Archive for the ‘Keperawatan’ Category
Pengertian Diagnosa Keperawatan
A nursing diagnosis is a clinical judgment about individual, family, or community responses to actual or potential health problems / life processes. Nursing diagnoses provide the basic for selection of nursing interventions to achieve outcomes for which the nurse is accountable (NANDA, 1992 p.5)
Jadi diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinik tentang respon individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, dimana berdasarkan pendidikan dan pengalamannya, perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah status kesehatan klien (Carpenito, 2000; Gordon, 1976 & NANDA).
Diagnosa keperawatan adalah suatu bagian integral dari proses keperawatan. Hal ini merupakan suatu komponen dari langkah-langkah analisa, dimana perawat mengidentifikasi respon-respon individu terhadap masalah-masalah kesehatan yang aktual dan potensial. Dibeberapa negara mendiagnosa diidentifikasikan dalam tindakan praktik keperawatan sebagai suatu tanggung jawab legal dari seorang perawat profesional. Diagnosa keperawatan memberikan dasar petunjuk untuk memberikan terapi yang pasti dimana perawat bertanggung jawab di dalamnya ( Kim et al, 1984).
Diagnosa keperawatan ditetapkan berdasarkan analisis dan interpretasi data yang diperoleh dari pengkajian keperawatan klien. Diagnosa keperawatan memberikan gambaran tentang masalah atau status kesehatan klien yang nyata (aktual) dan kemungkinan akan terjadi, dimana pemecahannya dapat dilakukan dalam batas wewenang perawat.
Diagnosa keperawatan, sebagai suatu bagian dari proses keperawatan juga direfleksikan dalam standar praktik ANA. Standar-standar ini memberikan satu dasar luas mengevaluasi praktik dan merefleksikan pengakuan hak-hak manusia yang menerima asuhan keperawatan ( ANA, 1980).
Proses keperawatan telah diidentikan sebagai metoda ilmiah keperawatan untuk para penerima tindakan keperawatan disajikan sesuai dengan lima langkah dari proses keperawatan :
1. Pengkajian. Menetapkan data dasar seorang klien
2. Analisa. Identifikasi kebutuhan perawatan klien dan seleksi tujuan perawatan
3. Perencanaan. Merencanakan suatu strategi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan untuk perawatan klien.
4. Implementasi. Memulai dan melengkapi tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditentukan
5. Evaluasi. Menentukan seberapa jauh tujuan-tujuan keperawatan yang telah dicapai.
Dengan mengikuti kelima langkah ini, perawat akan memiliki suatu kerangka kerja yang sistematis untuk membuat keputusan dan memecahkan masalah dalam pelaksanaan asuhan keperawatan.
Komponen Diagnosa Keperawatan
Ada tiga komponen yang esensial dalam suatu diagnosa keperawatan yang telah dirujuk sebagai bentuk PES ( Gordon, 1987 ). “ P “ diidentifikasi sebagai masalah / problem kesehatan, “E” menunjukan etiologi / penyebab dari problem, dan “S” menggambarkan sekelompok tanda dan gejala, atau apa yang dikenal sebagai “ batasan karakteristik” ketiga bagian ini dipadukan dalam suatu pernyataan dengan menggunakan “ yang berhubungan dengan ”.
Kemudian diagnosa-diagnosa tersebut dituliskan dengan cara berikut : Problem “ yang berhubungan dengan “ etiologi” dibuktikan oleh “ tanda-tanda dan gejala-gejala ( batasan karakteristik ).
Problem dapat diidentifikasikan sebagai respons manusia terhadap masalah-masalah kesehatan yang aktual atau potensial sesuai dengan data-data yang didapat dari pengkajian yang dilakukan oleh perawat.
Etiologi ditunjukan melalui pengalaman-pengalaman individu yang telah lalu, pengaruh genetika, faktor-faktor lingkungan yang ada saat ini, atau perubahan-perubahan patofisiologis. Tanda dan gejala menggambarkan apa yang klien katakan dan apa yang diobservasi oleh perawat yang mengidentifikasikan adanya masalah tertentu.
Informasi yang ditampilkan pada setiap diagnosa keperawatan mencakup hal-hal berikut :
1. Defenisi. Merujuk kepada defenisi NANDA yang digunakan pada diagnosa –diagnosa keperawatan yang telah ditetapkan tersebut.
2. Kemungkinan Etiologi (“yang berhubungan dengan”). Bagian ini menyatakan penyebab-penyebab yang mungkin untuk masalah yang telah diidentifikasi. Yang tidak dinyakatakan oleh NANDA diberi tanda kurung [ ]. Faktor yang berhubungan / risiko diberikan untuk diagnosa yang beresiko tinggi.
3. Batasan karakteristik (“dibuktikan oleh”). Bagian ini mencakup tanda dan gejala yang cukup jelas untuk mengindikasi keberadaan suatu masalah. Sekali lagi seperti pada definisi dan etiologi. Yang tidak dinyatakan oleh NANDA diberi tanda kurung [ ].
4. Sasaran / Tujuan. Pernyataan –pernyataan ini ditulis sesuai dengan objektif perilaku klien. Sasaran / tujuan ini harus dapat diukur, merupakan tujuan jangka panjang dan pendek, untuk digunakan dalam mengevaluasi keefektifan intervensi keperawatan dalam mengatasi masalah yang telah diidentifikasi. Mungkin akan ada lebih dari satu tujuan jangka pendek, dan mungkin merupakan “batu loncatan” untuk memenuhi tujuan jangka panjang.
5. Intervensi dengan Rasional Tertentu. Hanya intervensi-intervensi yang sesuai untuk bagian diagnosa yang ditampilkan. Rasional-rasional yang digunakan untuk intervensi mencakup memberikan klarifikasi pengetahuan keperawatan dasar dan untuk membantu dalam menyeleksi intervensi-intervensi yang sesuai untuk diri klien.
6. Hasil Klien yang Diharapkan / Kriteria Pulang. Perubahan perilaku sesuai dengan kesiapan klien untuk pulang yang mungkin untuk dievaluasi.
7. Informasi Obat – obatan. Informasi ini mencakup implikasi keperawatan, menyertai bab-bab yang mana tiap klarifikasinya sesuai.
Konsumsi Vitamin Disaat Hamil Cegah Tumor Otak Anak
Wanita yang mengkonsumsi multivitamin pada awal kehamilannya ternyata dapat menurunkan risiko berbagai tipe dari tumor otak. Saat ini berbagai kelompok kesehatan masyarakat telah menganjurkan ibu hamil untuk mengkonsumsi multivitamin yang mengandung asam folat pada awal kehamilan untuk menekan janin mengalami gangguan neural tube seperti spina bifida.
Suatu penelitian menjelaskan adanya manfaat lain dari multivitamin yang dikonsumsi oleh ibu pada awal kehamilannya. Dikatakan pemimpin penelitian Greta R. Bunin, Ph.D, dari Children’s Hospital, Philadelphia bahwa anak yang berasal dari ibu yang rutin mengkonsumsi multivitamin pada masa kehamilannya tampaknya akan berkurang risiko terkena medulloblastoma dan tumor neuroectodermal di otaknya.
Pada masa anak-anak kejadian tumor otak memang lebih jarang terjadi, namun medulloblastoma merupakan urutan dua teratas penyebab tumor pada anak. Kejadiannya satu dari 20.000 anak yang berusia dibawah 6 tahun. biasanya terjadi di cerebellum, dibawah portio dari otak dan di area otak yang berfungsi mengatur gerakan. Primitive neuroectodermal tumors (PNET) mirip dengan medulloblastoma namun terjadinya dibagian lain dari SSP. Dr. Bunin pemimpin penelitian tersebut membandingkan 315 anak yang didiagnosis menderita tumor sebelum usia 6 tahun.
Mereka yang dilakukan penelitian telah didiagnosis antara tahun 1991 hingga 1997. Para ahli tersebut melakukan penelitian dengan memberikan pertanyaan kepada ibu penderita. Efek perlindungan pada ibu yang mengkonsumsi multivitamin pada awal masa kehamilan sangat signifikan, sedangkan bila multivitamin baru dikonsumsi pada kehamilan melewati trimester satu tampaknya tidak menunjukkan hasil yang signifikan dalam menurunkan risiko terjadinya meduloblastoma dan PNET. Temuan ini menyimpulkan bahwa saat konsepsi adalah waktu yang paling baik atau disebut ‘critical period’ dari perkembangan tumor otak, dikatakan Dr. Bunin.
Meski demikian kenyataannya banyak ibu hamil yang tidak menyadari kehamilannya pada minggu-minggu pertama. Pada penelitian tersebut juga dinilai bagaimana kebiasaan makan saat hamil, seperti banyaknya menyantap makanan daging ham, hot dog, ikan asap, saos dll. Dr. Bunin menjelsakan meskipun jenis makanan tersebut merupakan penyebab terjadinya tumor sistem saraf pada hewan, ternyata tidak ditemukan bukti bahwa jenis makanan tersebut berisiko meningkatkan tumor otak anak yang ibunya sering mengkonsumsi makanan tersebut selama kehamilannya. Mengkonsumsi multivitamin pada minggu-minggu pertama kehamilan sangat membantu mencegah terjadinya defek neural tube, juga mencegah berbagai macam jenis tumor otak dengan sangat baik, dr. Bunin menjelaskan.
Hamil Anggur
Hamil Anggur (Mola Hidatidosa)
.
.
Definisi Mola Hidatidosa (Hamil Anggur)
Mola hidatidosa ( hamil anggur ) adalah jonjot-jonjot korion (chorionic villi) yang tumbuh berganda berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur, karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan (Rustam, 1998:238)
Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal dengan ciri-ciri stroma villus cotialis langka vaskulatisasi dan odematus, janin biasanya meninggal, akan tetapi villus-villus yang membesar dan odematus itu tumbuh terus, gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus anggur. Jaringan trofoblas pada villus kadang-kadang berproliferasi ringan kadang-kadang keras dan mengeluarkan hormon yaitu Human Choriotic Gonadotropin (HCG) dalam jumlah yang lebih besar daripada kehamilan biasa
(Hanifa, 1994: 262)
Mola hidatidosa (atau hamil anggur) adalah kehamilan abnormal berupa tumor jinak yang terbentuk akibat kegagalan pembentukan janin. Istilah hamil anggur digunakan karena bentuk bakal janin tersebut mirip dengan gerombolan buah anggur.
Mola hidatidosa juga dapat didefinisikan sebagai penyakit yang berasal dari kelainan pertumbuhan calon plasenta (trofoblas plasenta) dan diserai dengan degenerasi kistik villi serta perubahan hidropik.
Trofoblas adalah sel pada bagian tepi ovum (sel telur) yang telah dibuahi dan nantinya akan melekat di dinding rahim hingga berkembang menjadi plasenta serta membran yang memberi makan hasil pembuahan.
Angka Kejadian Mola Hidatidosa (Hamil Anggur)
Angka kejadian mola Hidatidosa ( hamil anggur) bervariasi. Pada wanita Asia memiliki kecenderungan lebih tinggi, yakni 1 dari 80-120 kehamilan, sedangkan wanita Eropa 1 dari 1500-2000 kehamilan. Resiko yang lebih tinggi ditemukan pada wanita yang berusia di bawah 20 tahun atau diatas 40 tahun.
Penyebab Mola Hidatidosa (Hamil Anggur)
- Mola hidatidosa berasal dari plasenta dan/atau jaringan janin sehingga hanya mungkin terjadi pada awal kehamilan (3-4 minggu). Massa biasanya terdiri dari bahan-bahan plasenta yang tumbuh tak terkendali. Sering tidak ditemukan janin sama sekali / tidak ada buah kehamilan (agenesis).
- Penyebab yang paling mungkin adalah kelainan pada sel telur, rahim dan/atau kekurangan gizi (status sosial-ekonomi yang rendah).
- Aliran darah yang terus berlangsung tanpa bakal janin, sehingga terjadi peningkatan produksi cairan sel trofoblas.
- Kelainan substansi kromosom (kromatin) seks.
Gejala Mola Hidatidosa (Hamil Anggur)
- Gejala awal mirip dengan gejala kehamilan normal, yaitu terlambat haid, mual, tes kehamilan positif.
- Perdarahan pervaginam pada kehamilan trimester I, dan keluar gelembung cairan mirip buah anggur bersamaan dengan perdarahan.
- Mual dan muntah berat.
- Pembesaran perut melebihi usia kehamilan.
- Tidak ada gerakan janin,
- Gejala-gejala hipertiroidisme ditemukan pada 10% kasus (denyut jantung yang cepat, gelisah, cemas, tidak tahan panas, penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya, tinja encer, tangan gemetar, kulit lebih hangat dan basah).
- Gejala-gejala pre-eklamsi yang terjadi pada trimester I atau awal trimester II (tekanan darah tinggi, pembengkakan kaki-pergelangan kaki-tungkai, proteinuria).
Diagnosis Mola Hidatidosa (Hamil Anggur)
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
Pada pemeriksaan panggul akan ditemukan tanda-tanda yang menyerupai kehamilan normal tetapi ukuran rahim abnormal dan terjadi perdarahan.
Tinggi fundus rahim tidak sesuai dengan umur kehamilan dan tidak terdengar denyut jantung bayi.
Pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah:
- Serum HCG (human chorionic gonadotrophin) urin untuk memastikan kehamilan, lalu HCG serial (diulang pada interval waktu tertentu)
- USG (ultrasonografi), ditemukan gambaran mirip badai salju, tidak adanya gambaran yang menunjukkan denyut jantung janin.
- CT scan/MRI perut.
- Pemeriksaan radiologis atau rontgen, tidak terlihat gambaran tulang janin, Yang nampak justru gambaran mirip sarang lebah (honeycomb) atau gambaran mirip badai salju (snow storm)
- Patologi anatomi, yakni pemeriksaan mikroskopis gelembung cairan mirip anggur.
Pengobatan Mola Hidatidosa (Hamil Anggur)
Mola harus dibuang seluruhnya, biasanya jika tidak terjadi aborsi spontan dan diagnosisnya sudah pasti, dilakukan aborsi terapeutik melalui prosedur dilatasi & kuretase. Kuret ulangan dilakukan sekitar seminggu setelah kuret pertama, untuk memastikan bahwa rahim benar-benar sudah bersih. Sedangkan bagi wanita usia lanjut atau yang sudah tidak menginginkan tambahan anak, dilakukan pengangkatan rahim (histerektomi)
Setelah prosedur tersebut, dilakukan pengukuran kadar HCG untuk mengetahui apakah seluruh mola telah terbuang.
Jika seluruh mola telah terbuang, maka dalam waktu 8 minggu kadar HCG akan kembali normal.
Wanita yang pernah menjalani pengobatan untuk mola sebaiknya tidak hamil dulu dalam waktu 1 tahun.
Sebanyak 2-3% kasus mola bisa berkembang menjadi keganasan (koriokarsinoma).
Pada koriokarsinoma diberikan kemoterapi yaitu metotreksat, daktinomisin atau kombinasi kedua obat tersebut.
Apa Boleh Hamil Lagi ?
Pada dasarnya penderita mola dianjurkan tidak hamil sampai pengawasan lengkap selesai dilakukan. (Sydney Gynaecological Oncology Group)
Bagi wanita yang belum punya anak, dianjurkan memakai alat kontrasepsi untuk menunda kehamilan selama 1 tahun, dan bagi yang sudah punya anak dianjurkan tidak hamil selama 2 tahun.



