PostHeaderIcon Laporan Pendahuluan Pada Pasien Dengan Cerebral Palsy


 

1. Definisi Cerebral Palsy

Cerebral palsy merupakan salah satu kelainan motorik yang banyak diketemukan pada anak-anak. Nama lainnya adalah “static encephalopathies of childhood” (Soetjingsih, 1995).

Cerebral palsy adalah suatu gangguan atau kelainan yang terjadi pada suatu kurun waktu dalam perkembangan anak, mengenai sel-sel motorik di dalam susunan saraf pusat, bersifat kronik dan tidak progresif akibat kelainan atau cacat pada jaringan otak yang belum selesai pertumbuhannya. Walaupun lesi serebral bersifat statis dan tidak progresif, tetapi perkem- bangan tanda-tanda neuron perifer akan berubah dengan bertambahnya umur anak. Diketemukan hipotoni, gerakan yang berlebihan atau gangguan control motorik (Stephen BS, dkk, 2002).

 

2. Etiologi Cerebral Palsy

Penyebab dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

a. Pranatal

Infeksi terjadi dalam masa kandungan, menyebabkan kelainan pada janin, misalnya oleh toksoplasmosis, rubela dan sitomegalovirus. Kelainan yang menyolok biasanya gangguan pergerakan dan retardasi mental. Anoxia dalam kandungan, terkena radiasi sinar-X dan keracunan kehamilan dapat menimbulkan “cerebral palsy”

b. Perinatal

1) Anoksia / hipoksia

Penyebab yang terbanyak ditemukan dalam masa perinatal ialah brain injury. Kelainan inilah yang menyebabkan anoksia. Hal ini terdapat pada keadaan persentase bayi abnormal, disproporsi sefalo-pelviks, partus lama, plasenta previa, infeksi plasenta, partus menggunakan bantuan instrumen tertentu dan lahir dengan sectio caesar.

2) Perdarahan otak

Perdarahan dan anoksia dapat terjadi bersama-sama, sehingga sukar membedakannya, misalnya perdarahan yang mengelilingi batang otak, mengganggu pusat pernafasan dan peredaran darah, sehingga terjadi anoksia. Perdarahan dapat terjadi di ruang subaraknoid akan menyebabkan penyumbatan CSS, sehingga mengakibatkan hidrocefalus. Perdarahan di subdural dapat menekan korteks serebri, sehingga timbul kelumpuhan spastis.

3) Prematuritas

Bayi kurang bulan mempunyai kemungkinan menderita perdarahan otak lebih banyak dibandingkan bayi cukup bulan, karena pembuluh darah, enzim, faktor pembekuan darah dan lain-lain masih belum sempurna.

4) Ikterus

Ikterus pada masa neonatus dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak yang kekal akibat masuknya bilirubin ke ganglia basal, misalnya pada kelainan inkompatibilitas golongan darah.

5) Meningitis purulenta

Meningitis purulenta pada masa bayi bila terlambat atau tidak tepat pengobatannya akan mengakibatkan gejala sisa berupa “cerebral palsy”

c. Pascanatal

Setiap kerusakan pada jaringan otak yang mengganggu perkembangan dapat menyebabkan „cerebral palsy?. Misalnya pada trauma kapitis, meningitis ensefalitis dan luka parut

 

3. Tanda dan Gejala Cerebral Palsy

Gambaran klinik cerebral palsy tergantung dari bagian dan luasnya jaringan otak yang mengalami kerusakan.

a. Paralisis

Terdapat peninggian tonus otot dan refleks yang disertai dengan klonus dan refleks Babinski yang positif. Tonus otot yang meninggi itu menetap dan tidak hilang meskipun penderita dalam keadaan tidur. Peninggian tonus ini tidak sama derajatnya pada suatu gabungan otot, karena itu tampak sikap yang khas dengan kecendrungan terjadi kontraktur. Golongan spastitis ini meliputi 2/3 – ¾ penderita „cerebral palsy? Bentuk kelumpuhan spastitis tergantung kepada letak dan besarnya kerusakan, yaitu:

1) Monoplegia/monoparesis

Kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi salah satu anggota gerak lebih hebat dari yang lainnya

2) Hemiplegia/diparesis

Kelumpuhan lengan dan tungkai dipihak yang sama

3) Diplegia/diparesis

Kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi tungkai lebih hebat daripada lengan

4) tetraplegia/tetraparesis

Kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi lengan lebih atau sama hebatnya dibandingkan dengan tungkai.

b. Gerakan involunter

Dapat berbentuk atetosis, khoreoatetosis, tremor dengan tonus yang dapat bersifat flaksid, rigiditas, atau campuran.

c. Ataksia

Gangguan koordinasi ini timbul karena kerusakan serebelum. Penderita biasanya memperlihatkan tonus yang menurun (hipotoni), dan menunjukkan perkembangan motorik yang terlambat. Mulai berjalan sangat lambat, dan semua pergerakan serba canggung.

d. Kejang

Dapat bersifat umum atau fokal.

e. Gangguan perkembangan mental

Retardasi mental ditemukan kira-kira pada 1/3 dari anak dengan cerebral palsy terutama pada grup tetraparesis, diparesis spastik dan ataksia. Cerebral palsy yang disertai dengan retardasi mental pada umumnya disebabkan oleh anoksia serebri yang cukup lama, sehingga terjadi atrofi serebri yang menyeluruh. Retardasi mental masih dapat diperbaiki bila korteks serebri tidak mengalami kerusakan menyeluruh dan masih ada anggota gerak yang dapat digerakkan secara volunter. Dengan dikembangkannya gerakan-gerakan tangkas oleh anggota gerak, perkembangan mental akan dapat dipengaruhi secara positif.

f. Mungkin didapat juga gangguan penglihatan (misalnya: hemianopsia, strabismus, atau kelainan refraksi), gangguan bicara, gangguan sensibilitas.

g. Problem emosional terutama pada saat remaja

4. Klasifikasi Cerebral Palsy

Klasifikasi berdasarkan gambaran klinis dan derajat kemampuan fungsionil. Berdasarkan gejala klinis maka pembagian cerebral palsy adalah sebagai berikut:

a. Tipe spastis atau piramidal.

Pada tipe ini gejala yang hampir selalu ada adalah :

– Hipertoni (fenomena pisau lipat).

– Hiperrefleksi yang djsertai klonus.

– Kecenderungan timbul kontraktur.

– Refleks patologis.

Secara topografi distribusi tipe ini adalah sebagai berikut:

1) Hemiplegia apabila mengenai anggota gerak sisi yang sama.

2) Spastik diplegia apabila mengenai keempat anggota gerak, anggota gerak bawah lebih berat.

3) Kuadriplegi, mengenai keempat anggota gerak, anggota gerak atas sedikit lebih berat.

4) Monoplegi, bila hanya satu anggota gerak.

5) Triplegi apabila mengenai satu anggota gerak atas dan dua anggota gerak bawah, biasanya merupakan varian dan kuadriplegi.

b. Tipe ekstrapiramidal

Akan berpengaruh pada bentuk tubuh, gerakan involunter, seperti atetosis, distonia, ataksia. Tipe ini sering disertai gangguan emosional dan retardasi mental. Di samping itu juga dijumpai gejala hipertoni, hiperrefleksi ringan, jarang sampai timbul klonus. Pada tipe ini kontraktur jarang ditemukan, apabila mengenai saraf otak bisa terlihat wajah yang asimetnis.

c. Tipe campuran

Gejala-gejalanya merupakan campuran kedua gejala di atas misalnya hiperrefleksi dan hipertoni disertai gerakan khorea.

Klasifikasi berdasarkan derajat kemampuan fungsional.

a. Ringan:

Penderita masih bisa melakukan pekerjaan dan aktifitas sehari- hari sehingga sama sekali tidak atau hanya sedikit sekali membutuhkan bantuan khusus.

b. Sedang:

Aktifitas sangat terbatas. Penderita membutuhkan bermacam-macam bantuan khusus atau pendidikan khusus agar dapat mengurus dirinya sendiri, dapat bergerak atau berbicara. Dengan pertolongan secara khusus, diharapkan penderita dapat mengurus diri sendiri, berjalan atau berbicara sehingga dapat bergerak, bergaul, hidup di tengah masyarakat dengan baik.

c. Berat:

Penderita sama sekali tidak bisa melakukan aktifitas fisik dan tidak mungkin dapat hidup tanpa pertolongan orang lain. Pertolongan atau pendidikan khusus yang diberikan sangat sedikit hasilnya. Sebaiknya penderita seperti ini ditampung dalam rumah perawatan khusus. Rumah perawatan khusus ini hanya untuk penderita dengan retardasi mental berat, atau yang akan menimbulkan gangguan sosial-emosional baik bagi keluarganya maupun lingkungannya.

6. Komplikasi dan Kelainan Penyerta Cerebral Palsy

a. Retardasi mental,

b. Epilepsy,

c. Kelainan visus,

d. Kelainan pendengaran,

e. Disatria,

f. Kelainan kortikol sensori,

g. Pertumbuhan ektrimitas tidak simetris,

h. Scoliosis,

i. Dismorfogenesis gigi,

j. Kontraktur sendi,

k. Deficit persepsi

7. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan mata dan pendengaran

b. Pemeriksaan cairan serebrospinalis

c. Pemeriksaan serum antibody terhadap rubella, sitomegalo virus, toksoplasmosis dan herpes simpleks

d. Foto kepala

e. CT Scan atau MRI

f. EEG, EMG dan Evoked potensialis

g. Analisa kromosom

h. Penilaian psikologi

 

8. Penatalaksanaan Secara Umum

Tidak ada terapi spesifik terhadap cerebral palsy. Terapi bersifat simtomatik, yang diharapkan akan memperbaiki kondisi pasien. Terapi yang sangat dini akan dapat mencegah atau mengurangi gejala-gejala neurologik. Untuk menentukan jenis terapi atau latihan yang diberikan dan untuk menentukan keberhasilannya maka perlu diperhatikan penggolongan cerebral palsy berdasarkan derajat kemampuan fungsionil yaitu derajat ringan, sedang dan berat. Tujuan terapi pasien cerebral palsy adalah membantu pasien dan keluarganya memperbaiki fungsi motorik dan mencegah deformitas serta penyesuaian emosional dan pendidikan sehingga penderita sedikit mungkin memerlukan pertolongan orang lain, diharapkan penderita bisa mandiri. Gizi yang baik perlu pada penderita ini. Pencatatan rutin perkembangan berat badan anak perlu dilaksanakan. Hal-hal lain yang sewajarnya perlu dilaksanakn seperti imunisasi dan lain-lain.

Obat-obatan yang diberikan tergantung pada gejala-gejala yang muncul. Misalnya untuk kejang bisa diberikan anti kejang. Untuk spastisitas bisa diberikan baclofen dan diazepam. Bila gejala berupa nigiditas bisa diberikan levodopa. Mungkin diperlukan terapi bedah ortopedi maupun bedah saraf untuk merekonstruksi terhadap deformitas yang terjadi. Fisioterapi dini dan intensif untuk mencegah kecacatan, juga penanganan psikolog atau psikiater untuk mengatasi perubahan tingkah laku pada anak yang lebih besar. Yang tidak boleh dilupakan adalah masalah pendidikan yang harus sesuai dengan tingkat kecerdasan penderita.

Occupational therapy ditujukan untuk meningkatkan kemampuan untuk menolong diri sendiri, memperbaiki kemampuan motorik halus, penderita dilatih supaya bisa mengenakan pakaian, makan, minum dan keterampilan lainnya.

Speech therapy diberikan pada anak dengan gangguan wicara bahasa, yang ditangani seorang ahli.

 

9. Diagnosis Cerebral Palsy

Memerlukan beberapa kali pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis cerebral palsy. Anamnesis yang cukup teliti diperlukan untuk menyingkirkan penyakit atau sindrom lain yang mirip dengan cerebral palsy. Pemeriksaaan motorik, sensorik dan mental perlu dilakukan secermat mungkin. Walaupun pada penyakit ini gerakan motorik dan postur badan merupakan ciri utama, tetapi tidak boleh dilupakan bahwa penderita sering juga disertai dengan gangguan bukan motorik seperti retardasi mental, kejang – kejang, gangguan psikologik dan lainnya.

Manifestasi dari gangguan motorik atau postur tubuh dapat berupa spastisitas, rigiditas, ataksia, tremor, atonik/hipotonik, tidak adanya refleks primitive (pada fase awal) atau refleks primitive yang menetap (pada fase lanjut), diskinesia (sulit melakukan gerakan volunteer). Gejala – gejala tersebut dapat timbul sendiri ataupun merupakan kombinasi dari gejala tersebut.

Bank (dikutip dari Thamrinsyam) memberikan criteria diagnostic sebagai berikut :

1. Masa neonatal

a. Depresi/asimetri dari refleks primitive (refleks Moro, rooting, sucking, tonik neck, palmar, stepping)

b. Reaksi berlebihan terhadap stimulus

c. Kejang – kejang

d. Gejala neurologik local

 

2. Masa umur < 2 bulan

a. Keterlambatan perkembangan motorik, seperti duduk atau jalan.

b. Terdapat paralysis spastik

c. Terdapat gerakan involuntary

d. Menetapnya refleks primitive

e. Keterlambtan timbulnya refleks – refleks yang lebuh tinggi, seperti refleks Landau sesudah 10 bulan, refleks parasut setelah umur 8 bulan.

 

3. Anak yang lebih besar

a. Keterlambatan “milestone” perkembangan.

b. Disfungsi dari tangan

c. Gangguan dari cara berjalan.

d. Terdapat spastisitas

e. Terdapat gerakan – gerakan yang involuntary

f. Terdapat retardasi mental

g. Kejang – kejang

h. Gangguan bicara, pendengaran, penglihatan

 

Pada umumnya diagnosis pada anak di bawah umur 6 bulan adalah sulit karena perkembangan melistone tidak banyak. Padahal diagnosis dan intervensi dini akan memberikan prognosis yang lebih baik. Jadi cara Levine lebih memudahkan menegakkan diagnosis. Kelainan motorik pada Cerebral palsi dibagi menjadi 6 kategori yaitu:

a. Pola gerak dan postur

b. Pola gerak oral

c. Strabismus

d. Tonus otot

e. Evolusi postural dan kelainan lainnya yang mudah dikenal

f. Refleks tendon, primitive dan plantar.

Kriteria ini dapat secara nyata membedakan penderita cerebral palsy dengan yang bukan. Diagnosis ditegakkan apabila terdapat 4 kelainan dari 6 kategorik motorik tersebut diatas dan diserati dengan proses penyakit yang tidak progresif.

Sedangkan Illworth membuat diagnosis berdasarkan 5 tipe yaitu:

1) Tipe spastik

a. Umur 3 bulan pertama

1. Pada masa neonatal, perhatikan gerakkan bayi apakah terdapat gerakan yang terbatas pada bayi spastik, spastik kuadriplegia akan kelihatan pada anggota gerak dan pada bayi hemiplegi satu tangannya akan terletak erat dekat badan dan terdapat gerakan asimetris.

2. Amati bentuk kepala, perhatikan ekspresi, perhatian terhadap lingkungan. Ukur lingkar kepala, bila ukurannya kecil hubungkan dengan retardasi mental.

3. Angkatlah anak dalam posisi tengkurap, dengan memegang bagian lengan. Maka tampak adanya ekstensi pada kedua kaki, gerakan yang asimetris dan kedua kaki bersilangan.

4. Angkatlah anak dalam posisi terlentang, maka kepala akan tampak terkulai, tangan dan kaki tergantung bebas tanpa adanya fleksi pada siku atau lutut. Kemudian rubah posisi anak dengan posisi duduk, maka akan tampak leher terkulai. Gerakkan anak ke kanan dan kiri, perhatikan kemampuan control kepala. Dudukkkan anak dalam posisi condong ke depan, maka anak akan segera terjatuh ke belakang oleh karena spasme dari otot erector trunkus, gluteus dan hamstring.

5. Periksa refleks – refleks primitive.

 

b. Usia 4 – 8 bulan

1. Amati kualitas dan simetrisitas gerakan anak

2. Berikan kubus/mainan, perhatikan adanya kekauan ketika anak meraih kubus tersebut.

3. Angkatlah anak dengan memegang pada setinggi dada di bawah lengan, maka kaki akan tampak ekstensi.

4. Letakkan posisi anak terlentang, lakukan tes “knee jerk”, abduksi paha, dorso fleksi sendi kaki, periksa adanya klonus, tes Oppenheim dan Gordon. Pada anak hemiplegi, akan tampak anggota gerak lebih pendekdan lebih dingin pada perabaan.

5. Perhatikan apakah terdapat tanda – tanda retardasi mental.

6. Ukur lingkar kepala

7. Tes pendengarannya

 

c. Umur 9 bulan ke atas

1. Perhatikan gejala – gejala diatas

2. Berikan anak mainan kubus, suruh anak membuat menara dari kubus tersebut, perhatikan adanya tremor atau ataksia.

3. Bila anak sedang main atau berjalan, perhatikan apakah anak berjalan dengan ujung jari, atau adanya kelalainan pada cara berjalan anak.

4. Berdirikan anak pada satu kaki, bila ada hemiplegi akan tampak jelas.

5. Perhatikan adanya retadasi mental

 

2) Tipe athetoid

Tidak mungkin untuk mendiagnosis palsi serebralis tipe athetoid sebelum gerakan athetosis itu timbul. Bentuk khas kelainan ini adalah berupa ektensi pada siku dan pronasi pada pergelangan tangan. Tonus ekstensor yang meningkat, sehingga kepala terkulai kalau anak dari tidur kemudian didudukkan.sering disertai kesulitan mengisap dan menelan. Pada minggu-minggu pertama biasanya terdapat keterlambatan dalam gerakan motorik, kadang-kadang disertai bangkitan opistotonus. Gerakan tipe ini dapat diamati kapan saja setelah anak berumur 6 bulan, tetapi tersering setelah umur 1 tahun. Dicurigai adanya kelainan ini apabila terdapat ataksia dalam meraih benda. Setelah umur satu tahun, terdapat kesulitan dalam pandangan vertical, terdapat hipoplasia enamel gigi susu dan tuli pada nada tinggi. Reaksi plantar dan “knee jerk” adalah normal, karena traktus piramidalis tidak terkena.

 

3) Tipe rigid.

Khas pada tipe ini adalah adanya rigiditas pada semua anggota gerak, tidak ditemukan tanda-tanda kelainan pada traktus piramidalis. Kelainan ini pada umumnya disertai dengan retardasi mental.

 

4) Tipe ataksia

Terdapat tanda-tanda ataksia ketika anak meraih benda, pada waktu duduk atau berjalan.

 

5) Tipe hipotonik

Merupakan bentuk yang jarang terdapat. Sering dikelirukan dengan hipotonia. Hampir semua anak dengan kelainan ini terdapat retardasi mental. Lingkar kepalanya kecil, terdapat gerakan-gerakan yang meningkat, “fit” terdapat pada sepertiga kasus. Reaksi plantar adalah ektensor dan “knee jerk” meningkat sehingga dapat menyingkirkan congenital hipotonia dan sindrom Werdnig-Hoffman.

 

10. Diagnosis Banding

– Mental subnormal

– Retardasi motorik terbatas

– Tahanan volunteer terhadap gerakan pasif

– Kelainan persendian

– Cara berjalan yang belum stabil

– Gerakan normal

– Pemendekan congenital pada gluteus maksimus, gastroknemius atau hamstring

– Kelemahan otot-otot pada miopati, hipotoni atau palsi Erb

– Lain penyebab dari gerakan involunter

– Penyakit-penyakit degeneratif pada susunan saraf

– Kelainan pada medulla spinalis

– Sindrom lain

 

11. Prognosis

Kesembuhan dalam arti regenerasi dari otak yang sesungguhnya, tidak pernah terjadi pada penderita ini. Tetapi akan terjadi perbaikan sesuai dengan tingkat maturitas otak yang sehat sebagai kompensasinya. Prognosis paling baik pada derajat fungsional ringan dan bertambah berat apabila disertai retardasi mental, bangkitan kejang, gangguan penglihatan dan pendengaran. Selain itu, spectrum ketidakmampuan individual dan tipe serta intensitas intervensi rehabilitas juga memainkan peranan yang penting. Angka kematian penyakit ini adalah 53% pada tahun pertama dan 11% meninggal pada umur 7 tahun.

 

 

Artikel Lainnya:

  1. Askep Tumor Otak
  2. Askep Preeklamsia
  3. Cara Memberi Penyuluhan
  4. Penatalaksanaan Syok Anafilaktik
  5. Penggunaan Jelly Pada Kateterisasi Urine

 

 

 

 


Leave a Reply

*

Download ASKEP

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net

Tukar Link ?
Copy kode dibawah ini, kemudian paste di blog Anda:


Tampilan akan seperti ini :

Langganan Artikel
Enter your Email


Preview | Powered by FeedBlitz
Menu Anak


Copyright © 2008 - 2017 NursingBegin.com.