Archive for the ‘Askep Saraf’ Category

PostHeaderIcon Askep Cephalgia

Askep Cephalgia

( Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Cephalgia )


Pengertian Cephalgia

Askep Cephalgia

Askep Cephalgia

Cephalgia atau sakit kepala adalah salah satu keluhan fisik paling utama manusia. Sakit kepala pada kenyataannya adalah gejala bukan penyakit dan dapat menunjukkan penyakit organik        ( neurologi atau penyakit lain), respon stress,  vasodilatasi (migren), tegangan otot rangka (sakit kepala tegang) atau kombinasi respon tersebut (Brunner & Suddan )

Klasifikasi

Klasifikasi sakit kepala yang paling baru dikeluarkan oleh Headache Classification Cimitte of the International Headache Society sebagai berikut:

1.          Migren (dengan atau tanpa aura)

2.          Sakit kepala tegang

3.          Sakit kepala klaster dan hemikrania paroksismal

4.          Berbagai sakit kepala yang dikaitkan dengan lesi struktural.

5.          Sakit kepala dikaitkan dengan trauma kepala.

6.          Sakit kepala dihubungkan dengan gangguan vaskuler (mis. Perdarahan subarakhnoid).

7.          Sakit kepala dihubungkan dengan gangguan intrakranial non vaskuler ( mis. Tumor otak)

8.          Sakit kepala dihubungkan dengan penggunaan zat kimia tau putus obat.

9.          Sakit kepala dihubungkan dengan infeksi non sefalik.

10.     Sakit kepala yang dihubungkan dengan gangguan metabolik (hipoglikemia).

11.     Sakit kepala atau nyeri wajah yang dihubungkan dengan gangguan kepala, leher atau     struktur sekitar kepala ( mis. Glaukoma akut)

12.     Neuralgia kranial (nyeri menetap berasal dari saraf kranial)

Patofisiologi

Sakit kepala timbul sebagai hasil perangsangan terhadap bangunan-bangunan diwilayah kepala dan leher yang peka terhadap nyeri. Bangunan-bangunan ekstrakranial yang peka nyeri ialah otot-otot okspital, temporal dan frontal, kulit kepala, arteri-arteri subkutis dan periostium. Tulang tengkorak sendiri tidak peka nyeri. Bangunan-bangunan intrakranial yang peka nyeri terdiri dari meninges, terutama dura basalis dan meninges yang mendindingi sinus venosus serta arteri-arteri besar pada basis otak. Sebagian besar dari jaringan otak sendiri tidak peka nyeri.

Perangsangan terhadap bangunan-bangunan itu dapat berupa:

  • Infeksi selaput otak : meningitis, ensefalitis.
  • Iritasi kimiawi terhadap selaput otak seperti pada perdarahan subdural atau setelah dilakukan pneumo atau zat kontras ensefalografi.
  • Peregangan selaput otak akibat proses desak ruang intrakranial, penyumbatan jalan lintasan liquor, trombosis venos spinosus, edema serebri atau tekanan intrakranial yang menurun tiba-tiba atau cepat sekali.
  • Vasodilatasi arteri intrakranial akibat keadaan toksik (seperti pada infeksi umum, intoksikasi alkohol, intoksikasi CO, reaksi alergik), gangguan metabolik (seperti hipoksemia, hipoglikemia dan hiperkapnia), pemakaian obat vasodilatasi, keadaan paska contusio serebri, insufisiensi serebrovasculer akut).
  • Gangguan pembuluh darah ekstrakranial, misalnya vasodilatasi ( migren dan cluster headache) dan radang (arteritis temporalis)
  • Gangguan terhadap otot-otot yang mempunyai hubungan dengan kepala, seperti pada spondiloartrosis deformans servikalis.
  • Penjalaran nyeri (reffererd pain) dari daerah mata (glaukoma, iritis), sinus (sinusitis), baseol kranii ( ca. Nasofaring), gigi geligi (pulpitis dan molar III yang mendesak gigi) dan daerah leher (spondiloartritis deforman servikalis.
  • Ketegangan otot kepala, leher bahu sebagai manifestasi psikoorganik pada keadaan depresi dan stress. Dalam hal ini sakit kepala sininim dari pusing kepala.

Manifestasi Klinis

a. Migren

Migren adalah gejala kompleks yang mempunyai karakteristik pada waktu tertentu dan serangan sakit kepala berat yang terjadi berulang-ulang. Penyebab migren tidak diketahui jelas, tetapi ini dapat disebabkan oleh gangguan vaskuler primer yang biasanya banyak terjadi pada wanita dan mempunyai kecenderungan kuat dalam keluarga.

Tanda dan gejala adanya migren pada serebral merupakan hasil dari derajat iskhemia kortikal yang bervariasi. Serangan dimulai dengan vasokonstriksi arteri kulit kepala dam pembuluh darah retina dan serebral. Pembuluh darah intra dan ekstrakranial mengalami dilatasi, yang menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan.

Migren klasik dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu:

1.  Fase aura.

Berlangsung lebih kurang 30 menit, dan dapat memberikan kesempatan bagi pasien untuk menentukan obat yang digunakan untuk mencegah serangan yang dalam. Gejala dari periode ini adalah gangguan penglihatan ( silau ), kesemutan, perasaan gatal pada wajah dan tangan, sedikit lemah pada ekstremitas dan pusing.

Periode aura ini berhubungan dengan vasokonstriksi tanpa nyeri yang diawali dengan perubahan fisiologi awal. Aliran darah serebral berkurang, dengan kehilangan autoregulasi laanjut dan kerusakan responsivitas CO2.

2. Fase sakit kepala

Fase sakit kepala berdenyut yang berat dan menjadikan tidak mampu yang dihungkan dengan fotofobia, mual dan muntah. Durasi keadaan ini bervariasi, beberapa jam dalam satu hari atau beberapa hari.

3.   Fase pemulihan

Periode kontraksi otot leher dan kulit kepala yang dihubungkan dengan sakit otot dan ketegangan lokal. Kelelahan biasanya terjadi, dan pasien dapat tidur untuk waktu yang panjang.

b. Cluster Headache

Cluster Headache adalah bentuk sakit kepal vaskuler lainnya yang sering terjadi pada pria. Serangan datang dalam bentuk yang menumpuk atau berkelompok, dengan nyeri yang menyiksa didaerah mata dan menyebar kedaerah wajah dan temporal. Nyeri diikuti mata berair dan sumbatan hidung. Serangan berakhir dari 15 menit sampai 2 jam yang menguat dan menurun kekuatannya.

Tipe sakit kepala ini dikaitkan dengan dilatasi didaerah dan sekitar arteri ekstrakranualis, yang ditimbulkan oleh alkohol, nitrit, vasodilator dan histamin. Sakit kepala ini berespon terhadap klorpromazin.

c. Tension Headache

Stress fisik dan emosional dapat menyebabkan kontraksi pada otot-otot leher dan kulit kepala, yang menyebabkan sakit kepala karena tegang. Karakteristik dari sakit kepala ini perasaan ada tekanan pada dahi, pelipis, atau belakang leher. Hal ini sering tergambar sebagai “beban berat yang menutupi kepala”. Sakit kepala ini cenderung kronik daripada berat. Pasien membutuhkan ketenangan hati, dan biasanya keadaan ini merupakan ketakutan yang tidak terucapkan. Bantuan simtomatik mungkin diberikan untuk memanaskan pada lokasi, memijat, analgetik, antidepresan dan obat relaksan otot.

Cephalgia

Cephalgia

Pengkajian

Data subyektif dan obyektif sangat penting untuk menentukan tentang penyebab dan sifat dari sakit kepala.

1.  Data Subyektif

a.         Pengertian pasien tentang sakit kepala dan kemungkinan penyebabnya.

b.        Sadar tentang adanya faktor pencetus, seperti stress.

c.         Langkah - langkah untuk mengurangi gejala seperti obat-obatan.

d.        Tempat, frekwensi, pola dan sifat sakit kepala termasuk tempat nyeri, lama dan interval diantara sakit kepala.

e.         Awal serangan sakit kepala.

f.         Ada gejala prodomal atau tidak

g.        .Ada gejala yang menyertai.

h.        Riwayat sakit kepala dalam keluarga (khusus penting sekali bila migren).

i.          Situasi yang membuat sakit kepala lebih parah.

j.          Ada alergi atau tidak.

2.  Data Obyektif

a.    Perilaku : gejala yang memperlihatkan stress, kecemasan atau nyeri.

b.    Perubahan kemampuan dalam melaksanakan aktifitas sehari - hari.

c.     Terdapat pengkajian anormal dari sistem pengkajian fisik sistem saraf cranial.

d.     Suhu badan

e.     Drainase dari sinus.

Dalam pengkajian sakit kepala, beberapa butir penting perlu dipertimbangkan. Diantaranya ialah:

a.         Sakit kepala yang terlokalisir biasanya berhubungan dengan sakit kepala migrain atau gangguan organik.

b.        Sakit kepala yang menyeluruh biasanya  disebabkan oleh penyebab psikologis atau terjadi peningkatan tekanan intrakranial.

c.         Sakit kepala migren dapat berpindah dari satu sisi ke sisi yang lain.

d.        Sakit kepala yang disertai peningkatan tekanan intrakranial biasanya timbil pada waktu bangun tidur atau sakit kepala tersebut membengunkan pasien dari tidur.

e.         Sakit kepala tipe sinus timbul pada pagi hari dan semakin siang menjadi lebih buruk.

f.         Banyak sakit kepala yang berhubungan dengan kondisi stress.

g.        Rasa nyeri yang tumpul, menjengkelkan, menghebat dan terus ada, sering terjadi pada sakit kepala yang psikogenis.

h.        Bahan organis yang menimbulkan nyeri yang tetap dan sifatnya bertambah terus.

i.          Sakit kapala migrain bisa menyertai mentruasi.sakit kepala bisa didahului makan makanan yang mengandung monosodium glutamat, sodim nitrat, tyramine demikian juga alkohol.

j.          Tidur terlalu lama, berpuasa, menghirup bau-bauan yang toksis dalam lingkungan kerja dimana ventilasi tidak cukup dapat menjadi penyebab sakit kepala.

k.        Obat kontrasepsi oral dapat memperberat migrain.

l.          Tiap yang ditemukan sekunder dari sakit kepala perlu dikaji.

Diagnostik

1.         CT Scan, menjadi mudah dijangkau sebagai cara yang mudah dan aman untuk menemukan abnormalitas pada susunan saraf pusat.

2.         MRI Scan, dengan tujuan mendeteksi kondisi patologi otak dan medula spinalis dengan menggunakan tehnik scanning dengan kekuatan magnet untuk membuat bayangan struktur tubuh.

3.         Pungsi lumbal, dengan mengambil cairan serebrospinalis untuk pemeriksaan. Hal ini tidak dilakukan bila diketahui terjadi peningkatan tekanan intrakranial dan tumor otak, karena penurunan tekanan yang mendadak akibat pengambilan CSF.

Diagnosa Keperawatan Cephalgia

1.         Nyeri b.d stess dan ketegangan, iritasi/tekanan saraf, vasospasme, peningkatan tekana intrakranial.

2.         Koping individual tak efektif b.d situasi krisis, kerentanan personal, sistem pendukung tidak adequat, kelebihan beban kerja, ketidakadequatan relaksasi, metode koping tidak adequat, nyeri berat, ancaman berlebihan pada diri sendiri.

3.         Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b.d kurang mengingat, tidak mengenal informasi, keterbatasab kognitif.

Rencana Asuhan Keperawatan Cephalgia

1.           Nyeri b.d stess dan ketegangan, iritasi/tekanan saraf, vasospasme, peningkatan tekana intrakranial.

Intervensi:

a.         Pastikan durasi/episode masalah , siapa yang telah dikonsulkan, dan obat dan/atau terapi apa yang telah digunakan

b.        Teliti keluhan nyeri, catat itensitasnya ( dengan skala 0-10 ), karakteristiknya (misal : berat, berdenyut, konstan) lokasinya, lamanya, faktor yang memperburuk atau meredakan.

c.         Catat kemungkinan patofisiologi yang khas, misalnya otak/meningeal/infeksi sinus, trauma servikal, hipertensi atau trauma.

d.        Observasi adanya tanda-tanda nyeri nonverbal, seperi : ekspresi wajah, posisi tubuh, gelisah, menangis/meringis, menarik diri, diaforesis, perubahan frekuensi jantung/pernafasan, tekanan darah.

e.         Kaji hubungan faktor fisik/emosi dari keadaan seseorang

f.         Evaluasi perilaku nyeri

g.        Catat adanya pengaruh nyeri misalnya: hilangnya perhatian pada hidup, penurunan aktivitas, penurunan berat badan.

h.        Kaji derajat pengambilan langkah yang keliru secara pribadi dari pasien, seperti mengisolasi diri.

i.          Tentukan isu dari pihak kedua untuk pasien/orang terdekat, seperti asuransi, pasangan/keluarga

j.          Diskusikan dinamika fisiologi dari ketegangan/ansietas dengan pasien/orang terdekat

k.        Instruksikan pasien untuk melaporkan nyeri dengan segera jika nyeri itu timbul.

l.          Tempatkan pada ruangan yang agak gelap sesuai dengan indikasi.

m.      Anjurkan untuk beristirahat didalam ruangan yang tenang.

n.        Berikan kompres dingin pada kepala.

o.        Berikan kompres panans lembab/kering pada kepala, leher, lengan sesuai kebutuhan.

p.        Masase daerah kepala/leher/lengan jika pasien dapat mentoleransi sentuhan.

q.        Gunakan teknik sentuhan yang terapeutik, visualisasi, biofeedback, hipnotik sendiri, dan reduksi stres dan teknik relaksasi yang lain.

r.          Anjurkan pasien untuk menggunakan pernyataan positif  “Saya sembuh, saya sedang relaksasi, Saya suka hidup ini”. Sarankan pasien untuk menyadari dialog eksternal-internal dan katakan “berhenti” atau “tunda” jika muncul pikiran yang negatif.

s.         Observasi adanya mual/muntah. Berikan es, minuman yang mengandung karbonat sesuai indikasi.

2.           Koping individual tak efektif b.d situasi krisis, kerentanan personal, sistem pendukung tidak adequat, kelebihan beban kerja, ketidakadequatan relaksasi, metode koping tidak adequat, nyeri berat, ancaman berlebihan pada diri sendiri.

Intervensi;

a.         Dekati pasien dengan ramah dan penuh perhatian. Ambil keuntungan dari kegiatan yang daoat diajarkan.

b.        Bantu pasien dalam memahami perubahan pada konsep citra tubuh.

c.         Sarankan pasien untuk mengepresikan perasaannya dan diskusi bagaimana sakit kepala itu mengganggu kerja dan kesenangan dari hidup ini.

d.        Pastikan dampak penyakitnya terhadap kebutuhan seksual.

e.         Berikan informasi mengenai penyebab sakit  kepala, penagnan, dan hasil yang diharapkan.

f.         Kolaborasi

Rujuk untuk melakukan konseling dan/atau terapi keluarga atau kelas tempat pelatihan sikap asertif sesuai indikasi.

3.           Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b.d kurang mengingat, tidak mengenal informasi, keterbatasab kognitif.

Intervensi ;

a.         Diskusikan etiologi individual dari saki kepala bila diketahui.

b.        Bantu pasien dalam mengidentifikasikan kemungkinan faktor predisposisi, seperti stress emosi, suhu yang berlebihan, alergi terhadap makanan/lingkungan tertentu.

c.         Diskusikan tentang obat-obatan dan efek sampingnya. Nilai kembali kebutuhan untuk menurunkan/menghentikan pengobatan sesuai indikasi

d.        Instruksikan pasien/orang terdekat dalam melakukan program kegiatan/latihan , makanan yang  dikonsumsi, dan tindakan yang menimbukan rasa nyaman, seprti masase dan sebagainya.

e.         Diskusikan mengenai posisi/letak tubuh yang normal.

f.         Anjurkan pasien/orang terdekat untuk menyediakan waktu agar dapat relaksasi dan bersenang-senang.

g.        Anjurkan untuk menggunakan aktivitas otak dengan benar, mencintai dan tertawa/tersenyum.

h.        Sarankan pemakaian musik-musik yang menyenangkan.

i.          Anjurkan pasien untuk memperhatikan sakit kepala yang dialaminya dan faktor-faktor yang berhubungan atau faktor presipitasinya.

j.          Berikan informasi tertulis/semacam catatan petunjuk

k.        Identifikasi dan diskusikan timbulnya resiko bahaya yang tidak nyata dan/atau terapi yang bukan terapi medis

Daftar Pustaka

1.        Barbara C Long, 1996, Perawatan Medikal Bedah, Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran, Bandung.

2.        Brunner & Suddarth, 2002, Buku Ajar keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta.

3.        Marlyn E. Doengoes, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untukPerencanaan & Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3, EGC, Jakarta.

4. Priguna Sidharta, 1994, Neurogi Klinis dalam Praktek Umum, Dian Rakyat, Jakarta.

5.        Susan Martin Tucker, 1998, Standar Perawatan Pasien : Proses Perawatan, Diagnosa dan Evaluasi, Edisi V, Vol 2, EGC, Jakarta.

6.        Sylvia G. Price, 1997, Patofisologi, konsep klinik proses - proses penyakit. EGC, Jakarta

Artikel yang Berhubungan :

Pengkajian Keperawatan

Tingkat Kesadaran

Askep AMI

Kumpulan Askep

PostHeaderIcon Askep Meningitis

Askep Meningitis

( Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Meningitis )


Definisi

Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ jamur (Smeltzer, 2001).

Askep Meningitis

Askep Meningitis

Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat (Suriadi & Rita, 2001).

Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme pneumokok, Meningokok, Stafilokok, Streptokok, Hemophilus influenza dan bahan aseptis (virus) (Long, 1996).

Meningitis adalah infeksi cairan otak disertai radang yang mengenai piamater,araknoid dan dalam derajat yang lebih ringan mengenai jaringan otak dan medulla spinalis yang superficial.(neorologi kapita selekta,1996).

Etiologi

1.   Bakteri; Mycobacterium tuberculosa, Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa

2.   Penyebab lainnya, Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia

3.   Faktor predisposisi : jenis kelamin laki-laki lebih sering dibandingkan dengan wanita

4.   Faktor maternal : ruptur membran fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir kehamilan

5.   Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobulin.

6.   Kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injuri  yang berhubungan dengan sistem persarafan

Klasifikasi

Meningitis dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak, yaitu :

a)       Meningitis serosa

Adalah radang selaput otak araknoid dan piameter yang disertai cairan otak yang jernih. Penyebab terseringnya adalah Mycobacterium tuberculosa. Penyebab lainnya Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia.

b)       Meningitis purulenta

Adalah radang bernanah arakhnoid dan piameter yang meliputi otak dan medula spinalis. Penyebabnya antara lain : Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa.

Patofisiologi

Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari orofaring dan diikuti dengan septikemia, yang menyebar ke meningen otak dan medula spinalis bagian atas.

Faktor predisposisi mencakup infeksi jalan nafas bagian atas, otitis media, mastoiditis, anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lain, prosedur bedah saraf baru, trauma kepala dan pengaruh imunologis. Saluran vena yang melalui nasofaring posterior, telinga bagian tengah dan saluran mastoid menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen; semuanya ini penghubung yang menyokong perkembangan bakteri.

Organisme masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang di dalam meningen dan di bawah korteks, yang dapat menyebabkan trombus dan penurunan aliran darah serebral. Jaringan serebral mengalami gangguan metabolisme akibat eksudat meningen, vaskulitis dan hipoperfusi. Eksudat purulen dapat menyebar sampai dasar otak dan medula spinalis. Radang juga menyebar ke dinding membran ventrikel serebral. Meningitis bakteri dihubungkan dengan perubahan fisiologis intrakranial, yang terdiri dari peningkatan permeabilitas pada darah, daerah pertahanan otak (barier oak), edema serebral dan peningkatan TIK.

Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin bakteri sebelum terjadi meningitis. Infeksi terbanyak dari pasien ini dengan kerusakan adrenal, kolaps sirkulasi dan dihubungkan dengan meluasnya hemoragi (pada sindromWaterhouse-Friderichssen) sebagai akibat terjadinya kerusakan endotel dan nekrosis pembuluh darah yang disebabkan oleh meningokokus.

Manifestasi klinis

Gejala meningitis diakibatkan dari infeksi dan peningkatan TIK :

1.      Sakit kepala dan demam (gejala awal yang sering)

2.      Perubahan pada tingkat kesadaran dapat terjadi letargik, tidak responsif, dan koma.

3.      Iritasi meningen mengakibatkan sejumlah tanda sbb:

a)       Rigiditas nukal ( kaku leher ). Upaya untuk fleksi kepala mengalami kesukaran karena adanya spasme otot-otot leher.

b)       Tanda kernik positip: ketika pasien dibaringkan dengan paha dalam keadan fleksi kearah abdomen, kaki tidak dapat di ekstensikan sempurna.

c)       Tanda brudzinki : bila leher pasien di fleksikan maka dihasilkan fleksi lutut dan pinggul. Bila dilakukan fleksi pasif pada ekstremitas bawah pada salah satu sisi maka gerakan yang sama terlihat peda sisi ektremita yang berlawanan.

4.      Mengalami foto fobia, atau sensitif yang berlebihan pada cahaya.

5.      Kejang akibat area  fokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK akibat eksudat purulen dan edema serebral dengan tanda-tanda perubahan karakteristik tanda-tanda vital(melebarnya tekanan pulsa dan bradikardi), pernafasan tidak teratur, sakit kepala, muntah dan penurunan tingkat kesadaran.

6.      Adanya ruam merupakan ciri menyolok pada meningitis meningokokal.

7.      Infeksi fulminating dengan tanda-tanda septikimia : demam tinggi tiba-tiba muncul, lesi purpura yang menyebar, syok dan tanda koagulopati intravaskuler diseminata

Pemeriksaan Diagnostik

1.    Analisis CSS dari fungsi lumbal :

a)      Meningitis bakterial : tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, jumlah sel darah putih dan protein meningkat glukosa meningkat, kultur positip terhadap beberapa jenis bakteri.

b)      Meningitis virus : tekanan bervariasi, cairan CSS biasanya jernih, sel darah putih meningkat, glukosa dan protein biasanya normal, kultur biasanya negatif, kultur virus biasanya dengan prosedur khusus.

2.    Glukosa serum : meningkat ( meningitis )

3.    LDH serum : meningkat ( meningitis bakteri )

4.    Sel darah putih : sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil ( infeksi bakteri )

5.    Elektrolit darah : abnormal .

6.    ESR/LED :  meningkat pada meningitis

7.    Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urine : dapat mengindikasikan daerah pusat infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi

8.    MRI/ skan CT : dapat membantu dalam melokalisasi lesi, melihat ukuran/letak ventrikel; hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor

9.    Ronsen dada/kepala/ sinus ; mungkin ada indikasi sumber infeksi intra kranial.

Komplikasi

1.      Hidrosefalus obstruktif

2.      MeningococcL Septicemia ( mengingocemia )

3.      Sindrome water-friderichen (septik syok, DIC,perdarahan adrenal bilateral)

4.      SIADH ( Syndrome Inappropriate Antidiuretic hormone )

5.      Efusi subdural

6.      Kejang

7.      Edema dan herniasi serebral

8.      Cerebral palsy

9.      Gangguan mental

10.  Gangguan belajar

11.  Attention deficit disorder

.

Asuhan Keperawatan Meningitis

1. Pengkajian Klien Meningitis

a)       Biodata klien

b)       Riwayat kesehatan yang lalu

(1)   Apakah pernah menderita penyait ISPA dan TBC ?

(2)   Apakah pernah jatuh atau trauma kepala ?

(3)   Pernahkah operasi daerah kepala ?

c)       Riwayat kesehatan sekarang

(1)   Aktivitas

Gejala : Perasaan tidak enak (malaise). Tanda : ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter.

(2)   Sirkulasi

Gejala : Adanya riwayat kardiopatologi : endokarditis dan PJK. Tanda : tekanan darah meningkat, nadi menurun, dan tekanan nadi berat, takikardi, disritmia.

(3)   Eliminasi

Tanda : Inkontinensi dan atau retensi.

(4)   Makanan/cairan

Gejala : Kehilangan nafsu makan, sulit menelan. Tanda : anoreksia, muntah, turgor kulit jelek dan membran mukosa kering.

(5)   Higiene

Tanda : Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri.

(6)   Neurosensori

Gejala : Sakit kepala, parestesia, terasa kaku pada persarafan yang terkena, kehilangan sensasi, hiperalgesia, kejang, diplopia, fotofobia, ketulian dan halusinasi penciuman. Tanda : letargi sampai kebingungan berat hingga koma, delusi dan halusinasi, kehilangan memori, afasia,anisokor, nistagmus,ptosis, kejang umum/lokal, hemiparese, tanda brudzinki positif dan atau kernig positif, rigiditas nukal, babinski positif,reflek abdominal menurun dan reflek kremastetik hilang pada laki-laki.

Tes Kernig dalam pengkajian meningitis

Tes Kernig dalam pengkajian meningitis

(7)   Nyeri/keamanan

Gejala : sakit kepala(berdenyut hebat, frontal). Tanda : gelisah,  menangis.

(8)   Pernafasan

Gejala : riwayat infeksi sinus atau paru. Tanda : peningkatan kerja pernafasan.

2. Diagnosa keperawatan Meningitis

a)       Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi sehubungan dengan diseminata hematogen dari patogen

b)       Risiko tinggi terhadap perubahan serebral dan perfusi jaringan sehubungan dengan edema serebral, hipovolemia.

c)       Risisko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang umum/fokal, kelemahan umum, vertigo.

d)      Nyeri (akut) sehubungan dengan proses inflamasi, toksin dalam sirkulasi.

e)       Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan neuromuskular, penurunan kekuatan

f)        Anxietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman kematian.

3. Intervensi Keperawatan Meningitis

a)       Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi sehubungan dengan diseminata hematogen dari patogen.

Mandiri

  • Beri tindakan isolasi sebagai pencegahan
  • Pertahan kan teknik aseptik dan teknik cuci tangan yang tepat.
  • Pantau suhu secara teratur
  • Kaji keluhan nyeri dada, nadi yang tidak teratur demam yang terus menerus
  • Auskultasi suara nafas ubah posisi pasien secara teratur, dianjurkan nfas dalam
  • Cacat karakteristik urine (warna, kejernihan dan bau )

Kolaborasi

  • Berikan terapi antibiotik iv: penisilin G, ampisilin, klorampenikol, gentamisin.

b)       Resiko tinggi terhadap perubahan cerebral dan perfusi jaringan sehubungan dengan edema serebral, hipovolemia.

Mandiri

  • Tirah baring dengan posisi kepala datar.
  • Pantau status neurologis.
  • Kaji regiditas nukal, peka rangsang dan kejang
  • Pantau tanda vital dan frekuensi jantung, penafasan, suhu, masukan dan haluaran.
  • Bantu berkemih, membatasi batuk, muntah mengejan.

Kolaborasi

  • Tinggikan kepala tempat tidur 15-45 derajat.
  • Berikan cairan iv (larutan hipertonik, elektrolit ).
  • Pantau BGA.
  • Berikan obat : steoid, clorpomasin, asetaminofen.

c)       Resiko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang umum/vokal, kelemahan umum vertigo.

Mandiri

  • Pantau adanya kejang.
  • Pertahankan penghalang tempat tidur tetap terpasang dan pasang jalan nafas buatan.
  • Tirah baring selama fase akut kolaborasi berikan obat : venitoin, diaepam, venobarbital.

d)      Nyeri (akut ) sehubungan dengan proses infeksi, toksin dalam sirkulasi.

Mandiri

  • Letakkan kantung es pada kepala, pakaian dingin di atas mata, berikan posisi yang nyaman kepala agak tinggi sedikit, latihan rentang gerak aktif atau pasif dan masage otot leher.
  • Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman(kepala agak tingi).
  • Berikan latihan rentang gerak aktif/pasif.
  • Gunakan pelembab hangat pada nyeri leher atau pinggul.

Kolaborasi

  • Berikan anal getik, asetaminofen,  codein

e)       Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan neuromuskuler.

  • Kaji derajat imobilisasi pasien.
  • Bantu latihan rentang gerak.
  • Berikan perawatan kulit, masase dengan pelembab.
  • Periksa daerah yang mengalami nyeri tekan, berikan matras udara atau air perhatikan kesejajaran tubuh secara fungsional.
  • Berikan program latihan dan penggunaan alat mobilisasi.

f)        Perubahan persepsi sensori sehubungan dengan defisit neurologis

  • Pantau perubahan orientasi, kemamapuan berbicara,alam perasaaan, sensorik dan proses pikir.
  • Kaji kesadara sensorik : sentuhan, panas, dingin.
  • Observasi respons perilaku.
  • Hilangkan suara bising yang berlebihan.
  • Validasi persepsi pasien dan berikan umpan balik.
  • Beri kessempatan untuk berkomunikasi dan beraktivitas.
  • Kolaborasi ahli fisioterapi, terapi okupasi,wicara dan kognitif.

g)       Ansietas sehubungan dengan krisis situasi, ancaman kematian.

  • Kaji status mental dan tingkat ansietasnya.
  • Berikan penjelasan tentang penyakitnya dan sebelum tindakan prosedur.
  • Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan.
  • Libatkan keluarga/pasien dalam perawatan dan beri dukungan serta petunjuk sumber penyokong.

Evaluasi

Hasil yang diharapkan

1.         Mencapai masa penyembuhan tepat waktu, tanpa bukti penyebaran infeksi endogen atau keterlibatan orang lain.

2.         Mempertahankan tingkat kesadaran biasanya/membaik dan fungsi motorik/sensorik, mendemonstrasikan tanda-tanda vital stabil.

3.         Tidak mengalami kejang/penyerta atau cedera lain.

4.         Melaporkan nyeri hilang/terkontrol dan menunjukkan postur rileks dan mampu tidur/istirahat dengan tepat.

5.         Mencapai kembali atau mempertahankan posisi fungsional optimal dan kekuatan.

6.         Meningkatkan tingkat kesadaran biasanya dan fungsi persepsi.

7.         Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang dan mengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang situasi.

Daftar Pustaka

  1. Doenges, Marilyn E, dkk.(1999).Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih Bahasa, I Made Kariasa, N Made Sumarwati. Editor edisi bahasa Indonesia, Monica Ester, Yasmin asih. Ed.3. Jakarta : EGC.

2.      Harsono.(1996).Buku Ajar Neurologi Klinis.Ed.I.Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

3.      Smeltzer, Suzanne C & Bare,Brenda G.(2001).Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth.Alih bahasa, Agung Waluyo,dkk.Editor edisi bahasa Indonesia, Monica Ester.Ed.8.Jakarta : EGC.

4.      Tucker, Susan Martin et al. Patient care Standards : Nursing Process, diagnosis, And Outcome. Alih bahasa Yasmin asih. Ed. 5. Jakarta : EGC; 1998.

5.      Price, Sylvia Anderson. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease Processes. Alih Bahasa Peter Anugrah. Ed. 4. Jakarta : EGC; 1994.

6. Long, Barbara C. perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Bandung : yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan; 1996.

Artikel yang Berhubungan :

Tingkat Kesadaran

Kumpulan Askep

Askep Stroke Hemorrhagic

PostHeaderIcon Askep Stroke Hemorrhagic

Askep Stroke  Hemorrhagic

(Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Stroke Hemorrhagic)


Definisi

Menurut WHO stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler. (Hendro Susilo, 2000)

askep stroke hemorrhagic

askep stroke hemorrhagic

Stroke adalah sindrom klinis yang awal timbulnya mendadak, progresif, cepat berupa defisit neurologis vokal atau global yang berlangsung 24 jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian. Semata-mata disebabkan oleh peredaran darah otak non traumatik. (Mansjoer A. Dkk)

Stroke adalah kehilangan fungsi otak secara mendadak yang diakibatkan oleh gangguan suplai darah ke bagian otak. (Brunner & Sudarth, 2000)

Stroke adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah kebagian otak. (Brunner & Sudarth, 2002)

Stroke adalah cedera otak yang berkaitan dengan obstruksi aliran darah otak. (Elizabeth J. Corwin, 2002)

Stroke adalah defisit neurologis yang mempunyai awitan mendadak atau berlangsung 24 jam sebagai akibat dari cerebrovaskular desease (CVD) atau penyakit cerebrovaskular. (Hudak and Gallo)

Stroke merupakan manifestasi neurologis yang umum yang timbul secara mendadak sebagai akibat adanya gangguan suplai darah ke otak. (Depkes RI 1996)

Timbulnya lesi iskemik atau lesi perdarahan didalam pembuluh darah intrakranial. (Brenda Walters Holloway)

Stroke adalah manifestasi klinik dari gangguan fungsi serebral baik lokal maupun menyeluruh. (WHO dikutip Harsono)

Stroke/penyakit serebrovaskuler menunjukan adanya beberapa kelainan otak baik secara fungsional maupun struktural yang disebabkan oleh keadaan patologis dari pembuluh darah serebral atau dari seluruh sistem pembuluh darah otak. (Marilyn E. Doenges)

Stroke atau serebrovaskuler accident adalah gangguan suplai darah normal ke otak yang sering terjadi dengan tiba-tiba dan menyebabkan fatal neurologik defisit. (Igrativicius, 1995)

Gangguan  peredaran darah diotak atau dikenal dengan CVA ( Cerebro Vaskuar Accident) adalah gangguan fungsi syaraf yang disebabkan oleh gangguan aliran darah dalam otak yang dapat timbul secara mendadak ( dalam beberapa detik) atau secara cepat ( dalam beberapa jam ) dengan gejala atau tanda yang sesuai dengan daerah yang terganggu.(Harsono,1996, hal 67)

Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah  kehilangan fungsi otak yang diakibatkan   oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak sering ini adalah kulminasi penyakit serebrovaskuler selama beberapa tahun. (Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 2131)

Perdarahan intracerebral adalah disfungsi neurologi fokal yang akut dan disebabkan oleh perdarahan primer substansi otak yang terjadi secara spontan bukan oleh karena trauma kapitis, disebabkan oleh karena pecahnya pembuluh arteri, vena dan kapiler. (UPF, 1994)


Etiologi Stroke

Penyebab stroke  antara lain:

1.   Trombosis ( bekuan cairan di dalam pembuluh darah otak )

2.    Embolisme cerebral ( bekuan darah atau material lain )

3.    Iskemia ( Penurunan aliran darah ke area otak)

(Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 2131)

Faktor Resiko Stroke

1. Faktor yang tidak dapat dirubah (Non Reversible)

  • Jenis kelamin : Pria lebih sering ditemukan menderita stroke dibanding wanita.
  • Usia : Makin tinggi usia makin tinggi pula resiko terkena stroke.
  • Keturunan : Adanya riwayat keluarga yang terkena stroke

2. Faktor yang dapat dirubah (Reversible)

3. Kebiasaan Hidup

  • Merokok,
  • Peminum Alkohol,
  • Obat-obatan terlarang.
  • Aktivitas yang tidak sehat: Kurang olahraga, makanan berkolesterol.

Manifestasi Klinis

Gejala - gejala stroke muncul akibat daerah tertentu tak berfungsi yang disebabkan oleh terganggunya aliran darah ke daerah tersebut. Gejala itu muncul bervariasi, bergantung bagian otak yang terganggu.Gejala-gejala itu antara lain bersifat:

a. Sementara

Timbul hanya sebentar selama beberapa menit sampai beberapa jam dan hilang sendiri dengan atau tanpa pengobatan. Hal ini disebut Transient ischemic attack (TIA). Serangan bisa muncul lagi dalam wujud sama, memperberat atau malah menetap.

b.Sementara, namun lebih dari 24 jam

Gejala timbul lebih dari 24 jam dan ini disebut reversible ischemic neurologic defisit (RIND)

c. Gejala makin lama makin berat (progresif)

Hal ini disebabkan gangguan aliran darah makin lama makin berat yang disebut progressing stroke atau stroke inevolution

d.     Sudah menetap/permanen

(Harsono,1996, hal 67)

Gangguan yang muncul :

Defisit Neurologis:

1.       Homonimus hemianopsia ( kehilangan setengah lapang penglihatan).

  • Tidak menyadari orang / objek ditempat kehilangan penglihatan, mengabaikan salah satu sisi tubuh, kesulitan menilai jarak.

2.       Kehilangan penglihatan perifer.

  • Kesulitan melihat pada malam hari, tidak menyadari objek atau batas objek

3.       Diplopia : penglihatan ganda.

Defisit Motorik

1.       Hemiparese

  • kelemahan wajah, lengan dan kaki pada sisi yang sama.

2.       Hemiplegia

  • Paralisis wajah, lengan dan kaki pada sisi yang sama.

3.       Ataksia

  • Berjalan tidak mantap, tegak, tidak mampu menyatukan kaki, perlu dasar berdiri yang luas.

4.       Disartria

  • Kesulitas dalam membentuk kata

5.       Disfagia

  • Kesulitan dalam menelan

Defisit Sensori

1.       Afasia ekspresif

  • Ketidakmampuan menggunakan simbol berbicara

2.       Afasia reseptif

  • Tidak mampu menyusun kata-kata yang diucapkan

3.       Afasia global

  • Kombinasi baik afasia reseptif dan ekspresif

Defisit Kognitif

  • Kehilangan memori jangka pendek dan jangka menengah
  • Penurunan lapang perhatian
  • Kerusakan kemampuan untuk berkonsentrasi
  • Alasan abstrak buruk
  • Perubahan penilaian

Defisit Emosional

  • Kehilangan control diri
  • Labilitas emosional
  • Penurunan toleransi pada situasi yang menimbulkan stress
  • Menarik diri, rasa takut, bermusuhan dan marah
  • Perasaan isolasi

Pemeriksaan Penunjang Stroke

1.      CT Scan

Memperlihatkan adanya edema , hematoma, iskemia dan adanya infark

2.      Angiografi serebral

Membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan atau obstruksi arteri

3.      Pungsi Lumbal

-          Menunjukan adanya tekanan normal

-          Tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukan adanya  perdarahan

4.    MRI : Menunjukan daerah yang mengalami infark, hemoragik.

5.    EEG: Memperlihatkan daerah lesi yang spesifik

6.    Ultrasonografi Dopler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena

7.    Sinar X kepala : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal

(DoengesE, Marilynn,2000 hal 292)

Penatalaksanaan Stroke

1. Diuretika : untuk menurunkan edema serebral .

2. Anti koagulan: mencegah memberatnya trombosis dan embolisasi.

(Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 2131)

Komplikasi Stroke

Hipoksia Serebral

Penurunan darah serebral

Luasnya area cedera

(Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 2131)

Pengkajian Stroke

1. Aktivitas dan istirahat

Data Subyektif:

-          Kesulitan dalam beraktivitas ; kelemahan, kehilangan sensasi atau paralisis.

-          Mudah lelah, kesulitan istirahat ( nyeri atau kejang otot )

Data obyektif:

-          Perubahan tingkat kesadaran

-          Perubahan tonus otot  ( flaksid atau spastic),  paraliysis ( hemiplegia ) , kelemahan umum.

-          Gangguan penglihatan

2. Sirkulasi

Data Subyektif:

-          Riwayat penyakit jantung (  penyakit katup jantung, disritmia, gagal jantung , endokarditis bacterial ), polisitemia.

Data obyektif:

-          Hipertensi arterial

-          Disritmia, perubahan EKG

-          Pulsasi : kemungkinan bervariasi

-          Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal

3. Integritas ego

Data Subyektif:

-          Perasaan tidak berdaya, hilang harapan

Data obyektif:

-          Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat, kesedihan , kegembiraan

-          Kesulitan berekspresi diri

4. Eliminasi

Data Subyektif:

-          Inkontinensia, anuria

-          Distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh ),  tidak adanya suara usus ( ileus paralitik )

5. Makan/ minum

Data Subyektif:

-          Nafsu makan hilang

-          Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK

-          Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan, disfagia

-          Riwayat DM, peningkatan lemak dalam darah

Data obyektif:

-          Problem dalam mengunyah ( menurunnya reflek palatum dan faring )

-          Obesitas ( faktor resiko )

6. Sensori neural

Data Subyektif:

-          Pusing / syncope  ( sebelum CVA / sementara selama TIA )

-          Nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral  atau perdarahan sub arachnoid.

-          Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat seperti lumpuh/mati

-          Penglihatan berkurang

-          Sentuhan  : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas dan pada muka ipsilateral ( sisi yang sama )

-          Gangguan rasa pengecapan dan penciuman

Data obyektif:

-          Status mental ; koma biasanya menandai stadium perdarahan , gangguan tingkah laku (seperti: letargi, apatis, menyerang) dan gangguan fungsi kognitif

-          Ekstremitas : kelemahan / paraliysis ( kontralateral pada semua jenis stroke, genggaman tangan tidak seimbang, berkurangnya reflek tendon dalam  ( kontralateral )

-          Wajah: paralisis / parese ( ipsilateral )

-          Afasia  ( kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa, kemungkinan ekspresif/ kesulitan berkata-kata, reseptif / kesulitan berkata-kata komprehensif, global / kombinasi dari keduanya.

-          Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat, pendengaran, stimuli taktil

-          Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik

-          Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak bereaksi pada sisi ipsi lateral

7. Nyeri / kenyamanan

Data Subyektif:

-          Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya

Data Obyektif:

-     Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan otot / fasial

8. Respirasi

Data Subyektif:

-          Perokok ( faktor resiko )

Tanda:

-          Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas

-          Timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur

-          Suara nafas terdengar ronchi /aspirasi

9.Keamanan

Data Obyektif:

-         Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan

-         Perubahan persepsi terhadap tubuh, kesulitan untuk melihat objek, hilang kewaspadaan terhadap bagian tubuh yang sakit

-         Tidak mampu mengenali objek, warna, kata, dan wajah yang pernah dikenali

-         Gangguan berespon terhadap panas, dan dingin/gangguan regulasi suhu tubuh

-         Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap keamanan, berkurang kesadaran diri

10. Interaksi sosial

Data Obyektif:

-          Problem berbicara, ketidakmampuan berkomunikasi

11. Pengajaran / pembelajaran

Data Subjektif :

-          Riwayat hipertensi keluarga, stroke

-          Penggunaan kontrasepsi oral

12. Pertimbangan rencana pulang

-          Menentukan regimen medikasi / penanganan terapi

-          Bantuan untuk transportasi, shoping , menyiapkan makanan , perawatan diri dan pekerjaan rumah

(DoengesE, Marilynn,2000 hal 292)

Diagnosa Keperawatan Stroke

1. Perubahan perfusi jaringan serebral b.d terputusnya aliran darah  : penyakit oklusi,  perdarahan, spasme pembuluh darah serebral, edema serebral

Dibuktikan oleh  :

-          perubahan tingkat kesadaran , kehilangan memori

-          perubahan respon sensorik / motorik, kegelisahan

-          defisit sensori , bahasa, intelektual dan emosional

-          perubahan tanda tanda vital

Tujuan  Pasien / kriteria evaluasi ;

-          terpelihara dan meningkatnya tingkat kesadaran, kognisi dan fungsi sensori / motor

-          menampakkan stabilisasi tanda vital dan tidak ada PTIK

-          peran klien menampakkan tidak adanya kemunduran  / kekambuhan

Intervensi :

Independen

-          Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan situasi  individu/ penyebab koma / penurunan perfusi serebral dan potensial PTIK

-          Monitor dan catat status neurologist secara  teratur

-          Monitor tanda tanda vital

-          Evaluasi pupil  9 ukuran bentuk kesamaan dan reaksi terhadap cahaya 0

-          Bantu untuk mengubah pandangan , misalnya pandangan kabur, perubahan lapang pandang  / persepsi lapang pandang

-          Bantu meningkatkan fungsi, termasuk bicara jika klien mengalami gangguan fungsi

-          Kepala dielevasikan perlahan lahan pada posisi netral .

-          Pertahankan tirah baring , sediakan lingkungan yang tenang , atur kunjungan sesuai indikasi

Kolaborasi

-          Berikan oksigen sesuai indikasi

-          Berikan medikasi sesuai indikasi :

  • Antifibrolitik, misal aminocaproic acid ( amicar )
  • Antihipertensi
  • Vasodilator perifer, misal cyclandelate, isoxsuprine.
  • Manitol

2. Ketidakmampuan mobilitas fisik b.d kelemahan neuromuscular, ketidakmampuan dalam persespi kognitif

Dibuktikan oleh :

-          Ketidakmampuan dalam bergerak pada lingkungan fisik  : kelemahan, koordinasi, keterbatasan rentang gerak sendi, penurunan kekuatan otot.

Tujuan Pasien / kriteria evaluasi ;

-          tidak ada kontraktur, foot drop.

-          Adanya peningkatan kemampuan fungsi perasaan atau kompensasi dari bagian tubuh

-          Menampakkan kemampuan perilaku / teknik aktivitas sebagaimana permulaanya

-          Terpeliharanya integritas kulit

Intervensi

Independen

-          Rubah posisi tiap dua jam ( prone, supine, miring )

-          Mulai latihan aktif / pasif rentang gerak sendi pada semua ekstremitas

-          Topang ekstremitas pada posisi fungsional , gunakan foot board pada saat selama periode paralysis flaksid. Pertahankan kepala dalam keadaan netral

-          Evaluasi penggunaan alat bantu pengatur posisi

-          Bantu meningkatkan keseimbangan duduk

-          Bantu memanipulasi untuk mempengaruhi warna  kulit edema atau menormalkan sirkulasi

-          Awasi bagian kulit diatas tonjolan tulang

Kolaboratif

-          Konsul kebagian fisioterapi

-          Bantu dalam meberikan stimulasi elektrik

-          Gunakan bed air atau bed khusus sesuai indikasi

3. Gangguan komunikasi verbal  b.d gangguan sirkulasi serebral, gangguan neuromuskuler, kehilangan tonus otot fasial  / mulut, kelemahan umum / letih.

Ditandai :

-          Gangguan artikulasi

-          Tidak mampu berbicara / disartria

-          Ketidakmampuan modulasi wicara , mengenal kata , mengidentifikasi objek

-          Ketidakmampuan berbicara atau menulis secara komprehensip

Tujuan / kriteria evaluasi

-          Pasien mampu memahami problem komunikasi

-          Menentukan metode komunikasi untuk berekspresi

-          Menggunakan sumber bantuan dengan tepat

Intervensi

Independen

-          Bantu menentukan derajat disfungsi

-          Bedakan antara afasia denga disartria

-          Sediakan bel khusus  jika diperlukan

-          Sediakan metode komunikasi alternatif

-          Antisipasi dan sediakan kebutuhan klien

-          Bicara langsung kepada klien dengan perlahan dan jelas

-          Bicara  dengan nada normal

Kolaborasi :

-          Konsul  dengan ahli terapi wicara

4. Perubahan persepsi sensori b.d penerimaan  perubahan  sensori transmisi, perpaduan ( trauma / penurunan neurology), tekanan psikologis ( penyempitan lapangan persepsi  disebabkan oleh kecemasan)

Ditandai ;

-          Disorientasi waktu, tempat , orang

-          Perubahan pola tingkah laku

-          Konsentrasi jelek, perubahan proses pikir

-          Ketidakmampuan untuk mengatakan letak organ tubuh

-          Perubahan pola komunikasi

-          Ketidakmampuan mengkoordinasi kemampuan motorik.

Tujuan / kriteria hasil :

-          Dapat mempertahakan level kesadaran dan fungsi persepsi pada level biasanya.

-          Perubahan pengetahuan dan mampu terlibat

-          Mendemonstrasikan perilaku untuk kompensasi

Intervensi

Independen

-          Kaji patologi kondisi individual

-          Evaluasi penurunan visual

-          Lakukan pendekatan dari sisi yang utuh

-          Sederhanakan lingkungan

-          Bantu pemahaman sensori

-          Beri stimulasi terhadap sisa sisa rasa sentuhan

-          Lindungi klien dari temperatur yang ekstrem

-          Pertahankan kontak mata saat berhubungan

-          Validasi persepsi klien

5. Kurang perawatan diri b.d kerusakan neuro muskuler, penurunan kekuatan dan ketahanan, kehilangan kontrol /koordinasi otot

Ditandai dengan :

-          Kerusakan kemampuan melakukan AKS misalnya ketidakmampuan makan, mandi, memasang/melepas baju, kesulitan tugas toiletng

Kriteria hasil:

-          Melakukan aktivitas perwatan diri dalam tingkat kemampuan sendiri

-          Mengidentifikasi sumber pribadi /komunitas dalam memberikan bantuan sesuai kebutuhan

-          Mendemonstrasikan perubahan gaya hidup untuk memenuhi kenutuhan perawatan diri

Intervensi:

-          Kaji kemampuan dan tingkat kekurangan (dengan menggunakan skala 1-4) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari

-          Hindari melakukan sesuatu untuk kllien yang dapat dilakukan sendiri, tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan

-          Kaji kemampuan klien untuk berkomunikasi tentang kebutuhannya untuk menghindari dan atau kemampuan untuk menggunakan urinal, bedpan.

-          Identifikasi kebiasaan defekasi sebelumnya dan kembalikan pada kebiasaan pola normal tersebut. Kadar makanan yang berserat, anjurkan untuk minum banyak dan tingkatkan aktivitas.

-          Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan atau keberhasilannya.

Kolaborasi;

-    Berikan supositoria dan pelunak feses

-    Konsultasikan dengan ahli fisioterapi/okupasi

6. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d kerusakan batuk, ketidakmampuan mengatasi lendir

Kriteria hasil:

-          Klien memperlihatkan kepatenan jalan napas

-          Ekspansi dada simetris

-          Bunyi napas bersih saat auskultasi

-          Tidak terdapat tanda distress pernapasan

-          GDA dan tanda vital dalam batas normal

Intervensi:

-          Kaji dan pantau pernapasan, reflek batuk dan sekresi

-          Posisikan tubuh dan kepala untuk menghindari obstruksi jalan napas dan memberikan pengeluaran sekresi yang optimal

-          Penghisapan sekresi

-          Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi jalan napas setiap 4 jam

-          Berikan oksigenasi sesuai advis

-          Pantau BGA dan Hb sesuai indikasi

8.       Gangguan pemenuhan nutrisi b.d penurunan reflek menelan, kehilangan rasa ujung lidah

Ditandai dengan:

-          Keluhan masukan makan tidak adekuat

-           Kehilangan sensasi pengecapan

-          Rongga mulut terinflamasi

Kriteria evaluasi:

-          Klien dapat berpartisipasi dalam intervensi spesifik untuk merangsang nafsu makan

-          BB stabil

-          Klien mengungkapkan pemasukan adekuat

Intervensi;

-          Pantau masukan makanan setiap hari

-          Ukur BB setiap hari sesuai indikasi

-          Dorong klien untuk makan diit tinggi kalori kaya nutrisi sesuai program

-          Kontrol faktor lingkungan (bau, bising), hindari makanan terlalu manis, berlemak dan pedas. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan

-          Identifikasi klien yang mengalami mual muntah

Kolaborasi:

-          Pemberian anti emetik dengan jadwal reguler

-          Vitamin A,D,E dan B6

-          Rujuk ahli diit

-          Pasang /pertahankan slang NGT untuk pemberian makanan enteral

(DoengesE, Marilynn,2000 hal 293-305)

Daftar Pustaka

  1. Long C, Barbara, Perawatan Medikal Bedah, Jilid 2, Bandung, Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran, 1996
  2. Tuti Pahria, dkk, Asuhan Keperawatan  pada Pasien dengan Ganguan Sistem Persyarafan, Jakarta, EGC, 1993
  3. Pusat pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan, Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan , Jakarta, Depkes, 1996

4.   Smeltzer C. Suzanne, Brunner & Suddarth,   Buku Ajar Keperawatan   Medikal Bedah, Jakarta, EGC ,2002

5.   Marilynn E, Doengoes, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta,  EGC, 2000

6. Harsono, Buku Ajar : Neurologi Klinis,Yogyakarta, Gajah Mada university press, 1996

Artikel Lain :

Askep Klien dengan Parkinson

Askep Hipertensi

Kumpulan Askep

Bonus Gratis
Ebook gratis seputar keperawatan/kesehatan, silahkan daftarkan email Anda:

Nama:
Alamat Email:
Setelah mendaftar, silahkan validasi di email Anda
Download Askep
kumpulan askep,asuhan keperawatan
Like this blog ?
Online

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net

Join My Community at MyBloglog!
Tukar Link ?
Copy kode dibawah ini, kemudian paste di blog Anda:


Tampilan akan seperti ini :

Download Askep
kumpulan askep,asuhan keperawatan
Menu Anak
Kalender
September 2010
M T W T F S S
« Aug    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
Buku Tamu
Ranking
Herbal



Herbal Neck Pillow
Polling
Artikel apa yang Anda sukai dari situs ini ?




View Results
Free web poll from Free Website Polls
Share on Facebook
Menu Anak
Link

Get cash from your website. Sign up as affiliate.


Copyright © 2010 NursingBegin.com