PostHeaderIcon Teknik Penilaian Untuk Triage Yang Aman

Teknik Penilaian Untuk Triage Yang Aman

 

Penilaian Bahaya Lingkungan

Ini adalah langkah pertama untuk praktek yang aman di triage. Perawat triage harus memahami protap keamanan internal. Selain itu, perawat triage harus memperhatikan standar pencegahan setiap kali ada potensi pajanan terhadap darah atau cairan tubuh lainnya. Perawat triage harus menyadari risiko yang terkait dengan meninggalkan daerah triage untuk mengambil pasien dari kendaraan atau area penerimaan rumah sakit. Kebijakan lokal akan menentukan prosedur dalam hal ini, tetapi prinsip umum adalah bahwa meja triage seharusnya tidak pernah ditinggalkan dan anggota staf tidak boleh menempatkan dirinya dalam situasi di mana bantuan tambahan tidak dapat dimobilisasi. Sebagai bagian dari menjaga lingkungan yang aman, perawat triage harus memastikan bahwa peralatan untuk memberikan bantuan hidup dasar (bag valve and mask dan suplai oksigen) tersedia di triage. Demikian juga, diperlukan peralatan yang sesuai dengan standar kewaspadaan (standard precaution ). Pada awal tiap shift, para perawat triage harus melakukan pemeriksaan keselamatan dasar dan lingkungan area kerja untuk mengoptimalkan keamanan lingkungan dan pasien.

Penampilan Umum

Ini merupakan komponen penting dari penilaian triage. Pengamatan dari penampilan dan perilaku pasien ketika mereka tiba memberitahu kita banyak tentang status fisiologis dan psikologis pasien.

Survei primer membantu melakukan praktek yang aman di IRD. Ketika penilaian lingkungan dan penampilan umum pasien lengkap ( harus dilakukan beberapa detik), survei primer harus segera dimulai.

Airway

Selalu memeriksa kepatenan jalan nafas, dan pertimbangkan tindakan untuk pencegahan cedera servikal jika ada indikasi. Jika jalan nafas tersumbat atau adanya risiko langsung ke saluran napas harus dialokasikan triage immediate / merah (ini termasuk pasien yang tidak berespons dengan GCS < 9 dan kejang berkepanjangan).

 

Breathing

Penilaian pernapasan meliputi penentuan frekuensi pernapasan dan kerja pernapasan  pasien dengan bukti disfungsi pernapasan selama penilaian triage harus dialokasikan pada triage merah / immediate. Pasien dialokasikan untuk triage hijau / wait (walking wounded) harus memiliki fungsi pernafasan normal. Hal ini penting untuk mendeteksi hypoxemia. Hal ini dapat dideteksi dengan menggunakan pulse oksimetri.

Sirkulasi

Penilaian sirkulasi meliputi penentuan denyut jantung, nadi dan karakteristik nadi, asupan dan luaran oral adalah penting bahwa hipotensi seharusnya terdeteksi selama penilaian triage untuk memfasilitasi penanganan dini dan. Meskipun tidak mungkin untuk mengukur tekanan darah pada triage, indikator lain status hemodinamik harus dipertimbangkan, meliputi nadi perifer, status kulit, tingkat kesadaran dan perubahan denyut jantung. Pasien dengan bukti gangguan hemodinamik (hipotensi, hipertensi berat, takikardia atau bradikardia) selama penilaian triage harus dialokasikan triage merah / immediate.

Pasien dialokasikan untuk triage hijau / wait (walking wounded) harus memiliki fungsi peredaran darah normal.

Disability

Penilaian ini meliputi penentuan AVPU, GCS dan / atau tingkat kemampuan aktivitas, penilaian kehilangan kesadaran, dan penilaian nyeri. perubahan tingkat kesadaran adalah indikator penting dari risiko penyakit serius atau cedera. Pasien dengan kelainan tingkat kesadaran harus dialokasikan untuk  triage merah / immediate.

 

AVPU:

A: alert ( sadar )

V: beresponse terhadap suara verbal

P: beresponse terhadap nyeri /pain

U: unresponsive ( tidak berespon )

 

Lingkungan

Penilaian suhu (hipotermia dan hipertermia) adalah indikator klinis yang penting dan perlu untuk diidentifikasi di triage .

Pertimbangan Lainnya

Faktor risiko lain yang harus dipertimbangkan dalam penilaian triage pada pasien yang dengan parameter fisiologis normal pada saat triage, adalah sebagai berikut:

•           Usia yang ekstrim (sangat muda atau sangat tua) memerlukan perbedaan fisiologis yang meningkatkan risiko penyakit serius dan cedera, pasien tersebut memiliki penurunan cadangan fisiologis dan perubahan respon , dan dapat hadir dengan tanda-tanda dan gejala non-spesifik.

•           Kondisi berisiko tinggi termasuk penyakit kronis, gangguan kognitif, defisit komunikasi, keracunan atau sakit parah mungkin memerlukan alokasi ke triage merah / immediate.

•           Pasien dengan tanda risiko tinggi, seperti riwayat perilaku kekerasan.

•           Pasien trauma harus dialokasikan dalam triage berdasarkan urgensi klinis. Ada mekanisme spesifik cedera yang berhubungan dengan risiko cedera yang mengancam kehidupan yang perlu dimasukkan dalam keputusan triage. Contohnya termasuk kendaraan yang terguling, kematian penumpang kendaraan yang sama, terpental dari kendaraan, dan jatuh dari ketinggian lebih dari tiga meter.

•           Adanya ruam juga perlu diwaspadai oleh perawat triage terhadap kemungkinan penyakit serius seperti anafilaksis atau penyakit meningokokus, namun jenis presentasi biasanya akan memiliki abnormalitas bersamaan pada survey primer.

 

Re-triage

Memprioritaskan Beberapa Pasien di Triage

Meskipun tidak ada penelitian yang berkaitan dengan triage pada pasien  yang datang secara bersamaan, pendekatan primery survey secara teoritis digunakan memprioritaskan pasien berdasarkan kondisi yang mengancam nyawa. Pendekatan ini berarti bahwa pasien dengan masalah jalan nafas harus didahulukan dari pasien dengan masalah pernapasan, dan didahulukan dari pasien dengan masalah sirkulasi.

 

 

Artikel Lainnya

  1. Pedoman Keselamatan Pasien Rumah Sakit
  2. Komunikasi Dalam Triage
  3. Model Triage di Unit Gawat Darurat
  4. Prosedur Pemberian Obat IV
  5. Penatalaksanaan Syok Anafilaktik

 

 

 

PostHeaderIcon Pedoman Keselamatan Pasien Rumah Sakit

Pedoman Keselamatan Pasien Rumah Sakit

Rumah sakit sebagai tempat pelayanan kesehatan modern adalah suatu organisasi yang sangat kompleks karena padat modal, padat teknologi, padat karya, padat profesi, padat sistem, padat mutu serta padat resiko sehingga tidak mengejutkan jika kejadian tidak diinginkan (adverse event) akan sering terjadi dan akan berakibat pada terjadinya injuri atau kematian pada pasien.

Rumah sakit pemerintah maupun rumah sakit swasta diseluruh wilayah Indonesia wajib menjalankan program keselamatan pasien yang telah dicanangkan oleh pemerintah pusat. Oleh sebab itu seluruh karyawan, manajemen dan staf suatu rumah sakit harus bertekad menjadikan gerakan keselamatan pasien sebagai prioritas dalam pengelolaan rumah sakit.

Karena “… pelayanan yang aman bukan merupakan pilihan, namun merupakan hak bagi semua pasien yang mempercayakan perawatannya pada sistim pelayanan kesehatan kita… (Sir Liam Donaldson, ketua WHQ “World Alliance for Patient Safety, Forward Programe, 2006-2007).

Pengertian Patient Safety

Patient safety atau keselamatan pasien adalah suatu sistem yang membuat asuhan pasien di rumah sakit menjadi lebih aman. Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.

Latar Belakang Perlu Sistim Keselamatan Pasien di Rumah Sakit

Banyaknya jenis obat, jenis pemeriksaan penunjang, jenis prosedur tindakan, serta jumlah pasien dan jumlah staf rumah sakit yang cukup besar, merupakan hal yang potensial bagi terjadinya berbagai macam kesalahan.

Manfaat Patien Safety

  1. Meningkatnya dan berkembangnya budaya safety (blame free culture, reporting culture, learning culture).
  2. Komunikasi dengan pasien berkembang.
  3. Angka KTD (Kejadian Tidak Diharapkan) menurun, peta KTD selalu ada dan terkini.
  4. Risiko klinis menurun.
  5. Keluhan dan litigasi (tuntutan hukum) berkurang.
  6. Mutu pelayanan meningkat.
  7. Citra rumah sakit dan kepercayaan masyarakat meningkat, diikuti dengan kepercayaan dan kepuasan diri yang meningkat.

 

Tujuh Standar Keselamatan Pasien

Mengacu pada Standar Keselamatan Pasien Rumah Sakit yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia, tahun 2008, yaitu:

  1. Hak pasien
  2. Mendidik pasien dan keluarga
  3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
  4. Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien
  5. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
  6. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
  7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien

 

Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien RS

Panduan nasional KKP-RS, Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2008, sebagai panduan bagi staf rumah sakit tentang tujuh langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit, yaitu:

  1. Bangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien, (ciptakan kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan adil).
  2. Pimpin dan dukung staf anda (bangun komitmen dan fokus yang kuat dan jelas tentang keselamatan pasien di rumah sakit anda).
  3. Integrasikan aktivitas pengelolaan resiko (kembangkan sistim dan proses pengelolaan resiko, serta lakukan identifikasi dan asesmen hal yang potensial bermasalah).
  4. Kembangkan sistem pelaporan (pastikan staf anda agar dengan mudah dapat melaporkan kejadian / insiden serta rumah sakit mengatur pelaporan kepada komite keselamatan pasien rumah sakit).
  5. Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien (kembangkan cara-cara komunikasi yang terbuka dengan pasien).
  6. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien (dorong staf anda untuk melakukan analisis akar masalah untuk belajar bagaimana dan mengapa kejadian bisa terjadi).
  7. Cegah cedera melalui implementasi sistim keselamatan pasien (gunakan informasi yang ada tentang kejadian / masalah untuk melakukan perubahan pada sistim pelayanan).

 

Sembilan Solusi Keselamatan Pasien di Rumah Sakit

Menurut WHO Collaborating Centre for Patien Safety, tahun 2007, sembilan solusi keselamatan pasien di rumah sakit yaitu:

  1. Perhatikan nama obat, rupa dan ucapan mirip (look alike, sound alike medication names LASA, atau nama obat rupa ucapan dan mirip NORUM).
  2. Pastikan identifikasi pasien.
  3. Komunikasi secara benar saat serah terima pasien.
  4. Pastikan tindakan yang benar pada sisi tubuh yang benar.
  5. Kendalikan cairan elektrolit pekat.
  6. Pastikan akurasi pemberian obat pada pengalihan pelayanan.
  7. Hindari salah kateter dan salah sambung selang.
  8. Gunakan alat injeksi sekali pakai.
  9. Tingkatkan kebersihan tangan untuk mencegah infeksi nosokomial.

 

Enam Sasaran Patient Safety

  1. Melakukan identifikasi pasien secara tepat.
  2. Meningkatkan komunikasi yang efektif.
  3. Meningkatkan keamanan penggunaan obat yang membutuhkan perhatian.
  4. Mengurangi resiko salah lokasi, salah pasien dan tindakan operasi.
  5. Mengurangi resiko infeksi.
  6. Mengurangi resiko pasien cedera karena jatuh.

 

Deri keenam sasaran keselamatan pasien tersebut akan dijabarkan untuk masing-masing sasaran adalah sebagai berikut:

Melakukan Identifikasi Pasienn Secara Tepat

Setiap pasien yang berobat ke rumah sakit akan diberikan gelang identitas.  Identitas pasien terdiri dari tiga hal, yaitu nama lengkap pasien, tanggal lahir pasien dan nomor rekam medis pasien.

Untuk pasien yang dirawat jalan, petugas mengidentifikasi pasien dengan cara menanyakan nama lengkap pasien, dan tanggal lahir pasien. Untuk pasien yang rawat inap ditanyakan nama lengkap pasien dan nomor rekam medis pasien.

Gelang identitas juga dibedakan warnanya yaitu gelang warna biru untuk pasien laki-laki, gelang warna pink untuk pasien perempuan. Terdapat dua warna gelang tambahan yaitu gelang warna merah untuk pasien yang memiliki riwayat alergi, dan gelang warna kuning untuk pasien yang beresiko jatuh.

Pelaksanaan identifikasi pasien dilakukan pada saat:

  1. Sebelum memberikan obat kepada pasien
  2. Sebelum memberikan tranfusi darah dan produk darah
  3. Sebelum mengambil sampel darah, atau sampel lainnya untuk pemeriksaan
  4. Sebelum melakukan tindakan dan prosedur

 

Meningkatkan Komunikasi yang Efektif

Ada beberapa hal yang mesti dilakukan di dalam melakukan komunikasi yang efektif, yaitu:

  1. Melakukan read back (membaca kembali) pada saat menerima order lisan atau menerima instruksi melalui telepon, kemudian pasang stiker sign here pada instruksi tersebut yang akan ditanda tangani oleh pemberi instruksi maksimal 24 jam setelah instruksi diberikan.
  2. Dalam melakukan komunikasi biasakan menggunkan metoda SBAR (Situation Background Assessment Recommendation), misalnya pada saat melaporkan pasien kritis, melaksanakan serah terima pasien antar shif (hand off) dan melaksanakan serah terima pasien antar ruangan.
  3. Jika dalam melakukan intruksi melalui tulisan terdapat singkatan, maka buatkan daftar singkatan yang telah disetujui bersama.

 

Meningkatkan Keamanan Penggunaan Obat yang Membutuhkan Perhatian

Begitu banyaknya pasien yang berobat ke rumah sakit, banyaknya petugas kesehatan dari berbagai disiplin ilmu, dan begitu banyaknya prosedur tindakan, memungkinkan terjadinya berbagai potensi kesalahan terutama dalam pemberian pengobatan. Untuk mencegah hal ini, diperlukan beberapa cara, yaitu :

  1. Mensosialisasikan dan meningkatkan kewaspadaan obat Look Alike Sound Alike (LASA) atau istilah Indonesianya Nama Obat Rupa Ucapan dan Mirip (NORUM).
  2. Menerapkan double check dan counter sign setiap distribusi dan pemberian obat.
  3. Perhatikan agar obat high alert berada di tempat yang aman.
  4. Perhatikan prinsip 8 benar dalam pemberian obat.

 

Mengurangi Resiko Salah Lokasi, Salah Pasien dan Tindakan Operasi

Tindakan operasi atau penunjang medis lainnya merupakan salah satu tindakan yang dilakukan dalam rangka kesembuhan pasien, namun tindakan ini sangat beresiko baik terhadap pasien maupun petugas kesehatan. Kesalahan dalam prosedur ini bisa mengakibatkan kecacatan bahkan berakibat fatal terhadap jiwa pasien. Untuk mencegah resiko ini, maka:

  1. Memberi tanda pada sisi yang akan dilakukan tindakan operasi (surgical site marking) yang tepat dengan cara yang jelas dimengerti dan libatkan pasien atau keluarga dalam pemberian informed consent.
  2. Melaksanakan prosedur safety surgical checklist berupa sign in, time out dan sign out misalnya di ruang operasi, radiologi, endoskopi.

 

Mengurangi Resiko Infeksi

  1. Melaksanakan program hand hygiene 5 moment yang efektif dengan pedoman nasional / internasional.
  2. Menyediakan hand rub di tiap ruang perawatan.
  3. Pelatihan mencuci tangan efektif kepada seluruh staf.
  4. Proses audit dan analisa hand hygiene.
  5. Berikan tanggal melakukan prosedur dalam setiap melakukan tindakan invasif misalnya pemasangan infus, dower chateter, CVP, WSD dan lain-lain.

 

Mengurangi Resiko Pasien Cedera Karena Jatuh

  1. Lakukan pengkajian resiko jatuh terhadap semua pasien rawat inap dengan skala morse untuk pasien dewasa dan humpi dumpi untuk pasien anak-anak.
  2. Pemberian tanda pada pasien beresiko jatuh dengan gelang yang berwarna kuning di lengan pasien atau tanda resiko jatuh di bed pasien.
  3. Melakukan tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan resiko jatuh, seperti lantai tidak licin, pegangan di kamar mandi, pengaman brankard atau tempat tidur.

 

Artikel Lainnya:

  1. Model Triage di Unit Gawat Darurat
  2. Kepuasan Kerja Perawat
  3. Protap Cara Pengambilan Darah Vena
  4. Prinsip Pemberian Obat 8B1W
  5. Protap Pemasangan Infus

 

 

PostHeaderIcon Askep Pada Klien Dengan Gangguan Isi Pikir Halusinasi

Askep Pada Klien Dengan Gangguan Isi Pikir : Halusinasi

 

Kajian Teori

Pengertian Halusinasi

Halusinasi adalah pengalaman tanpa rangsang external (Cook dan Fontaine, 1987). Halusinasi merupakan salah satu gejala yang sering ditemukan pada klien dengan gangguan jiwa dari seluruh pasien diantaranya mengalami halusinasi. Gangguan jiwa lain yang sering juga disertai dengan gejala halusinasi adalah gangguan maniak degresif dan aterium.

 

Jenis – Jenis Halusinasi

Ada beberapa jenis halusinasi, Stuart dan Larara 1908 membagi halusinasi menjadi 7 jenis yaitu :

 

Halusinasi Pendengaran

Karakteristinya meliputi mendengar suara-suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien bahkan sampai ke percakapan  lengkap antara 2 orang atau lebih tentang orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa klien disuruh melakukan sesuatu yang kadang-kadang dapat membahayakan.

 

Halusinasi Penglihatan

Karakteristiknya meliputi stimulus visual dalam bentuk cahaya, gambar geometrik, gambar kartoon, bayangan yang rumit atau kompleks, bayangan bisa menyenangkan atau menakutkan seperti melihat monster.

 

Halusinasi Penghidu

Karakteristiknya meliputi membaui bau tertentu seperti bau darah, kemenyan atau faeces yang umumnya tidak menyenangkan.

 

Halusinasi Pengecapan

Merasa mengecap, seperti rasa darah, urine, dan faeces.

 

Halusinasi Perabaan

Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan berupa stimulus yang jelas, rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang.

 

Halusinasi Cenesthehe

Dimana klien merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah vena atau arteri, pencernaan makanan atau pembentukan urine.

 

Halusinasi Kinestetic

Merasakan pergerakan sementara, berdiri tanpa bergerak

 

 

Proses Terjadinya Halusinasi

Halusinasi berkembang menjadi 4 fase (Habes, dkk, 1902):

 

Fase pertama (conforting)

Pada fase ini klien mengalami kecemasan, stres, perasaan yang terpisah, kesepian klien mungkin melamun atau memfokuskan pikiran pada hal yang menyenangkan untuk menglilangkan kecemasan dan stres. Cara ini menolong untuk sementara.

 

Fase kedua (condeming)

Pencemasan meningkat dan berhubungan dengan pengalaman internal dan eksternal. Klien berada pada tingkat “ Listening” pada halusinasi. Pemikian internal menjadi menonjol. Gambaran suara dan sensasi halusinasi dapat berupa bisikan yang tidak jelas. Klien takut apabila orang lain mendengar dan klien tidak mampu mengontrolnya. Klien membuat jarak antara dirinya dan halusinasi dengan memproyeksikan seolah-olah halusinasi datang dari orang lain atau tempat lain.

 

Fase Ketiga

Halusinasi menonjol, menguasai dan mengontrol klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya pada halusinasinya. Halusinasi memberi kesenangan dan rasa aman yang sementara.

 

Fase Keempat (conquerting)

Klien merasa terpaku dan tidak berdaya melepaskan diri dari kontrol halusinasinya. Halusinasi yang sebelumnya menyenangkan berubah menjadi mengancam, memerintah dan memarahi klien tidak dapat berhubungan dengan orang lain karena terlalu sibuk dengan halusinasinya. Klien mungkin berada dalam dunia yang menakutkan dalam waktu yang singkat, beberapa jam atau selamanya. Proses ini menjadi kronik jika tidak dilakukan intervensi.

Masalah Keperawatan dan Data Yang Perlu Dikaji

 

Faktor Predisposisi

Kaji faktor predisposisi yang pada munculnya biologi seperti pada halusinasi antara lain :

Faktor genetis

Faktor neurobiologi

Faktor neurotransiniter

Teori virus

Psikologi

Faktor Presipitasi

 

Kaji gejala-gejala pencetus neurobiologis meliputi :

Kesehatan       : nutrisi kurang, kurang tidur, kelelahan, infeksi, obat ssp, hambatan untuk menjangkau pelayanan kesehatan.

Lingkungan : masalah di rumah tangga, sosial, tekanan kerja, kurangnya dukungan sosial, kehilangan kebebasan hidup.

Sikap / prilaku merasa tidak mampu (harga diri rendah), putus asa merasa gagal, kehilangan rendah diri, merasa malang, perilaku agresif, perilaku kekerasan, ketidakadekuatan pengobatan.

Mekanisme Koping

Kaji mekanisme koping yang sering digunakan klien, meliputi :

Regresi            :  menjadi malas beraktifitas sehari-hari

Proyeksi          : mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain atau sesuatu benda.

Menarik diri : sulit mempercayai orang lain dan dengan stimulus internal

Keluarga mengingkari masalah yang dialami oleh klien.

Ketahui tentang halusinasi klien meliputi :

Isi halusinasi yang dialami klien

Waktu dan frekuensi halusinasi

Situasi pencetus halusinasi

Respon klien tentang halusinasinya

 

Diagnosa Keperawatan pada Klien dengan Halusinasi

Diagnosa yang mungkin muncul pada klien halusinasi :

1. Resiko mencederai diri sendiri orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi

2. Perubahan sesnsori persepsi halusinasi  berhubungan menarik diri

isolasi sosial menarik diri berhubungan diri rendah.

 

 

Rencana Tindakan Keperawatan pada Klien Halusinasi

 

1. Tujuan TUM  : klien  tidak mencederai orang lain dan lingkungan.

TUK1 : klien dapat membina hubungan saling percaya

Kriteria Evaluasi:

Ekspresi wajah bersahabat ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebut nama.

Intervensi

  • Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi
  • Sapa klien dengan ramah
  • Perkenalkan diri dengan sopan
  • Jelaskan tujuan pertemuan
  • Jujur dan menepati janji

2. TUK 2 : Klien mengenal halusinasinya

Kriteria Evaluasi

Klien dapat menyebutkan waktu, isi, frekuensi, timbulnya halusinasi

Intervensi

  • Adakah kontak yang sering dan singkat secara bertahap
  • Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya

3. TUK 3 : Klien dapat mengontrol halusinasinya

Kriteria Evaluasi

Klien dapat menyebutkan tindakan yang biasanya dilakukan untuk mengendalikan halusinasinya

Intervensi

  • Identifikasi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi
  • Diskusikan dengan klien tentang manfaat cara yang digunakan klien, jika bermanfaat berikan pujian

4. TUK 4 : Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik

Kriteria Evaluasi

Klien dapat menyebutkan manfaat, dosis dan efek samping obat

Klien dapat mendemonstrasikan cara penggunaan obat yang benar

Intervensi

  • Diskusikan dengan klien tentang dosis frekuensi dan manfaat obat
  • Anjurkan klien minta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. (2008). Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta :EGC.

Directorat Kesehatan Jiwa, Dit. Jen Yan. Kes. Dep. Kes R.I. Keperawatan Jiwa. Teori dan Tindakan Keperawatan Jiwa, , 2000

Doenges, Mrylin E, dkk. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC.

Rasmun, Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi dengan Keluarga, CV.
Sagung Seto, , 2001.

 

Artikel Lainnya:

  1. Protap Pemeriksaan Tanda Vital Untuk Perawat
  2. Asuhan Keperawatan TB
  3. Askep Gastritis
  4. Askep Scabies
  5. Download Kumpulan Askep

 

 

Download ASKEP

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net

Tukar Link ?
Copy kode dibawah ini, kemudian paste di blog Anda:


Tampilan akan seperti ini :

Langganan Artikel
Enter your Email


Preview | Powered by FeedBlitz
Menu Anak

Copyright © 2008 - 2014 NursingBegin.com.