Posts Tagged ‘komponen proses keperawatan’

PostHeaderIcon Pengertian Proses Asuhan Keperawatan

Pengertian Proses Asuhan Keperawatan. Keperawatan merupakan suatu bentuk layanan kesehatan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang berlandaskan ilmu dan kiat keperawatan berbentuk layanan bio, psiko, social, dan spiritual yang komprehensif yang bertujuan bagi individu, keluarga, dan masyarakat baik dalam keadaan sehat ataupun sakit serta mencakup seluruh proses keperawatan (Asmadi,2008).

Menurut Carol V.A. (1991) proses keperawatan adalah suatu metode yang sistematis untuk mengkaji respon manusia terhadap masalah kesehatan dan membuat rencana keperawatan yang bertujuan mengatasi masalah tersebut.

Komponen proses keperawatan

Sebagai metode ilmiah, proses keperawatan memiliki serangkaian langkah. Langkah/komponen proses keperawatan merupakan suatu siklus yang dapat diuraikan sebagai berikut:

Tahap I (pengkajian)

Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan. Disini, semua data dikumpulkan secara sistematis guna menentukan status kesehatan klien saat ini. Pengkajian harus dilakukan secara komprehensif terkait dengan aspek biologis, psikologis, social, maupun spiritual klien.

Proses pengkajian keperawatan yang digunakan di IRD BRSU Tabanan, merupakan pendekatan sistematik untuk mengidentifikasi masalah keperawatan gawat darurat. Data dapat diperoleh secara primer (klien) maupun sekunder (keluarga, tim kesehatan lainya). Proses pengkajian dibagi dalam dua bagian : pengkajian primer dan pengkajian sekunder (Depkes RI, 2005).

 

1)   Pengkajian Primer

Pengkajian cepat untuk mengidentifikasi dengan segera masalah actual atau resiko tinggi dari kondisi life threatening (berdampak terhadap kemampuan pasien untuk mempertahankan hidup). Pengkajian berpedoman pada inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi jika hal tersebut memungkinkan.

Prioritas penilaian dilakukan berdasarkan :

A: Airway (jalan nafas) dengan control servikal

B: Breathing dan ventilasi

C: Circulation dengan control perdarahan

D: Disability

E: Exposure control, dengan membuka pakaian pasien tetapi cegah hipotermi.

2)   Pengkajian Sekunder

Pengkajian sekunder setelah masalaha airway, breathing dan circulation yang ditemukan pada pengkajian primer diatasi. Pengkajian sekunder meliputi pengkajian obyektif dan subyektif dari riwayat keperawatan (riwayat penyajit sekarang, riwayat penyakit terdahulu, riwayat pengobatan, riwayat keluarga) dan pengkajian dari kepala sampai kaki.

Tahap II (Diagnosa Keperawatan)

Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang dibuat oleh perawat professional yang memberi gambaran tentang masalah atau status kesehatan klien, baik actual maupun potensial, yang ditetapkan berdasarkan analisis dan interpretasi data hasil pengkajian. Pernyataan diagnosis keperawatan harus jelas, singkat, dan lugas terkait masalah kesehatan klien berikut penyebabnya yang dapat diatasi melalui tindakan keperawatan (Asmadi, 2008).

Diagnosa keperawatan dibuat sesuai dengan urutan masalah, penyebab, dan data (problem, etiologi, symptoms/PES), baik bersifat actual maupun resiko tinggi. Prioritas masalah ditentukan berdasarkan besarnya ancaman terhadap kehidupan klien ataupun berdasarkan dasar/penyebab timbulnya gangguan kebutuhan klien (Depkes RI, 2005).

Daftar diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada gawat darurat antara lain: bersihan jalan nafas tidak efektif, pola nafas tidak efektif, gangguan pertukaran gas, penurunan curah jantung, gangguan perfusi jaringan ferifir, gangguan perfusi jaringan serebral, nyeri dada, gangguan volume cairan (kurang/lebih), gangguan kebutuhan nutrisi dan gangguan termoregulasi (Depkes RI, 2005).

Tahap III (Perencanaan)

Rencana tindakan keperawatan menggambarkan prioritas tindakan keperawatan dan tujuan keperawatan yang didasari atas ilmu keperawatan mutakhir, serta meliputi rencana tindakan observasi, pemantauan/monitor, tindakan mandiri keperawatan, dan kolaborasi. Sebagai penunjang rencana tindakan, perawat gawat darurat menyiapkan alat-alat yang diperlukan dalam keadaan siap digunakan dan menjaga keselamatan dan keamanan diri sendiri, sejawat dan  klien serta keluarganya (Depkes RI, 2005).

 

Tahap IV (Implementasi)

Implementasi adalah tahap ketika perawat mengaplikasikan rencana asuhan keperawatan ke dalam bentuk intervensi keperawatan guna membantu klien mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Intervensi keperawatan merupakan pelaksanaan tindakan keperawatan yang dapat dilakukan secara mandiri maupun kolaborasi, intervensi mandiri meliputi tindakan pemantauan berkelanjutan kondisi klien, penyelamatan hidup dasar, pendidikan kesehatan, ataupun pelaksanaan dindakan keperawatan lainya sesuai dengan kondisi kegawat-daruratan klien. Intervensi kolaborasi adalah tindakan kerjasama dengan tim kesehatan lainnya dalam lingkup yang sesuai dengan aturan profesi keperawatan. Intervensi yang diberikan kepada setiap klien gawat darurat harus dapat dipertanggung jawabkan dan dipertanggung gugatkan oleh perawat gawat darurat yang memberikan asuhan keperawatan tersebut (Depkes RI, 2005).

Tahap V (Evaluasi)

Evaluasi adalah tahap terakhir dari proses keperawatan yang merupakan perbandingan yang sistematis dan terencana antara hasil akhir yang teramati dan tujuan atau criteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan. Evaluasi dilakukan secara bersinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya.

Evaluasi merupakan tindakan pengkajian ulang (reassessment) klien gawat darurat dimana data yang diperoleh merupakan dasar analisa untuk tindakan keperawatan selanjutnya. Evaluasi harus dilakukan secara berkelanjutan sehingga perawat dapat memantau ada tidaknya perkembangan kondisi klien sesuai dengan tujuan keperawatan, melanjutkan atau merubah rencana asuhan keperawatan selanjutnya, ataupun mengembangkan diagnose keperawatan baru yang sesuai dengan kondisi terkini klien. Evaluasi dapat dilakukan berdasarkan tingkat kegawatdaruratan klien, dilakukan paling sedikit setiap pergantian sift (false emergensi), setiap 4 jam sekali atau klien dengan kondisi gawat darurat setiap 15 menit (Depkes RI, 2005).

Dokumentasi Proses Keperawatan

Menurut Asmadi (2008) dokumentasi merupakan pernyataan tentang kejadian atau aktivitas  yang otentik dengan membuat catatan tertulis. Dokumentasi keperawatan berisi hasil aktivitas keperawatan yang dilakukan perawat terhadap klien, mulai dari pengkajian hingga evaluasi.

Dokumentasi keperawatan merupakan sarana komunikasi dari satu profesi ke profesi lain terkait status klien. Sebagai alat komunikasi, tulisan dalam dokumentasi keperawatan harus jelas terbaca, tidak boleh memakai istilah atau singkatan-singkatan yang tidak lazim, juga berisi uraian yang jelas, tegas, dan sistematis.

Menurut Doenges (2000) dokumentasi bukan hanya syarat untuk akreditasi, tetapi juga syarat hokum di tatanan perawatan kesehatan. Dokumentasi memberikan catatan tentang penggunaan proses keperawatan untuk memberikan perawatan pasien secara individual. Jadi system dokumentasi adalah untuk: memfasilitasi pemberian perawatan pasien yang berkwalitas, memastikan dokumentasi kemajuan yang berkenaan dengan hasil yang berfokus pada pasien, dan memfasilitasi konsistensi antardisiplin dan komunikasi tujuan dan kemajuan pengobatan.

 

Download ASKEP

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net

Tukar Link ?
Copy kode dibawah ini, kemudian paste di blog Anda:


Tampilan akan seperti ini :

Langganan Artikel
Enter your Email


Preview | Powered by FeedBlitz
Menu Anak

Copyright © 2008 - 2014 NursingBegin.com.