:

  1. Stenosis rectum yang lebih rendah atau pada anus
  2. Membran anus menetap
  3. Anus inperforata dan ujung rectum yang buntu terletak pada bermacam-macam jarak dari peritoneum
  4. Lubang anus yang terpisah dengan ujung rectum yang buntu

Pada golongan 3 hampir selalu disertai fistula, pada bayi wanita yang sering ditemukan fisula rektovaginal (bayi buang air besar lewat vagina) dan jarang rektoperineal, tidak pernah rektobrinarius. Sedang pada bayi laki-laki dapat terjadi fistula rektourinarius dan berakhir dikandung kemih atau uretra serta jarang rektoperineal

Etiologi Atresia Ani

Atresia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

1. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur sehingga bayi lahir tanpa lubang dubur

2. Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu/3 bulan

3. Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah usus, rektum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara minggu keempat sampai keenam usia kehamilan.

.

Patofisiologi Atresia Ani

Atresia ani atau anus imperforate dapat disebabkan karena :

1) Kelainan ini terjadi karena kegagalan pembentukan septum urorektal secara komplit karena gangguan pertumbuhan, fusi atau pembentukan anus dari tonjolan embrionik

2) Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur, sehingga bayi lahir tanpa lubang dubur

3) Gangguan organogenesis dalam kandungan penyebab atresia ani, karena ada kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu atau tiga bulan

4) Berkaitan dengan sindrom down

5) Atresia ani adalah suatu kelainan bawaan

Terdapat tiga macam letak

  • Tinggi (supralevator) → rektum berakhir di atas M.Levator ani (m.puborektalis) dengan jarak antara ujung buntu rectum dengan kulit perineum >1 cm. Letak upralevator biasanya disertai dengan fistel ke saluran kencing atau saluran genital
  • Intermediate → rectum terletak pada m.levator ani tapi tidak menembusnya
  • Rendah → rectum berakhir di bawah m.levator ani sehingga jarak antara kulit dan ujung rectum paling jauh 1 cm.
    Pada wanita 90% dengan fistula ke vagina/perineum
    Pada laki-laki umumnya letak tinggi, bila ada fistula ke traktus urinarius

Gambaran Klinik Atresia Ani

Pada sebagian besar anomati ini neonatus ditemukan dengan obstruksi usus. Tanda berikut merupakan indikasi beberapa abnormalitas:

1.      Tidak adanya apertura anal

2.      Mekonium yang keluar dari suatu orifisium abnormal

3.      Muntah dengan abdomen yang kembung

4.      Kesukaran defekasi,  misalnya dikeluarkannya feses mirip seperti stenosis

Untuk mengetahui kelainan ini secara dini, pada semua bayi baru lahir harus dilakukan colok anus dengan menggunakan termometer yang dimasukkan sampai sepanjang 2 cm ke dalam anus. Atau dapat juga dengan jari kelingking yang memakai sarung tangan. Jika terdapat kelainan, maka termometer atau jari tidak dapat masuk. Bila anus terlihat normal dan penyumbatan terdapat lebih tinggi dari perineum. Gejala akan timbul dalam 24-48 jam setelah lahir berupa perut kembung, muntah berwarna hijau.

Pemeriksaan Penunjang Atresia Ani

  1. X-ray, ini menunjukkan adanya gas dalam usus
  2. Pewarnaan radiopak dimasukkan kedalam traktus urinarius, misalnya suatu sistouretrogram mikturasi akan memperlihatkan hubungan rektourinarius dan kelainan urinarius
  3. Pemeriksaan urin, perlu dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat mekonium

Penatalaksanaan Atresia Ani

Medik:

1.      Eksisi membran anal

2.      Fistula, yaitu dengan melakukan kolostomi sementara dan setelah umur 3 bulan dilakukan koreksi sekaligus

Keperawatan :

Kepada orang tua perlu diberitahukan mengenai kelainan pada anaknya dan keadaan tersebut dapat diperbaiki dengan jalan operasi. Operasi akan dilakukan 2 tahap yaitu tahap pertama hanya dibuatkan anus buatan dan setelah umur 3 bulan dilakukan operasi tahapan ke 2, selain itu perlu diberitahukan perawatan anus buatan dalam menjaga kebersihan untuk mencegah infeksi. Serta memperhatikan kesehatan bayi.

Diagnosa Keperawatan Atresia Ani

1.      Gangguan eliminasi BAK b.d Dysuria

2.      Gangguan rasa nyaman b.d vistel rektovaginal, Dysuria

3.      Resti infeksi b.d feses masuk ke uretra, mikroorganisme masuk saluran kemih

4.      Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan b.d mual, muntah, anoreksia

5.      Gangguan rasa nyaman, nyeri b.d trauma jaringan post operasi

6.      Resti infeksi b.d perawatan tidak adekuat, trauma jaringan post operasi

7.      Resti kerusakan integritas kulit b.d perubahan pola defekasi, pengeluaran tidak terkontrol

Path Ways

atresia-ani1

atresia-ani2

Diagnosa dan Intervensi Keperawatan Atresia Ani

1.      Gangguan eliminasi BAK b.d vistel rektovaginal, dysuria

Tujuan :

Tidak terjadi perubahan pola eliminasi BAK setelah dilakukan tindakan keperawatan dengan kriteria evaluasi: Pasien dapat BAK dengan normal, tidak ada perubahan pada jumlah urine.

Intervensi :

  • Kaji pola eliminasi BAK pasien
  • Awasi pemasukan dan pengeluaran serta karakteristik urine
  • Selidiki keluhan kandung kemih penuh
  • Awasi/observasi hasil laboratorium
  • Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi

2.      Gangguan rasa nyaman, nyeri b.d vistel rektovaginal, dysuria

Tujuan :

Pasien merasa nyaman setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam dengan KH:

  • Nyeri berkurang
  • Pasien merasa tenang

Intervensi :

  • kaji tingkat nyeri yang dirasakan pasien
  • Ajarkan teknik relaksasi distraksi
  • Berikan posisi yang nyaman pada pasien
  • Jelaskan penyebab nyeri dan awasi perubahan kejadian
  • Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi

3.      Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan b.d mual, muntah, anoreksia

Tujuan :

Tidak terjadi kekurangan nutrisi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam dengan KH :

  • Pasien tidak mengalami penurunan berat badan
  • Turgor pasien baik
  • Pasien tidak mual, muntah
  • Nafsu makan bertambah

Intervensi :

  • Kaji KU pasien
  • Timbang berat badan pasien
  • Catat frekuensi mual, muntah pasien
  • Catat masukan nutrisi pasien
  • Beri motivasi pasien untuk meningkatkan asupan nutrisi
  • Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pengaturan menu

4.      Nyeri b.d trauma jaringan post operasi (Kolostomi)

Tujuan :

Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 24 jam pertama dengan KH:

  • Nyeri berkurang
  • Pasien merasa tenang
  • Tidak ada perubahan tanda vital

Intervensi :

  • Kaji tingkat nyeri yang dirasakan pasien
  • Berikan penjelasan pada pasien tentang nyeri yang terjadi
  • Berikan tindakan kenyamanan, yakinkan pada pasien bahwa perubahan posisi tidak menciderai stoma
  • Ajarkan teknik relaksasi, distraksi
  • Bantu melakukan latihan rentang gerak
  • Awasi adanya kekakuan otot abdominal
  • Kolaborasi pemberian analgetik

5.      Resti kerusakan integritas kulit b.d perubahan pola defekasi, pengeluaran tidak terkontrol

Tujuan :

Tidak terjadi kerusakan integritas kulit setalah dilakukan tindakan keperawatan 24 jam pertama dengan KH:

  • Mempertahankan integritas kulit
  • Tidak terdapat tanda-tanda kerusakan integritas kulit
  • Mengindentifisikasi faktor resiko individu

Intervensi :

  • Lihat stoma/area kulit peristomal pada setiap penggantian kantong
  • Ukur stoma secara periodik misalnya tiap perubahan kantong
  • Berikan perlindungan kulit yang efektif
  • Kosongkan irigasi dan kebersihan dengan rutin
  • Awasi adanya rasa gatal disekitar stoma
  • Kolaborasi dengan ahli terapi.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth. (1996). Text book of Medical-Surgical Nursing. EGC. Jakarta.

Betz, Cealy L. & Linda A. Sowden. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Edisike-3. Jakarta : EGC.

Carpenito, Lynda Juall. 1997. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi ke-6. Jakarta : EGC.

Doengoes Merillynn. (1999) (Rencana Asuhan Keperawatan). Nursing care plans. Guidelines for planing and documenting patient care. Alih bahasa : I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati. EGC. Jakarta.

Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Sri Kurnianianingsih (ed), Monica Ester (Alih Bahasa). edisi ke-4. Jakarta : EGC.

Dorland. (1998). Kamus Saku Kedokteran Dorlana. Alih Bahasa: Dyah Nuswantari Ed. 25. Jakarta: EGC

Prince A Sylvia. (1995). (patofisiologi). Clinical Concept. Alih bahasa : Peter Anugrah EGC. Jakarta.

Long, Barbara. C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Terjemahan: Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan. USA: CV Mosby

Artikel yang Berhubungan :

Askep Kanker

Makanan Tambahan Bayi

Download Kumpulan Askep

Askep Diare Anak

Menu Anak


Copyright © 2012 NursingBegin.com