Archive for the ‘Keperawatan’ Category

PostHeaderIcon Anak Sulit Makan

Mungkin Anda sendiri mengalaminya saat  memberi makan si buah hati susahnya minta Read the rest of this entry »

PostHeaderIcon SISTEM KESEHATAN NASIONAL

.

PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN

SISTEM KESEHATAN NASIONAL


PERKEMBANGAN DAN MASALAH SISTEM KESEHATAN NASIONAL

Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan telah berhasil meningkatkan status kesehatan masyarakat. Kinerja sistem kesehatan telah menunjukkan peningkatan, antara lain ditunjukkan dengan peningkatan status kesehatan, yaitu: penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) dari 46 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 34 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI 2007). Angka Kematian Ibu (AKI) juga mengalami penurunan dari 318 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI, 2007).

sknSejalan dengan penurunan angka kematian bayi, Umur Harapan Hidup (UHH) meningkat dari 68,6 tahun pada tahun 2004 menjadi 70,5 tahun pada tahun 2007. Demikian pula telah terjadi penurunan prevalensi kekurangan gizi pada balita dari 29,5% pada akhir tahun 1997 menjadi sebesar 18,4% pada tahun 2007 (Riskesdas, 2007). Namun penurunan indikator kesehatan masyarakat tersebut masih belum seperti yang diharapkan. Upaya percepatan pencapaian indikator kesehatan dalam lingkungan strategis baru, harus terus diupayakan dengan perbaikan Sistem Kesehatan Nasional.

1. Upaya Kesehatan

Akses pada pelayanan kesehatan secara nasional mengalami peningkatan, dalam kaitan ini akses rumah tangga yang dapat menjangkau sarana kesehatan ≤ 30 menit sebesar 90,7% dan akses rumah tanggayang berada ≤ 5 km dari sarana kesehatan sebesar 94,1% (Riskesdas, 2007). Peningkatan jumlah Puskesmas ditandai dengan peningkatan rasio Puskesmas dari 3,46 per 100.000 penduduk pada tahun 2003 menjadi 3,65 per 100.000 pada tahun 2007 (Profil Kesehatan, 2007). Namun pada daerah terpencil, tertinggal, perbatasan, serta pulau-pulau kecil terdepan dan terluar masih rendah. Jarak fasilitas pelayanan yang jauh disertai distribusi tenaga kese-hatan yang tidak merata dan pelayanan kesehatan yang mahal menyebabkan rendahnya aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.

Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh penduduk meningkat dari 15,1% pada tahun 1996 menjadi 33,7% pada tahun 2006. Begitupula kunjungan baru (contact rate) ke fasilitas pelayanan kesehatan meningkat dari 34,4% pada tahun 2005 menjadi 41,8% pada tahun 2007. Disamping itu, jumlah masyarakat yang mencari pengobatan sendiri sebesar 45% dan yang tidak berobat sama sekali sebesar 13,3% (2007).

Secara keseluruhan, kesehatan ibu membaik dengan turunnya AKI, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan meningkat 20% dalam kurun 10 tahun, peningkatan yang besar terutama di daerah perdesaan, sementara persalinan di fasilitas kesehatan meningkat dari 24,3% pada tahun 1997 menjadi 46% pada tahun 2007. Namun masih ditemui disparitas Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan cakupan imunisasi antar wilayah masih tinggi. Cakupan pemeriksaan kehamilan tertinggi 97,1% dan terendah 67%, sementara itu cakupan imunisasi lengkap tertinggi sebesar 73,9% dan cakupan terendah 17,3% (Riskesdas, 2007) tangga dan sebesar 63,5% rumah tangga mempunyai akses pada sanitasi yang baik (Riskesdas, 2007). Pada tahun 2007, rumah tangga yang tidak menggunakan fasilitas buang air besar sebesar 24,8% dan yang tidak memiliki saluran pembuangan air limbah sebesar 32,5%.

Penyakit infeksi menular masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menonjol, terutama: TB Paru, Malaria, HIV/AIDS, DBD dan Diare. Selain itu penyakit yang kurang mendapat perhatian (neglected diseases), seperti Filariasis, Kusta, Framboesia cenderung meningkat kembali. Demikian pula penyakit Pes masih terdapat di berbagai daerah. Namun demikian kontribusi penyakit menular terhadap kesakitan dan kematian semakin menurun.

Hasil Riskesdas Tahun 2007 menunjukkan adanya peningkatan kasus penyakit tidak menular (seperti penyakit kardiovaskuler dan kanker) secara cukup bermakna, menjadikan Indonesia mempunyai beban ganda (double burden).

2. Pembiayaan Kesehatan

Pembiayaan kesehatan sudah semakin meningkat dari tahun ke tahun. Persentase pengeluaran nasional sektor kesehatan pada tahun 2005 adalah sebesar 0,81% dari Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat pada tahun 2007 menjadi 1,09 % dari PDB, meskipun belum mencapai 5% dari PDB seperti dianjurkan WHO. Demikian pula dengan anggaran kesehatan, pada tahun 2004 jumlah APBN kesehatan adalah sebesar Rp 5,54 Triliun meningkat menjadi sebesar 18,75 Triliun pada tahun 2007, namun persentase terhadap seluruh APBN belum meningkat dan masih berkisar 2,6-2,8%. Pengeluaran pemerintah untukpengeluaran pemerintah untuk kesehatan masih kecil, yaitu 38% dari total pembiayaan kesehatan.

Proporsi pembiayaan kesehatan yang bersumber dari pemerintah belum mengutamakan upaya pencegahan dan promosi kesehatan. Cakupan jaminan pemeliharaan kesehatan sekitar 46,5% dari keseluruhan penduduk pada tahun 2008 yang sebagian besar berasal dari bantuan sosial untuk program jaminan kesehatan masyarakat miskin sebesar 76,4 juta jiwa atau 34,2%.

3. Sumber Daya Manusia Kesehatan

Upaya pemenuhan kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan belum memadai, baik jumlah, jenis, maupun kualitas tenaga kesehatan yang dibutuhkan. Selain itu, distribusi tenaga kesehatan masih belum merata. Jumlah dokter Indonesia masih termasuk rendah, yaitu 19 per 100.000 penduduk bila dibandingkan dengan negara lain di ASEAN, seperti Filipina 58 per 100.000 penduduk dan Malaysia 70 per 100.000 pada tahun 2007.

Masalah strategis SDM Kesehatan yang dihadapi dewasa ini dan di masa depan adalah:

a) Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan belum dapat memenuhi kebutuhan SDM untuk pembangunan kesehatan;

b) Perencanaan kebijakan dan program SDM Kesehatan masih lemah dan belum didukung sistem informasi SDM Kesehatan yang memadai;

c) Masih kurang serasinya antara kebutuhan dan pengadaan berbagai jenis SDM Kesehatan. Kualitas hasil pendidikan SDM Kesehatan dan pelatihan kesehatan pada umumnya masih belum memadai;

d) Dalam pendayagunaan SDM Kesehatan, kurang. Pengembangan karier, sistem penghargaan, dan sanksi belum sebagaimana mestinya. Regulasi untuk mendukung SDM Kesehatan masih terbatas; serta

e) Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan serta dukungan sumber daya SDM Kesehatan masih kurang.

4. Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Makanan

Pasar sediaan farmasi masih didominasi oleh produksi domestik, sementara itu bahan baku impor mencapai 85% dari kebutuhan. Di Indonesia terdapat 9.600 jenis tanaman berpotensi mempunyai efek pengobatan, dan baru 300 jenis tanaman yang telah digunakan sebagai bahan baku.

Upaya perlindungan masyarakat terhadap penggunaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan telah dilakukan secara komprehensif. Sementara itu pemerintah telah berusaha untuk menurunkan harga obat, namun masih banyak kendala yang dihadapi.

Penggunaan obat rasional belum dilaksanakan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, masih banyak pengobatan yang dilakukan tidak sesuai dengan formularium.

Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) digunakan sebagai dasar penyediaan obat di pelayanan kesehatan publik. Daftar Obat Esensial Nasional tersebut telah disusun sejak tahun 1980 dan direvisi secara berkala sampai tahun 2008.

Lebih dari 90% obat yang diresepkan di Puskesmas merupakan obat esensial generik. Namun tidak diikuti oleh sarana pelayanan kesehatan lainnya, seperti: di rumah sakit pemerintah kurang dari 76%, rumah sakit swasta 49%, dan apotek kurang dari 47%. Hal ini menunjukkan bahwa konsep obat esensial generik belum sepenuhnya diterapkan.

5. Manajemen dan Informasi Kesehatan

Perencanaan pembangunan kesehatan antara Pusat dan Daerah belum sinkron. Begitu pula dengan perencanaan jangka panjang/menengah masih belum menjadi acuan dalam menyusun perencanaan jangka pendek. Demikian juga dengan banyak kebijakan yang belum disusun berbasis bukti dan belum bersinergi baik perencanaan di tingkat Pusat dan atau di tingkat Daerah.

Sistem informasi kesehatan menjadi lemah setelah menerapkan kebijakan desentralisasi. Data dan informasi kesehatan untuk perencanaan tidak tersedia tepat waktu. Sistem Informasi Kesehatan Nasional (Siknas) yang berbasis fasilitas sudah mencapai tingkat kabupaten/kota namun belum dimanfaatkan. Hasil penelitian kesehatan belum banyak dimanfaatkan sebagai dasar perumusan kebijakan dan perencanaan program. Surveilans belum dilaksanakan secara menyeluruh.

Hukum kesehatan belum tertata secara sistematis dan belum mendukung pembangunan kesehatan secara utuh. Regulasi bidang kesehatan pada saat ini belum cukup, baik jumlah, jenis, maupun efektifitasnya. Pemerintah belum sepenuhnya dapat menyeleng-garakan pembangunan kesehatan yang efektif, efisien, dan bermutu sesuai dengan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance).

6. Pemberdayaan Masyarakat

Rumah tangga yang telah melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat meningkat dari 27% pada tahun 2005 menjadi 36,3% pada tahun 2007, namun masih jauh dari sasaran yang harus dicapai pada tahun 2009, yakni dengan target 60%.

Jumlah UKBM, seperti Posyandu dan Poskesdes semakin meningkat, tetapi pemanfaatan dan kualitasnya masih rendah. Hingga tahun 2008 sudah terbentuk 47.111 Desa Siaga dimana terdapat 47.111 buah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat lainnya yang terus berkembang pada tahun 2008 adalah Posyandu yang telah berjumlah 269.202 buah dan 967 Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren). Di samping itu, Pemerintah telah memberikan pula bantuan stimulan untuk pengembangan 229 Musholla Sehat. Sampai dewasa ini dirasakan bahwa masyarakat masih lebih banyak sebagai objek dari pada sebagai subjek pembangunan kesehatan. Hasil Riskesdas tahun 2007 menunjukkan bahwa alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan Posyandu/Poskesdes walaupun sebenarnya memerlukan adalah karena: pelayanannya tidak lengkap (49,6%), lokasinya jauh (26%), dan tidak ada Posyandu/Poskesdes (24%).

PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS

Perkembangan global, regional, dan nasional yang dinamis akan mempengaruhi pembangunan suatu negara, termasuk pembangunan kesehatannya. Hal ini merupakan faktor eksternal utama yang mempengaruhi proses pembangunan kesehatan. Faktor lingkungan strategis dapat dibedakan atas tatanan global, regional, nasional, dan lokal, serta dapat dijadikan peluang atau kendala bagi sistem kesehatan di Indonesia.

1. Tingkat Global dan Regional

Globalisasi merupakan suatu perubahan interaksi manusia secara luas, yang mencakup ekonomi, politik, sosial, budaya, teknologi, dan lingkungan.

Proses ini dipicu dan dipercepat dengan berkembangnya teknologi, informasi, dan transportasi yang mempunyai konsekuensi pada fungsi suatu negara dalam sistem pengelolaannya. Era globalisasi dapat menjadi peluang sekaligus tantangan pembangunan kesehatan, yang sampai saat ini belum sepenuhnya dilakukan persiapan dan langkah-langkah yang menjadikan peluang dan mengurangi dampak yang merugikan, sehingga mengharuskan adanya suatu sistem kesehatan yang responsif.

Komitmen Internasional, seperti: MDGs, adaptasi perubahan iklim (climate change), ASEAN Charter, jejaring riset Asia Pasifik, serta komitmen Nasional, seperti revitalisasi pelayanan kesehatan dasar dan pengarus-utamaan gender, perlu menjadi perhatian dalam pembangunan kesehatan.

2. Tingkat Nasional dan Lokal

Pada tingkat nasional terjadi proses politik, seperti desentralisasi, demokratisasi, dan politik kesehatan yang berdampak pada pembangunan kesehatan, sebagai contoh: banyaknya peserta Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang menggunakan isu kesehatan sebagai janji politik. Proses desentralisasi yang semula diharapkan mampu memberdayakan daerah dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, namun dalam kenyataannya belum sepenuhnya berjalan dan bahkan memunculkan euforia di daerah yang mengakibatkan pembangunan kesehatan terkendala.

Secara geografis, sebagian besar wilayah Indonesia rawan bencana, di sisi lain situasi sosial politik yang berkembang sering menimbulkan konflik sosial yang pada akhirnya memunculkan berbagai masalah kesehatan, termasuk akibat pembangunan yang tidak berwawasan kesehatan yang memerlukan upaya pemecahan melalui berbagai terobosan dan pendekatan.

Perangkat regulasi dan hukum yang terkait dengan kesehatan masih belum memadai, sementara itu kesadaran hukum masyarakat masih rendah, dan masih lemahnya penegakan hukum menyebabkan berbagai hambatan dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan.

Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai terobosan/ pendekatan terutama pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan yang memberikan penguatan kapasitas dan surveilans berbasis masyarakat, diantaranya melalui pengembangan Desa Siaga.

Di bidang lingkungan, mekanisme mitigasi serta adaptasi dan pengenalan resiko akan perubahan iklim menuntut kegiatan kerjasama antara pihak lingkungan dengan pihak kesehatan dan seluruh sektor terkait.

PostHeaderIcon Pembakar Lemak Terbaik

.

Pembakar Lemak Terbaik

Dalam beberapa dekade terakhir, masalah berat badan merupakan masalah yang sangat sering dibicarakan di berbagai kota di dunia, terutama di negara-negara maju yang aktivitas individunya tergolong sangat sibuk. Masalah berat badan sebenarnya tidak hanya sebatas kegemukan atau obesitas serta kelebihan berat badan saja, namun seseorang yang memiliki berat badan kurangpun sebenarnya tergolong memiliki masalah.

pembakar-lemakSalah satu hal yang perlu diperhatikan adalah komposisi massa otot dengan massa lemak, untuk dapat mempertahankan stamina dan bentuk tubuh, walaupun tidak harus ideal. Pola hidup sehat adalah sesuatu hal yang harus dilakukan. Namun masalah yang paling banyak dialami individu adalah tentang kelebihan berat badan.

Banyak orang dipusingkan dengan masalah kegemukan dan cara bagaimana mengurangi massa lemak dengan berbagai program diet, mulai dari puasa, mencoba menjadi vegetarian, sampai hanya mengkonsumsi air saja.

Sebenarnya kita telah memiliki mesin pembakar lemak yang paling efektif yaitu otot tubuh kita sendiri. Jadi Tuhan telah menciptakan Otot tubuh manusia sebagai  mesin pembakar lemak yang paling efektif.

Tiga hal utama dalam menjaga kebugaran fisik adalah:
  • olahraga teratur,
  • makan teratur, dan
  • istirahat teratur.

Makan teratur identik dengan diet, diet adalah mengatur pola makan. Jadi, diet bukan mengurangi atau pantang makan. Mereka yang merasa dapat sehat dengan menjadi vegetarian, sebenarnya tidaklah mencukupi apabila diperuntukkan bagi individu aktif. Kandungan nutrisi dan gizi nabati tidaklah lengkap untuk menyokong kebutuhan tubuh individu aktif.

Penanggulangan masalah berat badan ini tidak hanya difokuskan pada perubahan berat badan. Seseorang dapat minum dua liter air, dan tentu berat badan akan bertambah bila ditimbang. Seseorang dapat pula hanya makan tujuh apel setiap hari selama seminggu dan menurunkan lima kg berat badannya, tetapi akan diikuti oleh penurunan  staminanya. Jadi, jangan hanya memfokuskan pada berat badan saja.

Komposisi massa otot dan lemak yang kembali menjadi acuan. Massa otot harus memiliki proporsi yang lebih besar dari massa lemak. Bagi mereka yang kekurangan berat badan, massa otot akan menambah berat badan, dan bagi yang kelebihan berat badan akan menjadi mesin pembakar lemak, dipadu dengan pola makan sehat.

Olah raga Teratur

Memfokuskan otot sebagai pembakar lemak membuat mereka yang ingin menurunkan massa lemak (baca: menurunkan berat badan) harus meningkatkan proporsi massa otot. Massa otot dapat dilatih dengan melakukan olahraga yang bersifat anaerob. Olahraga anaerob adalah olahraga yang tidak terlalu membutuhkan oksigen, dengan kata lain cenderung tidak membuat terengah-engah. Olahraga ini dapat dilakukan dengan beragam cara, mulai dari menggunakan beban tubuh (push-up, sit-up, squat/bending, dll) atau dengan beban luar (angkat beban, dumbell, barbell, dsb.)

Seiring dengan melatih otot, fokuskan pada olahraga aerobik/kardio. Olahraga jenis ini memerlukan banyak oksigen dan mampu membuat nafas terengah-engah. Olahraga aerobik yang paling mudah dan murah antara lain: jogging, lari, jalan cepat, bersepeda, senam, sampai mengepel dan menyapu. Lakukan jenis olahraga ini dengan intensitas rendah-sedang, 3-4 kali perpekan masing-masing 30-40 menit atau 5-6 kali masing-masing 10-15 menit.

Olahraga kardio ini sebaiknya dilaksanakan pada saat perut kosong, misal setelah bangun pagi (tanpa sarapan apapun kecuali air), atau pada waktu 4 jam setelah makan, atau setelah latihan anaerobik (latihan beban/fitness). Carilah gaya kardio yang paling nyaman untuk dilakukan secara rutin, misal dengan ditemani suami/istri saat bersepeda, atau saat jogging. Olahraga permainan (bola, basket, badminton, gobak-sodor) dapat menjadi saat yang menyenangkan. Apabila mampu dan tersedia, dapat pula menggunakan peralatan seperti treadmill, sepeda statis, atau stepper. Yang perlu digarisbawahi adalah konsisten dan penuh kesabaran serta semangat.

Disiplin dan kesabaran sangat diperlukan dalam proses pembakaran lemak ini serta diimbangi dengan melatih otot. Otot yang semakin terlatih (tidak harus besar, berbentuk), maka akan semakin efektif pula proses pembakaran lemak yang terjadi.

Perhatikan Diet Anda

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pola makan. Diet yang lebih ketat perlu dilakukan. Kurangi makanan berlemak seperti daging yang berwarna putih (gajih, tetelan, sumsum), minyak (gorengan), susu full cream (ganti dengan susu skim), dan lemak jahat lainnya. Upayakan untuk mengubah cara menghidangkan makanan dari digoreng (dengan minyak, mentega, atau margarin) menjadi dikukus, direbus, atau panggang/bakar (tanpa banyak oles minyak). Bukan berarti dihindari sama sekali, tapi diatur dan dikurangi, misal sebulan dua kali.

Makanlah lebih sering (misal dari 3x/hari menjadi 4-5x/hari) dalam porsi yang seimbang atau lebih kecil. Hal ini sangat baik karena lambung tidak akan kekurangan nutrisi untuk diserap, dan juga mencegah rasa lapar berlebih. Sesuaikan kalori yang masuk dengan proses pembakaran lemak. Bila kira-kira sehari membutuhkan 2500 kalori, maka kurangi menjadi sekitar 2000 kalori. Pengurangan ini Insya Allah tidak akan membuat tubuh menjadi lemas, apabila pengaturannya dilakukan dengan efisien.

Perhatikan asupan nutrisi. Kombinasikan karbohidrat dan protein dalam porsi jauh lebih besar daripada lemak, misalnya 40% karbo, 40% protein, 20% lemak. Tambah suplemen dan vitamin bila perlu dan ada kesanggupan. Perbanyak makanan mengandung serat. Serat akan mengembang di lambung, dan memberikan rasa kenyang lebih lama.

Karbohidrat seperti nasi, umbi-umbian, sayuran, dan roti memberikan 4 kalori setiap gramnya. Karbohidrat bertahan mengenyangkan lambung selama 1-2 jam. Itu sebabnya, memakan terlalu banyak komposisi karbohidrat lekas menjadi lapar kembali. Cepatnya lambung memproses karbohidrat juga membuat kadar gula darah cepat tinggi yang akan cepat disimpan sebagai cadangan tubuh menjadi lemak tubuh. Sayuran walau memiliki banyak serat, tidak dianjurkan untuk dikonsumsi terus menerus, demikian pula dengan buah karena mengandung fruktosa (gula buah) yang akan cenderung ditimbun menjadi lemak tubuh.

Protein seperti daging (bagian yang berwarna merah), dada ayam, tahu-tempe, dan kacang kedelai memberikan 4 kalori per gram. Protein mampu bertahan di lambung selama 2-3 jam. Diet tinggi protein baik untuk memberi rasa kenyang lebih lama dan memberi nutrisi bagi otot tubuh serta membantu pemulihan setelah beraktifitas. Diet jenis ini sangat baik bagi mereka yang berjuang membakar lemak tubuh, disamping meningkatkan massa otot. Otot tersusun dari protein (amino). Bisa dikatakan otot adalah protein dan protein adalah otot. Diet yang mengurangi asupan makanan khususnya protein membuat berat tubuh menyusut karena massa otot menghilang. Tubuh akan terus mempertahankan diri dengan menggunakan protein otot sebagai energi. Hal ini mengakibatkan massa otot berkurang namun massa lemak cenderung tetap karena lemak harus dibakar dengan aktifitas.

Lemak seperti mentega, susu full cream (non skim), minyak goreng, dan daging bagian berwarna putih (gajih/tetelan) memberikan 9 kalori setiap gramnya. Lemak paling lama bertahan di lambung, yaitu 4 jam atau lebih. Inilah sebabnya makanan tinggi lemak cenderung memberikan rasa kenyang lebih lama namun semu karena sangat tinggi kalori. Asupan lemak harus diusahakan memiliki proporsi kecil (max 20%) dalam pola makan. Hindari mengolah makanan dengan menggoreng, karena minyak/margarin akan menimbun lemak dan kolesterol, juga hindari gorengan. Kuning telur juga perlu dikurangi (bukan dihindari). Bila dalam sehari mengkonsumsi 4 butir telur, maka cukup mengkonsumsi 1 butir kuning telurnya.

Penurunan massa lemak tidak harus sangat drastis. Penurunan 1-2kg/bulan lebih dianjurkan agar tubuh mampu beradaptasi. Kesabaran menjadi pegangan bagi keberhasilan dalam penurunan massa lemak.
Dengan mengikuti pola hidup sehat (olahraga teratur, pola makan sehat, dan istirahat cukup), disertai dengan semangat tinggi dan kesabaran, maka apa yang diharapkan akan tercapai. Mesin pembakar lemak akan menjadi efektif bekerja sehingga tubuh tidak saja berkurang berat badan, namun juga meningkat staminanya.

Bonus Gratis
Ebook gratis seputar keperawatan/kesehatan, silahkan daftarkan email Anda:

Nama:
Alamat Email:
Setelah mendaftar, silahkan validasi di email Anda
Download Askep
kumpulan askep,asuhan keperawatan
Like this blog ?
Online

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net

Join My Community at MyBloglog!
Tukar Link ?
Copy kode dibawah ini, kemudian paste di blog Anda:


Tampilan akan seperti ini :

Download Askep
kumpulan askep,asuhan keperawatan
Menu Anak
Kalender
September 2010
M T W T F S S
« Aug    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
Buku Tamu
Ranking
Herbal



Herbal Neck Pillow
Polling
Artikel apa yang Anda sukai dari situs ini ?




View Results
Free web poll from Free Website Polls
Share on Facebook
Menu Anak
Link

Get cash from your website. Sign up as affiliate.


Copyright © 2010 NursingBegin.com