Posts Tagged ‘makp’

PostHeaderIcon Penentuan Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP)

Penentuan Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP)

MAKP

MAKP

Pada penerapan MAKP harus mampu memberikan asuhan keperawatan profesional dan untuk diperlukan penataan 3 komponen utama (Nursalam, 2002):

Ketenagaan

Saat ini jumlah dan jenis tenaga keperawatan kurang mampu untuk memberi asuhan keperawatan yang profesional. Hal ini terlihat dari komposisi tenaga yang ada mayoritas lulusan SPK. Disamping itu jumlah tenaga keperawatan ruang rawat tidak ditentukan berdasarkan derajat ketergantungan klien. Pada suatu pelayanan profesional jumlah tenaga yang diperlukan tergantung pada jumlah klien dan derajat ketergantungan klien.

Menurut Douglas (1984) klasifikasi derajat ketergantungan klien dibagi 3 kategori yaitu :

  • perawatan minimal memerlukan waktu 1 -2 jam/ 24 jam,
  • perawatan intermediet memerlukan waktu 3 – 4 jam/ 24 jam ,
  • perawatan maksimal atau total memerlukan waktu 5 – 6 jam/ 24 jam.

Dalam penelitian Douglas (1975) tentang jumlah tenaga perawat di rumah sakit, di dapatkan jumlah yang dibutuhkan pada pagi, sore dan malam tergantung pada tingkat ketergantungan klien.

Metode Pemberian Asuhan Keperawatan

Terdapat 4 metode pemberian asuhan keperawatan yaitu metode fungsional, metode kasus, metode tim dan metode keperawatan primer (Gillies, 1989).

Dari keempat metode ini, metode yang paling memungkinkan pemberian pelayanan profesional adalah metode tim dan primer. Dalam hal ini adanya sentralisasi obat, timbang terima, ronde keperawatan dan supervisi (Nursalam, 2002).

Kontroling Obat

Kontroling terhadap penggunaan dan konsumsi obat, sebagai salah satu peran perawat perlu dilakukan dalam suatu pola/ alur yang sistematis sehingga penggunaan obat benar – benar dapat dikontrol oleh perawat sehingga resiko kerugian baik secara material maupun secara non material dapat diminimalkan.

Tujuan Kontroling Obat

a. Tujuan Umum

· Meningkatkan mutu pelayanan kepada klien, terutama dalam pemberian obat.

· Sebagai tanggung jawab dan tanggung gugat secara hukum maupun secara moral.

· Mempermudah pengelolaan obat secara efektif dan efesien.

b. Tujuan Khusus

· Menyeragamkan pengelolaan obat.

· Mengamankan obat – obat yang dikelola.

· Mengupayakan ketepatan pemberian obat dengan prinsip enam benar.

Tehnik Pengelolaan Obat Kontrol Penuh ( Sentralisasi)

Tehnik pengelolaan obat kontrol penuh ( sentralisasi) adalah pengelolaan obat dimana seluruh obat yang akan diberikan pada pasien diserahkan sepenuhnya pada perawat. Pengeluaran dan pembagian obat sepenuhnya dilakukan oleh perawat.

Penanggung jawab pengelolaan obat adalah kepala ruangan yang secara operasional dapat didelegasikan pada staf yang ditunjuk.

Keluarga wajib mengetahui dan ikut serta mengontrol penggunaan obat.

Penerimaan obat :

· Obat yang telah diresepkan dan telah diambil oleh keluarga diserahkan kepada perawat dengan menerima lembar serah terima obat.

· Perawat menuliskan nama pasien, register, jenis obat, jumlah dan sediaan dalam kartu kontrol dan diketahui oleh keluarga / klien dalam buku masuk obat. Keluarga atau klien selanjutnya mendapatkan penjelasan kapan/ bilamana obat tersebut akan habis.

· Klien/ keluarga untuk selanjutnya mendapatkan salinan obat yang harus diminum beserta sediaan obat.

· Obat yang telah diserahkan selanjutnya disimpan oleh perawat dalam kotak obat.

Pembagian obat

· Obat yang diterima untuk selanjutnya disalin dalam buku daftar pemberian obat.

· Obat – obat yang telah disiapkan untuk selanjutnya diberikan oleh perawat dengan memperhatikan alur yang tercantum dalam buku daftar pemberian obat, dengan terlebih dahulu dicocokkan dengan terapi di instruksi dokter dan kartu obat yang ada pada klien.

· Pada saat pemberian obat, perawat menjelaskan macam obat, kegunaan obat, jumlah obat dan efek samping.

· Sediaan obat yang ada selanjutnya dicek tiap pagi oleh kepala ruangan/ petugas yang ditunjuk dan didokumentasikan dalam buku masuk obat. Obat yang hampir habis diinformasikan pada keluarga dan kemudian dimintakan kepada dokter penanggung jawab pasien.

Penambahan obat baru

· Informasi ini akan dimasukkan dalam buku masuk obat dan sekaligus dilakukan perubahan dalam kartu sediaan obat.

· Obat yang bersifat tidak rutin maka dokumentasi hanya dilakukan pada buku masuk obat dan selanjutnya diinformasikan pada keluarga dengan kartu khusus obat.

Obat Khusus

· Sediaan memiliki harga yang cukup mahal, menggunakan rute pemberian obat yang cukup sulit, memiliki efek samping yang cukup besar.

· Pemberian obat khusus menggunakan kartu khusus.

· Informasi yang diberikan kepada keluarga/ klien : nama obat, kegunaan, waktu pemberian, efek samping, penanggung jawab obat, dan wadah obat. Usahakan terdapat saksi dari keluarga saat pemberian obat.

Pengelolaan Obat Tidak Penuh ( Desentralisasi)

Penerimaan dan pencatatan obat

· Obat yang telah diambil oleh keluarga diserahkan pada perawat.

· Obat yang diserahkan dicatat dalam buku masuk obat.

· Perawat menyerahkan kartu pemberian obat kepada keluarga / pasien.

· Penyuluhan tentang : rute pemberian obat, waktu pemberian, tujuan, efek samping.

· Perawat menyerahkan kembali obat pada keluarga / pasien dan menandatangani lembar penyuluhan.

Pemberian obat

· Perawat melakukan kontroling terhadap pemberian obat.

· Dicek apakah ada efek samping, pengecekan setiap pagi hari untuk menentukan obat benar – benar diminum sesuai dosis.

· Obat yang tidak sesuai/ berkurang dengan perhitungan diklarifikasi dengan keluarga.

Penambahan obat

· Penambahan obat dicatat dalam buku masuk obat.

· Melakukan penyuluhan obat baru sebelum diserahkan pada pasien.

Obat khusus

· Penyuluhan obat khusus diberikan oleh perawat primer.

· Pemberian obat khusus sebaiknya oleh perawat.

Timbang Terima

Adalah suatu cara dalam menyampaikan dan menerima sesuatu ( laporan ) yang berkaitan dengan keadaan klien.

Tujuan

· Menyampaikan kondisi atau keadaan secara umum klien.

· Menyampaikan hal penting yang perlu ditindaklanjuti oleh dinas berikutnya.

· Tersusun rencana kerja untuk dinas berikutnya.

Langkah – langkah

· Kedua shif dalam keadaan siap.

· Shif yang akan menyerahkan perlu mempersiapkan hal apa yang akan disampaikan.

· Perawat primer menyampaikan kepada penanggung jawab shif yang selanjutnya meliputi ; kondisi, tindak lanjut, rencana kerja.

· Dilakukan dengan jelas dan tidak terburu – buru.

· Secara langsung melihat keadaan klien.

Prosedur Timbang Terima

a. Persiapan

· Kedua kelompok sudah siap.

· Kelompok yang bertugas menyiapkan buku catatan.

b. Pelaksanaan

· Timbang terima dilaksanakan setiap pergantian shif.

· Dari nurse station perawat berdiskusi untuk melaksanakan timbang terima dengan mengkaji secara komprehensif yang berkaitan tentang masalah keperawatan, rencana tindakan yang sudah dan belum dilakukan serta hal penting lannya.

· Hal yang bersifat khusus dan memerlukan perincian yang lengkap dicatat secara khusus untuk kemudian diserahkan kepada perawat jaga berikutnya.

· Hal yang perlu diberitahukan dalam timbang terima: identitas dan diagnosa medis, masalah keperawatan, tindakan yang sudah dan belum dilakukan, intervensi

Ronde Keperawatan

Suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah keperawatan klien yang dilaksanakan oleh perawat, disamping pasien dilibatkan untuk membahas dan melaksanakan asuhan keperawatan akan tetapi pada kasus tertentu harus dilakukan oleh perawat primer atau konselor, kepala ruangan, perawat associate yang perlu juga melibatkan seluruh anggota tim.

Tujuan

c. Menumbuhkan cara berpikir secara kritis.

d. Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang berasal dari masalah klien.

e. Meningkatkan validitas data klien.

f. Menilai kemampuan justifikasi.

g. Meningkatkan kemampuan dalam menilai hasil kerja.

h. Meningkatkan kemampuan untuk memodifikasi rencana perawatan.

Peran Ketua Tim dan Anggota Tim

· Menjelaskan keadaan dan data demografi klien.

· Menjelaskan masalah keperawata utama.

· Menjelaskan intervensi yang belum dan yang akan dilakukan.

· Menjelaskan tindakan selanjutnya.

· Menjelaskan alasan ilmiah tindakan yang akan diambil.

Peran Ketua Tim Lain dan atau Konselor

· Memberikan justifikasi

· Memberikan reinforcement.

· Menilai kebenaran dari suatu masalah, intervensi keperawatan serta tindakan yang rasional.

· Mengarahkan dan koreksi.

· Mengintegrasi teori dan konsep yang telah dipelajari.

Persiapan

· Penetapan kasus minimal 1 hari sebelum waktu pelaksanaan ronde.

· Pemberian inform consent kepada klien/ keluarga.

Pelaksanaan

· Penjelasan tentang klien oleh perawat primer dalam hal ini penjelasan difokuskan pada masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan atau telah dilaksanakan dan memilih prioritas yang perlu didiskusikan.

· Diskusikan antar anggota tim tentang kasus tersebut.

· Pemberian justifikasi oleh perawat primer atau perawat konselor/ kepala ruangan tentang masalah klien serta tindakan yang akan dilakukan.

· Tindakan keperawatan pada masalah prioritas yang telah dan yang akan ditetapkan.

Langkah – langkah Ronde Keperawatan

Langkah - langkah Ronde Keperawatan

Pasca Ronde

Mendiskusikan hasil temuan dan tindakan pada klien tersebut serta menetapkan tindakan yang perlu dilakukan.

Artikel yang Berhubungan :


PostHeaderIcon Tanggung Jawab Perawat dalam Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Tim

Tanggung Jawab Perawat Dalam Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Tim

MAKP Tim

MAKP Tim

(Nursalam, 2002) :

1. Tanggung jawab anggota tim:

a. Memberikan asuhan keperawatan pada pasien di bawah tanggung jawabnya.

b. Bekerjasama dengan anggota tim dan antar tim.

c. Memberikan laporan.

2. Tanggung jawab ketua tim:

a. Membuat perencanaan.

b. Membuat penugasan, supervisi dan evaluasi.

c. Mengenal/ mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai tingkat kebutuhan pasien.

d. Mengembangkan kemampuan anggota.

e. Menyelenggarakan konferensi.

3. Tanggung jawab kepala ruang:

1) Perencanaan

a. Menunjuk ketua tim yang akan bertugas di ruangan masing- masing.

b. Mengikuti serah terima pasien di shift sebelumnya.

c. Mengidentifikasi tingkat ketergantungan klien: gawat, transisi dan persiapan pulang bersama ketua tim.

d. Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan berdasarkan aktifitas dan kebutuhan klien bersama ketua tim, mengatur penugasan/ penjadwalan.

e. Merencanakan strategi pelaksanaan keperawatan.

f. Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi, patofisiologis, tindakan medis yang dilakukan, program pengobatan dan mendiskusikan dengan dokter tentang tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien.

g. Mengatur dan mengendalikan asuhan keparawatan:

Membimbing pelaksanaan asuhan keperawatan.

Membimbing penerapan proses keperawatan dan menilai asuhan keperawatan.

Mengadakan diskusi untuk pemecahan masalah.

Memberikan informasi kepada pasien atau keluarga yang baru masuk RS.

h. Membantu mengembangkan niat pendidikan dan latihan diri.

i. Membantu membimbing terhadap peserta didik keperawatan.

j. Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan di rumah sakit.

2) Pengorganisasian

a. Merumuskan metode penugasan yang digunakan.

b. Merumuskan tujuan metode penugasan.

c. Membuat rincian tugas tim dan anggota tim secara jelas.

d. Membuat rentang kendali kepala ruangan membawahi 2 ketua tim dan ketua tim membawahi 2 – 3 perawat.

e. Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan: membuat proses dinas, mengatur tenaga yang ada setiap hari dan lain- lain.

f. Mengatur dan mengendalikan logistik ruangan.

g. Mengatur dan mengendalikan situasi tempat praktik.

h. Mendelegasikan tugas kepala ruang tidak berada di tempat, kepada ketua tim.

i. Memberi wewenang kepada tata usaha untuk mengurus administrasi pasien.

j. Identifikasi masalah dan cara penanganannya.

3) Pengarahan

a. Memberikan pengarahan tentang penugasan kepada ketua tim.

b. Memberikan pujian kepada anggota tim yang melaksanakan tugas dengan baik.

c. Memberikan motivasi dalam peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap.

d. Menginformasikan hal – hal yang dianggap penting dan berhubungan dengan asuhan keperawatan pasien.

e. Melibatkan bawahan sejak awal hingga akhir kegiatan.

f. Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugasnya.

g. Meningkatkan kolaborasi dengan anggota tim lain.

4) Pengawasan

a. Melalui komunikasi : mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan ketua tim dalam pelaksanaan mengenai asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien.

b. Melalui supervisi:

Pengawasan langsung melalui inspeksi, mengamati sendiri atau melalui laporan langsung secara lisan dan memperbaiki/ mengawasi kelemahannya yang ada saat itu juga.

Pengawasan tidak langsung yaitu mengecek daftar hadir ketua tim, membaca dan memeriksa rencana keperawatan serta catatan yang dibuat selama dan sesudah proses keperawatan dilaksanakan (didokumentasikan), mendengar laporan ketua tim tentang pelaksanaan tugas.

Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan dengan rencana keperawatan yang telah disusun bersama ketua tim.

Audit keperawatan.

Sistem Pemberian Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Tim

Sistem Pemberian Asuhan Keperawatan” Team Nursing” (Marquis & Huston, 1998,p. 149)Artikel Lainnya :

PostHeaderIcon Konsep Model Asuhan Keperawatan Profesional

Pengertian

Model Asuhan Keperawatan Profesional

Model Asuhan Keperawatan Profesional

Model Asuhan Keperawatan Profesional adalah sebagai suatu sistem (struktur, proses dan nilai- nilai) yang memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan untuk menopang pemberian asuhan tersebut (Hoffart & Woods, 1996).

Dasar Pertimbangan Pemilihan Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP)

Mc. Laughin, Thomas dean Barterm (1995) mengidentifikasikan 8 model pemberian asuhan keperawatan, tetapi model yang umum dilakukan di rumah sakit adalah Keperawatan Tim dan Keperawatan Primer. Karena setiap perubahan akan berdampak terhadap suatu stress, maka perlu mempertimbangkan 6 unsur utama dalam penentuan pemilihan metode pemberian asuhan keperawatan (Marquis & Huston, 1998; 143) yaitu:

1. Sesuai dengan visi dan misi institusi

2. Dapat diterapkan proses keperawatan dalam asuhan keperawatan.

3. Efisien dan efektif penggunaan biaya.

4. Terpenuhinya kepuasan klien, keluarga dan masyarakat.

5. Kepuasan kinerja perawat.

Jenis Model Asuhan Keperawatan Profesional ( MAKP)

Menurut Grant & Massey (1997) dan Marquis & Huston (1998) ada 4 metode pemberian asuhan keperawatan profesional yang sudah ada dan akan terus dikembangkan di masa depan dalam menghadapi tren pelayanan keperawatan, yaitu:

1. Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Fungsional

Model fungsional dilaksanakan oleh perawat dalam pengelolaan asuhan keperawatan sebagai pilihan utama pada saat perang dunia kedua. Pada saat itu karena masih terbatasnya jumlah dan kemampuan perawat maka setiap perawat hanya melakukan 1 – 2 jenis intervensi keperawatan kepada semua pasien di bangsal. Model ini berdasarkan orientasi tugas dari filosofi keperawatan, perawat melaksanakan tugas ( tindakan) tertentu berdasarkan jadwal kegiatan yang ada (Nursalam, 2002).

2. Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Kasus

Setiap perawat ditugaskan untuk melayani seluruh kebutuhan pasien saat ia dinas. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda untuk setiap shift dan tidak ada jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh orang yang sama pada hari berikutnya. Metode penugasan kasus biasa diterapkan satu pasien satu perawat, dan hal ini umumnya dilaksanakan untuk perawat privat atau untuk keperawatan khusus seperti isolasi, intensive care.Metode ini berdasarkan pendekatan holistik dari filosofi keperawatan. Perawat bertanggung jawab terhadap asuhan dan observasi pada pasien tertentu (Nursalam, 2002).

3. Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Primer

Menurut Gillies (1986) perawat yang menggunakan metode keperawatan primer dalam pemberian asuhan keperawatan disebut perawat primer (primary nurse). Pada metode keperawatan primer terdapat kontinutas keperawatan dan bersifat komprehensif serta dapat dipertanggung jawabkan, setiap perawat primer biasanya mempunyai 4 – 6 klien dan bertanggung jawab selama 24 jam selama klien dirawat dirumah sakit. Perawat primer bertanggung jawab untuk mengadakan komunikasi dan koordinasi dalam merencanakan asuhan keperawatan dan juga akan membuat rencana pulang klien jika diperlukan. Jika perawat primer sedang tidak bertugas , kelanjutan asuhan akan didelegasikan kepada perawat lain (associate nurse)

Metode penugasan dimana satu orang perawat bertanggung jawab penuh selama 24 jam terhadap asuhan keperawatan pasien mulai dari pasien masuk sampai keluar rumah sakit. Mendorong praktik kemandirian perawat, ada kejelasan antara si pembuat rencana asuhan dan pelaksana. Metode primer ini ditandai dengan adanya keterkaitan kuat dan terus menerus antara pasien dan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan, melakukan dan koordinasi keperawatan selama pasien dirawat.

4. Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Tim

Metode tim merupakan suatu metode pemberian asuhan keperawatan dimana seorang perawat profesional memimpin sekelompok tenaga keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan kelompok klien melalui upaya kooperatif dan kolaboratif ( Douglas, 1984). Model tim didasarkan pada keyakinan bahwa setiap anggota kelompok mempunyai kontribusi dalam merencanakan dan memberikan asuhan keperawatan sehingga timbul motivasi dan rasa tanggung jawab perawat yang tinggi sehingga diharapkan mutu asuhan keperawatan meningkat. Menurut Kron & Gray (1987) pelaksanaan model tim harus berdasarkan konsep berikut:

a. Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan tehnik kepemimpinan.

b. Komunikasi yang efektif penting agar kontinuitas rencana keperawatan terjamin.

c. Anggota tim menghargai kepemimpinan ketua tim.

d. Peran kepala ruang penting dalam model tim. Model tim akan berhasil baik bila didukung oleh kepala ruang.

Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda- beda dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. Perawat ruangan dibagi menjadi 2 – 3 tim/ group yang terdiri dari tenaga professional, tehnikal dan pembantu dalam satu grup kecil yang saling membantu. Dalam penerapannya ada kelebihan dan kelemahannya yaitu (Nursalam, 2002):

1) Kelebihan :

a. Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh.

b. Mendukung pelaksanakaan proses keperawatan.

c. Memungkinkan komunikasi antar tim sehingga konflik mudah diatasi dan memberi kepuasan kepada anggota tim.

2) Kelemahan :

Komunikasi antar anggota tim terbentuk terutama dalam bentuk konferensi tim, yang biasanya membutuhkan waktu dimana sulit untuk melaksanakan pada waktu-waktu sibuk.

Artikel Lainnya :


Download ASKEP

Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net

Tukar Link ?
Copy kode dibawah ini, kemudian paste di blog Anda:


Tampilan akan seperti ini :

Langganan Artikel
Enter your Email


Preview | Powered by FeedBlitz
Menu Anak

Copyright © 2008 - 2017 NursingBegin.com.