Archive for the ‘Askep Jiwa’ Category

PostHeaderIcon Terapi Komplementer Pasien Dengan NAPZA

TERAPI KOMPLEMENTER

PASIEN DENGAN NAPZA

 

A. PENDAHULUAN

Penyalahgunaan NAPZA di Indonesia semakin hari semakin memprihatinkan. Berdasarkan data-data yang diperoleh dari Kepolisian menunjukkan peningkatan baik kualitas dan kuantitasnya yang cukup signifikan setiap tahunnya. Menurut Badan Narkotika Nasional (BNN) angka resmi penyalahgunaan NAPZA adalah 3,2 juta orang dari 220 juta penduduk Indonesia. Untuk itu pemerintah Indonesia telah melakukan rangkaian tindakan pencegahan agar dapat menyelamatkan generasi bangsa dari cengkeraman NAPZA.

Hal ini telah banyak menimbulkan korban terutama anak-anak muda yang termasuk usia produktif. Kasus ini bukan hanya berdampak negatif terhadap diri pengguna, akan tetapi lebih luas lagi berdampak negatif terhadap kehidupan keluarga dan masyarakat, bahkan mengancam dan membahayakan keamanan dan ketertiban di negara kita.

Besarnya masalah akibat penyalahgunaan NAPZA ini, pasti perlu mendapat penanganan yang serius dari semua pihak. Masalah pemulihan penyalahgunaan NAPZA bukanlah sesuatu yang mudah, melainkan merupakan suatu proses perjuangan panjang yang memerlukan strategi dan pelaksanaan secara terarah dan tepat. Serangkaian program rehabilitasi NAPZA menjadi salah satu langkah yang serius dalam penanganan penyalahgunaan NAPZA. Sesuai pasal 37 ayat 1 UU No. 5/1997 tentang Psikotropika yang berbunyi bahwa pengguna psikotropika yang menderita sindrom ketergantungan berkewajiban ikut serta dalam pengobatan atau perawatan, serta pasal 45 UU No. 22/1997 tentang Narkotika yang berbunyi bahwa pecandu narkotika harus menjalani pengobatan dan perawatan.

Selain rehabilitasi medis perawatan yang bisa diberikan pada pengguna NAPZA adalah perawatan dengan terapi komplementer. Perkembangan terapi komplementer akhir-akhir ini menjadi sorotan banyak negara. Pengobatan komplementer atau alternatif menjadi bagian penting dalam pelayanan kesehatan di Amerika Serikat dan negara lainnya (Sayder & Lindquis, 2002). Perkiraan di Amerika 627 juta orang adalah pengguna terapi alternatif dan 386 juta orang yang mengunjungi praktik konvensional (Smith et al., 2004). Berdasarkan data ini memberikan informasi kepada kita bahwa terapi komplementer tidak hanya berkembang di Indonesia, tetapi negara maju seperti Amerika Serikat juga telah menerapkannya.

Klien yang menggunakan terapi komplementer memiliki beberapa alasan. Beberapa alasannya adalah filosofi holistik pada terapi komplementer, yaitu harmoni dalam diri dan promosi kesehatan dalam terapi komplementer. Hal lainnya adalah klien ingin terlibat untuk pengambilan keputusan dalam pengobatan dan peningkatan kualitas hidup dibandingkan sebelumnya (Widyatuti, 2008). Sejumlah 82% klien melaporkan adanya reaksi efek samping dari pengobatan konvensional yang diterima sehingga menyebabkan klien memilih terapi komplementer (Snyder & Lindquis, 2002).

Terapi komplementer yang ada menjadi salah satu pilihan pengobatan masyarakat. Hal ini dapat menjadi peluang bagi perawat untuk berperan memberikan terapi komplementer. Salah satu target dari terapi komplementer yaitu pada klien pengguna NAPZA, dimana para pengguna NAPZA  memerlukan rahabilitasi dalam pemulihan ketergantungan obat mereka juga membutuhkan terapi komplementer sebagai terapi kesehatan berdasarkan teori sehingga ketika mereka kembali ke masyarakat dapat dengan mudah berintegrasi dan berperan aktif.

 

B. TERAPI KOMPLEMENTER

Terapi komplementer adalah suatu pengobatan holistik yang mempengaruhi individu secara menyeluruh yaitu sebuah keharmonisan individu untuk mengintegrasikan pikiran, badan, dan jiwa dalam kesatuan fungsi (Smith et al., 2004).

Prinsip holistik di keperawatan ini perlu dukungan oleh kemampuan perawat dalam menguasai berbagai bentuk terapi keperawatan termasuk terapi komplementer. Pelaksanaan terapi komplementer pada keperawatan perlu mengacu kembali pada teori-teori yang mendasari praktik keperawatan. Contohnya teori Rogers yang memandang manusia sebagai sistem kompleks, terbuka, mempunyai berbagai dimensi dan energi.

Teori keperawatan yang ada dapat dijadikan dasar bagi perawat dalam mengembangkan terapi komplementer contohnya teori transkultural dalam pelaksanaannya mengaitkan ilmu fisiologi, anatomi, patofisiologi, dan lain-lain. Hal ini didukung dalam catatan keperawatan Forence Nightingale yang telah menekankan pentingnya mengembangkan lingkungan untuk penyembuhan dan pentingnya terapi seperti musik dalam proses penyembuhan. Dampaknya terapi komplementer meningkatkan kesempatan perawat dalam menunjukkan caring pada klien (Snyder & Lindquis, 2002).

Terapi komplementer adalah terapi tambahan, pelengkap dan penunjang yang bertumpu pada potensi diri seseorang serta alam. Dalam terapi ini seseorang diajarkan ilmu pengobatan yang berasal dari ilmu kedokteran maupun ilmu tradisional. Terapi komplementer sudah dilaksanakan di Lapas Narkotika sejak bulan November tahun 2007 dengan bekerja sama dengan Yayasan Taman Sringanis Jakarta. Pada awalnya terapi ini diperuntukkan untuk membantu warga binaan yang sudah terinfeksi HIV/AIDS (ODHA) agar kesehatan mereka bisa terjaga  baik. Tetapi saat ini terapi komplementer dapat dimanfaatkan oleh warga binaan lain yang memiliki keinginan pada terapi ini. Terapi komplementer mencakup olah nafas, meditasi, akupuntur, prana, serta menjaga kesehatan melalui menu sehat.

Manfaat terapi komplementer adalah:

  1. Untuk mencegah timbulnya penyakit baru
  2. Menjaga stamina dan kekebalan tubuh
  3. Mengatasi keluhan fisik yang ringan
  4. Mengurangi dan menghindari stres

Macam Terapi Komplementer (Snyder & Lindquis, 2002)

  1. Kategori pertama, mind-body therapy yaitu memberikan intervensi dengan berbagai teknik untuk memfasilitasi kapasitas berpikir yang mempengaruhi gejala fisik dan fungsi tubuh misalnya perumpamaan (imagery), yoga, terapi musik, berdoa, journaling, biofeedback, humor, tai chi, dan terapi seni.
  2. Kategori kedua, alternatif sistem pelayanan yaitu sistem pelayanan kesehatan yang mengembangkan pendekatan pelayanan biomedis berbeda dari Barat misalnya pengobatan tradisional Cina, Ayurvedia, pengobatan asli Amerika, cundarismo, homeopathy, naturopathy.
  3. Kategori ketiga, adalah terapi biologis yaitu natural dan praktik biologis dan hasil-hasilnya misalnya herbal dan makanan.
  4. Kategori keempat, adalah terapi manipulatif dan sistem tubuh. Terapi ini didasari oleh manipulasi dan pergerakan tubuh misalnya pengobatan kiropraksi, macam-macam pijat, rolfing, terapi cahaya dan warna, serta hidroterapi.
  5. Kategori kelima, adalah terapi energi yang fokusnya berasal dari energi dalam tubuh (biofields) atau mendatangkan energi dari luar tubuh misalnya terapeutik sentuhan dan pengobatan sentuhan. Kategori ini biasanya dijadikan satu kategori berupa kombinasi antara biofield dan bioelektromagnetik.

Standar lain menurut Smith et al (2004) meliputi gaya hidup ( pengobatan holistik, nutrisi), botanikal (homeopati, herbal, aromaterapi); manipulatif (kiropraktik, akupresur dan akupunktur, refleksi, massage); mind-body (meditasi, guided imagery, biofeedback, color healing, hipnoterapi). Macam terapi komplementer yang diberikan sesuai dengan indikasi yang dibutuhkan. Seperti pada terapi sentuhan memiliki beberapa indikasi seperti meningkatkan relaksasi, mengubah persepsi nyeri, menurunkan kecemasan, mempercepat penyembuhan, dan meningkatkan kenyamanan dalam proses kematian (Hitchcock et al., 1999).

 

C. TERAPI KOMPLEMENTER PADA PASIEN DENGAN NAPZA

Terapi komplementer pada pasien dengan NAPZA antara lain:

  1. Olahraga

Olahraga memiliki dampak luar biasa terhadap ketergantungan NAPZA, seperti lari, bersepeda, berenang dalam jarak jauh. Kegiatan ini disamping memberikan efek distraksi dari keinginan mengkonsumsi NAPZA juga bermanfaat untuk memperbaiki fungsi jantung dan pernafasan sehingga tubuh segar dan sehat energi kreatif akan muncul. Para pecandu sebaiknya diarahkan pada kegiatan yang positif sehingga mereka akan merasa lebih baik. Olahraga ini dapat memfasilitasi pemulihan tubuh dengan meningkatkan aliran darah ke otak. Olahraga dapat merangsang pengeluaran bahan kimia di otak seperti endorfin, dopamine dan seretonin sehingga perasaan lebih tenang dan senang.

 

  1. Terapi Spiritual

Sekarang ini konsep kedokteran dan keperawatan telah mempertimbangkan aspek biopsikososial dan spiritual, artinya pengobatan tidak hanya berusaha untuk mengembalikan fungsi fisik seseorang tetapi juga fungsi psikis, sosial dan spiritual pasien. Pendekatan ini menempatkan kembali pengobatan spiritual sebagai salah satu cara pengobatan dalam upaya penyembuhan penderita.

Di Indonesia pengobatan spiritual biasanya dikaitkan dengan agama. Seseorang pengguna NAPZA dapat memilih untuk menjalankan pengobatan spiritual yang berlaku umum. Bila dia memilih pengobatan spiritual yang sesuai dengan agamanya maka kegiatan tersebut tidak asing lagi bagi mereka. Contoh terapi spiritual ini misalnya melakukan berzikir, berdoa, berpuasa, sholat, dan lainnya yang dibimbing oleh rohaniawan maupun dilakukan sendiri. Dalam terapi ini Tuhan adalah media sebagai tempat pelarian terbaik pecandu. Melalui doa dan ibadah hati akan merasa tenang dan lebih ikhlas, sehingga diharapkan para pecandu akan lebih kuat imannya dan yakin bahwa Tuhan sayang terhadap setiap umatnya, tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kamampuan umatnya.  Para pecandu dapat meminta ampun dan memohon kepada Tuhan untuk membantu memberikan kekuatan agar benar-benar lepas dari kecanduan narkoba.

  1. Terapi Nutrisi

Seperti kita ketahui pengguna NAPZA memiliki napsu makan yang kurang akibat efek obat-obatan yang mereka konsumsi. Sebagian besar mereka lebih banyak mengkonsumsi gula, junk food, makanan cepat saji, kafein dan lemak jenuh secara berlebihan. Sehingga disarankan untuk menjalankan program diet tinggi protein dan lemak. Makanan yang diharuskan untuk dikonsumsi adalah ayam, domba, daging organik dan mentega. Proporsi diet terdiri dari 40 persen karbohidrat, 30 persen protein dan 30 persen lemak. Buah-buahan yang padat nutrisi, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian dan polong-polongan juga harus dikonsumsi.  Nutrisi yang sehat dan seimbang diperlukan pasien dengan NAPZA untuk mempertahankan kekuatan tubuh, meningkatkan fungsi sistem imun, kemampuan tubuh untuk memerangi infeksi dan menjaga kesehatan mereka agar tetap aktif dan produktif.

  1. Terapi Suplemen

Kurangnya asupan bagi orang-orang yang sedang pada masa pemulihan khususnya pemulihan dari ketergantungan NAPZA bisa diatasi dengan mengkonsumsi suplemen khusus untuk mengimbangi kebutuhan tubuh terhadap nutrisi. Suplemen ini antara lain Multivitamin , omega-3 membantu menstabilkan mood, memperbaiki komunikasi antar saraf serta mendukung tumbuh kembang sel-sel otak, vitamin B komplek menaikkan mood, menurunkan kecemasan serta menambah tenaga, vitamin C membantu memelihara keseimbangan tubuh, NAC (N-acetylcysteine, asam amino N-acetylcycteine merupakan  suplemen terpenting untuk mendukung pemulihan tubuh, mengatur sistem glutamatergic dalam otak sehingga mampu memerangi kecanduan serta perilaku kompulsif, dan Rhodiola merupakan obat herbal yang sangat efektif untuk menghilangkan depresi, kegelisahan dan kelelahan yang biasa dialami oleh para pecandu.

  1. Yoga

Yoga melibatkan sejumlah postur yang mengintegrasikan tubuh dan pikiran. Latihan yoga meningkatkan kekuatan otot dan juga fleksibilitas tubuh. Yoga menghasilkan perubahan signifikan dalam fisik, hubungan sosial dan domain lingkungan kualitas hidup.  Dengan disiplin melakukannya tubuh akan terasa lebih fit sehingga sangat cocok diterapkan pada para pencandu dan secara signifikan dapat mengurangi stres, cemas dan depresi serta memperbaiki pola tidur.

  1. Latihan Kesadaran

terapi komplementer pada pasien napzaLatihan kesadaran adalah sebuah bentuk meditasi yang memfokuskan diri , pernafasan dan sensasi tubuh. Selain pelatihan  Vipasana yang sering disebut penganut Budha, juga bisa dilakukan meditasi. Bila aktivitas meditasi dilakukan secara rutin dan terus-menerus maka lambat laun pikiran dan kesadaran akan kuat, sehingga pelaku meditasi akan memiliki ketenangan, kedamaian dan cinta kasih. Namun latihan ini perlu waktu lama bagi para pecandu karena sebagian besar pecandu memiliki gangguan dalam berkonsentrasi. Mereka tidak bisa memusatkan perhatian dan sering berfikir hal-hal negatif yang mendorong semakin banyaknya perikalu kompulsif. Latihan meditasi yang rutin, diharapkan dapat membantu untuk memfokuskan perhatiannya dan mendorong sikap positif terhadap pengalaman masa lalunya.

  1. Terapi Criminon

Criminon sering juga di terjemahkan sebagai no crime, yang berarti terapi ini bertujuan untuk membentuk seorang narapidana agar tidak melakukan kembali kejahatan. Konsep dasar dari Criminon menyatakan bahwa pada dasarnya seseorang melakukan kejahatan adalah karena kurangnya rasa percaya diri. Ketiadaan rasa percaya diri ini mengakibatkan seseorang tidak mampu untuk menghadapi tantangan kehidupan serta tidak mampu menyesuaikan diri dengan sistem nilai berlaku di masyarakat sehingga yang bersangkutan melakukan pelanggaran hukum. Pelanggaran ini sering dilakukan oleh para pacandu NAPZA, sehingga perlu dilakukan cara untuk mencegahnya, terapi ini adalah salah satu cara untuk mengatasi perilaku negatif yang biasa dilakukan oleh para pecandu.

Tujuan pelatihan Criminon:

  1. Membantu memperbaiki dan meningkatkan kemampuan seseorang dalam menghadapi rasa bersalah, rendah diri, takut, emosi dan mampu mengendalikan diri.
  2. Membantu para pecandu dalam menghadapi hambatan belajar
  3. Memberikan pengetahuan untuk mencapai kebahagiaan lebih baik bagi diri sendiri maupun orang lain
  4. Memberikan dasar-dasar pengetahuan untuk mencapai kestabilan dan kebahagiaan dalam hidup

Program Criminon yang dikembangkan atas dasar teknik yang ditemukan oleh L. Ron Hubbard secara garis besar ditawarkan melalui dua model pengajaran yakni di dalam ruang (kelas) dan melalui kursus korespondensi. Program ini terdiri dari beberapa seri modul yang intinya bertujuan untuk membantu para pecandu NAPZA dalam memahami dampak dari berbagai pengaruh terhadap lingkungannya, konsekuensi dari pilihan-pilihan mereka di masa lalu serta cara untuk mengambil keputusan atau pilihan yang lebih baik di masa yang akan datang (Criminon International, 2005).

Kurikulum yang terdapat dalam program Criminon terdiri dari empat modul utama, yaitu:

  1. Pertama, kursus komunikasi dimana didalamnya para pecandu diajarkan untuk berinteraksi aktif secara positif dalam lingkungan sosialnya, berkomunikasi secara efektif melalui penggunaan volume, intonasi dan bahasa tubuh serta kemampuan untuk memberi respon yang secukupnya dalam sebuah diskusi baik positif maupun negatif dengan pihak lain.
  2. Kedua, yaitu kursus keterampilan untuk bertahan hidup yang didalamnya diajarkan faktor-faktor fundamental yang diperlukan dalam memahami sesuatu melalui proses indentifikasi terhadap hal-hal yang menjadi kendala bagi efektifitas proses belajar serta menentukan strategi yang diperlukan untuk mengatasi kendala-kendala tersebut.
  3. Ketiga, yaitu kursus meraih dan mencapai kebahagiaan, pada tahap ini pecandu dituntun menuju pola berpikir baru mengenai dirinya, hubungannya dengan orang lain serta pola perilaku yang baru dalam kehidupannya.
  4. Keempat, kursus mengenal dan mengatasi kebiasaan-kebiasaan anti sosial, didalamnya pecandu diajarkan untuk mampu mengidentifikasi dan bernegosiasi dengan bentuk-bentuk kebiasaan yang anti sosial, baik yang ada di dalam dirinya maupun juga yang ada pada orang lain.

8. Terapi Kesenian

Kegiatan kesenian dimaksudkan untuk membina dan mengasah bakat-bakat seni pecandu, sehingga mereka dapat menyalurkan bakat seni yang mereka miliki. Sebagai sebuah kegiatan terapi, kesenian dapat digunakan untuk membantu narapidana pengguna NAPZA/ pecandu dalam upaya kepulihannya.

Dalam pelaksanaanya kesenian tidak dapat berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari satu sistem rehabilitasi yang komprehensif yang meliputi rehabilitasi medis dan rehabilitasi non- medis. Kesenian dilakukan sebagai suatu proses aftercare, atau setelah warga binaan menjalani program terapinya.

Pada tahap aftercare warga binaan diarahkan sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing. Tujuan dari tahapan ini adalah untuk membekali para pecandu dengan pengetahuan dan keterampilan yang bermanfaat dan bisa diaplikasikan di kehidupannya setelah kembali ke masyarakat. Dengan demikian pecandu bisa mengaktualisasikan diri di tengah masyarakat sebagai manusia yang produktif dan tidak lagi bergantung pada NAPZA.

Kesenian dapat digunakan sebagai media terapi dan rehabilitasi karena memiliki tujuan sebagai berikut:

  1. Kegiatan kesenian merupakan kegiatan yang bersifat positif
  2. Kegiatan kesenian terjadwal secara rutin, sehingga secara tidak langsung melatih kedisiplinan warga binaan
  3. Kegiatan kesenian memacu warga binaan untuk terus mengembangkan diri
  4. Kegiatan kesenian memotivasi warga binaan untuk menggali potensi yang ada dalam dirinya
  5. Kegiatan kesenian dapat dipergunakan untuk mengurangi waktu luang warga binaan, sehingga dapat menghindarkan warga binaan memikirkan kembali pemakaian NAPZA
  6. Kegiatan kesenian dapat mambantu warga binaan untuk lebih percaya diri dengan menampilkan potensi dirinya
  7. Kegiatan kesenian dapat melatih warga binaan untuk lebih bertanggung jawab atas pilihan yang telah diambil bagi dirinya sendiri.

9. Terapi Akupuntur

terapi komplementer pasien napza akupungturTerapi akupuntur merupakan metode penyembuhan yang berasal dari Cina dan sangat efektif sebagai pengobatan alternatif untuk mengatasi kecanduan NAPZA. Akupuntur adalah suatu ilmu dan seni pengobatan tradisional Timur dengan penusukan jarum halus pada daerah khusus di permukaan tubuh yang bertujuan menjaga keseimbangan Yin-Yang atau bioenergi tubuh. Jarum-jarum diletakkan ke bagian titik tekan tubuh dan mampu mengatasi ketidaknyamanan selama tidak memakai narkoba secara sempurna. Tujuan dan rasionalisasi untuk terapi kecanduan NAPZA terhadap akupuntur adalah mencegah gejala putus obat zat, menurunkan keinginan untuk menggunakan NAPZA lagi, menormalkan fungsi fisiologis yang terganggu akibat penggunaan narkoba, meminimalkan komplikasi medis dan sosial dari penggunaan narkoba dan mempertahankan kondisi bebas penggunaan NAPZA. Efek penusukan terjadi melalui hantaran saraf dan melalui humoral/ endokrin. Secara umum efek penusukan jarum terbagi atas efek lokal, efek segmental dan efek sentral.

  • Efek lokal:

Penusukan jarum akan menimbulkan perlukaan mikro pada jaringan. Hal ini menyebabkan pelepasan hormon jaringan (mediator) dan menimbulkan reaksi rantai biokimiawi. Efek yang terjadi secara lokal meliputi dilatasi kapiler, peningkatan permeabilitas kapiler, perubahan lingkungan interstisial, stimulasi nosiseptor, aktivasi respon imun nonspesifik, dan penarikan leukosit dan sel Langerhans. Reaksi lokal ini dapat dilihat sebagai kemerahan pada daerah penusukan.

  • Efek segmental/ regional:

Tindakan akupuntur akan merangsang serabut saraf dan rangsangan itu akan diteruskan ke segmen medula spinalis bersangkutan dan ke sel saraf lainnya, dengan demikian mempengaruhi segmen medula spinalis yang berdekatan.

  • Efek sentral:

Rangsangan yang sampai pada medula spinalis diteruskan ke susunan saraf pusat melalui jalur batang otak, substansia grisea, hipotalamus, talamus dan cerebrum. Dengan demikian maka penusukan akupuntur yang merupakan tindakan invasif mikro akan dapat menghilangkan gejala nyeri yang ada, mengaktivasi mekanisme pertahanan tubuh sehingga memulihkan homeostasis.

 

D. PERAN PERAWAT DALAM TERAPI KOMPLEMENTER PADA PASIEN DENGAN NAPZA

Peran perawat yang dapat dilakukan dari pengetahuan tentang terapi komplementer diantaranya sebagai konselor, pendidik kesehatan, peneliti, pemberi pelayanan langsung, koordinator dan sebagai advokat.

  1. Perawat sebagai konselor

Sebagai konselor perawat dapat menjadi tempat bertanya, konsultasi, dan diskusi apabila klien membutuhkan informasi tentang kondisi kesehatannya sekarang.

  1. Perawat sebagai pendidik kesehatan

Sebagai pendidik perawat dapat memberikan informasi tentang cara pemulihan klien dari ketergantungan NAPZA khususnya tentang terapi komplementer.

  1. Perawat sebagai peneliti

Sebagai peneliti perawat dapat melakukan berbagai penelitian yang dikembangkan dari hasil evidence-based practice khususnya dalam hal terapi komplementer untuk klien dengan NAPZA.

  1. Perawat sebagai pemberi pelayanan langsung

Sebagai pemberi pelayanan langsung misalnya dalam praktik pelayanan kesehatan yang melakukan integrasi terapi komplementer, salah satunya yaitu rehabilitasi medis pengguna NAPZA.

  1. Perawat sebagai koordinator

Sebagai koordinator perawat dapat mendiskusikan terapi komplementer pada klien dengan NAPZA dengan dokter yang merawat dan unit manajer terkait.

  1. Perawat sebagai advokat

Sebagai advokat perawat berperan untuk memenuhi permintaan kebutuhan  perawatan komplementer yang mungkin diberikan termasuk perawatan alternatif pada klien dengan NAPZA.

PostHeaderIcon Laporan Pendahuluan Waham

LAPORAN PENDAHULUAN PERUBAHAN ISI PIKIR : WAHAM

 

  • Masalah Utama

Perubahan isi pikir : waham

 

Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya klien.

Manifestasi klinik waham yaitu berupa : klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya ) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan, klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai lingkungan / realitas, ekspresi wajah tegang, mudah tersinggung.

  • Proses terjadinya masalah
  1. Penyebab

Penyebab secara umum dari waham adalah gannguan konsep diri : harga diri rendah. Harga diri rendah dimanifestasikan dengan perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan.

  1. Akibat

Akibat dari waham klien dapat mengalami kerusakan komunikasi verbal yang ditandai dengan pikiran tidak realistic, flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak mata yang kurang. Akibat yang lain yang ditimbulkannya adalah beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan.

  • Pohon masalah

Dapat di download disini “https://drive.google.com/file/d/0B4g0Y7_imh8cZXp6NHV1R2lfZ1k/view” hilangkan tanda petik ”

  • Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji

Masalah keperawatan :

      1. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan
      2. Kerusakan komunikasi : verbal
      3. Perubahan isi pikir : waham
      4. Gangguan konsep diri : harga diri rendah.

Data yang perlu dikaji :

  • Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan

1).  Data subjektif

Klien memberi kata-kata ancaman, mengatakan benci dan kesal pada seseorang, klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal, atau marah, melukai / merusak barang-barang dan tidak mampu mengendalikan diri

2).  Data objektif

Mata merah, wajah agak merah, nada suara tinggi dank eras, bicara menguasai, ekspresi marah, pandangan tajam, merusak dan melempar barang-barang.

  • Kerusakan komunikasi : verbal

1).  Data subjektif

Klien mengungkapkan sesuatu yang tidak realistik

2). Data objektif

Flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak mata kurang

  • Perubahan isi pikir : waham ( ………….)

1).  Data subjektif :

Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan.

2). Data objektif :

Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai lingkungan / realitas, ekspresi wajah klien tegang, mudah tersinggung

  • Gangguan harga diri rendah

1).  Data subjektif

Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri

2).  Data objektif

Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan, ingin mencedaerai diri/ ingin mengakhiri hidup

  • Diagnosa Keperawatan
      1. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan waham
      2. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan waham
      3. Perubahan isi pikir : waham (……………..) berhubungan dengan harga diri rendah.

 

  • Rencana Keperawatan

Diagnosa Keperawatan 1: kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan waham

      1. Tujuan umum :

Klien tidak terjadi kerusakan komunikasi verbal

      1. Tujuan khusus :

 

1). Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat

Tindakan :

      • Bina hubungan. saling percaya: salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas topik, waktu, tempat).
      • Jangan membantah dan mendukung waham klien: katakan perawat menerima keyakinan klien “saya menerima keyakinan anda” disertai ekspresi menerima, katakan perawat tidak mendukung disertai ekspresi ragu dan empati, tidak membicarakan isi waham klien.
      • Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi: katakan perawat akan menemani klien dan klien berada di tempat yang aman, gunakan keterbukaan dan kejujuran jangan tinggalkan klien sendirian.
      • Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan perawatan diri.

 

2). Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki

Tindakan :

      • Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.
      • Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini yang realistis.
      • Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk melakukannya saat ini (kaitkan dengan aktivitas sehari ‑ hari dan perawatan diri).
      • Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan waham tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting.

 

3). Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi

Tindakan :

      • Observasi kebutuhan klien sehari-hari.
      • Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah).
      • Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.
      • Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).
      • Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan wahamnya.

 

4).Klien dapat berhubungan dengan realitas

Tindakan :

      • Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain, tempat dan waktu).
      • Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.
      • Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien

 

5). Klien dapat menggunakan obat dengan benar

Tindakan :

      • Diskusikan dengan kiten tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat.
      • Bantu klien menggunakan obat dengan priinsip 5 benar (nama pasien, obat, dosis, cara dan waktu).
      • Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.
      • Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.

 

6). Klien dapat dukungan dari keluarga

Tindakan :

      • Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang: gejala waham, cara merawat klien, lingkungan keluarga dan  follow up
      • Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga.

 

Diagnosa Keperawatan 2: Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan waham

      1. Tujuan Umum:

Klien terhindar dari mencederai diri, orang lain dan lingkungan.

      1. Tujuan Khusus:

1). Klien dapat membina hubungan saling

Tindakan:

      • Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, empati, sebut nama perawat dan jelaskan tujuan interaksi.
      • Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.
      • Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.
      • Beri perhatian dan penghargaan : teman klien walau tidak menjawab.

 

2). Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.

Tindakan:

      • Beri kesempatan mengungkapkan perasaan.
      • Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel /
      • Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan sikap tenang.

 

3). Klien dapat mengidentifikasi tanda‑tanda perilaku kekerasan.

Tindakan :

      • Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan saat jengkel/kesal.
      • Observasi tanda perilaku kekerasan.
      • Simpulkan bersama klien tanda‑tanda jengkel / kesal yang dialami klien.

4). Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.

Tindakan:

      • Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
      • Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
      • Tanyakan “apakah dengan cara yang dilakukan masalahnya selesai?”

5). Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.

Tindakan:

      • Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan.
      • Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang digunakan.
      • Tanyakan apakah ingin mempelajari cara baru yang sehat.

6). Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan.

Tindakan :

      • Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat.
      • Diskusikan cara lain yang sehat.Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang kesal, berolah raga, memukul bantal / k
      • Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal / tersinggung
      • Secara spiritual : berdo’a, sembahyang, memohon kepada Tuhan untuk diberi kesabaran.

7). Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.

Tindakan:

      • Bantu memilih cara yang paling tepat.
      • Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih.
      • Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih.
      • Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai dalam
      • Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat jengkel / marah.

8). Klien mendapat dukungan dari keluarga.

Tindakan :

      • Beri pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melalui pertemuan keluarga.
      • Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.

9). Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program).

Tindakan:

      • Diskusikan dengan klien tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping).
      • Bantu klien mengunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama klien, obat, dosis, cara dan waktu).
      • Anjurkan untuk membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.

 

Diagnosa Keperawatan 3: Perubahan isi pikir : waham ( …….. ) berhubungan dengan harga diri rendah

      1. Tujuan umum :

Klien tidak terjadi gangguan konsep diri : harga diri rendah/klien akan meningkat harga dirinya.

      1. Tujuan khusus :

1). Klien dapat membina hubungan saling percaya

Tindakan :

      • Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik pembicaraan)
      • Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
      • Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
      • Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri

2). Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

Tindakan :

      • Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
      • Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, utamakan memberi pujian yang realistis
      • Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

3). Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan

Tindakan :

      • Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
      • Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah

4). Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki

Tindakan :

      • Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan
      • Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
      • Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan

 

5). Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan

Tindakan :

      • Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan
      • Beri pujian atas keberhasilan klien
      • Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah

6). Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada

Tindakan :

      • Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien
      • Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat
      • Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah
      • Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Aziz R, dkk. Pedoman asuhan keperawatan jiwa. Semarang: RSJD Dr. Amino Gondoutomo. 2003
  • Tim Direktorat Keswa. Standart asuhan keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 1. Bandung: RSJP.2000
  • …………..Pelatihan asuhan keperawatan pada klien gangguan jiwa. Semarang. 20 – 22 Novembr 2004. Unpublished
  • Keliat Budi A. Proses keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 1. Jakarta: EGC. 1999
  • Townsend M.C. Diagnosa keperawatan pada keperawatan psikiatri; pedoman untuk pembuatan rencana keperawatan. Jakarta: EGC. 1998

PostHeaderIcon Format SPSK Keperawatan Jiwa

                                                         PROGRAM STUDI PROFESI NERS

                                                    SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

 


STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN JIWA

 

 

Hari/ Tanggal            :                                                              No RM :

Jam                                :                                                              Nama   :

Pertemuan Ke-          :                                               Jenis Kelamin :

 

  1. PROSES KEPERAWATAN
  1. Kondisi klien:

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 

  1. Diagnosa keperawatan:

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

 

  1. Tujuan:

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

 

  1. Tindakan keperawatan:

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 

  1. STRATEGI KOMUNIKASI DALAM PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

ORIENTASI

  1. Salam Terapeutik:

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

  1. Evaluasi/ Validasi:

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

 

  1. Kontrak: Topik, waktu, dan tempat

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

  • Topik

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

  • Waktu

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

  • Tempat

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

 

FASE KERJA: Langkah-langkah tindakan keperawatan

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

 

TERMINASI:

  1. Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan:
  • Subyektif:

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

  •       Obyektif:

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

 

  1. Rencana tindak lanjut

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

 

  1. Kontrak yang akan datang (Topik, waktu, dan tempat):
  • Topik

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

  • Waktu

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

  • Tempat

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 

 

Nama Mahasiswa

TTD

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net

Tukar Link ?
Copy kode dibawah ini, kemudian paste di blog Anda:


Tampilan akan seperti ini :

Langganan Artikel
Enter your Email


Preview | Powered by FeedBlitz
Menu Anak

Copyright © 2008 - 2017 NursingBegin.com.