Posts Tagged ‘avpu’

PostHeaderIcon Teknik Penilaian Untuk Triage Yang Aman

Teknik Penilaian Untuk Triage Yang Aman

 

Penilaian Bahaya Lingkungan

Ini adalah langkah pertama untuk praktek yang aman di triage. Perawat triage harus memahami protap keamanan internal. Selain itu, perawat triage harus memperhatikan standar pencegahan setiap kali ada potensi pajanan terhadap darah atau cairan tubuh lainnya. Perawat triage harus menyadari risiko yang terkait dengan meninggalkan daerah triage untuk mengambil pasien dari kendaraan atau area penerimaan rumah sakit. Kebijakan lokal akan menentukan prosedur dalam hal ini, tetapi prinsip umum adalah bahwa meja triage seharusnya tidak pernah ditinggalkan dan anggota staf tidak boleh menempatkan dirinya dalam situasi di mana bantuan tambahan tidak dapat dimobilisasi. Sebagai bagian dari menjaga lingkungan yang aman, perawat triage harus memastikan bahwa peralatan untuk memberikan bantuan hidup dasar (bag valve and mask dan suplai oksigen) tersedia di triage. Demikian juga, diperlukan peralatan yang sesuai dengan standar kewaspadaan (standard precaution ). Pada awal tiap shift, para perawat triage harus melakukan pemeriksaan keselamatan dasar dan lingkungan area kerja untuk mengoptimalkan keamanan lingkungan dan pasien.

Penampilan Umum

Ini merupakan komponen penting dari penilaian triage. Pengamatan dari penampilan dan perilaku pasien ketika mereka tiba memberitahu kita banyak tentang status fisiologis dan psikologis pasien.

Survei primer membantu melakukan praktek yang aman di IRD. Ketika penilaian lingkungan dan penampilan umum pasien lengkap ( harus dilakukan beberapa detik), survei primer harus segera dimulai.

Airway

Selalu memeriksa kepatenan jalan nafas, dan pertimbangkan tindakan untuk pencegahan cedera servikal jika ada indikasi. Jika jalan nafas tersumbat atau adanya risiko langsung ke saluran napas harus dialokasikan triage immediate / merah (ini termasuk pasien yang tidak berespons dengan GCS < 9 dan kejang berkepanjangan).

 

Breathing

Penilaian pernapasan meliputi penentuan frekuensi pernapasan dan kerja pernapasan  pasien dengan bukti disfungsi pernapasan selama penilaian triage harus dialokasikan pada triage merah / immediate. Pasien dialokasikan untuk triage hijau / wait (walking wounded) harus memiliki fungsi pernafasan normal. Hal ini penting untuk mendeteksi hypoxemia. Hal ini dapat dideteksi dengan menggunakan pulse oksimetri.

Sirkulasi

Penilaian sirkulasi meliputi penentuan denyut jantung, nadi dan karakteristik nadi, asupan dan luaran oral adalah penting bahwa hipotensi seharusnya terdeteksi selama penilaian triage untuk memfasilitasi penanganan dini dan. Meskipun tidak mungkin untuk mengukur tekanan darah pada triage, indikator lain status hemodinamik harus dipertimbangkan, meliputi nadi perifer, status kulit, tingkat kesadaran dan perubahan denyut jantung. Pasien dengan bukti gangguan hemodinamik (hipotensi, hipertensi berat, takikardia atau bradikardia) selama penilaian triage harus dialokasikan triage merah / immediate.

Pasien dialokasikan untuk triage hijau / wait (walking wounded) harus memiliki fungsi peredaran darah normal.

Disability

Penilaian ini meliputi penentuan AVPU, GCS dan / atau tingkat kemampuan aktivitas, penilaian kehilangan kesadaran, dan penilaian nyeri. perubahan tingkat kesadaran adalah indikator penting dari risiko penyakit serius atau cedera. Pasien dengan kelainan tingkat kesadaran harus dialokasikan untuk  triage merah / immediate.

 

AVPU:

A: alert ( sadar )

V: beresponse terhadap suara verbal

P: beresponse terhadap nyeri /pain

U: unresponsive ( tidak berespon )

 

Lingkungan

Penilaian suhu (hipotermia dan hipertermia) adalah indikator klinis yang penting dan perlu untuk diidentifikasi di triage .

Pertimbangan Lainnya

Faktor risiko lain yang harus dipertimbangkan dalam penilaian triage pada pasien yang dengan parameter fisiologis normal pada saat triage, adalah sebagai berikut:

•           Usia yang ekstrim (sangat muda atau sangat tua) memerlukan perbedaan fisiologis yang meningkatkan risiko penyakit serius dan cedera, pasien tersebut memiliki penurunan cadangan fisiologis dan perubahan respon , dan dapat hadir dengan tanda-tanda dan gejala non-spesifik.

•           Kondisi berisiko tinggi termasuk penyakit kronis, gangguan kognitif, defisit komunikasi, keracunan atau sakit parah mungkin memerlukan alokasi ke triage merah / immediate.

•           Pasien dengan tanda risiko tinggi, seperti riwayat perilaku kekerasan.

•           Pasien trauma harus dialokasikan dalam triage berdasarkan urgensi klinis. Ada mekanisme spesifik cedera yang berhubungan dengan risiko cedera yang mengancam kehidupan yang perlu dimasukkan dalam keputusan triage. Contohnya termasuk kendaraan yang terguling, kematian penumpang kendaraan yang sama, terpental dari kendaraan, dan jatuh dari ketinggian lebih dari tiga meter.

•           Adanya ruam juga perlu diwaspadai oleh perawat triage terhadap kemungkinan penyakit serius seperti anafilaksis atau penyakit meningokokus, namun jenis presentasi biasanya akan memiliki abnormalitas bersamaan pada survey primer.

 

Re-triage

Memprioritaskan Beberapa Pasien di Triage

Meskipun tidak ada penelitian yang berkaitan dengan triage pada pasien  yang datang secara bersamaan, pendekatan primery survey secara teoritis digunakan memprioritaskan pasien berdasarkan kondisi yang mengancam nyawa. Pendekatan ini berarti bahwa pasien dengan masalah jalan nafas harus didahulukan dari pasien dengan masalah pernapasan, dan didahulukan dari pasien dengan masalah sirkulasi.

 

 

Artikel Lainnya

  1. Pedoman Keselamatan Pasien Rumah Sakit
  2. Komunikasi Dalam Triage
  3. Model Triage di Unit Gawat Darurat
  4. Prosedur Pemberian Obat IV
  5. Penatalaksanaan Syok Anafilaktik

 

 

 

PostHeaderIcon Tingkat Kesadaran

Tingkat Kesadaran

( Macam-macam Tingkat Kesadaran )


Tingkat kesadaran adalah ukuran dari kesadaran dan respon seseorang terhadap rangsangan dari lingkungan, tingkat kesadarankesadaran dibedakan menjadi :

  1. Compos Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya..
  2. Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh.
  3. Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berhayal.
  4. Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal.
  5. Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri.
  6. Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya).

Perubahan tingkat kesadaran dapat diakibatkan dari berbagai faktor, termasuk perubahan dalam lingkungan kimia otak seperti keracunan, kekurangan oksigen karena berkurangnya aliran darah ke otak, dan tekanan berlebihan di dalam rongga tulang kepala.

Adanya defisit tingkat kesadaran memberi kesan adanya hemiparese serebral atau sistem aktivitas reticular mengalami injuri. Penurunan tingkat kesadaran berhubungan dengan peningkatan angka morbiditas (kecacatan) dan mortalitas (kematian).

Jadi sangat penting dalam mengukur status neurologikal dan medis pasien. Tingkat kesadaran ini bisa dijadikan salah satu bagian dari vital sign.

Penyebab Penurunan Kesadaran

Penurunan tingkat kesadaran mengindikasikan difisit fungsi otak. Tingkat kesadaran dapat menurun ketika otak mengalami kekurangan oksigen (hipoksia); kekurangan aliran darah (seperti pada keadaan syok); penyakit metabolic seperti diabetes mellitus (koma ketoasidosis) ; pada keadaan hipo atau hipernatremia ; dehidrasi; asidosis, alkalosis; pengaruh obat-obatan, alkohol, keracunan: hipertermia, hipotermia; peningkatan tekanan intrakranial (karena perdarahan, stroke, tomor otak); infeksi (encephalitis); epilepsi.

Mengukur Tingkat Kesadaran

Salah satu cara untuk mengukur tingkat kesadaran dengan hasil seobjektif mungkin adalah menggunakan GCS (Glasgow Coma Scale). GCS dipakai untuk menentukan derajat cidera kepala. Reflek membuka mata, respon verbal, dan motorik diukur dan hasil pengukuran dijumlahkan jika kurang dari 13, makan dikatakan seseorang mengalami cidera kepala, yang menunjukan adanya penurunan kesadaran.

Metoda lain adalah menggunakan sistem AVPU, dimana pasien diperiksa apakah sadar baik (alert), berespon dengan kata-kata (verbal), hanya berespon jika dirangsang nyeri (pain), atau pasien tidak sadar sehingga tidak berespon baik verbal maupun diberi rangsang nyeri (unresponsive).

Ada metoda lain yang lebih sederhana dan lebih mudah dari GCS dengan hasil yang kurang lebih sama akuratnya, yaitu skala ACDU, pasien diperiksa kesadarannya apakah baik (alertness), bingung / kacau (confusion), mudah tertidur (drowsiness), dan tidak ada respon (unresponsiveness).

Artikel yang Berhubungan :

Download ASKEP

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net

Tukar Link ?
Copy kode dibawah ini, kemudian paste di blog Anda:


Tampilan akan seperti ini :

Langganan Artikel
Enter your Email


Preview | Powered by FeedBlitz
Menu Anak

Copyright © 2008 - 2017 NursingBegin.com.