PostHeaderIcon SAP Imunisasi pada Bayi

SATUAN ACARA PENYULUHAN

 

Pokok Bahasan           : Imunisasi pada Bayi

Sub Pokok Bahasan    : Menjelaskan tentang Imunisasi pada Bayi

Sasaran                          : Ibu Bayi

Tempat                          : Pelayanan Kesehatan

I. Tujuan Instruksional Umum

Setelah diberikan penyuluhan tentang imunisasi pada ibu, ibu bayi dapat   memahami pentingnya pelaksanaan imunisasi pada bayi sehingga bayi memperoleh kekebalan secara aktif.

II. Tujuan Instruksional Khusus

Setelah diberikan penyuluhan selama 15 menit, ibu bayi dapat :

  1. Memahami pengertian, tujuan, macam-macam, tempat dan jadwal Imunisasi.
  2. Memahami efek samping dan penanganan terhadap efek samping dari imunisasi.

III. Materi

  1. Pengertian, tujuan, macam-macam, tempat dan jadwal Imunisasi.
  2. Memahami efek samping dan penanganan terhadap efek samping dari Imunisasi

IV. Proses Belajar Mengajar

  1. Metode :
  1. Ceramah
  2. Tanya Jawab

 

MATERI :

IMUNISASI PADA BAYI

A. PENGERTIAN IMUNISASI

          Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin (zat kekebalan) ke dalam tubuh untuk mencegah terhadap penyakit tertentu.

B. TUJUAN IMUNISASI

Diharapkan anak menjadi kebal terhadap penyakit sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

C. MACAM-MACAM IMUNISASI

Di negara kita ini ada beberapa jenis imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah (Imunisasi Dasar) dan ada juga yang hanya dianjurkan. Imunisasi wajib di Indonesia ada 5 macam, yaitu BCG, DPT, polio, campak dan HBV.

  1. Imunisasi BCG

Imunisasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC). Vaksin BCG SAP Imunisasi pada Bayidiberikan 1 kali pada rentang umur 0-2 bulan. Efek samping yang biasa terjadi adalah pembengkakan dan kemerahan di sekitar lokasi suntikan. Sesudah mendapat BCG, seseorang anak masih dapat menderita infeksi tuberculosis primer, namun anak itu tidak akan mendapat komplikasi berat. Hal ini merupakan keuntungan terbesar dari vaksinasi BCG.

  1. Imunisasi DPT

Imunisasi DPT adalah imunisasi  yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit difteri, pertusis dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan. Pertusis (batuk rejan) adalah infeksi bakteri pada saluran pernafasan yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap yang berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan anak sulit bernafas, sulit makan atau minum. Tetanus adalah infeksi bakteri yang sering menyebabkan kaku pada rahang serta kadang menimbulkan kejang. Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat anak berumur 2 bulan (DPT I), 3 bulan (DPT II) dan 4 bulan (DPT III), selang waktu  minimal 4 minggu. Efek samping yang biasanya terjadi berupa demam ringan, kemerahan dan pembengkaan pada lokasi suntikan.

  1. Imunisasi Polio

Imunisasi polio memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomyelitis. Polio bisa menyebabkan nyeri otot dan kelumpuhan serta dapat juga menyebabkan kematian. Imunisasi dasar polio diberikan dengan dosis 2 tetes setiap pemberian yaitu pada anak umur 0 bulan (polio 0),  2 bulan (polio I), 3 bulan (polio II), 4 bulan (polio III) dengan interval tidak kurang dari 4 minggu. Vaksin polio oral ini merupakan vaksin yang paling aman karena tidak ditemukan efek samping dari pemberian vaksin ini.

  1. Imunisasi Campak

Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak. Imunisasi campak diberikan sebanyak 2 kali. Pertama, pada saat anak berumur 9 bulan. Imunisasi Campak ulangan atau booster diberikan pada umur 5-7 tahun. Campak pertama  diperlukan untuk menimbulkan  respon  kekebalan, sedangkan campak kedua diperlukan untuk meningkatkan kekuatan antibodi sampai pada tingkat yang tertinggi. Efek samping vaksinasi campak bisa menimbulkan panas dan ruam setelah masa inkubasi (1 – 2 minggu setelah vaksinasi).

  1. Imunisasi Hepatitis B (HBV)

Hepatitis B adalah suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan kematian. Imunisasi HBV hanya memberikan kekebalan terhadap hepatitis B tidak dengan penyakit hepatitis lain. Imunisasi ini diberikan sebanyak 4 kali. Suntikan HBV0 diberikan pada 0-7 hari setelah anak lahir, HBV1 diberikan pada umur 1 bulan sedangkan HBV2 diberikan pada usia 2 bulan, HBV3 diberikan pada umur 3 bulan dan HBV4 diberikan pada usia 4 bulan. Efek samping adalah rasa sakit, kemerahan dan pembengkaan di sekitar tempat penyuntikan seperti yang terlihat pada vaksin DPT. Reaksi biasanya bersifat ringan dan berkurang dalam beberapa hari setelah vaksinasi.

D. Penanganan Apabila Ada Efek Samping

Secara umum efek samping dari pemberian imunisasi  bisa sembuh dengan sendirinya seperti pemberian vaksin BCG yang mempunyai efek samping berupa luka pada tempat suntikan. Luka itu tidak perlu pengobatan dan akan sembuh secara sendirinya. Selain itu efek samping dari pemberian imunisasi dapat berupa demam, hal ini bisa diatasi dengan memberikan kompres air hangat untuk menurunkan suhu tubuhnya. Apabila sakit berlanjut dan ada gejala-gejala yang memperlihatkan keadaan yang semakin parah maka pasien disarankan untuk memeriksakan diri ketempat  tempat layanan kesehatan.

E. TEMPAT PELAYANAN IMUNISASI

Fasilitas kesehatan yang menyediakan tempat pelayanan imunisasi adalah rumah sakit baik pemerintah  maupun swasta, puskesmas, posyandu, bidan praktek swasta dan dokter praktek swasta.

F. JADWAL IMUNISASI

PostHeaderIcon Instruksi Kerja Mesin Sterilisasi BELI MED

INSTRUKSI KERJA MESIN STERILISASI BELI MED

 

PENGERTIAN

Instruksi Kerja Mesin Sterilisasi Beli Med adalah langkah – langkah yang harus diikuti dalam melaksanakan kegiatan pengoperasian Mesin Sterilisasi Beli Med berdasarkan persyaratan dan urutan kerja yang harus dipenuhi.

Instruksi Kerja Mesin Sterilisasi BELI MEDTUJUAN

  1. Agar pengoperasian alat dilakukan secara benar.
  2. Agar diperoleh hasil tindakan yang baik.
  3. Agar operator terhindar dari bahaya yang ditimbulkan oleh kesalahan pengoperasian.

KEBIJAKAN

Agar peralatan dapat berfungsi dengan baik.

OPERASIONAL

  1. Buka pintu Mesin Sterilisasi Beli Med.
  2. Hidupkan saklar berwarna hitam di depan mesin.
  3. Tutup kembali pintu dengan mesin.
  4. Tunggu sampai display padam dan lampu ON/OFF menyala.
  5. Hidupkan mesin dengan cara menyentuh tombol ON/OFF pada display control.
  6. Tunggu sampai display control menampilkan program.
  7. Masuk ke “MENU” dengan menyentuh tombol “MENU”.
  8. Tekan tombol LOG ON.
  9. Masukan barang yang akan disteril
  10. Tekan tanda Rubber 121ºC (untuk linen).
  11. Tekan tanda Rubber 134ºC (untuk instrumen).
  12. Tekan tanda Rubber 134ºC (untuk Falorik Pack).
  13. Tekan OK muncul lampu di depan mesin ditunggu 1 (satu) jam mesin akan berbunyi, tandanya sudah habis steril.
  14. Barang yang sudah steril dikeluarkan.

UNIT TERKAIT

CSSD

PostHeaderIcon Terapi Komplementer Pasien Dengan NAPZA

TERAPI KOMPLEMENTER

PASIEN DENGAN NAPZA

 

A. PENDAHULUAN

Penyalahgunaan NAPZA di Indonesia semakin hari semakin memprihatinkan. Berdasarkan data-data yang diperoleh dari Kepolisian menunjukkan peningkatan baik kualitas dan kuantitasnya yang cukup signifikan setiap tahunnya. Menurut Badan Narkotika Nasional (BNN) angka resmi penyalahgunaan NAPZA adalah 3,2 juta orang dari 220 juta penduduk Indonesia. Untuk itu pemerintah Indonesia telah melakukan rangkaian tindakan pencegahan agar dapat menyelamatkan generasi bangsa dari cengkeraman NAPZA.

Hal ini telah banyak menimbulkan korban terutama anak-anak muda yang termasuk usia produktif. Kasus ini bukan hanya berdampak negatif terhadap diri pengguna, akan tetapi lebih luas lagi berdampak negatif terhadap kehidupan keluarga dan masyarakat, bahkan mengancam dan membahayakan keamanan dan ketertiban di negara kita.

Besarnya masalah akibat penyalahgunaan NAPZA ini, pasti perlu mendapat penanganan yang serius dari semua pihak. Masalah pemulihan penyalahgunaan NAPZA bukanlah sesuatu yang mudah, melainkan merupakan suatu proses perjuangan panjang yang memerlukan strategi dan pelaksanaan secara terarah dan tepat. Serangkaian program rehabilitasi NAPZA menjadi salah satu langkah yang serius dalam penanganan penyalahgunaan NAPZA. Sesuai pasal 37 ayat 1 UU No. 5/1997 tentang Psikotropika yang berbunyi bahwa pengguna psikotropika yang menderita sindrom ketergantungan berkewajiban ikut serta dalam pengobatan atau perawatan, serta pasal 45 UU No. 22/1997 tentang Narkotika yang berbunyi bahwa pecandu narkotika harus menjalani pengobatan dan perawatan.

Selain rehabilitasi medis perawatan yang bisa diberikan pada pengguna NAPZA adalah perawatan dengan terapi komplementer. Perkembangan terapi komplementer akhir-akhir ini menjadi sorotan banyak negara. Pengobatan komplementer atau alternatif menjadi bagian penting dalam pelayanan kesehatan di Amerika Serikat dan negara lainnya (Sayder & Lindquis, 2002). Perkiraan di Amerika 627 juta orang adalah pengguna terapi alternatif dan 386 juta orang yang mengunjungi praktik konvensional (Smith et al., 2004). Berdasarkan data ini memberikan informasi kepada kita bahwa terapi komplementer tidak hanya berkembang di Indonesia, tetapi negara maju seperti Amerika Serikat juga telah menerapkannya.

Klien yang menggunakan terapi komplementer memiliki beberapa alasan. Beberapa alasannya adalah filosofi holistik pada terapi komplementer, yaitu harmoni dalam diri dan promosi kesehatan dalam terapi komplementer. Hal lainnya adalah klien ingin terlibat untuk pengambilan keputusan dalam pengobatan dan peningkatan kualitas hidup dibandingkan sebelumnya (Widyatuti, 2008). Sejumlah 82% klien melaporkan adanya reaksi efek samping dari pengobatan konvensional yang diterima sehingga menyebabkan klien memilih terapi komplementer (Snyder & Lindquis, 2002).

Terapi komplementer yang ada menjadi salah satu pilihan pengobatan masyarakat. Hal ini dapat menjadi peluang bagi perawat untuk berperan memberikan terapi komplementer. Salah satu target dari terapi komplementer yaitu pada klien pengguna NAPZA, dimana para pengguna NAPZA  memerlukan rahabilitasi dalam pemulihan ketergantungan obat mereka juga membutuhkan terapi komplementer sebagai terapi kesehatan berdasarkan teori sehingga ketika mereka kembali ke masyarakat dapat dengan mudah berintegrasi dan berperan aktif.

 

B. TERAPI KOMPLEMENTER

Terapi komplementer adalah suatu pengobatan holistik yang mempengaruhi individu secara menyeluruh yaitu sebuah keharmonisan individu untuk mengintegrasikan pikiran, badan, dan jiwa dalam kesatuan fungsi (Smith et al., 2004).

Prinsip holistik di keperawatan ini perlu dukungan oleh kemampuan perawat dalam menguasai berbagai bentuk terapi keperawatan termasuk terapi komplementer. Pelaksanaan terapi komplementer pada keperawatan perlu mengacu kembali pada teori-teori yang mendasari praktik keperawatan. Contohnya teori Rogers yang memandang manusia sebagai sistem kompleks, terbuka, mempunyai berbagai dimensi dan energi.

Teori keperawatan yang ada dapat dijadikan dasar bagi perawat dalam mengembangkan terapi komplementer contohnya teori transkultural dalam pelaksanaannya mengaitkan ilmu fisiologi, anatomi, patofisiologi, dan lain-lain. Hal ini didukung dalam catatan keperawatan Forence Nightingale yang telah menekankan pentingnya mengembangkan lingkungan untuk penyembuhan dan pentingnya terapi seperti musik dalam proses penyembuhan. Dampaknya terapi komplementer meningkatkan kesempatan perawat dalam menunjukkan caring pada klien (Snyder & Lindquis, 2002).

Terapi komplementer adalah terapi tambahan, pelengkap dan penunjang yang bertumpu pada potensi diri seseorang serta alam. Dalam terapi ini seseorang diajarkan ilmu pengobatan yang berasal dari ilmu kedokteran maupun ilmu tradisional. Terapi komplementer sudah dilaksanakan di Lapas Narkotika sejak bulan November tahun 2007 dengan bekerja sama dengan Yayasan Taman Sringanis Jakarta. Pada awalnya terapi ini diperuntukkan untuk membantu warga binaan yang sudah terinfeksi HIV/AIDS (ODHA) agar kesehatan mereka bisa terjaga  baik. Tetapi saat ini terapi komplementer dapat dimanfaatkan oleh warga binaan lain yang memiliki keinginan pada terapi ini. Terapi komplementer mencakup olah nafas, meditasi, akupuntur, prana, serta menjaga kesehatan melalui menu sehat.

Manfaat terapi komplementer adalah:

  1. Untuk mencegah timbulnya penyakit baru
  2. Menjaga stamina dan kekebalan tubuh
  3. Mengatasi keluhan fisik yang ringan
  4. Mengurangi dan menghindari stres

Macam Terapi Komplementer (Snyder & Lindquis, 2002)

  1. Kategori pertama, mind-body therapy yaitu memberikan intervensi dengan berbagai teknik untuk memfasilitasi kapasitas berpikir yang mempengaruhi gejala fisik dan fungsi tubuh misalnya perumpamaan (imagery), yoga, terapi musik, berdoa, journaling, biofeedback, humor, tai chi, dan terapi seni.
  2. Kategori kedua, alternatif sistem pelayanan yaitu sistem pelayanan kesehatan yang mengembangkan pendekatan pelayanan biomedis berbeda dari Barat misalnya pengobatan tradisional Cina, Ayurvedia, pengobatan asli Amerika, cundarismo, homeopathy, naturopathy.
  3. Kategori ketiga, adalah terapi biologis yaitu natural dan praktik biologis dan hasil-hasilnya misalnya herbal dan makanan.
  4. Kategori keempat, adalah terapi manipulatif dan sistem tubuh. Terapi ini didasari oleh manipulasi dan pergerakan tubuh misalnya pengobatan kiropraksi, macam-macam pijat, rolfing, terapi cahaya dan warna, serta hidroterapi.
  5. Kategori kelima, adalah terapi energi yang fokusnya berasal dari energi dalam tubuh (biofields) atau mendatangkan energi dari luar tubuh misalnya terapeutik sentuhan dan pengobatan sentuhan. Kategori ini biasanya dijadikan satu kategori berupa kombinasi antara biofield dan bioelektromagnetik.

Standar lain menurut Smith et al (2004) meliputi gaya hidup ( pengobatan holistik, nutrisi), botanikal (homeopati, herbal, aromaterapi); manipulatif (kiropraktik, akupresur dan akupunktur, refleksi, massage); mind-body (meditasi, guided imagery, biofeedback, color healing, hipnoterapi). Macam terapi komplementer yang diberikan sesuai dengan indikasi yang dibutuhkan. Seperti pada terapi sentuhan memiliki beberapa indikasi seperti meningkatkan relaksasi, mengubah persepsi nyeri, menurunkan kecemasan, mempercepat penyembuhan, dan meningkatkan kenyamanan dalam proses kematian (Hitchcock et al., 1999).

 

C. TERAPI KOMPLEMENTER PADA PASIEN DENGAN NAPZA

Terapi komplementer pada pasien dengan NAPZA antara lain:

  1. Olahraga

Olahraga memiliki dampak luar biasa terhadap ketergantungan NAPZA, seperti lari, bersepeda, berenang dalam jarak jauh. Kegiatan ini disamping memberikan efek distraksi dari keinginan mengkonsumsi NAPZA juga bermanfaat untuk memperbaiki fungsi jantung dan pernafasan sehingga tubuh segar dan sehat energi kreatif akan muncul. Para pecandu sebaiknya diarahkan pada kegiatan yang positif sehingga mereka akan merasa lebih baik. Olahraga ini dapat memfasilitasi pemulihan tubuh dengan meningkatkan aliran darah ke otak. Olahraga dapat merangsang pengeluaran bahan kimia di otak seperti endorfin, dopamine dan seretonin sehingga perasaan lebih tenang dan senang.

 

  1. Terapi Spiritual

Sekarang ini konsep kedokteran dan keperawatan telah mempertimbangkan aspek biopsikososial dan spiritual, artinya pengobatan tidak hanya berusaha untuk mengembalikan fungsi fisik seseorang tetapi juga fungsi psikis, sosial dan spiritual pasien. Pendekatan ini menempatkan kembali pengobatan spiritual sebagai salah satu cara pengobatan dalam upaya penyembuhan penderita.

Di Indonesia pengobatan spiritual biasanya dikaitkan dengan agama. Seseorang pengguna NAPZA dapat memilih untuk menjalankan pengobatan spiritual yang berlaku umum. Bila dia memilih pengobatan spiritual yang sesuai dengan agamanya maka kegiatan tersebut tidak asing lagi bagi mereka. Contoh terapi spiritual ini misalnya melakukan berzikir, berdoa, berpuasa, sholat, dan lainnya yang dibimbing oleh rohaniawan maupun dilakukan sendiri. Dalam terapi ini Tuhan adalah media sebagai tempat pelarian terbaik pecandu. Melalui doa dan ibadah hati akan merasa tenang dan lebih ikhlas, sehingga diharapkan para pecandu akan lebih kuat imannya dan yakin bahwa Tuhan sayang terhadap setiap umatnya, tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kamampuan umatnya.  Para pecandu dapat meminta ampun dan memohon kepada Tuhan untuk membantu memberikan kekuatan agar benar-benar lepas dari kecanduan narkoba.

  1. Terapi Nutrisi

Seperti kita ketahui pengguna NAPZA memiliki napsu makan yang kurang akibat efek obat-obatan yang mereka konsumsi. Sebagian besar mereka lebih banyak mengkonsumsi gula, junk food, makanan cepat saji, kafein dan lemak jenuh secara berlebihan. Sehingga disarankan untuk menjalankan program diet tinggi protein dan lemak. Makanan yang diharuskan untuk dikonsumsi adalah ayam, domba, daging organik dan mentega. Proporsi diet terdiri dari 40 persen karbohidrat, 30 persen protein dan 30 persen lemak. Buah-buahan yang padat nutrisi, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian dan polong-polongan juga harus dikonsumsi.  Nutrisi yang sehat dan seimbang diperlukan pasien dengan NAPZA untuk mempertahankan kekuatan tubuh, meningkatkan fungsi sistem imun, kemampuan tubuh untuk memerangi infeksi dan menjaga kesehatan mereka agar tetap aktif dan produktif.

  1. Terapi Suplemen

Kurangnya asupan bagi orang-orang yang sedang pada masa pemulihan khususnya pemulihan dari ketergantungan NAPZA bisa diatasi dengan mengkonsumsi suplemen khusus untuk mengimbangi kebutuhan tubuh terhadap nutrisi. Suplemen ini antara lain Multivitamin , omega-3 membantu menstabilkan mood, memperbaiki komunikasi antar saraf serta mendukung tumbuh kembang sel-sel otak, vitamin B komplek menaikkan mood, menurunkan kecemasan serta menambah tenaga, vitamin C membantu memelihara keseimbangan tubuh, NAC (N-acetylcysteine, asam amino N-acetylcycteine merupakan  suplemen terpenting untuk mendukung pemulihan tubuh, mengatur sistem glutamatergic dalam otak sehingga mampu memerangi kecanduan serta perilaku kompulsif, dan Rhodiola merupakan obat herbal yang sangat efektif untuk menghilangkan depresi, kegelisahan dan kelelahan yang biasa dialami oleh para pecandu.

  1. Yoga

Yoga melibatkan sejumlah postur yang mengintegrasikan tubuh dan pikiran. Latihan yoga meningkatkan kekuatan otot dan juga fleksibilitas tubuh. Yoga menghasilkan perubahan signifikan dalam fisik, hubungan sosial dan domain lingkungan kualitas hidup.  Dengan disiplin melakukannya tubuh akan terasa lebih fit sehingga sangat cocok diterapkan pada para pencandu dan secara signifikan dapat mengurangi stres, cemas dan depresi serta memperbaiki pola tidur.

  1. Latihan Kesadaran

terapi komplementer pada pasien napzaLatihan kesadaran adalah sebuah bentuk meditasi yang memfokuskan diri , pernafasan dan sensasi tubuh. Selain pelatihan  Vipasana yang sering disebut penganut Budha, juga bisa dilakukan meditasi. Bila aktivitas meditasi dilakukan secara rutin dan terus-menerus maka lambat laun pikiran dan kesadaran akan kuat, sehingga pelaku meditasi akan memiliki ketenangan, kedamaian dan cinta kasih. Namun latihan ini perlu waktu lama bagi para pecandu karena sebagian besar pecandu memiliki gangguan dalam berkonsentrasi. Mereka tidak bisa memusatkan perhatian dan sering berfikir hal-hal negatif yang mendorong semakin banyaknya perikalu kompulsif. Latihan meditasi yang rutin, diharapkan dapat membantu untuk memfokuskan perhatiannya dan mendorong sikap positif terhadap pengalaman masa lalunya.

  1. Terapi Criminon

Criminon sering juga di terjemahkan sebagai no crime, yang berarti terapi ini bertujuan untuk membentuk seorang narapidana agar tidak melakukan kembali kejahatan. Konsep dasar dari Criminon menyatakan bahwa pada dasarnya seseorang melakukan kejahatan adalah karena kurangnya rasa percaya diri. Ketiadaan rasa percaya diri ini mengakibatkan seseorang tidak mampu untuk menghadapi tantangan kehidupan serta tidak mampu menyesuaikan diri dengan sistem nilai berlaku di masyarakat sehingga yang bersangkutan melakukan pelanggaran hukum. Pelanggaran ini sering dilakukan oleh para pacandu NAPZA, sehingga perlu dilakukan cara untuk mencegahnya, terapi ini adalah salah satu cara untuk mengatasi perilaku negatif yang biasa dilakukan oleh para pecandu.

Tujuan pelatihan Criminon:

  1. Membantu memperbaiki dan meningkatkan kemampuan seseorang dalam menghadapi rasa bersalah, rendah diri, takut, emosi dan mampu mengendalikan diri.
  2. Membantu para pecandu dalam menghadapi hambatan belajar
  3. Memberikan pengetahuan untuk mencapai kebahagiaan lebih baik bagi diri sendiri maupun orang lain
  4. Memberikan dasar-dasar pengetahuan untuk mencapai kestabilan dan kebahagiaan dalam hidup

Program Criminon yang dikembangkan atas dasar teknik yang ditemukan oleh L. Ron Hubbard secara garis besar ditawarkan melalui dua model pengajaran yakni di dalam ruang (kelas) dan melalui kursus korespondensi. Program ini terdiri dari beberapa seri modul yang intinya bertujuan untuk membantu para pecandu NAPZA dalam memahami dampak dari berbagai pengaruh terhadap lingkungannya, konsekuensi dari pilihan-pilihan mereka di masa lalu serta cara untuk mengambil keputusan atau pilihan yang lebih baik di masa yang akan datang (Criminon International, 2005).

Kurikulum yang terdapat dalam program Criminon terdiri dari empat modul utama, yaitu:

  1. Pertama, kursus komunikasi dimana didalamnya para pecandu diajarkan untuk berinteraksi aktif secara positif dalam lingkungan sosialnya, berkomunikasi secara efektif melalui penggunaan volume, intonasi dan bahasa tubuh serta kemampuan untuk memberi respon yang secukupnya dalam sebuah diskusi baik positif maupun negatif dengan pihak lain.
  2. Kedua, yaitu kursus keterampilan untuk bertahan hidup yang didalamnya diajarkan faktor-faktor fundamental yang diperlukan dalam memahami sesuatu melalui proses indentifikasi terhadap hal-hal yang menjadi kendala bagi efektifitas proses belajar serta menentukan strategi yang diperlukan untuk mengatasi kendala-kendala tersebut.
  3. Ketiga, yaitu kursus meraih dan mencapai kebahagiaan, pada tahap ini pecandu dituntun menuju pola berpikir baru mengenai dirinya, hubungannya dengan orang lain serta pola perilaku yang baru dalam kehidupannya.
  4. Keempat, kursus mengenal dan mengatasi kebiasaan-kebiasaan anti sosial, didalamnya pecandu diajarkan untuk mampu mengidentifikasi dan bernegosiasi dengan bentuk-bentuk kebiasaan yang anti sosial, baik yang ada di dalam dirinya maupun juga yang ada pada orang lain.

8. Terapi Kesenian

Kegiatan kesenian dimaksudkan untuk membina dan mengasah bakat-bakat seni pecandu, sehingga mereka dapat menyalurkan bakat seni yang mereka miliki. Sebagai sebuah kegiatan terapi, kesenian dapat digunakan untuk membantu narapidana pengguna NAPZA/ pecandu dalam upaya kepulihannya.

Dalam pelaksanaanya kesenian tidak dapat berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari satu sistem rehabilitasi yang komprehensif yang meliputi rehabilitasi medis dan rehabilitasi non- medis. Kesenian dilakukan sebagai suatu proses aftercare, atau setelah warga binaan menjalani program terapinya.

Pada tahap aftercare warga binaan diarahkan sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing. Tujuan dari tahapan ini adalah untuk membekali para pecandu dengan pengetahuan dan keterampilan yang bermanfaat dan bisa diaplikasikan di kehidupannya setelah kembali ke masyarakat. Dengan demikian pecandu bisa mengaktualisasikan diri di tengah masyarakat sebagai manusia yang produktif dan tidak lagi bergantung pada NAPZA.

Kesenian dapat digunakan sebagai media terapi dan rehabilitasi karena memiliki tujuan sebagai berikut:

  1. Kegiatan kesenian merupakan kegiatan yang bersifat positif
  2. Kegiatan kesenian terjadwal secara rutin, sehingga secara tidak langsung melatih kedisiplinan warga binaan
  3. Kegiatan kesenian memacu warga binaan untuk terus mengembangkan diri
  4. Kegiatan kesenian memotivasi warga binaan untuk menggali potensi yang ada dalam dirinya
  5. Kegiatan kesenian dapat dipergunakan untuk mengurangi waktu luang warga binaan, sehingga dapat menghindarkan warga binaan memikirkan kembali pemakaian NAPZA
  6. Kegiatan kesenian dapat mambantu warga binaan untuk lebih percaya diri dengan menampilkan potensi dirinya
  7. Kegiatan kesenian dapat melatih warga binaan untuk lebih bertanggung jawab atas pilihan yang telah diambil bagi dirinya sendiri.

9. Terapi Akupuntur

terapi komplementer pasien napza akupungturTerapi akupuntur merupakan metode penyembuhan yang berasal dari Cina dan sangat efektif sebagai pengobatan alternatif untuk mengatasi kecanduan NAPZA. Akupuntur adalah suatu ilmu dan seni pengobatan tradisional Timur dengan penusukan jarum halus pada daerah khusus di permukaan tubuh yang bertujuan menjaga keseimbangan Yin-Yang atau bioenergi tubuh. Jarum-jarum diletakkan ke bagian titik tekan tubuh dan mampu mengatasi ketidaknyamanan selama tidak memakai narkoba secara sempurna. Tujuan dan rasionalisasi untuk terapi kecanduan NAPZA terhadap akupuntur adalah mencegah gejala putus obat zat, menurunkan keinginan untuk menggunakan NAPZA lagi, menormalkan fungsi fisiologis yang terganggu akibat penggunaan narkoba, meminimalkan komplikasi medis dan sosial dari penggunaan narkoba dan mempertahankan kondisi bebas penggunaan NAPZA. Efek penusukan terjadi melalui hantaran saraf dan melalui humoral/ endokrin. Secara umum efek penusukan jarum terbagi atas efek lokal, efek segmental dan efek sentral.

  • Efek lokal:

Penusukan jarum akan menimbulkan perlukaan mikro pada jaringan. Hal ini menyebabkan pelepasan hormon jaringan (mediator) dan menimbulkan reaksi rantai biokimiawi. Efek yang terjadi secara lokal meliputi dilatasi kapiler, peningkatan permeabilitas kapiler, perubahan lingkungan interstisial, stimulasi nosiseptor, aktivasi respon imun nonspesifik, dan penarikan leukosit dan sel Langerhans. Reaksi lokal ini dapat dilihat sebagai kemerahan pada daerah penusukan.

  • Efek segmental/ regional:

Tindakan akupuntur akan merangsang serabut saraf dan rangsangan itu akan diteruskan ke segmen medula spinalis bersangkutan dan ke sel saraf lainnya, dengan demikian mempengaruhi segmen medula spinalis yang berdekatan.

  • Efek sentral:

Rangsangan yang sampai pada medula spinalis diteruskan ke susunan saraf pusat melalui jalur batang otak, substansia grisea, hipotalamus, talamus dan cerebrum. Dengan demikian maka penusukan akupuntur yang merupakan tindakan invasif mikro akan dapat menghilangkan gejala nyeri yang ada, mengaktivasi mekanisme pertahanan tubuh sehingga memulihkan homeostasis.

 

D. PERAN PERAWAT DALAM TERAPI KOMPLEMENTER PADA PASIEN DENGAN NAPZA

Peran perawat yang dapat dilakukan dari pengetahuan tentang terapi komplementer diantaranya sebagai konselor, pendidik kesehatan, peneliti, pemberi pelayanan langsung, koordinator dan sebagai advokat.

  1. Perawat sebagai konselor

Sebagai konselor perawat dapat menjadi tempat bertanya, konsultasi, dan diskusi apabila klien membutuhkan informasi tentang kondisi kesehatannya sekarang.

  1. Perawat sebagai pendidik kesehatan

Sebagai pendidik perawat dapat memberikan informasi tentang cara pemulihan klien dari ketergantungan NAPZA khususnya tentang terapi komplementer.

  1. Perawat sebagai peneliti

Sebagai peneliti perawat dapat melakukan berbagai penelitian yang dikembangkan dari hasil evidence-based practice khususnya dalam hal terapi komplementer untuk klien dengan NAPZA.

  1. Perawat sebagai pemberi pelayanan langsung

Sebagai pemberi pelayanan langsung misalnya dalam praktik pelayanan kesehatan yang melakukan integrasi terapi komplementer, salah satunya yaitu rehabilitasi medis pengguna NAPZA.

  1. Perawat sebagai koordinator

Sebagai koordinator perawat dapat mendiskusikan terapi komplementer pada klien dengan NAPZA dengan dokter yang merawat dan unit manajer terkait.

  1. Perawat sebagai advokat

Sebagai advokat perawat berperan untuk memenuhi permintaan kebutuhan  perawatan komplementer yang mungkin diberikan termasuk perawatan alternatif pada klien dengan NAPZA.

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net

Tukar Link ?
Copy kode dibawah ini, kemudian paste di blog Anda:


Tampilan akan seperti ini :

Langganan Artikel
Enter your Email


Preview | Powered by FeedBlitz
Menu Anak

Copyright © 2008 - 2017 NursingBegin.com.