Archive for the ‘Kesehatan Balita’ Category

PostHeaderIcon SAP Imunisasi pada Bayi

SATUAN ACARA PENYULUHAN

 

Pokok Bahasan           : Imunisasi pada Bayi

Sub Pokok Bahasan    : Menjelaskan tentang Imunisasi pada Bayi

Sasaran                          : Ibu Bayi

Tempat                          : Pelayanan Kesehatan

I. Tujuan Instruksional Umum

Setelah diberikan penyuluhan tentang imunisasi pada ibu, ibu bayi dapat   memahami pentingnya pelaksanaan imunisasi pada bayi sehingga bayi memperoleh kekebalan secara aktif.

II. Tujuan Instruksional Khusus

Setelah diberikan penyuluhan selama 15 menit, ibu bayi dapat :

  1. Memahami pengertian, tujuan, macam-macam, tempat dan jadwal Imunisasi.
  2. Memahami efek samping dan penanganan terhadap efek samping dari imunisasi.

III. Materi

  1. Pengertian, tujuan, macam-macam, tempat dan jadwal Imunisasi.
  2. Memahami efek samping dan penanganan terhadap efek samping dari Imunisasi

IV. Proses Belajar Mengajar

  1. Metode :
  1. Ceramah
  2. Tanya Jawab

 

MATERI :

IMUNISASI PADA BAYI

A. PENGERTIAN IMUNISASI

          Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin (zat kekebalan) ke dalam tubuh untuk mencegah terhadap penyakit tertentu.

B. TUJUAN IMUNISASI

Diharapkan anak menjadi kebal terhadap penyakit sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

C. MACAM-MACAM IMUNISASI

Di negara kita ini ada beberapa jenis imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah (Imunisasi Dasar) dan ada juga yang hanya dianjurkan. Imunisasi wajib di Indonesia ada 5 macam, yaitu BCG, DPT, polio, campak dan HBV.

  1. Imunisasi BCG

Imunisasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC). Vaksin BCG SAP Imunisasi pada Bayidiberikan 1 kali pada rentang umur 0-2 bulan. Efek samping yang biasa terjadi adalah pembengkakan dan kemerahan di sekitar lokasi suntikan. Sesudah mendapat BCG, seseorang anak masih dapat menderita infeksi tuberculosis primer, namun anak itu tidak akan mendapat komplikasi berat. Hal ini merupakan keuntungan terbesar dari vaksinasi BCG.

  1. Imunisasi DPT

Imunisasi DPT adalah imunisasi  yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit difteri, pertusis dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan. Pertusis (batuk rejan) adalah infeksi bakteri pada saluran pernafasan yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap yang berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan anak sulit bernafas, sulit makan atau minum. Tetanus adalah infeksi bakteri yang sering menyebabkan kaku pada rahang serta kadang menimbulkan kejang. Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat anak berumur 2 bulan (DPT I), 3 bulan (DPT II) dan 4 bulan (DPT III), selang waktu  minimal 4 minggu. Efek samping yang biasanya terjadi berupa demam ringan, kemerahan dan pembengkaan pada lokasi suntikan.

  1. Imunisasi Polio

Imunisasi polio memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomyelitis. Polio bisa menyebabkan nyeri otot dan kelumpuhan serta dapat juga menyebabkan kematian. Imunisasi dasar polio diberikan dengan dosis 2 tetes setiap pemberian yaitu pada anak umur 0 bulan (polio 0),  2 bulan (polio I), 3 bulan (polio II), 4 bulan (polio III) dengan interval tidak kurang dari 4 minggu. Vaksin polio oral ini merupakan vaksin yang paling aman karena tidak ditemukan efek samping dari pemberian vaksin ini.

  1. Imunisasi Campak

Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak. Imunisasi campak diberikan sebanyak 2 kali. Pertama, pada saat anak berumur 9 bulan. Imunisasi Campak ulangan atau booster diberikan pada umur 5-7 tahun. Campak pertama  diperlukan untuk menimbulkan  respon  kekebalan, sedangkan campak kedua diperlukan untuk meningkatkan kekuatan antibodi sampai pada tingkat yang tertinggi. Efek samping vaksinasi campak bisa menimbulkan panas dan ruam setelah masa inkubasi (1 – 2 minggu setelah vaksinasi).

  1. Imunisasi Hepatitis B (HBV)

Hepatitis B adalah suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan kematian. Imunisasi HBV hanya memberikan kekebalan terhadap hepatitis B tidak dengan penyakit hepatitis lain. Imunisasi ini diberikan sebanyak 4 kali. Suntikan HBV0 diberikan pada 0-7 hari setelah anak lahir, HBV1 diberikan pada umur 1 bulan sedangkan HBV2 diberikan pada usia 2 bulan, HBV3 diberikan pada umur 3 bulan dan HBV4 diberikan pada usia 4 bulan. Efek samping adalah rasa sakit, kemerahan dan pembengkaan di sekitar tempat penyuntikan seperti yang terlihat pada vaksin DPT. Reaksi biasanya bersifat ringan dan berkurang dalam beberapa hari setelah vaksinasi.

D. Penanganan Apabila Ada Efek Samping

Secara umum efek samping dari pemberian imunisasi  bisa sembuh dengan sendirinya seperti pemberian vaksin BCG yang mempunyai efek samping berupa luka pada tempat suntikan. Luka itu tidak perlu pengobatan dan akan sembuh secara sendirinya. Selain itu efek samping dari pemberian imunisasi dapat berupa demam, hal ini bisa diatasi dengan memberikan kompres air hangat untuk menurunkan suhu tubuhnya. Apabila sakit berlanjut dan ada gejala-gejala yang memperlihatkan keadaan yang semakin parah maka pasien disarankan untuk memeriksakan diri ketempat  tempat layanan kesehatan.

E. TEMPAT PELAYANAN IMUNISASI

Fasilitas kesehatan yang menyediakan tempat pelayanan imunisasi adalah rumah sakit baik pemerintah  maupun swasta, puskesmas, posyandu, bidan praktek swasta dan dokter praktek swasta.

F. JADWAL IMUNISASI

PostHeaderIcon Satuan Acara Penyuluhan Pijat Oksitosin

SATUAN ACARA PENYULUHAN PIJAT OKSITOSIN

 

Pokok Bahasan         : Pijat Oksitosin

Tanggal                      : Selasa , 11 Sept 2017

Waktu                        : 10.00 – 12.00 WITA

Tempat                      : Ruang Post Persalinan

Sasaran                      : Klien dan Keluarga

 

A.    Latar Belakang

Air Susu Ibu merupakan makanan terbaik bayi pada awal usia kehidupannya. ASI terbukti mempunyai keunggulan yang tidak dapat digantikan oleh makanan dan minuman manapun karena ASI mengandung zat gizi yang paling tepat, lengkap dan selalu menyesuaikan dengan kebutuhan bayi setiap saat (Elza, 2009)

Proses menyusui idealnya dapat segera dilakukan begitu bayi lahir. Bayi yang lahir cukup bulan akan memiliki naluri untuk menyusu pada ibunya di 20-30 menit setelah lahir. Itupun jika bayi tidak mengantuk akibat pengaruh obat ataupun anastesi yang diberikan kepada ibu saat proses melahirkan. Di jam-jam pertama, bayi akan relatif tenang, terjaga dan memiliki kemampuan menyusu dengan baik (Soraya, 2010).

Kenyataan dilapangan menunjukkan produksi dan ejeksi ASI yang sedikit pada hari-hari pertama setelah melahirkan menjadi kendala dalam pemberian ASI secara dini. Menurut Cox (2006) disebutkan bahwa ibu yang tidak menyusui bayinya pada hari-hari pertama menyusui disebabkan oleh kecemasan dan ketakutan ibu akan kurangnya produksi ASI serta kurangnya pengetahuan ibu tentang proses menyusui. Menyusui dini di jam-jam pertama kelahiran jika tidak dapat dilakukan oleh akan menyebabkan proses menyusu tertunda, maka alternatif yang dapat dilakukan adalah memerah atau memompa ASI selama 10-20 menit hingga bayi dapat menyusu. Tindakan tersebut dapat membantu memaksimalkan reseptor prolaktin dan meminimalkan efek samping dari tertundanya proses menyusui oleh bayi, salah satu solusi dari ketidaklancaran ASI adalah pijat oksitosin. Dimana pijat okstiosin dapat merangsang hormon prolaktin dan oksitosin setelah melahirkan sehingga sangat berperan dalam produksi ASI (Evariny, 2008).

Di Ruang Post Partum terdapat 10 Pasien Post Partum Normal maupun Post SC. Selain itu, para ibu mengatakan tidak mengetahui cara agar ASInya dapat berproduksi. Berdasarkan latar belakang diatas, kelompok tertarik untuk melakukan pendidikan kesehatan tentang pijat oksitosin di Ruang Perawatan Post Partum

 

B.     Tujuan

  1. Tujuan Umum

Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 1 x 45 menit, peserta dapat mengetahui informasi tentang Pijat Oksitosin

  1. Tujuan Khusus

Setelah mengikuti pendidikan kesehatan selama 1 x 45 menit, diharapkan peserta dapat mengerti:

  1. Pengertian Pijat Oksitosin
  2. Tujuan pijat oksitosin
  3. Manfaat Pijat Oksitosin
  4. Teknik Pijat Oksitosin
  5. Waktu yang tepat pelaksanaan Pijat Oksitosin

C.    Topik

  1. Menjelaskan Pengertian Pijat Oksitosin
  2. Menjelaskan tujuan Pijat oksitosin
  3. Menjelaskan Manfaat Pijat Oksitosin
  4. Menjelaskan Teknik Pijat Oksitosin
  5. Menjelaskan Waktu yang tepat pelaksanaan Pijat Oksitosin

D. Metode

  1. Ceramah
  2. Tanya jawab
  3. Diskusi

E.     Media

  • Leaflet

leaflet download di ( https://drive.google.com/drive/folders/0B4g0Y7_imh8cMElfYThod1gxRUk )

F. Proses Pelaksanaan

No

Kegiatan Penyuluh

Respon Peserta

Waktu

1 Pendahuluan

*          Memberi salam

*          Memberi pertanyaan apersepsi

*          Mengkomunikasikan pokok bahasan

*          Mengkomunikasikan tujuan

 

*   Menjawab salam

*   Memberi salam

*   Menyimak

*   Menyimak

 

5 mnt

2 Kegiatan Inti

*         Menjelaskan Pengertian Pijat Oksitosin

*         Menjelaskan tujuan pijat oksitosin

*         Menjelaskan Manfaat Pijat Oksitosin

*         Menjelaskan teknik Pijat Oksitosin

*         Menjelaskan Waktu yang tepat pelaksanaan Pijat Oksitosin

*         Memberikan Kesempatan keluarga bertanya

*         Memberikan kesempatan perawat untuk menjawab pertanyaan

 

 

*   Menyimak

 

 

 

 

 

*   Bertanya

*   Memperhatikan

 

 

35 mnt

 

 

3 Penutup

*          Menyimpulkan materi penyuluhan   bersama perawat

*          Memberikan evaluasi secara lisan

*          Memberikan salam penutup

 

*   Memperhatikan

*   Menjawab

 

5 mnt

 

LAMPIRAN MATERI

  • PENGERTIAN

Pijat oksitosin merupakan salah satu solusi untuk mengatasi ketidaklancaran produksi ASI. Pijat oksitosin adalah pemijatan pada sepanjang tulang belakang (vertebrae) sampai tulang costae kelima- keenam dan merupakan usaha untuk merangsang hormon prolaktin dan oksitosin setelah melahirkan (Yohmi & Roesli, 2009).

1. TUJUAN

Pijat oksitosin ini dilakukan untuk merangsang refleks oksitosin atau reflex let down.

 2. MANFAAT

Selain untuk merangsang refleks let down manfaat pijat oksitosin adalah memberikan kenyamanan pada ibu, mengurangi bengkak (engorgement), mengurangi sumbatan ASI, merangsang pelepasan hormon oksitosin, mempertahankan produksi ASI ketika ibu dan bayi sakit (Depkes RI, 2007).

3. PERSIAPAN ALAT

  • Alat-alat

– Kursi

– Meja

– Minyak kelapa

– BH khusus untuk menyusui

– Handuk

  • Persiapan perawat

– Menyiapkan alat dan mendekatkan ke pasien

– Membaca status pasien

– Mencuci tangan

  • Persiapan lingkungan

– Menutup gorden atau pintu

– Pastikan privasi pasien terjaga

4. CARA PIJAT OKSITOSIN

Langkah-langkah melakukan pijat oksitosin sebagai berikut (Depkes RI, 2007) :

  1. Melepaskan baju ibu bagian atas
  2. Ibu miring ke kanan maupun kekiri, lalu memeluk bantal
  3. Memasang handuk
  4. Melumuri kedua telapak tangan dengan minyak atau baby oil
  5. Memijat sepanjang kedua sisi tulang belakang ibu dengan menggunakan dua kepalan tangan, dengan ibu jari menunjuk ke depan
  6. Menekan kuat-kuat kedua sisi tulang belakang membentuk gerakan-gerakan melingkar kecil-kecil dengan kedua ibu jarinya.
  7. Pada saat bersamaan, memijat kedua sisi tulang belakang kearah bawah, dari leher kearah tulang belikat, selama 2-3 menit
  8. Mengulangi pemijatan hingga 3 kali
  9. Membersihkan punggung ibu dengan waslap air hangat dan dingin secara bergantian.
  • WAKTU PELAKSANAAN YANG TEPAT

Waktu yang tepat untuk pijat oksitosin adalah sebelum menyusui atau memerah ASI, lebih disarankan. Atau saat pikiran ibu sedang pusing, badan pegal-pegal. Cukup 3-5 menit saja per sesi (Depkes, 2007).

 

                                                                  DAFTAR PUSTAKA

 

Cox, S. (2006).Breasfeeding with confidence: Panduan untuk Belajar Menyusui dengan Percaya Diri (Gracinia, Penerjemah). Jakarta: Gramedia. DEPKES RI, 2007

 

Elza, Y. (2009). Dukung Ibu untuk Meraih Emas, http://www.promosikesehatan.com/?act=article&id=402, diperoleh tanggal 07 April 2015.

 

Evariny, A. (2008). Agar ASI Lancar di Awal Masa Menyusui, http://www.hypnobirthing.web.id/?, diperoleh tanggal 07 April 2015.

 

Roesli, U & Yahmi, E. (2009). Manajemen Laktasi. Jakarta: IDAI.

 

Soraya, L. L. (2010). Agar ASI Lancar di Masa Menyusui, http://www.mailarchive.com/[email protected], diperoleh tanggal 07 April 2015.

PostHeaderIcon Anak 1 Tahun Susah Makan

Anak 1 Tahun Susah Makan

 

Bagi orang tua yang memiliki anak yang susah makan, memang wajar merasa khawatir anaknya kekurangan nutrisi. Namun janganlah terlalu panik, asalkan anak tidak sedang sakit, tumbuh gigi, tidak ada sariawan / gangguan pencernaan, si anak tetap aktif dan bahagia, mungkin mereka tidak mau makan karena masalah psikis, karena anak yang sehat dan normal tidak akan membiarkan dirinya kelaparan.

Ada beberapa hal yang menyebabkan anak tidak mau makan, misalnya :

  • belum terampil mengolah makanan di mulutnya
  • tekstur makanan yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangannya
  • suasana makan yang kurang menyenangkan
  • trauma dengan acara makan
  • bosan dengan menu makan atau cara penyajiannya

Beberapa Gejala Anak Sulit Makan

Mengeluarkan makanan kembali dengan lidahnya

Hal ini biasanya dilakukan oleh anak umur 6 bulan ke atas yang baru belajar makan, kemungkinan disebabkan organ-organ mulutnya belum terampil mengolah makanan, mereka merasa aneh dengan makanan yang baru baginya. Bagi orang tua sebaiknya tekstur makanannya diperlembut dan tetap sabar menyuapi.

Menyemburkan makanan

Hal ini terjadi karena anak sedang mengeksplorasi organ-organ dalam mulutnya. Jika usia anak 8 bulan ke atas, mungkin karena makanannya terlalu cair. Jika orang tua mengalami hal ini sebaiknya tekstur makanannya sedikit dikentalkan agar tidak disemburkan.

Mengulum di mulut dalam waktu lama

Anda bisa merangsang anak agar lebih cepat mengunyah dengan mempertahankan kehangatan makanan. Bisa dengan menyajikannya dalam mangkuk lebih besar berisi air panas/hangat. Atau membagi porsinya menjadi 2, dimana setengah porsi dihidangkan sambil setengah porsi yang lainnya tetap dihangatkan.

Untuk anak 1 tahun ke atas dapat ditambahkan lauk yang sedikit renyah seperti tempe goreng, nugget, perkedel jagung atau mungkin sekedar bawang goreng agar anak terpacu untuk lebih giat mengunyah makanan dalam mulutnya.

Menutup mulut

Biasanya ini terjadi pada anak usia 10 bulan hingga 2 tahun. Kemungkinan penyebabnya adalah keinginan untuk protes.

Tips bagi orang tua adalah cari tahu keinginan anak. Coba turuti jika memungkinkan atau jelaskan alasan jika memang keinginannya tidak dapat dipenuhi. Dengan bahasa kasih dan konsistensi, maka masa ini bisa dilalui dengan baik.

Pilih-pilih makanan

Anda bisa mengolah makanan yang tidak disukainya dalam bentuk yang menarik, bentuk yang lembut hingga dapat disamarkan diantara bahan makanan yang lain, atau Anda gabungkan dengan makanan favoritnya.

Selain itu, makanlah makanan yang tidak disukainya itu di hadapannya dengan perasaan gembira dan tunjukkan ekspresi betapa nikmatnya apa yang Anda makan. Lama-lama, si kecil bisa tertarik untuk mencobanya.

Yang perlu juga diperhatikan bagi orang tua adalah jangan memberi camilan pada anak menjelang jam makan agar anak tidak merasa sudah kenyang. Sebaiknya Atur makanan selingan atau cemilan jauh sebelum waktu  makan tiba. Beri juga cemilan yang sehat spt potongan buah, sayur  kukus, keju, yoghurt, es krim, cake buatan ibu.

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net

Tukar Link ?
Copy kode dibawah ini, kemudian paste di blog Anda:


Tampilan akan seperti ini :

Langganan Artikel
Enter your Email


Preview | Powered by FeedBlitz
Menu Anak

Copyright © 2008 - 2017 NursingBegin.com.