Archive for the ‘Tips Sehat’ Category
Tips Sehat Bagi Penderita Kencing Manis
Penyakit Kencing Manis (Diabetes)
Penyakit Kencing Manis merupakan kelainan dalam pengolahan gula oleh tubuh yang disebabkan oleh adanya kekurangan hormon insulin.
Penyakit ini harus diobati dan diawasi dengan baik agar Anda dapat melakukan pekerjaan sebagaimana biasa, rahasianya terletak pada :
- Pengetian tentang penyakit.
- Kepatuhan akan anjuran / petunjuk dokter.
- Pengobatan yang tepat dan benar.
- Janganlah mencoba sendiri untuk menanggulangi penyakit ini.
Hal yang harus dilakukan oleh penderita Kencing Manis (Diabetes)
- Melakukan aktivitas yang dipandang sehat.
- Olah raga yang cukup ( bila perlu konsultasi dengan dokter terlebih dahulu ).
- Istirahat yang cukup.
- Jangan merokok.
- Makan dan minum sesuai anjuran dokter.
- Bila terkena suatu penyakit lainnya, sebaiknya berobat ke dokter.
- Seorang penderita diabetes wanita harus minta petunjuk dokter tentang perawatan dirinya apabila dia hamil.
Mengapa Diabetes Harus Diobati
Penyakit ini perlu pengobatan karena dapat menimbulkan komplikasi yang serius, seperti:
- Kerusakan pada mata.
- Timbulnya penyakit ginjal.
- Gangguan darah ke jantung.
- Lumpuh / gangguan tubuh sebelah bawah.
- Hilangnya kesadaran.
Pengobatan yang baik dapat mengurangi bahkan menghentikan terjadinya sebagian besar dari komplikasi-komplikasi tersebut.
Dasar Pengobatan Kencing Manis (Diabetes)
- Kepatuhan terhadap diet (pengaturan makanan)
- Olah raga.
- Obat-obatan anti diabetik.
- Pemantauan mandiri kadar gula darah atau urine.
Pengaturan Makanan Untuk Penderita Diabetes
Tujuannya:
- Menurunkan kadar gula.
- Mengusahakan agar berat badan mencapai batas normal.
Hal-hal yang perlu diperhatikan tentang makanan adalah:
- Makanlah secara teratur, sesuai dengan porsi dan waktu yang telah ditentukan oleh dokter atau ahli gizi.
- Batasilah makanan sumber tenaga, seperti nasi, lontong, kentang, sagu, mie, bihun, makaroni dan makanan lain yang terbuat dari tepung-tepungan.
- Hindari gula murni dan makanan yang diolah dengan gula mursi, seperti gula pasir, gula jawa, gula-gula, coklat, dodol, selai, madu, sirup, limun, susu kental manis, buah dalam kaleng, dendeng manis dan lain sebagainya.
- Makanlah banyak sayuran dan buah-buahan.
- Makanan pada umumnya dapat dimasak bersama makanan keluarga lain asal mengenal porsinya masing-masing.
Daftar Makanan Yang Dikomsumsi:
Golongan I: bahan makanan sumber hidrat arang
¾ gelas nasi = 100 gr, dapat ditukar dengan:
- 2 biji kentang sedang (200 gr).
- 1 potong singkong sedang ( 100 gr )
- 4 iris roti putih ( 80 gr ).
- 8 sendok makan tepung terigu ( 50 gr).
- 1 bungkus mie kering.
Golongan II: bahan makanan sumber protein hewani
1 potong sedang daging sapi (50gr) dapat ditukan dengan:
- 1 potong daging ayam (50gr).
- 1 butir telur ayam kampung (60gr).
- ¼ gelas udang basah (50gr).
Golongan III: bahan makanan sumber protein nabati.
2 potong tempe sedang (50gr) dapat ditukar dengan:
- 2 1/5 sendok makan kacang hijau (25gr).
- 2 sendok makan kacang tanah terkupas (20gr).
Golongan IV: sayuran
Sayuran ini dibagi dalam dua kelompok:
- Kelompok A (dapat dimakan secara bebas) terdiri dari kangkung, mentimun, tomat, kool , kembang kol, lobak, pepaya muda, sawi selada, tauge, terong.
- Kelompok B (dimakan rata-rata 2 gelas/masing-masing 100gr per hari) terdiri dari bayam, buncis, kacang panjang, wortel, jagung muda, labu siam, daun singkong.
Golongan V: buah-buahan.
1 potong pepaya (100gr) dapat ditukar dengan:
½ buah apel (75 gr).
10 biji anggur (75gr).
2 buah jeruk manis (100gr).
½ buah mangga (50gr).
1 buah pisang ambon.
Golongan VI: susu
1gelas susu segar (200 cc) dapat ditukar dengan 3 sendok makan susu bubuk (25 gr).
Olah Raga
- Latihan olah raga baik bagi penderita diabetes: olah raga aerobik yaitu: jalan kaki, joging (lari pelan-pelan), lari, bersepeda di tempat, renang, tenis, golf (tanpa mobil), dll.
- Latihan olah raga ini harus dijalankan secara bertahap teratur (seminggu 4-5 kali).
- Sebelum berlatih olah raga periksa dulu kemampuan anda / konsul dengan dokter.
- Perlu diperhatikan bagi yang berumur 40 tahun ke atas jika mulai dengan olah raga sebaiknya dua minggu pertama, latihan jalan dulu. Setelah dua minggu baru boleh latihan jogging atau lari.
Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Pengobatan:
- Pakailah obat seperti yang disarankan dokter, jangan mencoba memutuskan sendiri sesuatu mengenai pengobatan.
- Bila penderita lupa makan, makan hanya sedikit atau bekerja terlalu berat maka ia akan merasa lemas dan berkeringat dingin, kadang-kadang pingsan, gugup, atau merasa lapar. Tindakannya: segera minum air gula dan berbaring sampai keadaannya membaik, kemudian kontrol ke dokter.
- Sebaiknya penderita selalu membawa satu atau dua butir gula-gula sebagai persiapan bagi keadaan seperti ini.
- Bila penderita lupa minum obat, mengalami infeksi berat atau makan terlalu banyak maka kadar gula bisa naik secara tidak terkontrol. Gejalanya: haus, hilang nafsu makan, mual, muntah, pernafasan menjadi dalam. Ini berarti keadaan gawat. Segera hubungi dokter.
- Bila anda ragu atau merasa ada kelainan dalam tubuh segera hubungi dokter.
Healthy Skin Whitening Tips
Every person primarily women would want to have a white skin, healthy glow. Due to having a beautiful face, white, smooth, healthy glow without the wrinkles will improve their confidence. Moreover, the still single want ogled the opposite sex.
To get it sometimes they do a variety of ways. Dabbled in a variety of facial cosmetic whitening is very risky, especially cosmetics contain harmful ingredients that do not pass the medical test, but can make the skin irritation, redness, itching, swelling, even at risk for skin cancer.
Whiten Skin With Traditional Recipes
To avoid the things that are not desirable, it is better if we use natural ingredients straight from nature, but more secure, less expensive course. Here are some tips that you can follow to help whiten the skin so always beautiful to look at but still healthy.
Yam
No denying that yam can be used to whiten skin and remove the black spots on the face. Yam can be used as a mask to your face. Yam mask at night before bed until the next day cleaning.
Lemon
Aside from being a fishy odor remover and food flavoring, lemon widely used for health and beauty. Lemon juice can shrink the pores and removes excess oil on the face. How: meat lime applied to the face, especially the large visible pores around the nose or cheek example. In addition to shrink pores and lime juice can also be used to soften and whiten the skin.
Tomatoes
In addition as a food ingredient, tomatoes can be used for beauty. Tomatoes serves to soften and smooth skin. Use the tomatoes as scrubbing once a week so the dead skin cells are lifted, and use as a mask to accelerate the turnover of new skin cells.
Avocado
As a food rich in vitamins and minerals are also used for a lot of avocado beauty. Alpukan used as a moisturizer because it contains a humectant. The trick: search the inside of the avocado skin, gently rub into your face and leave for 15 minutes. Then the face washed with cold water. This is done at night before bed.
Eat Nutritious Food
Besides using fruits as a mask or scrub for whitening and keep skin healthy, it is also necessary in the treatment of eating nutrient rich with vitamins and minerals. For example:
• Fruits that contain lots of vitamin C increases the production of collagen and elastin, serve to reduce wrinkles and prevent skin aging such as citrus fruits, tomatoes.
• Fruits that contain lots of vitamin E that are useful to inhibit the aging process and cleanse the skin of black spots, acne scars.
• Vegetables that contain lots of beta-carotene and antioxidants to prevent cell damage and prevent cancer, such as spinach, carrots, broccoli.
• Fish that contains Omega-3 fatty acid which is the main recipe for a brilliant fair skin and protects skin from sun exposure and pollution.
If you move outside of the room you should use a hat or long sleeves to avoid skin is not exposed to direct sunlight can cause skin damage and increase skin pigment. The more the content of the pigment in the skin, the skin will appear more black.
After completion of the move, immediately wash your face using facial soap that is suitable for your skin type to reduce the impurities in the face. Good luck!
Cegah DM Dengan Mengenali Faktor Resiko
Diantara penyakit degeneratif, diabetes mellitus (DM) adalah salah satu di antara penyakit tidak menular yang akan meningkat jumlahnya di masa datang. WHO menaksir bahwa lebih dari 180 juta orang di seluruh dunia mengidap penyakit diabetes melitus. Diperkirakan 1,1 juta orang-orang meninggal akibat diabetes pada tahun 2005.
Hampir 80% kematian diabetes terjadi di negara-negara yang mengalami peningkatan kemakmuran akibat dari peningkatan pendapatan perkapita dan perubahan gaya hidup terutama di kota-kota besar menyebabkan peningkatan prevalensi penyakit diabetes melitus. Hampir separuh kematian diabetes terjadi pada penduduk yang berusia di bawah 70 tahun, 55% diantaranya adalah wanita.
Di Indonesia peningkatan jumlah penderita diabetes melitus bahkan lebih cepat dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya. WHO menyimpulkan bahwa di Indonesia, penderita diabetes melitus menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah dengan prevalensi 8,6% dari total penduduk, sedangkan urutan diatasnya India, China dan Amerika Serikat. Beberapa penelitian di Bali, 2005 menunjukkan bahwa insiden DM di masyarakat mencapai lebih dari 13,5% dan diperkirakan jumlah ini akan terus meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup dan pola makan masyarakat. Temuan tersebut semakin membuktikan bahwa penyakit diabetes mellitus merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat serius (Depkes.go.id, 2005).
Terdapat dua jenis penyakit diabetes melitus yaitu diabetes melitus tipe 1 (insulin-dependent diabetes mellitus) yaitu kondisi defisiensi produksi insulin oleh pankreas. Kondisi ini hanya bisa diobati dengan pemberian insulin. Diabetes melitus tipe-2 (non-insulin-dependent diabetes mellitus) yang terjadi akibat ketidakmampuan tubuh untuk berespons dengan wajar terhadap aktivitas insulin yang dihasilkan pankreas (resistensi insulin), sehingga tidak tercapai kadar glukosa yang normal dalam darah. Diabetes melitus tipe-2 ini lebih banyak ditemukan dan diperkirakan meliputi 90% dari semua kasus diabetes di seluruh dunia (Depkes.go.id, 2005).
Diabetes tidak bisa disembuhkan, namun bisa dikendalikan, dengan rajin mengontrol kadar gula darah. Kontrol yang ketat ini bisa mencegah terjadinya komplikasi pada pasien diabetes. Penyakit diabetes melitus dapat dihindari apabila setiap individu melakukan tindakan pencegahan, antara lain mengetahui faktor-faktor risiko yang dapat menimbulkan penyakit diabetes yaitu faktor risiko yang dapat dimodifikasi, diantaranya obesitas, merokok, stres, hipertensi dan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi, yaitu usia di atas 45 tahun keatas, faktor keturunan, ras, riwayat menderita diabetes gestasional, pernah melahirkan bayi dengan berat lebih dari 4,5 kg dan jenis kelamin.
Namun dalam hal ini, khususnya di Indonesia, faktor risiko terbesar penyebab diabetes adalah obesitas (Depkes.go.id, 2005). Analisis yang dilakukan di Jakarta melihat adanya korelasi yang bermakna antara obesitas dengan kadar gula darah. Obesitas secara tersendiri tidak sampai menimbulkan diabetes, walaupun jelas dapat menaikkan kadar gula darah. Mekanisme hubungan antara obesitas sebagai faktor risiko diabetes, sampai saat ini masih belum jelas benar. Yang sudah diketahui adalah bahwa diabetes melitus mempunyai etiologi multifaktorial dengan obesitas sebagai salah satu faktornya (Sarwono, 1996).
Faktor risiko kedua yang dapat dimodifikasi yaitu merokok. Merokok merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena merokok dapat menimbulkan kematian. Bila pada tahun 2000 hampir 4 juta orang meninggal akibat merokok, maka pada tahun 2010 akan meningkat menjadi 7 dari 10 orang yang akan meninggal karena merokok. Di Indonesia, 70% penduduknya adalah perokok aktif. Dilihat dari sisi rumah tangga, 57 persennya memiliki anggota yang merokok yang hampir semuanya merokok di dalam rumah ketika bersama anggota keluarga lainnya. Artinya, hampir semua orang di Indonesia ini merupakan perokok pasif (Depkes.go.id, 2005).
Di negara maju kebisaaan merokok semakin menurun, sebaliknya di negara berkembang cenderung meningkat. Hal ini menurut WHO berkaitan dengan intelektualitas suatu masyarakat yang pada hakekatnya mendasari pengetahuan tentang risiko merokok bagi kesehatan. Menurut penelitian, di Indonesia pun terdapat kecendrungan meningkatnya jumlah perokok terutama pada kaum remaja. Walaupun telah banyak dokumentasi mengenai akibat buruk dari merokok dan kematian yang disebabkannya, sampai saat ini prevalensi merokok di Indonesia makin tinggi, umur mulai merokok makin muda, dan perokok yang berasal dari golongan ekonomi kurang mampu makin banyak. Hal tersebut disebabkan adanya pengaruh adiksi dari nikotin, disamping pengetahuan mengenai akibat merokok pada kesehatan masih kurang, serta dampak merokok tidak langsung dirasakan, akan tetapi setelah jangka waktu yang cukup lama.
Faktor risiko ketiga yang dapat dimodifikasi yaitu stres. Stres memang faktor yang dapat membuat seseorang menjadi rentan dan lemah, bukan hanya secara mental tetapi juga fisik. Penelitian terbaru membuktikan komponen kecemasan, depresi dan gangguan tidur malam hari adalah faktor pemicu terjadinya penyakit diabetes khususnya di kalangan pria. Para ahli dari Karolinska Institute Swedia menemukan, pria yang memiliki tingkat stres psikologisnya tinggi tercatat memiliki risiko dua kali lipat menderita diabetes tipe-2 dibandingkan mereka yang tingkat stres psikologisnya rendah.
Seperti yang dimuat dalam jurnal Diabetic Medicine pria dengan tingkat stres psikologisnya paling tinggi tercatat hingga 2,2 kali lipat memiliki kemungkinan atau risiko mengidap diabetes daripada yang tingkatnya rendah. Analisis lebih mendalam menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak terpengaruhi oleh faktor lain seperti usia, indeks masa tubuh, riwayat diabetes dalam keluarga, merokok, aktivitas fisik dan latar belakang sosial-ekonomi (Kompas.com, 2008). Dalam penelitian lainnya juga telah disimpulkan bahwa sekitar 30% pasien dengan DM mempunyai riwayat depresi. Data yang bermakna telah menunjukkan adanya hubungan antara depresi dengan hiperglikemia pada DM tipe 1 dan tipe 2 (kalbe.co.id, 2008).
Faktor keempat adalah hipertensi. Di Amerika telah meneliti hubungan antara tekanan darah dengan diabetes tipe 2 dan menemukan bahwa wanita yang memiliki tekanan darah tinggi berisiko 3 kali terkena diabetes dibandingkan dengan wanita yang memiliki tekanan darah rendah. Dari beberapa studi ditemukan adanya hubungan yang erat antara hipertensi dengan diabetes tipe 2, namun hanya ada sedikit infomasi mengenai hubungan antara tingkat tekanan darah dan diabetes tipe 2 yang terjadi sesudahnya. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa wanita yang memiliki hipertensi, berisiko 3 kali lipat menjadi diabetes dibandingkan dengan wanita yang memiliki tekanan darah optimal (Escardio, 2007).
Di Indonesia, belum ada data nasional lengkap untuk prevalensi hipertensi. Dari Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995, prevalensi hipertensi di Indonesia adalah 8.3%. Survei faktor risiko penyakit kardiovaskular (PKV) oleh proyek WHO di Jakarta, menunjukkan angka prevalensi hipertensi dengan tekanan darah 160/90 masing-masing pada pria adalah 13,6% (1988), 16,5% (1993), dan 12,1% (2000). Pada wanita, angka prevalensi mencapai 16% (1988), 17% (1993), dan 12,2% (2000). Survei di pedesaan Bali (2004) menemukan prevalensi pria sebesar 46,2% dan 53,9% pada wanita (depkes.go.id, 2007)
Diabetes adalah masalah kesehatan yang harus ditanggulangi dengan melibatkan berbagai pihak, baik secara medis maupun non medis, baik oleh pemerintah maupun masyarakat sesuai dengan porsinya masing-masing. Dengan adanya upaya penyebarluasan informasi tentang diabetes, dapat membantu para penderita untuk hidup nyaman dan produktif (Depkes.go.id, 2005).
Untuk lebih mengoptimalkan lagi usaha pencegahan terhadap penyakit diabetes mellitus maka sangat penting untuk menganalisis faktor risiko obesitas dan merokok, stres dan hipertensi dalam hubungannya dengan diabetes mellitus tipe-2 sehingga dapat diberikan anjuran kepada masyarakat untuk menghindari faktor tersebut, dan kemungkinan terjadinya penyakit diabetes mellitus dapat diperkecil. Tindakan pencegahan yang dimaksud meliputi tindakan pencegahan secara primer maupun sekunder.
Pencegahan primer adalah pencegahan terjadinya diabetes melitus pada individu yang berisiko melalui modifikasi gaya hidup (pola makan sesuai, aktivitas fisik, penurunan berat badan) dengan didukung program edukasi yang berkelanjutan. Meskipun program ini tidak mudah, tetapi sangat menghemat biaya. Oleh karena itu dianjurkan untuk dilakukan di negara-negara dengan sumber daya terbatas. Sedangkan pencegahan sekunder, merupakan tindakan pencegahan terjadinya komplikasi akut maupun jangka panjang. Programnya meliputi pemeriksaan dan pengobatan tekanan darah, perawatan kaki diabetes, pemeriksaan mata secara rutin, pemeriksaan protein dalam urine program menurunkan atau menghentikan kebisaaan merokok (Depkes.go.id, 2007).
Selain dokter, peran perawat sangat penting untuk mengoptimalkan pencegahan primer maupun sekunder bagi penderita diabetes maupun orang yang berisiko terkena penyakit diabetes. Hal ini dapat dilakukan melalui penyuluhan tentang penyakit diabetes mellitus dan faktor-faktor risiko yang dapat menimbulkan penyakit diabetes.





