PostHeaderIcon Pedoman Keselamatan Pasien Rumah Sakit


Pedoman Keselamatan Pasien Rumah Sakit

Rumah sakit sebagai tempat pelayanan kesehatan modern adalah suatu organisasi yang sangat kompleks karena padat modal, padat teknologi, padat karya, padat profesi, padat sistem, padat mutu serta padat resiko sehingga tidak mengejutkan jika kejadian tidak diinginkan (adverse event) akan sering terjadi dan akan berakibat pada terjadinya injuri atau kematian pada pasien.

Rumah sakit pemerintah maupun rumah sakit swasta diseluruh wilayah Indonesia wajib menjalankan program keselamatan pasien yang telah dicanangkan oleh pemerintah pusat. Oleh sebab itu seluruh karyawan, manajemen dan staf suatu rumah sakit harus bertekad menjadikan gerakan keselamatan pasien sebagai prioritas dalam pengelolaan rumah sakit.

Karena “… pelayanan yang aman bukan merupakan pilihan, namun merupakan hak bagi semua pasien yang mempercayakan perawatannya pada sistim pelayanan kesehatan kita… (Sir Liam Donaldson, ketua WHQ “World Alliance for Patient Safety, Forward Programe, 2006-2007).

Pengertian Patient Safety

Patient safety atau keselamatan pasien adalah suatu sistem yang membuat asuhan pasien di rumah sakit menjadi lebih aman. Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.

Latar Belakang Perlu Sistim Keselamatan Pasien di Rumah Sakit

Banyaknya jenis obat, jenis pemeriksaan penunjang, jenis prosedur tindakan, serta jumlah pasien dan jumlah staf rumah sakit yang cukup besar, merupakan hal yang potensial bagi terjadinya berbagai macam kesalahan.

Manfaat Patien Safety

  1. Meningkatnya dan berkembangnya budaya safety (blame free culture, reporting culture, learning culture).
  2. Komunikasi dengan pasien berkembang.
  3. Angka KTD (Kejadian Tidak Diharapkan) menurun, peta KTD selalu ada dan terkini.
  4. Risiko klinis menurun.
  5. Keluhan dan litigasi (tuntutan hukum) berkurang.
  6. Mutu pelayanan meningkat.
  7. Citra rumah sakit dan kepercayaan masyarakat meningkat, diikuti dengan kepercayaan dan kepuasan diri yang meningkat.

 

Tujuh Standar Keselamatan Pasien

Mengacu pada Standar Keselamatan Pasien Rumah Sakit yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia, tahun 2008, yaitu:

  1. Hak pasien
  2. Mendidik pasien dan keluarga
  3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
  4. Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien
  5. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
  6. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
  7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien

 

Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien RS

Panduan nasional KKP-RS, Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2008, sebagai panduan bagi staf rumah sakit tentang tujuh langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit, yaitu:

  1. Bangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien, (ciptakan kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan adil).
  2. Pimpin dan dukung staf anda (bangun komitmen dan fokus yang kuat dan jelas tentang keselamatan pasien di rumah sakit anda).
  3. Integrasikan aktivitas pengelolaan resiko (kembangkan sistim dan proses pengelolaan resiko, serta lakukan identifikasi dan asesmen hal yang potensial bermasalah).
  4. Kembangkan sistem pelaporan (pastikan staf anda agar dengan mudah dapat melaporkan kejadian / insiden serta rumah sakit mengatur pelaporan kepada komite keselamatan pasien rumah sakit).
  5. Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien (kembangkan cara-cara komunikasi yang terbuka dengan pasien).
  6. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien (dorong staf anda untuk melakukan analisis akar masalah untuk belajar bagaimana dan mengapa kejadian bisa terjadi).
  7. Cegah cedera melalui implementasi sistim keselamatan pasien (gunakan informasi yang ada tentang kejadian / masalah untuk melakukan perubahan pada sistim pelayanan).

 

Sembilan Solusi Keselamatan Pasien di Rumah Sakit

Menurut WHO Collaborating Centre for Patien Safety, tahun 2007, sembilan solusi keselamatan pasien di rumah sakit yaitu:

  1. Perhatikan nama obat, rupa dan ucapan mirip (look alike, sound alike medication names LASA, atau nama obat rupa ucapan dan mirip NORUM).
  2. Pastikan identifikasi pasien.
  3. Komunikasi secara benar saat serah terima pasien.
  4. Pastikan tindakan yang benar pada sisi tubuh yang benar.
  5. Kendalikan cairan elektrolit pekat.
  6. Pastikan akurasi pemberian obat pada pengalihan pelayanan.
  7. Hindari salah kateter dan salah sambung selang.
  8. Gunakan alat injeksi sekali pakai.
  9. Tingkatkan kebersihan tangan untuk mencegah infeksi nosokomial.

 

Enam Sasaran Patient Safety

  1. Melakukan identifikasi pasien secara tepat.
  2. Meningkatkan komunikasi yang efektif.
  3. Meningkatkan keamanan penggunaan obat yang membutuhkan perhatian.
  4. Mengurangi resiko salah lokasi, salah pasien dan tindakan operasi.
  5. Mengurangi resiko infeksi.
  6. Mengurangi resiko pasien cedera karena jatuh.

 

Deri keenam sasaran keselamatan pasien tersebut akan dijabarkan untuk masing-masing sasaran adalah sebagai berikut:

Melakukan Identifikasi Pasienn Secara Tepat

Setiap pasien yang berobat ke rumah sakit akan diberikan gelang identitas.  Identitas pasien terdiri dari tiga hal, yaitu nama lengkap pasien, tanggal lahir pasien dan nomor rekam medis pasien.

Untuk pasien yang dirawat jalan, petugas mengidentifikasi pasien dengan cara menanyakan nama lengkap pasien, dan tanggal lahir pasien. Untuk pasien yang rawat inap ditanyakan nama lengkap pasien dan nomor rekam medis pasien.

Gelang identitas juga dibedakan warnanya yaitu gelang warna biru untuk pasien laki-laki, gelang warna pink untuk pasien perempuan. Terdapat dua warna gelang tambahan yaitu gelang warna merah untuk pasien yang memiliki riwayat alergi, dan gelang warna kuning untuk pasien yang beresiko jatuh.

Pelaksanaan identifikasi pasien dilakukan pada saat:

  1. Sebelum memberikan obat kepada pasien
  2. Sebelum memberikan tranfusi darah dan produk darah
  3. Sebelum mengambil sampel darah, atau sampel lainnya untuk pemeriksaan
  4. Sebelum melakukan tindakan dan prosedur

 

Meningkatkan Komunikasi yang Efektif

Ada beberapa hal yang mesti dilakukan di dalam melakukan komunikasi yang efektif, yaitu:

  1. Melakukan read back (membaca kembali) pada saat menerima order lisan atau menerima instruksi melalui telepon, kemudian pasang stiker sign here pada instruksi tersebut yang akan ditanda tangani oleh pemberi instruksi maksimal 24 jam setelah instruksi diberikan.
  2. Dalam melakukan komunikasi biasakan menggunkan metoda SBAR (Situation Background Assessment Recommendation), misalnya pada saat melaporkan pasien kritis, melaksanakan serah terima pasien antar shif (hand off) dan melaksanakan serah terima pasien antar ruangan.
  3. Jika dalam melakukan intruksi melalui tulisan terdapat singkatan, maka buatkan daftar singkatan yang telah disetujui bersama.

 

Meningkatkan Keamanan Penggunaan Obat yang Membutuhkan Perhatian

Begitu banyaknya pasien yang berobat ke rumah sakit, banyaknya petugas kesehatan dari berbagai disiplin ilmu, dan begitu banyaknya prosedur tindakan, memungkinkan terjadinya berbagai potensi kesalahan terutama dalam pemberian pengobatan. Untuk mencegah hal ini, diperlukan beberapa cara, yaitu :

  1. Mensosialisasikan dan meningkatkan kewaspadaan obat Look Alike Sound Alike (LASA) atau istilah Indonesianya Nama Obat Rupa Ucapan dan Mirip (NORUM).
  2. Menerapkan double check dan counter sign setiap distribusi dan pemberian obat.
  3. Perhatikan agar obat high alert berada di tempat yang aman.
  4. Perhatikan prinsip 8 benar dalam pemberian obat.

 

Mengurangi Resiko Salah Lokasi, Salah Pasien dan Tindakan Operasi

Tindakan operasi atau penunjang medis lainnya merupakan salah satu tindakan yang dilakukan dalam rangka kesembuhan pasien, namun tindakan ini sangat beresiko baik terhadap pasien maupun petugas kesehatan. Kesalahan dalam prosedur ini bisa mengakibatkan kecacatan bahkan berakibat fatal terhadap jiwa pasien. Untuk mencegah resiko ini, maka:

  1. Memberi tanda pada sisi yang akan dilakukan tindakan operasi (surgical site marking) yang tepat dengan cara yang jelas dimengerti dan libatkan pasien atau keluarga dalam pemberian informed consent.
  2. Melaksanakan prosedur safety surgical checklist berupa sign in, time out dan sign out misalnya di ruang operasi, radiologi, endoskopi.

 

Mengurangi Resiko Infeksi

  1. Melaksanakan program hand hygiene 5 moment yang efektif dengan pedoman nasional / internasional.
  2. Menyediakan hand rub di tiap ruang perawatan.
  3. Pelatihan mencuci tangan efektif kepada seluruh staf.
  4. Proses audit dan analisa hand hygiene.
  5. Berikan tanggal melakukan prosedur dalam setiap melakukan tindakan invasif misalnya pemasangan infus, dower chateter, CVP, WSD dan lain-lain.

 

Mengurangi Resiko Pasien Cedera Karena Jatuh

  1. Lakukan pengkajian resiko jatuh terhadap semua pasien rawat inap dengan skala morse untuk pasien dewasa dan humpi dumpi untuk pasien anak-anak.
  2. Pemberian tanda pada pasien beresiko jatuh dengan gelang yang berwarna kuning di lengan pasien atau tanda resiko jatuh di bed pasien.
  3. Melakukan tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan resiko jatuh, seperti lantai tidak licin, pegangan di kamar mandi, pengaman brankard atau tempat tidur.

 

Artikel Lainnya:

  1. Model Triage di Unit Gawat Darurat
  2. Kepuasan Kerja Perawat
  3. Protap Cara Pengambilan Darah Vena
  4. Prinsip Pemberian Obat 8B1W
  5. Protap Pemasangan Infus

 

 


Leave a Reply

*

Download ASKEP

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net

Tukar Link ?
Copy kode dibawah ini, kemudian paste di blog Anda:


Tampilan akan seperti ini :

Langganan Artikel
Enter your Email


Preview | Powered by FeedBlitz
Menu Anak


Copyright © 2008 - 2016 NursingBegin.com.