Archive for the ‘Askep Mata’ Category

PostHeaderIcon Askep Ablasio Retina

 

Askep Ablasio Retina

 

Pengertian Ablasio Retina

 

Ablasio retina terjadi bila ada pemisahan retina neurosensori dari lapisan epitel berpigmen  retina dibawahnya karena retina neurosensori, bagian retina yang mengandung batang dan kerucut, terkelupas dari epitel berpigmen pemberi nutrisi, maka sel fotosensitif ini tak mampu melakukan aktivitas fungsi visualnya dan berakibat hilangnya penglihatan (C. Smelzer, Suzanne, 2002).

Ablasio retina adalah suatu penyakit dimana lapisan sensorik dari retina lepas. Lepasnya bagian sensorik retina ini biasanya hampir selalu didahului oleh terbentuknya robekan atau lubang di dalam retina, lepasnya lapisan saraf retina dari epitelium (P.N Oka, 1993).

 

Penyebab Ablasio Retina

 

a.         Malformasi kongenital

b.         Kelainan metabolisme

c.         Penyakit vaskuler

d.         Inflamasi intraokuler

e.         Neoplasma

f.          Trauma

g.         Perubahan degeneratif dalam vitreus atau retina

(C. Smelzer, Suzanne, 2002).

 

Manifestasi Klinis Ablasio Retina

 

•           Riwayat melihat benda mengapung atau pendaran cahaya atau keduanya

•           Floater dipersepsikan sebagai titik-titik hitam kecil/rumah laba-laba

•           Pasien akan melihat bayangan berkembang atau tirai bergerak dilapang pandang ketika retina benar-benar terlepas dari epitel berpigmen

•           Penurunan tajam pandangan sentral aau hilangnya pandangan sentral menunjjukkan bahwa adanya keterlibatan makula

 

Penatalaksanaan

 

  • Tirah baring dan aktivitas dibatasi
  • Bila kedua mata dibalut, perlu bantuan oranglain untuk mencegah cidera
  • Jika terdapat gelombang udara di dalam mata, posisi yang dianjurkan harus dipertahannkan sehingga gas mampu memberikan tamponade yang efektif pada robekan retina
  • Pasien tidak boleh terbaring terlentang
  • Dilatasi pupil harus dipertahankan untuk mempermudah pemeriksaan paska operasi

 

Cara Pengobatannya:

•           Prosedur laser

Untuk menangani ablasio retina eksudatif/serosa sehubungan dengan proses yang berhubungan dengan tumor atau inflamasi yang menimbulkan cairansubretina yang tanpa robekan retina.

Tujuannya untuk membentuk jaringan parut pada retina sehingga melekatkannya ke epitel berpigmen.

•           Pembedahan

Retinopati diabetika /trauma dengan perdarahan vitreus memerlukan pembedahan vitreus untuk mengurangi gaya tarik pada retina yang ditimbulkan.

Pelipatan (buckling) sklera merupakan prosedur bedah primer untuk melekatkan kembali retina.

•           Krioterapi transkleral

Dilakukan pada sekitar tiap robekan retina menghasilkan adhesi korioretina yang melipat robekan sehingga cairan vitreus tak mampu lagi memasuki rongga subretina. Sebuah/ beberapa silikon (pengunci) dijahitkan dan dilipatkan ke dalam skler, secara fisik akan mengindensi/melipat sklera, koroid, danlapisan fotosensitif ke epitel berpigmen, menahan robekan ketika retina dapat melekat kembali ke jaringan pendukung dibawahnya, maka fungsi fisiologisnya ormalnya dapat dikembalikan. (C. Smelzer, Suzanne, 2002).

 

Komplikasi Ablasio Retina

 

a.         Komplikasi awal setelah pembedahan

  • Peningkatan TIO
  • Glaukoma
  • Infeksi
  • Ablasio koroid
  • Kegagalan pelekatan retina
  • Ablasio retina berulang

b.         Komplikasi lanjut

  • Infeksi
  • Lepasnya bahan buckling melalui konjungtiva atau erosi melalui bola mata
  • Vitreo retinpati proliveratif (jaringan parut yang mengenai retina)
  • Diplopia
  • Kesalahan refraksi
  • Astigmatisme

Pemeriksaan Diagnostik Dan Penunjang

1. Anamnesis

Gejala yang sering dikeluhkan pasien, adalah:

a. Floaters (terlihat benda melayang-layang), yang terjadi karena adanya kekeruhan

di vitreus oleh adanya darah, pigmen retina yang lepas atau degenerasi vitreus itu

sendiri.

b. Fotopsia/ light flashes (kilatan cahaya) tanpa adanya cahaya di sekitarnya, yang

umumnya terjadi sewaktu mata digerakkan dalam keremangan cahaya atau dalam

keadaan gelap.

c. Penurunan tajam penglihatan. Pasien mengeluh penglihatannya sebagian

seperti tertutup tirai yang semakin lama semakin luas. Pada keadaan yang telah

lanjut dapat terjadi penurunan tajam penglihatan yang lebih berat.

2. Pemeriksaan Oftalmologi

a. Pemeriksaan visus, dapat terjadi penurunan tajam penglihatan akibat terlibatnya

makula lutea ataupun terjadi kekeruhan media penglihatan atau badan kaca yang

menghambat sinar masuk. Tajam penglihatan akan sangat menurun bila makula

lutea ikut terangkat.

b. Pemeriksaan lapangan pandang, akan terjadi lapangan pandang seperti tertutup

tabir dan dapat terlihat skotoma relatif sesuai dengan kedudukan ablasio retina,

pada lapangan pandang akan terlihat pijaran api seperti halilintar kecil dan

fotopsia.

c. Pemeriksaan funduskopi, yaitu salah satu cara terbaik untuk mendiagnosis

ablasio retina dengan menggunakan binokuler indirek oftalmoskopi. Pada

pemeriksaan ini ablasio retina dikenali dengan hilangnya refleks fundus dan

pengangkatan retina. Retina tampak keabu-abuan yang menutupi gambaran

vaskuler koroid. Jika terdapat akumulasi cairan bermakna pada ruang subretina,

didapatkan pergerakkan undulasi retina ketika mata bergerak. Suatu robekan pada

retina terlihat agak merah muda karena terdapat pembuluh koroid dibawahnya.

Mungkin didapatkan debris terkait pada vitreus yang terdiri dari darah dan pigmen

atau ruang retina dapat ditemukan mengambang bebas.

3. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mengetahui adanya penyakit

penyerta antara lain glaukoma, diabetes mellitus, maupun kelainan darah.

b. Pemeriksaan ultrasonografi, yaitu ocular B-Scan ultrasonografi juga digunakan

untuk mendiagnosis ablasio retina dan keadaan patologis lain yang menyertainya

seperti proliverative vitreoretinopati, benda asing intraokuler. Selain itu

ultrasonografi juga digunakan untuk mengetahui kelainan yang menyebabkan

ablasio retina eksudatif misalnya tumor dan posterior skleritis.

c. Pemeriksaan angiografi fluoresin akan terlihat:

1) Kebocoran didaerah parapapilar dan daerah yang berdekatan dengan

tempatnya ruptur, juga dapat terlihat

2) Gangguan permeabiltas koriokapiler akibat rangsangan langsung badan kaca

pada koroid.

3) Dapat dibedakan antara ablasi primer dan sekunder

4) Adanya tumor atau peradangan yang menyebabkan ablasi

 

Rencana Asuhan Keperawatan Ablasio Retina

 

1. 11 Pendekatan Fungsional Gordon

a. Data Klinis

•Data Biografi

Berupa nama pasien, usia, TB, BB, Tanggal masuk, TD, RR, Nadi dan Suhu .

•Keluhan Utama

Pasien biasanya melaporkan:

– Riwayat melihat benda mengapung atau pendaran cahaya atau keduanya.

– Pasien akan melihat bayangan berkembang atau tirai bergerak dilapang

pandang, mengakibatkan pandangan kabur dan kehilangan lapang

pandang.

– Penurunan tajam pandangan sentral atau hilangnya pandangan sentral

menunjukkan bahwa adanya keterlibatan macula.

•Riwayat perjalanan penyakit

– Tanyakan sejak kapan pasien merasa melihat benda mengapung atau

pendaran cahaya atau keduanya.

– Tanyakan sejak kapan pasien melihat bayangan berkembang atau tirai

bergerak dilapang pandang, yang mengakibatkan pandangan kabur.

– Tanyakan sejak kapan pasien mengalami penurunan tajam pandangan

sentral atau hilangnya pandangan sentral.

•Riwayat kesehatan masa lalu

– Apakah klien ada riwayat penyakit diabetes mellitus.

– Apakah pernah mengalami trauma pada mata.

•Riwayat kesehatan keluarga

Apakah ada keluarga yang menderita penyakit ini sebelumnya.

b. Persepsi dan Penanganan Kesehatan

•Tanyakan kepada klien tentang gambaran kesehatannya secara umum saat ini.

•Tanyakan alasan kunjungan klien dan harapan klien terhadap penyakitnya.

•Tanyakan gambaran terhadap sakit yang dirasakan klien, penyebabnya, dan

penanganan yang dilakukan.

•Tanyakan apa dan bagaimana tindakan yang dilakukan klien dalam menjaga

kesehatannya.

•Tanyakan kepada klien apakah klien pernah menggunakan obat resep dokter

dan warung.

•Tanyakan kepada klien apakah klien seorang perokok, alkoholik, atau

mengonsumsi tembakau.

•Tanyakan kepada klien tentang riwayat kesehatan keluarganya. Apakah ada

anggota keluarga yang pernah menderita penyakit yang sama.

c. Nutrisi-Metabolik

•Tanyakan pada klien tentang gambaran yang biasa dimakan dan frekuensi

makannya.

•Tanyakan apakah klien mempunyai riwayat alergi.

•Tanyakan bagaiamana proses penyembuhan luka pada klien (cepat-lambat).

d. Eliminasi

•Tanyakan kepada klien bagaimana kebiasaan defekasi dan eliminasinya.

Aktivitas-Latihan

•Tanyakan bagaimana klien melakukan aktivitasnya sehari-hari, seperti: mandi,

berpakaian, eliminasi, mobilisasi ditempat tidur, merapikan rumah, ambulasi,

dan makan, apakah mandiri atau dibantu orang lain.

f. Tidur-Istirahat

•Tanyakan waktu, frekuensi dan kualitas tidur klien.

g. Kognitif-Persepsi

•Kaji status mental dan bicara klien.

•Tanyakan apakah ada kesulitan dalam mendengar dan melihat.

h. Peran-Hubungan

•Tanyakan bagaimana status pekerjaan klien.

•Tanyakan bagaimana hubungan klien dengan keluarga dan orang disekitarnya.

•Tanyakan bagaimana status pernikahan klien.

i. Seksualitas-Reproduksi

•Tanyakan bagaimana hubungan seksualitas klien.

•Kaji apakah klien telah menopause.

j. Koping-Toleransi Stress

•Tanyakan apakah klien pernah mengalami perubahan besar dimasa lalunya

dan bagaimana cara klien menghadapinya.

k. Nilai-Kepercayaan

•Tanyakan agama klien dan bagaimana pengaruh agama pada kehidupan klien

sehari-hari.

 

 

Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Terjadi

 

Perubahan persepsi sensori melihat berhubungan dengan efek dari lepasnya saraf sensori dari retina.

Tujuan:

Tidak terjadi kehilangan penglihatan yang berlanjut.

Kriteria:

Klien memahami pentingnya perawatan yang intensif / bedrest total.

Klien mampu menjelaskan rresiko yang akan terjadi sehubungan dengan penyakitnya.

Intervensi:

Ajarkan klien untuk bedrest total. Rasional : agar lapisan saraf yang terlepas tidak bertambah parah.

Berikan penjelasan tujuan bedrest total. Rasional: agar klien mematuhi dan mengerti maksud perlakuan bedrest total.

Hindari pergerakan yang mendadak, menghentakkan kepala, batuk, bersin, muntah. Rasional : mencegah bertambah parahnya lapisan saraf retina yang terlepas.

Jaga kebersihan mata. Rasional: mencegah terjadinya infeksi.

Berikan obat tetes mata midriatik-sikloplegik dan obat oral sesuai anjuran dokter. Rasional: dengan pemberian obat-obatan diharapkan kondisi penglihatan dapat dipertahankan / tidak tertambah parah.

 

Ansietas yang berhubungan dengan ancaman kehilangan penglihatan

Tujuan:

Klien mampu menggambarkan ansietas dan pola kopingnya.

Klien mengerti tentang tujuan perawatan yang diberikan.

Klien memahami tujuan operasi, pelaksanaan operasi, pasca operasi, prognosisnya bila dilakukan operasi.

Intervensi :

Kaji tingkat ansietas klien (ringan, sedang, berat, panik). Rasional: untuk mengetahui sejauh mana tingkat kecemasan klien sehingga memudahkan penanganan / pemberian askep selanjutnya.

Berikan kenyamanan dan ketenteraman hati. Rasional: agar klien tidak terlalu memikirkan penyakitnya.

Berikan penjelasan mengenai prosedur perawatan, perjalanan penyakit dan prognosenya. Rasional: agar klien mengetahui / memahami bahwa ia benar sakit dan perlu dirawat.

Berikan / tempatkan alat pemanggil yang mudah dijangkau oleh klien. Rasional: agar klilen merasa aman dan terlindungi saat memerlukan bantuan.

Gali intervensi yang dapat menurunkan ansietasnya. Rasional: untuk mengetahui cara yang efektif menurunkan / mengurangi ansietas klien.

Berikan aktivitas yang dapat menurunkan kecemasan / ketegangan. Rasional: agar klien dengan senang hati melakukan aktivitas karena sesuai dengan keinginanya dan tidak bertentangan dengan program perawatan.

 

Resiko terhadap ketidak efektifan penatalaksanaan program terapeutik yang berhubungan dengan ketidak cukupan pengetahuan tentang aktivitas yang diperbolehkan dan yang dibatasi, obat-obatan, komplikasi danperawatan tindak lanjut.

Tujuan :

Klien mampu berintegrasi dengan program terapeutik yang direncanakan / dilakukan untuk pengobatan akibat dari penyakit dan penurunan situasi beresiko (tidak aman, polusi).

Kriteria:

Klien mengungkapkan ansietas berkurang tentang ketakutan karena ketidak tahuan, kehilangan kontrol dan kesalahan persepsi.

Menggambarkan proses penyakit, penyebab dan faktor penunjang pada gejala dan aturan untuk penyakit atau kontrol gejala.

Mengungkapkan maksud / tujuan untuk melakukan perilaku kesehatan yang diperlukan dan keinginan untuk pulih dari penyakit dan pencegahan kekambuhan atau komplikasi.

Intervensi:

Identifikasi faktor-faktor penyebab yang menghalangi penatalaksanaan program terapeutik yang efektif. Rasional: agar diketahui penyebab yang menghalangi sehingga dapat segera diatasi sesuai prioritas.

Bangun rasa percaya diri. Rasional: agar klien mampu melakukan aktifitas sendiri / dengan bantuan orang lain tanpa mengganggu program perawatan.

Tingkatkan rasa percaya diri dan kemampuan diri klien yang positif. Rasional: agar klien mampu dan mau melakukan / melaksanakan program perawatan yang dianjurkan tanpa mengurangi peran sertanya dalam pengobatan / perawatan dirinya.

Jelaskan dan bicarakan : proses penyakit, aturan pengobatan / perawatan, efek samping prognosis penyakitnya. Rasional : agar klien mengerti dan menyadari bahwa penyakitnya memerlukan suatu tindakan dan perlakuan yang tidak menyenagkan.

 

 

 

Daftar Pustaka

 

C. Smeltzer, Suzanne (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah (Brunner & Suddart) . Edisi 8. Volume 3. EGC. Jakarta

Brooker, Christine. 2001. “Buku Saku Keperawatan Edisi 31”. Jakarta: EGC.

Hazil, Maryadi. 2009. “Askep Ablasio Retina”.

Ilyas, Sidarta. 2009. “Ilmu Penyakit Mata”. Jakarta: FKUI.

Johnson, Marion, dkk. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC). USA

McCloskey, Joanne C and Gloria M.Bulecheck.1996. Nursing Interventions

Classification (NIC). USA

Smeltzer, Suzanne C. 2002. “Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner dan

Suddarth Edisi 8”. Jakarta: EGC.

Wiley and Blackwell. 2009. Nursing Diagnosis Defenitions and Classification 2009-

2011. USA.

 

 

Artikel Lainnya:

  1. Askep Preeklamsia
  2. Askep Anak Dengan Ensefalitis
  3. Membantu Klien Duduk
  4. Cedera Olah Raga Dislokasi
  5. Download Kumpulan Askep

 

 

PostHeaderIcon Askep Katarak

Askep Katarak

Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Katarak


Definisi Katarak

Katarak adalah nama yang diberikan untuk kekeruhan lensa yang mengakibatkan pengurangan visus oleh suatu tabir/layar yang diturunkan di dalam mata, seperti melihat air terjun.

Askep Katarak

Askep Katarak

Jenis katarak yang paling sering ditemukan adalah katarak senilis dan katarak senilis ini merupakan proses degeneratif (kemunduran ).  Perubahan yang terjadi bersamaan dengan presbiopi, tetapi disamping itu juga menjadi kuning warnanya dan keruh, yang akan mengganggu pembiasan cahaya.

Walaupun disebut katarak senilis tetapi perubahan tadi dapat terjadi pada umur pertengahan, pada umur 70 tahun sebagian individu telah mengalami perubahan lensa walau mungkin hanya menyebabkan sedikit gangguan penglihatan.

Etiologi Katarak

1.       Ketuaan ( Katarak Senilis )

2.       Trauma

3.       Penyakit mata lain ( Uveitis )

4.       Penyakit sistemik (DM)

5.       Defek kongenital ( salah satu kelainan herediter sebagai akibat dari infeksi virus prenatal, seperti German Measles )

Patofisiologi Katarak

Anatomi Mata

Anatomi Mata

Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih, transparan, berbentuk seperti kancing baju, mempunyai kekuatan refraksi yang besar.  Lensa mengandung tiga komponen anatomis.  Pada zona sentral terdapat nukleus, di perifer ada korteks, dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsula anterior dan posterior.  Dengan bertambahnya usia, nukleus mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan .  Di sekitar opasitas terdapat densitas seperti duri di anterior dan poterior nukleus.  Opasitaspada kapsul poterior merupakan bentuk aktarak yang paling bermakna seperti kristal salju.

Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi.  Perubahan dalam serabut halus multipel (zonula) yang memaenjang dari badan silier ke sekitar daerah di luar lensa.  Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina.  Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal disertai influks air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi sinar.  Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi.  Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak.

Katarak bisa terjaadi bilateral, dapat disebabkan oleh kejadian trauma atau sistemis (diabetes) tetapi paling sering karena adanya proses penuaan yang normal.  Faktor yang paling sering berperan dalam terjadinya katarak meliputi radiasi sinar UV, obat-obatan, alkohol, merokok, dan asupan vitamin antioksidan yang kurang dalam jangka waktu yang lama.

Manifestasi Klinik Katarak

Katarak

Katarak

Katarak didiagnosis terutama dengan gejala subjektif.  Biasanya klien melaporkan penurunan ketajaman penglihatan dan silau serta gangguan fungsional sampai derajat tertentu yang diakibatkan oleh kehilangan penglihatan tadi.  Temuan objektif biasanya meliputi pengembunann seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop.  Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan dipendarkan dan bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan terfokus pada retina.  Hasilnya adalah pendangan menjadi kabur atau redup, mata silau yang menjengkelkan dengan distorsi bayangan dan susah melihat di malam hari.  Pupil yang normalnya hitam akan tampak abu-abu atau putih.

Pemeriksaan Diagnostik Katarak

1.       Kartu mata snellen /mesin telebinokuler : mungkin terganggu dengan kerusakan kornea, lensa, akueus/vitreus humor, kesalahan refraksi, penyakit sistem saraf, penglihatan ke retina.

2.       Lapang Penglihatan : penurunan mungkin karena massa tumor, karotis,  glukoma.

3.       Pengukuran Tonografi : TIO (12 – 25 mmHg)

4.       Pengukuran Gonioskopi membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup glukoma.

5.       Tes Provokatif : menentukan adanya/ tipe glaukoma

6.       Oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, atrofi lempeng optik, papiledema, perdarahan.

7.       Darah lengkap, LED : menunjukkan anemi sistemik / infeksi.

8.       EKG, kolesterol serum, lipid

9.       Tes toleransi glukosa : kotrol DM

Penatalaksanaan Katarak

Bila penglihatan dapat dikoreksi dengan dilator pupil dan refraksi kuat sampai ke titik di mana pasien melakukan aktivitas sehari-hari, maka penanganan biasanya konservatif.

Pembedahan diindikasikan bagi mereka yang memerlukan penglihatan akut untuk bekerja ataupun keamanan.  Biasanya diindikasikan bila koreksi tajam penglihatan yang terbaik yang dapat dicapai adalah 20/50 atau lebih buruk lagi bila ketajaman pandang mempengaruhi keamanan atau kualitas hidup, atau bila visualisasi segmen posterior sangat perlu untuk mengevaluasi perkembangan berbagai penyakit retina atau sarf optikus, seperti diabetes dan glaukoma.

Ada 2 macam teknik pembedahan ;

1.       Ekstraksi katarak intrakapsuler

Adalah pengangkatan seluruh lensa sebagai satu kesatuan.

2.       Ekstraksi katarak ekstrakapsuler

Merupakan tehnik yang lebih disukai dan mencapai sampai 98 % pembedahan katarak.  Mikroskop digunakan untuk melihat struktur mata selama pembedahan.

Pengkajian Keperawatan Katarak

1.       Aktifitas Istirahat

Perubahan aktifitas biasanya/hobi sehubungan dengan gangguan penglihatan.

2.       Neurosensori

Gangguan penglihatan kabur/tak jelas, sinar terang menyababkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/merasa diruang gelap.  Penglihatan berawan/kabur, tampak lingkaran cahaya/pelangi di sekitar sinar, perubahan kacamata, pengobatan tidak memperbaiki penglihatan, fotofobia ( glukoma akut ).

Tanda : Tampak kecoklatan atau putih susu pada pupil (katarak), pupil menyempit dan merah/mata keras dan kornea berawan (glukoma darurat, peningkatan air mata.

3.       Nyeri / Kenyamanan

Ketidaknyamanan ringan / mata berair. Nyeri tiba-tiba / berat menetap atau   tekanan pada atau sekitar mata, sakit kepala

Diagnosa Keperawatan dan Intervensi Katarak

1.       Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan kehilangan vitreus, perdarahan intraokuler, peningkatan TIO ditandai dengan :

  • Adanya tanda-tanda katarak penurunan ketajaman penglihatan
  • pandangan kabur, dll

Tujuan :

Menyatakan pemahaman terhadap faktor yang terlibat dalam kemungkinan cedera.

Kriteria hasil :

–          Menunjukkan perubahan perilaku, pola hidup untuk menurunkan faktor resiko dan untuk melindungi diri dari cedera.

–          Mengubah lingkungan sesuai indikasi untuk meningkatkan keamanan.

Intervensi :

–          Diskusikan apa yang terjadi tentang kondisi paska operasi, nyeri, pembatasan aktifitas, penampilan, balutan mata.

–          Beri klien posisi bersandar, kepala tinggi, atau miring ke sisi yang tak sakit sesuai keinginan.

–          Batasi aktifitas seperti menggerakan kepala tiba-tiba, menggaruk mata, membongkok.

–          Ambulasi dengan bantuan : berikan kamar mandi khusus bila sembuh dari anestesi.

–          Dorong nafas dalam, batuk untuk menjaga kebersihan paru.

–          Anjurkan menggunakan tehnik manajemen stress.

–          Pertahankan perlindungan mata sesuai indikasi.

–          Minta klien membedakan antara ketidaknyamanan dan nyeri tajam tiba-tiba,  Selidiki kegelisahan, disorientasi, gangguan balutan.  Observasi hifema dengan senter sesuai indikasi.

–          Observasi pembengkakan lika, bilik anterior kempes, pupil berbentuk buah pir.

–          Berikan obat sesuai indikasi antiemetik, Asetolamid, sikloplegis, analgesik.

2.       Gangguan peersepsi sensori-perseptual penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori/status organ indera, lingkungna secara terapetik dibatasi. Ditandai dengan :

  • menurunnyaketajaman penglihatan
  • perubahan respon biasanya terhadap rangsang.

Tujuan :

Meningkatkan ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu, mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan.

Kriteria Hasil :

–          Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan.

–          Mengidentifikasi/memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.

Intervensi :

–          Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau dua mata terlibat.

–          Orientasikan klien tehadap lingkungan

–          Observasi tanda-tanda disorientasi.

–          Pendekatan dari sisi yang tak dioperasi, bicara dengan menyentuh.

–          Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur dan iritasi mata, dimana dapat terjadi bila menggunakan tetes mata.

–          Ingatkan klien menggunakan kacamata katarak yang tujuannya memperbesar kurang lebih 25 persen, pelihatan perifer hilang dan buta titik mungkin ada.

–          Letakkan barang yang dibutuhkan/posisi bel pemanggil dalam jangkauan/posisi yang tidak dioperasi.

3.       Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis,  pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi, kurang terpajan/mengingat, keterbatasan kognitif, yang ditandai dengan :

  • pertanyaan/pernyataan salah konsepsi
  • tak akurat mengikuti instruksi
  • terjadi komplikasi yang dapat dicegah.

Tujuan :

Klien menunjukkan pemhaman tentang kondisi, proses penyakit dan pengobatan.

Kriteria Hasil :

Melakukan dengan prosedur benar dan menjelaskan alasan tindakan.

Intervensi :

–  Kaji informasi tentang kondisi individu, prognosis, tipe prosedur, lensa.

– Tekankan pentingnya evaluasi perawatan rutin,  beritahu untuk melaporkan –  penglihatan berawan.

–  Informasikan klien untuk menghindari tetes mata yang dijual bebas.

–  Diskusikan kemungkinan efek/interaksi antar obat mata dan masalah medis klien.

–  Anjurkan klien menghindari membaca, berkedip, mengangkat berat, mengejan saat defekasi, membongkok pada panggul, dll.

–  Dorong aktifitas pengalihan perhatian.

–  Anjurkan klien memeriksa ke dokter tentang aktifitas seksual, tentukan kebutuhan tidur menggunakan kacamata pelindung.

–  Anjurkan klien tidur terlentang.

–  Dorong pemasukkan cairan adekuat.

–   Identifikasi tanda/gejala memerlukan upaya evaluasi medis, misal : nyeri tiba-tiba.

Daftar Pustaka

Doenges, Marilyan E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Alih bahasa: I Made Kariasa. Jakarta . EGC

Long, C Barbara. 1996.Perawatan Medikal Bedah : 2.Bandung. Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran

Margaret R. Thorpe. Perawatan Mata. Yogyakarta . Yayasan Essentia Medica

Nettina, Sandra M. 2001. Pedoman Praktik Keperawatan. Alih bahasa : Setiawan Sari. Jakarta. EGC

Sidarta Ilyas. 2001. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta. FKUI

Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa : Agung Waluyo. Jakarta. EGC

Artikel yang Berhubungan

Askep Sindrom Nefrotik

Askep Tumor

Download Kumpulan Askep

Askep Meningitis

Download ASKEP

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net

Tukar Link ?
Copy kode dibawah ini, kemudian paste di blog Anda:


Tampilan akan seperti ini :

Langganan Artikel
Enter your Email


Preview | Powered by FeedBlitz
Menu Anak

Copyright © 2008 - 2017 NursingBegin.com.